Cinta Sejati
Saturday, August 27th, 2005Usia wanita itu baru masuk kepala tiga. Jika diperhatikan dg seksama, garis cantik masih tergores jelas di wajahnya. Hanya saja binar matanya begitu redup, sehingga rona wajahnya tampak suram. Dulu ia gadis yang sangat cantik. Entah berapa banyak lelaki yang bertekuk lutut ingin meminangnya. Hingga akhirnya ia memutuskan pilihan, menikah dg seorang lelaki sederhana, tapi lumayan ganteng lah. Karier wanita itu cukup gemilang. Ia seorang store manager sebuah merk sepatu asal negeri paman Sam. Sayang, hanya 6 bulan mereka merasakan indahnya menjadi pengantin baru. Untuk membela sang istri, si laki-laki terlibat dlm sebuah perkelahian. Perkelahian yg menyebabkan syaraf percernaannya rusak. Perlahan, kondisinya makin memburuk. Namun ia masih sempat "berfungsi" sebagai laki-laki, sehingga mereka memiliki 2 orang puteri. Waktu berjalan…akhirnya si laki-kaki tak bisa lagi menelan. Sudah 8 tahun ini ia makan bubur bayi lewat selang yg dimasukkan ke dlm perutnya. Ia pun tak bisa lagi memberi nafkah lahir dan bathin.
Hingga detik ini, wanita itu tetap setia mendampingi sang suami. Ia pun mengorbankan kariernya utk merawat sang suami dan kedua anak mereka.
Aku bertanya pada wanita itu, kenapa dia tetap bertahan sementara ia punya pilihan lain. Berpisah dg sang suami dan membangun hidup baru.
Ia menjawab sambil tersenyum penuh makna: "Mbak, niat kita menikah kan gak cuma senangnya aja. Tapi juga untuk merasakan susahnya." Lalu ia memandang sang suami dan kedua putrinya dg penuh cinta.
Dan aku?…..aku hanya bisa memandang mereka dengan penuh kekaguman. Aku kehabisan kata utk bertanya lagi. Dalam benakku, aku bersyukur mendapat satu pelajaran lagi akan makna pengorbanan & cinta sejati.
Aku hanya berharap, suatu hari nanti ada tangan yang mau mengulurkan bantuan bagi mereka…agar lelaki itu bisa dioperasi…agar ia bisa merasakan lagi nikmatnya makan lewat mulut…agar ia bisa bekerja lagi…agar ia bisa menafkahi keluarganya. Amien.