Sehari di Panti Galuh

“Mbak ini rumah Allah ya?” tanya seorang pemuda penghuni panti Galuh padaku. Aku agak bingung menjawabnya. Bukan apa-apa…dan bukan maksud merendahkan, tapi pemuda ini mengalami gangguan jiwa, yang membuatnya masuk panti Galuh. Sebuah tempat penampungan bagi orang gangguan jiwa, milik seorang kakek Betawi asli. Akhirnya aku memilih jawaban yang simpel “Allah itu ada di mana-mana”.
“Mbak saya mau sembuh…tolong saya! Saya bisa sembuhkan?” Saya tersenyum sambil mengangguk. Ia lalu memintaku untuk meraba kepalanya yang gundul. Ia ingin menunjukkan benjolan di kepalanya. Ternyata benjolan itu adalah akibat ia membentur2kan kepalanya sendiri ke tembok.
“Mbak, saya percaya nabi Isa!” tambah pemuda itu. Aku pun semakin bingung, apa gerangan maksud pemuda ini. Akhirnya, penjelasan seorang pengurus panti membuatku mengerti sekaligus kaget bercampur sedih. Perbedaan agama orang tua telah membuat pemuda itu tertekan…dan gila. Astaghfirullah!
Pemuda itu hanya salah satu dari 250 pasien sakit jiwa yang ditampung di panti Galuh. Ada yang gila gara-gara putus cinta, membunuh orang tuanya, tekanan ekonomi, dan masih banyak lagi.
Kalau bukan karena tugas liputan, aku mungkin tak akan pernah tahu, atau menginjakkan kaki di panti itu. Tp kunjunganku beberapa waktu lalu ke tempat itu, telah memberiku seribu pelajaran berharga.
Apa yang kita lakukan saat bertemu orang gila di jalan? Menghindar bukan? Ada rasa takut berdekatan dengan mereka. Takut mereka menyerang kita. Belum lagi dengan tubuh mereka yang kotor dan bau. Lalu bagaimana jika mereka masuk ke halaman rumah? Kita akan mengusir mereka bukan? Astaghfirullah!
Tapi lain dengan Pak Gendu. Ia telah menyelamatkan seorang gila yang tengah dipukuli massa. Orang gila itu ia bawa ke rumahnya. Ia mandikan, diberi makan, diberi baju, dan tinggal di rumahnya. Tak dinyana, perlahan-lahan, orang gila itu sembuh! Sejak itu, satu persatu orang gila, ia tampung di rumahnya, hingga kini jumlahnya sampai ratusan. Ia merawat mereka dibantu oleh istri, anak, dan keluarganya. Tentu dengan uang pribadinya. Tapi untunglah ada juga dermawan yang membantu Pak Gendu. Namun yang paling membuatku terharu adalah saat melihat Pak Gendu dan keluarganya merawat para orang gila itu. Memberi mereka makan, memandikannya, sampai membersihkan kotoran mereka. Subhanallah!
Asyik mengamati, tak sadar aku sudah berada ditengah-tengah ratusan orang gila itu. Ada yang tersenyum padaku, ada yang mengajakku bicara, ada pula yang tetap asyik dengan dirinya sendiri sehingga tak sadar jika aku ada di sana. Tapi yang pasti, tak satu pun dari mereka yang menyerangku!
Mereka hanyalah sekumpulan orang, yang layaknya anak kecil…perlu dirawat, perlu diajari bagaimana bersikap dan bertingkah laku, dan perlu dikasihi.

Leave a Reply