“Tuk Mas Budi”
Sehari meliburkan diri…jalan-jalan
ke kampus. Mengingatkanku pada janji pada seseorang. .
Janji yang belum aku penuhi…dan hampir terlupakan……..
Di pertemuan terakhirku dengannya, ia memintaku: “bisakah
kamu tulis tentang perasaan kamu atau pengalaman kamu selama kita konseling?”
Aku hanya menjawab: “Bisa, Mas. Akan saya coba.”
Kejadian itu lebih dari 4 tahun lalu. Dan baru sekarang aku
“mampu” menulisnya. Mungkin sekarang sudah terlambat…atau mungkin dia sudah
lupa akan permintaannya. Tp yang terpenting, aku penuhi janjiku…meski butuh
waktu lama utk itu.
“Apakah kamu normal?” Maksud, Mas?
“Apakah kamu bergetar jika berdekatan dengan perempuan?”
Tidak, Mas.
“Atau dipeluk perempuan?” Tidak.
“Apakah kamu berhasrat pd perempuan?” Maksud Mas, lesbian?
Tidak, Mas! Saya Normal. Saya suka laki-laki.
“Maaf, hanya saja ada beberapa kasus perempuan yang
mengalami trauma sepertimu, yang menjadi lesbian”.
Itulah percakapan yang mengawali pertemuan pertamaku dengan
seorang psikolog yang baru kukenal saat itu.
Pada pertemuan pertama, tak banyak yang kuceritakan. Begitu
pula pada pertemuan kedua. Di pertemuan ketiga lah, aku mulai membuka diri
padanya. Aku mulai merasa nyaman dan percaya utk menceritakan “masalahku”.
Dan pada pertemuan selanjutnya…dan selanjutnya…kami semakin
akrab. Dia bukan lagi sekedar seorang psikolog bagiku, tapi juga seorang
sahabat. Seseorang yang bisa aku percaya utk menceritakan hal2 yang tak pernah
aku kuak pada siapa pun. Seseorang yang tak memandangku aneh saat menceritakan
perasaanku, kebiasaanku, dan sifat2ku. Seseorang yang bisa memahami tanpa aku
harus bercerita banyak. Seseorang yang mengajariku untuk menghargai perasaanku
sendiri dan jujur pada sendiri. “Marahlah jika memang kamu marah. Dan
menangislah jika kamu memang terluka. Katakan saja semuanya, jangan terus kamu
pendam.” Begitu katanya.
Waktu terus bergulir…dan aku mulai berubah. Perubahan yang
harus kucapai dengan perjuangan. Berjuang melawan diri sendiri. Melawan
pesepsi, paradigma, dan ketakutan yang selama ini menjadi benteng
“pelindungku”.
Yah…trauma itu sudah terlalu kuat mengakar dalam diriku.
Menguasai logika dan akal sehatku. Trauma yang selama belasan tahun membuatku
menjadi manusia yang hidup dg penuh ketakutan, curiga, dan rasa cemas yang
berlebihan.
Namun akhirnya, selama 3 tahun aku konseling dengannnya,
perlahan aku mulai bisa menang berperang melawan diriku sendiri. Aku mulai bisa
membuka baju astronotku. Baju astronot? Ya! Mas Budi pernah bilang jika aku ini
seperti astronot yang memakai baju kebesarannya. Sangat protektif pada diri
sendiri, karena terlalu takut disakiti.
Finally…aku tahu akar masalahku…hingga kini aku bisa
mengontrol traumaku, bukan dikontrol trauma. Aku bisa mengubah cara pandangku
terhadap hidup…dan aku bisa menilai laki-laki secara objektif. Aku tak lagi
memandang jatuh cinta sebagai “ancaman”. Aku sadar…tak semua laki-laki itu
jahat. Masih banyak yang baik kok he…he…And the best one, will be mine
Amien.
Akh, thanks God! Engkau memberiku kesempatan utk melihat
hidup ini sebagai sesuatu indah…telah mempertemukanku dg sahabat baik seperti
Mas Budi…juga sahabat2ku yang lain, yang banyak membantuku melewati masa-masa
sulit itu.
Dg kuasa-Mu, memang tak ada yang tak mungkin terjadi…..
Dedicated to Budi H. (psikolog dan sahabat baikku)
"Tulisan ini mungkin tidak akan pernah terbaca oleh Mas Budi. Tapi tak ada yang tak mungkin dlm hidup ini kan? :p"