Belajar Menjadi “Seseorang”
Asty Rastiya (News)
Jakarta, 19 November 2003
“Kok bisa lolos, ya?”.
Pertanyaan itu yang pertama kali ada di benakku saat melihat
deretan nama yang lolos wawancara tahap akhir, seleksi batch 2. Ternyata namaku
ada. Padahal aku sudah pesimis bisa lolos. Bagaimana tidak? Wawancara itu
adalah pengalaman wawancara terburuk yang pernah aku alami. Satu-satunya pengalaman wawancara dimana aku
merasa sangat bodoh, dan PD-ku langsung down.
Waktu itu aku diwawancara oleh Mas Riza (Primadi), Mas Iwan
(Ahmad Sudirwan), dan Mas Rizal (Mustari). Berbeda dengan beberapa temanku yang
diwawancara pada waktu yang sama, aku ditanya berbagai hal, mulai isu politik,
keamanan, ekonomi, hukum, hiburan, sampai luar negeri. Modal pengetahuanku
kan
pas-pasan banget. Udah gitu aku sering lupa nama orang, meski aku tahu
kasusnya. Blom lagi Mas Iwan yang menyuruhku menjawab pake bahasa Inggris,
sempurna sudah kegugupanku saat itu. Namun entah apa yang jadi kriteria mereka,
sehingga aku bisa lolos
…..Selesai training, kekagetan kedua, terjadi. Aku dan
Dianing Wulan, sesama anak bau kencur, ditarik ke tim Kupas Tuntas.
Satu-satunya program news yang punya tim khusus untuk pertama kalinya. Masih
dipelupuk mata, bagaimana tampang cengo ini saat pertama kali meeting. Di
jajaran teras, ada Mbak Wendi (Ruky-kepala
sekolahku waktu training), Mas Rizal (Mustari), Mas Tomi (Satyartomo), dan Mas
Gatot (Triyanto). Di jajaran pasukan, ada Bang Pe’I, Deyna, Dhank Ari, dan Ami.
Dan di dapur edit, ada IiS. Sebuah komposisi yang bisa ditebak seperti apa!!
Itu baru di ruang meeting. Pertama kali ke daerah bareng
Deyna, sudah ditanya, “story boardnya mau gimana?”. Story board?! Kalau buat
bikin iklan, aku tahu. Tapi kalau untuk bikin paket berita, macam mana aku
harus membuatnya? Deyna,
Viandi
dan Dhank Ari,
3 manusia yang sangat detil dan perfeksionis. Seingatku, kalau PTC (red. piece to camera) aja, mereka nilai oke, kalau setidaknya sudah 3
take yang bagus. Dengan berbagai angle, tentunya. Jadi singkatnya, masuk tim ini adalah hal
yang sangat melelahkan dan memeras otak. ‘Gak jarang aku sampe pengen nangis.
Apalagi kalau udah disuruh nguber narasumber yang ektra susah.
……Tapi Thanks buat semuanya. Karena meski cuma 4 bulan
bergabung dengan tim ini, aku bisa belajar banyak. Tak cuma jurus seorang
jurnalis. Tapi juga hal-hal teknis seperti kamera dan edit.
Dan dalam proses selanjutnya, hal-hal mengejutkan ternyata
tak bosan menyapaku. Masuk tim Jelang Siang, dengan konten yang sangat
“perempuan”. Buat perempuan lain, make up, salon, fashion dan kecantikan, tentu
makanan sehari-hari. Tapi buatku, sangat di luar dunia mahluk bernama Asty.
Masuk tim Spot, agak terkaget-kaget dengan ritmenya yang serba cepat.
Namun di tim mana pun aku sudah, sedang, dan akan masuk, ada
satu kesamaan yang membuatku agak mikir-mikir untuk pindah dari institusi ini,
meski gajinya kecil
Suasana, kawan-kawan, dan senior yang tak pelit
memberi ilmu. Membuatku melepaskan jubah kebesaran, menyadari kalau aku bukan siapa-siapa, tapi aku ingin
belajar menjadi “SESEORANG”!
(Tulisan yg dibuat untuk buku Warna Warni Televisi, Ultah Trans yg ke-2)