Cinta Bagas (part 2)
Sunday, November 13th, 2005Sebagai sahabat, Tia adalah orang yang hangat. Tapi sebagai perempuan, Tia dingin setengah mati. Soal cinta kayaknya jadi urutan keseribu yang dipikirkannya. Selain gak mau pusing dengan urusan cinta, Tia juga terlalu minder untuk punya cowok. Krisis PD membuat Tia gak percaya jika di dunia ini ada cowok yang menaruh hati padanya. Setiap ada cowok yang berminat mendekati, dia langsung pasang kuda-kuda. Jadi jangan heran jika cowok-cowok pada males deketin Tia.
Soal dingin dan kerasnya hati Tia, tak membuat Bagas kalah sebelum berperang. Mungkin Bagas adalah cowok pertama yang menjadi pejuang sejati dlm menaklukan hati Tia. Tapi sayang, apa pun yang dilakukan Bagas, Tia tetap jadi gunung es.
Sebenernya…kenapa hati Tia tak jua luluh? Pertanyaan ini tak pernah terjawab oleh Bagas. Itu yang disayangkan. Karena tanpa Bagas sadari, ia telah melakukan dua kesalahan fatal saat mendekati Tia.
Suatu hari Bagas pernah cerita pada salah satu sahabatnya jika ia berminat menjadikan Tia sebagai pacar. Penyebabnya, Bagas berpikir jika sebagai sahabat saja Tia sudah baik dg memberinya contekan, apalagi jika Tia jadi pacarnya. Niat asas manfaat Bagas ternyata sampai ke telinga Tia. Akibatnya? Tentu saja Tia marah dan kecewa. Tia gak habis pikir, bagaimana seorang Bagas, yang adalah sahabatnya, bisa tega berniat memanfaatkan otak Tia lewat jalur “perasaan”.
Selanjutnya, bisa ditebak. Tia menutup pintu rapat-rapat. Ia tak mau membukanya meski Bagas mengetuknya berkali-kali. Tia tak peduli jika ternyata Bagas memang betul-betul jatuh cinta padanya. Tia tak peduli jika semua perhatian, Bagas berikan dg tulus.
Itu kesalahan fatal Bagas yang pertama. Dan ini yang kedua. Bagas adalah anak paling tajir di kelasnya. Kecuali baju seragam, semua benda yang menempel di tubuhnya, pastilah barang bermerk. Soal ini, Bagas memang tak membumi. Bahkan Bagas sering membawa HP ke sekolah. Barang yang saat itu masih sangat ekslusif (maklum, HP baru beredar di pasaran Indonesia, jadi harganya masih selangit). Sementara Tia, dia hanyalah gadis dari keluarga sederhana dengan gaya hidup yang sangat bersahaja. Jadi jangan heran jika Tia sebel melihat etalase berjalan milik Bagas. Adalah kesalahan besar jika Bagas berpikir Tia akan ngiler pada barang-barang bermerk yang dipakainya. Sayang, Bagas telah menyamakan Tia dengan mantan cewek2nya. Cewek-cewek yang silau dg kekayaan keluarga Bagas.
Tia dan Bagas…kisah mereka berakhir seiring selesainya studi mereka di SMA. Kini entah apa yang terjadi pada keduanya. Tapi bagi Bagas, Tia akan selalu menjadi kenangan unik. Kenangan dimana ia jatuh cinta pada gadis yang sangat biasa. Kenangan dimana ia ditolak cinta oleh gadis yang sangat biasa.
Sementara, diantara kemarahan dan kekecewaan Tia, dia tetap menganggap Bagas sebagai sahabat yang menjadi bagian dr kenangan manis masa SMA. Menjadi cowok pertama yang membuat Tia sadar jika dia bukanlah “the ugly duck”.