Archive for June, 2006

Setia dalam Bisu

Saturday, June 10th, 2006

Ruang kelas masih cukup sepi. Kebanyakan penghuninya pasti masih berjuang untuk bisa sampai ke sini. Ada yang harus rebutan angkot, naik motor, bahkan berjalan kaki meski jarak rumahnya lumayan jauh. Penyebabnya tentu saja karena tak ada uang untuk ongkos angkot, apalagi membeli motor. Sementara aku, cukup 10 menit berjalan kaki dari tempat kost. Yah, untuk bisa sekolah di SMA terbaik di daerahku, aku terpaksa menyewa kamar kost yang jaraknya sekitar setengah kilo dari sekolah. Rumahku terlalu jauh, di pelosok desa. Selain akan menyita banyak waktu dan tenaga, ongkos angkutan pulang pergi bisa membumbung, sebanding dengan harga kamar kostku.

Setelah duduk di bangku, aku segera membuka ransel dan mengeluarkan buku Fisika. Itulah hobiku untuk mengisi waktu kosong di sekolah, menjawab soal-soal latihan. Baru saja aku mulai berkutat dengan angka-angka, dia masuk ke ruang kelas seraya mengucap salam. Seorang perempuan hitam manis yang selalu menyulap keheningan kelas menjadi riuhnya gelak tawa. Rambutnya yang panjang, tergerai tak beraturan, menutup sebagian wajah tirusnya. Dia terlalu cuek untuk mampir ke kamar mandi, sekedar bercermin dan merapikan diri. Huh, kalau sudah melihatnya seperti ini, gak bakalan ada cowok yang betah memandang wajahnya. Kecuali aku.

Dulu aku pun sama seperti cowok-cowok lain. Tak berselera menjadikan dia objek penyejuk mata. Yah, bayangkan saja! Tubuhnya kurus kering dan lurus seperti papan. Kulitnya pun terbakar karena terlalu akrab dengan sinar matahari. Maklumlah, sejak SD dia kerajingan ikut ekstrakulikuler, mulai pramuka sampai paskibra. Belum lagi kelakuannya yang sangat „laki-laki“. Hobinya saja bersepeda dan manjat pohon. Sudah hitam legam, malas pula merawat diri. Huuh, sungguh tak sedap dipandang! Tapi entah magnet apa yang belakangan ini menarikku untuk terus mengamatinya. Mengamati tawanya yang lepas, mimik jahilnya, juga kelihaiannya membantu teman-teman memahami pelajaran. Oh iya, aku lupa menceritakan yang satu ini. Meski tak sedap dipandang, tapi orang-orang, terutama kaum adam, sangat betah berada di dekatnya. Pertama, karena dia tak pelit memberi contekan PR yang pasti sudah dikerjakannya dengan „mulus“. Dia juga oke sebagai guru informal. Cukup sekali menjelaskan, kata „ooooooooh gitu toh!“, akan meluncur dari mulut-mulut yang sesaat sebelumnya bingung tujuh keliling. Kedua, dia ramah dan pandai membuat orang terpingkal-pingkal karena tingkah polah dan banyolannya. Itulah yang menjadi awal kekagumanku pada sosok yang kukenal sejak setahun lalu. Dialah perempuan pertama yang mampu membuatku tertawa hingga sakit perut. Perempuan lain melihatku sebagai gunung es, karena aku sangat pendiam dan menjaga jarak pada perempuan. Tapi dengan entengnya, dia menyapaku, mengajakku ngobrol, berdiskusi, bahkan menjadikanku objek kejahilannya. Awalnya aku merasa kesal karena sering menjadi korbannya. Tapi lambat laun, aku justru sering merasa kangen akan segala tingkah polahnya.

Seperti pagi itu, kesibukanku mengisi soal-soal Fisika hanyalah tameng hobi baruku. Mengamati gerak-geriknya. Gerak-gerik yang selalu membuatku tersenyum, menggeleng, dan terkesima. Dua tahun aku memendam rasa dan keinginanku untuk memintanya menjadi perempuanku. Aku terlalu minder. Meski orang bilang aku lumayan ganteng, tapi aku hanya seorang pemuda kampung yang sederhana. Otakku pun tak seencer dia. Menjadi sahabatnya, sudah cukup bagiku.

Selepas SMA, kami sama-sama diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Sayangnya, di kota yang berbeda. Jarak membuatku kehilangan kesempatan untuk bisa terus di dekatnya, atau sekedar jadi pengamat jarak dekat. Tapi tanpa sepengetahuannya, aku jadi pengamat jarak jauh. Semasa kuliah, aku pernah mencoba untuk melupakannya. Menjalani dunia baruku tanpa gelak tawanya. Tapi yang terjadi, aku selalu cemas menanti hari. Memikirkan kemungkinan jika kini, di sana, dia sudah memiliki kekasih, selalu membuat dadaku sesak. Aku pun seperti mati rasa pada perempuan lain. Tak peduli meski perempuan itu secantik Dian Sastro atau secerdas Hillary Clinton. Di hatiku, hanya dia dan dia. Di setiap langkahku menuju kampus, aku selalu mengira-ngira, “sedang apakah dirinya?”. Perasaanku terus terpupuk, hingga makin subur dan lebat. Tapi aku masih tak memiliki nyali untuk memintanya menjadi perempuanku.

Empat tahun berlalu, dia menjadi sarjana. Sedang aku, baru bisa rampung setahun kemudian. Tak sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Sedang aku, merintis karir di kota kembang. Tiga tahun lalu aku keluar dari pekerjaan pertamaku dan mencoba mencari peruntungan di Jakarta. Selain ingin mendapatkan penghasilan yang lebih baik, aku juga ingin membuang jarak yang selama ini membuatku harus puas sebagai pengamat jarak jauh. Tapi rupanya, nasib memintaku bertahan di Bandung.

Karirnya di Jakarta semakin mapan. Rupiah di rekening kian tinggi dan jabatan pun sudah di tangan. Aku, si pengamat jarak jauhnya, tentu merasa bahagia, sekaligus miris. Miris karena jarak yang terbentang, kini bukan hanya secara kasat mata. Disaat dia semakin menjulang, aku masih tertatih. Aku tahu, materi tak mengubah pribadi dan hatinya yang sederhana. Tapi aku semakin tak punya nyali untuk memintanya menjadi perempuanku. Meski waktu terus bergulir dan hatiku kian takut, suatu hari nanti mendengar kabar dia bersanding di pelaminan, tapi aku tetap bertahan untuk membisu. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa dan memberinya perhatian kecil. Aku tak pernah absen mengirim ucapan selamat ulang tahun, meski hanya lewat sms. Aku terlalu mencintainya, dan ingin memberinya yang terbaik. Tapi hingga kini, aku belum menjadi “seseorang”. Aku belum cukup percaya diri untuk memintanya menjadi perempuanku. Aku belum merasa yakin bisa memberi yang terbaik. Aku hanya bisa terus berdoa, semoga kelak dia menjadi perempuanku. Semoga Allah memilihnya menjadi teman hidupku hingga akhir masa. Amien.

(dari ekspresi seorang pria yang terus setia membisu)

Sebuah Syair Renungan Singkat untuk Perempuan

Saturday, June 10th, 2006

Pernikahan atau pun perkawinan,

Membuka tabir rahasia.

Suami yang menikahi kamu,

Tidaklah semulia Muhammad,

Tidaklah setaqwa Ibrahim,

Pun tidak setabah Ayub,

Ataupun segagah Musa,

Apalagi setampan Yusuf,

Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman, yang punya cita-cita

Membangun keturunan yang soleh….

Pernikahan ataupun perkawinan,

Mengajarkan kita kewajiban bersama.

Suami menjadi pelindung, kamu penghuninya,

Suami menjadi nahkoda kapal, kamu navigatornya.

Suami bagaikan balita yang nakal, kamu adalah penuntun kenakalannya,

Saat suami menjadi raja, kamu nikmati anggur singasananya,

Seketika suami menjadi bisa, kamulah penawar obatnya.

Seandainya suami masinis yang lancang,

Sabarlah memperingatkannya….

Pernikahan ataupun perkawinan,

Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa,

Untuk belajar meniti sabar dan ridha,

Karena memiliki suami yang tak segagah mana,

Justru kamu akan tersentak dari alpa,

Kamu bukanlah Khadijah,

Yang begitu sempurna di dalam menjaga,

Pun bukanlah Hajar,

Yang begitu setia dalam sengasara.

Cuma wanita akhir zaman,

Yang berusaha menjadi solehah….

Amien.

(No Name)

Sebuah Syair Renungan Singkat untuk Laki-Laki

Saturday, June 10th, 2006

Pernikahan atau perkawinan,
menyingkap tabir rahasia.

Isteri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
Pun tidak setabah Fatimah.

Justru isteri hanyalah wanita akhir zaman
Yang punya cita-cita menjadi solehah……

Pernikahan atau pun perkawinan,
mengajar kita kewajiban bersama.

Isteri menjadi tanah, kamu langit penaungnya,
Isteri ladang tanaman, kamu pemagarnya,
Isteri kiasan ternakan, kamu gembalanya,
Isteri adalah murid, kamu mursyidnya,
Isteri bagaikan anak kecil, kamu tempat bermanjanya,

Saat isteri menjadi madu, kamu teguklah sepuasnya,
Seketika isteri menjadi racun, kamulah penawar bisanya,
Seandainya isteri tulang yang bengkok, berhatilah meluruskannya.

Pernikahan atau perkawinan,
Menginsyafkan kita perlunya iman dan taqwa.

Untuk belajar meniti sabar dan ridha,
Karena memiliki isteri yang tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Rasulallah,
Pun bukanlah Saidina Ali Karamallauwajhah,
Cuma suami akhir zaman, yang berusaha menjadi soleh…
Amien.

(No Name)

***

Jika Aku Jatuh Cinta

Saturday, June 10th, 2006

Cinta. Sebuah kata singkat yang memiliki makna luas. Walaupun belum teridentifikasi secara pasti, namun eksistensi cinta diakui oleh semua orang. Al-Ghazali mengatakan cinta itu ibarat sebatang kayu yang baik.

Akarnya tetap di bumi, cabangya di langit dan buahnya lahir batin, lidah dan anggota-anggota badan. Ditujukan oleh pengaruh-pengaruh yang muncul dari cinta itu dalam hati dan anggota badan, seperti ditujukkanya asap dalam api dan ditunjukkanya buah dan pohon.

Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati. Cinta yang takkan bertempuk sebelah tangan. Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya. Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, kaum muslimin.

Tapi cinta itu tentu porsinya tidak melebihi cinta kita pada Allah, karena Allah mengatakan, "Katakanlah! ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta-benda yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri akan merugi dan rumah tangga yang kamu senangi (manakala itu semua) lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik."

Prestasi kepahlawanan para pejuang tidak terlepas dari pengaruh cintanya seorang pemuda kepada pemudi. Umar bin Abdul Aziz berhasil memenangkan pertarungan cinta sucinya kepada Allah dari pada cinta tidak bertuannya kepada seorang gadis. Tidak ada yang salah pada cinta. Berusahalah menempatkannya pada tempat, waktu dan sisi yang tepat.

Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engaku mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(Yesi Elsandra, special untuk yang saling mencintai karena-Nya)

Mencintai Apa Adanya

Saturday, June 10th, 2006

"Jika sekarang Anda memiliki seorang yang sangat dicintai, ingatlah selalu kebaikannya, sayangilah segalanya, agar segala perasaan yang indah menjadi nyata."

Tahun itu dia mendadak muncul, Xiao Cien namanya. Tampangnya tidak seberapa. Di bawah dukungan teman sekamar, dengan memaksakan diri aku bersahabat dengan dia. Secara perlahan, aku mendapati bahwa dia adalah orang yang penuh pengertian dan lemah lembut. Hari berlalu, hubungan kami semakin dekat, perasaan di antara kami semakin menguat, dan juga mendapat dukungan dari teman-teman.

Pada suatu hari di tahun kelulusan kami, dia berkata padaku, "Saya telah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi, tetapi di Amerika, dan saya tidak tahu akan pergi berapa lama, kita bertunangan dulu, bolehkah?" Mungkin dalam keadaan tidak rela melepas kepergiannya, saya mengangguk. Oleh karena itu, sehari sesudah hari wisuda, hari itu menjadi hari pertunangan kami berdua. Setelah bertunangan tidak berapa lama, bersamaan dengan ucapan selamat dan perasaan berat hati dalam hatiku, dia menaiki pesawat dan terbang menuju sebuah negara yang asing. Saya juga mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus, memulai hari bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Telepon internasional merupakan cara kami untuk tetap berhubungan dan melepas kerinduan.

Suatu hari, sebuah hal yang naas terjadi pada diriku. Pagi hari, dalam perjalanan menuju tempat kerja, sebuah taksi demi menghindari sebuah anjing di jalan raya, mendadak menikung tajam….. Tidak tahu lewat berapa lama saya pingsan. Saat siuman telah berada di rumah sakit, dimana anggota keluarga menunggu mengelilingi tempat tidur saya. Mereka lantas memanggil dokter. "Pa?" saya ingin memanggilnya tapi tidak ada suara yg keluar. Mengapa? Mengapa saya tidak dapat memanggilnya? Dokter mendatangiku dan memeriksa, suster menyuntikkan sebuah serum ke dalam diriku,mempersilahkan yang lainnya untuk keluar terlebih dahulu. Ketika siuman kembali, yang terlihat adalah raut wajah yang sedih dari setiap orang, sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa saya tidak dapat bersuara? Ayah dengan sedihnya berkata, "Dokter bilang syaraf kamu mengalami luka, untuk sementara tidak dapat bersuara, lewat beberapa waktu akan membaik."
"Saya tidak mau!" saya dengan berusaha memukul ranjang, membuka mulut lebar-lebar berteriak, tapi hanya merupakan sebuah protes yang tidak bersuara. Setelah kembali ke rumah, kehidupanku berubah. Suara telepon yang didambakan waktu itu, merupakan suara yang sangat menakutkan sekarang ini. Saya tidak lagi keluar rumah, juga menjadi seorang yang menyia-nyiakan diri, ayah mulai berpikir untuk pindah rumah. Dan dia? di belahan bumi yang lain, yang diketahui hanyalah saya telah membatalkan pertunangan kami, setiap telepon darinya tidak mendapatkan jawaban, setiap surat yang ditulisnya bagaikan batu yang tenggelam ke dasar lautan.

Dua tahun telah berlalu, saya secara perlahan telah dapat keluar dari masa yang gelap ini, memulai hidup baru, juga mulai belajar bahasa isyaratuntuk berkomunikasi dengan orang lain. Suatu hari, Xiao Cien memberitahu bahwa dia telah kembali, sekarang bekerja sebagai seorang insinyur di sebuah perusahaan. Saya berdiam diri, tidak mengatakan apapun. Mendadak bel pintu berbunyi, berulang-ulang dan terdengar tergesa-gesa. Tidak tahu harus berbuat apa, ayah menyeretkan langkah kakinya yang berat, pergi membuka pintu. Saat itu, di dalam rumah mendadak hening. Dia telah muncul, berdiri di depan pintu rumahku. Dia mengambil napas yang dalam, dengan perlahan berjalan ke hadapanku, dengan bahasa isyarat yang terlatih, dia berkata, "Maafkan saya! Saya terlambat satu tahun baru menemuimu. Dalam satu tahun ini, saya berusaha dengan keras untuk mempelajari bahasa isyarat, demi untuk hari ini. Tidak peduli kamu berubah menjadi apapun, selamanya kamu merupakan orang yang paling kucintai. Selain kamu, saya tidak akan mencintai orang lain, marilah kita menikah!"

"Friends are angels who lift us to our feet when our wings have trouble
remembering how to fly." (Unknown, Friendship Quotation)

Sejenak

Saturday, June 10th, 2006

Sejenak kau masuk ke dalam ruang yang selama ini tertutup.

Membangunkanku dari lelapnya tidur.

Membuatku berani memberi dan menerima.

Namun angin kembali membawamu pergi.

Kamu tak kuasa bertahan, dan aku tak kuasa melawan.

Kamu hanyalah cinta sejenak.

Yang hadir secepat kilatan petir, namun cukup membuatku terluka untuk kembali tertidur.