Setia dalam Bisu

Ruang kelas masih cukup sepi. Kebanyakan penghuninya pasti masih berjuang untuk bisa sampai ke sini. Ada yang harus rebutan angkot, naik motor, bahkan berjalan kaki meski jarak rumahnya lumayan jauh. Penyebabnya tentu saja karena tak ada uang untuk ongkos angkot, apalagi membeli motor. Sementara aku, cukup 10 menit berjalan kaki dari tempat kost. Yah, untuk bisa sekolah di SMA terbaik di daerahku, aku terpaksa menyewa kamar kost yang jaraknya sekitar setengah kilo dari sekolah. Rumahku terlalu jauh, di pelosok desa. Selain akan menyita banyak waktu dan tenaga, ongkos angkutan pulang pergi bisa membumbung, sebanding dengan harga kamar kostku.

Setelah duduk di bangku, aku segera membuka ransel dan mengeluarkan buku Fisika. Itulah hobiku untuk mengisi waktu kosong di sekolah, menjawab soal-soal latihan. Baru saja aku mulai berkutat dengan angka-angka, dia masuk ke ruang kelas seraya mengucap salam. Seorang perempuan hitam manis yang selalu menyulap keheningan kelas menjadi riuhnya gelak tawa. Rambutnya yang panjang, tergerai tak beraturan, menutup sebagian wajah tirusnya. Dia terlalu cuek untuk mampir ke kamar mandi, sekedar bercermin dan merapikan diri. Huh, kalau sudah melihatnya seperti ini, gak bakalan ada cowok yang betah memandang wajahnya. Kecuali aku.

Dulu aku pun sama seperti cowok-cowok lain. Tak berselera menjadikan dia objek penyejuk mata. Yah, bayangkan saja! Tubuhnya kurus kering dan lurus seperti papan. Kulitnya pun terbakar karena terlalu akrab dengan sinar matahari. Maklumlah, sejak SD dia kerajingan ikut ekstrakulikuler, mulai pramuka sampai paskibra. Belum lagi kelakuannya yang sangat „laki-laki“. Hobinya saja bersepeda dan manjat pohon. Sudah hitam legam, malas pula merawat diri. Huuh, sungguh tak sedap dipandang! Tapi entah magnet apa yang belakangan ini menarikku untuk terus mengamatinya. Mengamati tawanya yang lepas, mimik jahilnya, juga kelihaiannya membantu teman-teman memahami pelajaran. Oh iya, aku lupa menceritakan yang satu ini. Meski tak sedap dipandang, tapi orang-orang, terutama kaum adam, sangat betah berada di dekatnya. Pertama, karena dia tak pelit memberi contekan PR yang pasti sudah dikerjakannya dengan „mulus“. Dia juga oke sebagai guru informal. Cukup sekali menjelaskan, kata „ooooooooh gitu toh!“, akan meluncur dari mulut-mulut yang sesaat sebelumnya bingung tujuh keliling. Kedua, dia ramah dan pandai membuat orang terpingkal-pingkal karena tingkah polah dan banyolannya. Itulah yang menjadi awal kekagumanku pada sosok yang kukenal sejak setahun lalu. Dialah perempuan pertama yang mampu membuatku tertawa hingga sakit perut. Perempuan lain melihatku sebagai gunung es, karena aku sangat pendiam dan menjaga jarak pada perempuan. Tapi dengan entengnya, dia menyapaku, mengajakku ngobrol, berdiskusi, bahkan menjadikanku objek kejahilannya. Awalnya aku merasa kesal karena sering menjadi korbannya. Tapi lambat laun, aku justru sering merasa kangen akan segala tingkah polahnya.

Seperti pagi itu, kesibukanku mengisi soal-soal Fisika hanyalah tameng hobi baruku. Mengamati gerak-geriknya. Gerak-gerik yang selalu membuatku tersenyum, menggeleng, dan terkesima. Dua tahun aku memendam rasa dan keinginanku untuk memintanya menjadi perempuanku. Aku terlalu minder. Meski orang bilang aku lumayan ganteng, tapi aku hanya seorang pemuda kampung yang sederhana. Otakku pun tak seencer dia. Menjadi sahabatnya, sudah cukup bagiku.

Selepas SMA, kami sama-sama diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Sayangnya, di kota yang berbeda. Jarak membuatku kehilangan kesempatan untuk bisa terus di dekatnya, atau sekedar jadi pengamat jarak dekat. Tapi tanpa sepengetahuannya, aku jadi pengamat jarak jauh. Semasa kuliah, aku pernah mencoba untuk melupakannya. Menjalani dunia baruku tanpa gelak tawanya. Tapi yang terjadi, aku selalu cemas menanti hari. Memikirkan kemungkinan jika kini, di sana, dia sudah memiliki kekasih, selalu membuat dadaku sesak. Aku pun seperti mati rasa pada perempuan lain. Tak peduli meski perempuan itu secantik Dian Sastro atau secerdas Hillary Clinton. Di hatiku, hanya dia dan dia. Di setiap langkahku menuju kampus, aku selalu mengira-ngira, “sedang apakah dirinya?”. Perasaanku terus terpupuk, hingga makin subur dan lebat. Tapi aku masih tak memiliki nyali untuk memintanya menjadi perempuanku.

Empat tahun berlalu, dia menjadi sarjana. Sedang aku, baru bisa rampung setahun kemudian. Tak sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Sedang aku, merintis karir di kota kembang. Tiga tahun lalu aku keluar dari pekerjaan pertamaku dan mencoba mencari peruntungan di Jakarta. Selain ingin mendapatkan penghasilan yang lebih baik, aku juga ingin membuang jarak yang selama ini membuatku harus puas sebagai pengamat jarak jauh. Tapi rupanya, nasib memintaku bertahan di Bandung.

Karirnya di Jakarta semakin mapan. Rupiah di rekening kian tinggi dan jabatan pun sudah di tangan. Aku, si pengamat jarak jauhnya, tentu merasa bahagia, sekaligus miris. Miris karena jarak yang terbentang, kini bukan hanya secara kasat mata. Disaat dia semakin menjulang, aku masih tertatih. Aku tahu, materi tak mengubah pribadi dan hatinya yang sederhana. Tapi aku semakin tak punya nyali untuk memintanya menjadi perempuanku. Meski waktu terus bergulir dan hatiku kian takut, suatu hari nanti mendengar kabar dia bersanding di pelaminan, tapi aku tetap bertahan untuk membisu. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa dan memberinya perhatian kecil. Aku tak pernah absen mengirim ucapan selamat ulang tahun, meski hanya lewat sms. Aku terlalu mencintainya, dan ingin memberinya yang terbaik. Tapi hingga kini, aku belum menjadi “seseorang”. Aku belum cukup percaya diri untuk memintanya menjadi perempuanku. Aku belum merasa yakin bisa memberi yang terbaik. Aku hanya bisa terus berdoa, semoga kelak dia menjadi perempuanku. Semoga Allah memilihnya menjadi teman hidupku hingga akhir masa. Amien.

(dari ekspresi seorang pria yang terus setia membisu)

Leave a Reply