Archive for July, 2006

Jatuh Cinta & Patah Hati

Friday, July 14th, 2006

Tempo hari salah satu sahabat gw telepon. Dia curhat kalau dia lagi patah hati. Patah hati untuk yang pertama kalinya. Yups, it was her first love. Jadi wajar jika dia ngrasa sakiiiit banget. Dia bingung, saat gw bilang: "Nikmatilah rasanya patah hati." Saran yang aneh ya? Patah hati kan menyakitkan! Kok dinikmati?

Well, tapi itulah makna patah hati bagi gw. Sedih memang. Tapi buat gw, patah hati memiliki arti yang sama penting seperti jatuh cinta. Keduanya membuat hidup gw berwarna. Dan yang terpenting, membuat gw merasa jadi manusia. Bagi gw, hidup terasa datar saat kita tidak jatuh cinta atau patah hati. Monoton banget! Yang ada di pikiran cuma kerjaan di kantor dan kerapihan kamar tidur. Sisi manusiawi gw hanya memikirkan kabar keluarga di kampung. Tapi coba kalau lagi jatuh cinta or patah hati! Hati kita tuh akan lebih melo dan peka. Jiwa pun terasa hangat.

Jatuh cinta dan patah hati juga bisa lebih mendekatkan gw sama yang Maha Pencipta. Saat gw jatuh cinta, gw minta petunjuk dan bimbingan-Nya. Gw juga minta diberi kekuatan iman agar tak larut dalam cinta yang berlebihan. Dan saat gw patah hati, hanya Dia tempat curhat yang terpercaya. Yang paling mengerti luka yang dirasa. Pada-Nya gw memohon kekuatan agar bisa ikhlas dan tawakal. Dan pada-Nya pula aku pasrahkan hari esok.

Jatuh cinta membuat gw tersenyum. Patah hati membuat gw bersedih. Keduanya adalah rasa yang menyadarkan diri bahwa gw adalah seorang manusia. Jatuh cinta dan patah hati, keduanya memberi gw pelajaran hidup agar lebih bijak dan dewasa.

Jadi, nikmatilah rasanya patah hati, layaknya jatuh cinta ;)

Kematian Terindah

Friday, July 14th, 2006

Suatu siang di bulan Juni, gw sedang liputan Danau Tolire di Ternate. Ring tone lagu Joy, Karena Cinta, menyadarkan kalau ada telpon masuk ke HP gw.
Sebuah kabar mengejutkan terdengar di telinga gw. Salah satu saudara gw, Teh Suci, meninggal pukul 6 pagi karena pendarahan paska melahirkan.
Kabar ini kontan membuat gw sulit memfokuskan konsentrasi pada liputan. Suasana yang tenang di Danau Tolire membuat gw semakin memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Rasa tak percaya dan sedih membuat mood gw untuk liputan, langsung drop. Untung liputannya ringan dan gak menuntut gw berpikir kritis heheheh.
Tapi saat gw hampir larut dalam sedih, gw justru menyadari sesuatu yang membuat gw merasa "iri" pada Teh Suci. Kenapa?
Kematian bukanlah musibah meski memberi rasa duka bagi yang ditinggalkan. Kematian adalah kepastian bagi semua mahluk yang bernafas. Gw melihat kematian Teh Suci sebagai kematian terindah, jauh lebih indah ketimbang kematian Romeo & Juliet yang dipandang tragis namun romantis.
Teh Suci sangat beruntung, kembali pada-Nya secara syahid. Berpulang dengan "memberi" kehidupan pada bayi perempuan cantik yang baru saja ia lahirkan. Tidakkah itu sangat indah?
Kita semua pasti akan bertemu kematian. Entah kapan dan bagaimana. Tapi hanya sedikit orang yang beruntung dipanggil-Nya secara indah.
Saat gw pulang ke Jakarta, gw mendengar beberapa anggota keluarga yang masih meratapi kepergian Teh Suci. Bukannya gw tidak berduka atas kepergiannya, tapi gw hanya tak ingin merusak keindahan kematian Teh Suci.
Ada yang merasa kasihan pada Teh Suci, karena dia meninggal setelah melahirkan anak pertama, sehingga tak sempat merasakan indahnya menjadi seorang ibu. Pendapat ini tak sepenuhnya salah. Tapi kalau kita melihat dengan kacamata yang berbeda, justru dia wanita yang sangat beruntung.
Allah telah memberinya kesempatan menjadi seorang istri. Lalu Allah memberinya kesempatan menjadi wanita "sempurna", merasakan adanya kehidupan di dalam perutnya. Lalu Allah memberinya kesempatan berjuang melahirkan buah hati secara normal. Dan sebelum Allah memanggilnya, ia masih diberi kesempatan menyusui bayinya. Memberi ASI pertama dengan kandungan maha dahsyat untuk si kecil. Allah telah memberinya kesempatan menjadi seorang ibu, meski hanya sejenak.
Bukankah ini kematian terindah?

Tragedi UAN

Friday, July 14th, 2006

23 Juni 2006

Semenjak pengumuman kelulusan UAN, awal pekan ini, setiap hari kami mendapat dan menayangkan berita seputar kelulusan UAN. Mulai cerita klise tentang tradisi corat-coret baju sampai kisah-kisah tragis mereka yang tak lulus.

Dari Pontianak, kami menayangkan berita ttg seorang siswa yang gantung diri karena tak lulus UAN. Sebelum bunuh diri, ia meminta agar ikut ujian persamaan paket C. Tapi orang tuanya tak bisa mengabulkan karena faktor biaya. Di waktu yang hampir bersamaan, masih di Pontianak, seorang siswi mencoba mengakhiri hidup dengan minum pemutih pakaian. Ia sempat tak sadarkan diri dan harus dirawat intensif di rumah sakit.

Dua hari lalu, kami menanyangkan profil seorang siswi di Jakarta yang dapat PMDK ke IPB. Dia selalu masuk peringkat 3 besar selama SMA. Tapi dia dinyatakan tidak lulus UAN karena nilai matematikanya 4. Harapan kuliah di IPB yang semula sudah digenggaman, tiba-tiba lenyap. Kisah yang hampir serupa juga dialami seorang siswi di Medan. Kerja kerasnya selama 3 tahun agar selalu mendapat peringkat terbaik, jadi "sia-sia" hanya karena satu peristiwa "sesaat".

Lalu, apa reaksi pemerintah? Mendiknas justru menyuruh PTN instropeksi diri, tentang sistem penyaringan siswa melalui PMDK. Dia pun menilai bahwa siswa yang tak lulus, adalah siswa yang malas, siswa yang bodoh…..

Benarkah?

Apakah ia lupa, betapa beda dan senjangnya kualitas pendidikan yang didapat anak-anak di perkotaan dengan di daerah? Jangankan yang berbeda daerah, di satu kota pun, kualitas sarana dan fasilitas pendidikan bisa sangat jomplang. Adilkah jika anak-anak dari berbagai penjuru nusantara ini diuji dengan soal-soal yang sama? Soal-soal yang mengacu pada standar kualitas pendidikan ideal?

Aku jadi ingat masa lalu….saat baru lulus SMA.
Selama 3 tahun aku berjuang agar bisa terus masuk peringkat. Aku pun ikut PMDK, dan alhamdulillah lolos. Tapi andaikan kejadiannya sekarang, mungkin aku termasuk anak yang terancam tidak lulus, dan batal kuliah di salah satu PTN paling favorit di Indonesia. Penyebabnya sederhana, sakit saat mengikuti EBTANAS.

Karena gugup dan stress menghadapi EBTANAS, aku terserang diare. Aku terpaksa belajar sambil berbaring. Bergerak sedikit, perutku langsung mulas dan harus langsung lari ke WC. Dengan kondisi seperti itu, bagaimana aku bisa maksimal belajar? Untungnya, di saat mengisi soal-soal EBTANAS, diareku mau "kompromi", sehingga aku tak harus bolak-balik ke toilet sekolah. Allah pun memberi kekuatan sehingga aku bisa menenangkan diri dan konsentrasi mengisi soal-soal.
Tapi begitu aku sampai di rumah dan mau belajar untuk ujian keesokan hari, diareku kambuh lagi.
Hasilnya, aku mendapat nilai 6 untuk fisika dan matematika, 2 mata pelajaran yang paling membuatku stress. Nilai mata pelajaran yang lain pun tak ada yang memukau.

Jika melihat pengalaman pribadi, bukan tak mungkin mereka yang tak lulus UAN mengalami kegugupan dan stress berat seperti yang pernah aku alami dulu. Mereka gagal UAN bukan karena mereka tak mampu menjawab soal-soal. Rasa gugup dan stress telah membunuh konsentrasi.

Aku bayangkan, jika aku ada di posisi mereka…..
Aku hanya hanya bisa berharap dan berdoa, semoga masih ada harapan bagi mereka mendapat "keadilan".