Jatuh Cinta & Patah Hati

Tempo hari salah satu sahabat gw telepon. Dia curhat kalau dia lagi patah hati. Patah hati untuk yang pertama kalinya. Yups, it was her first love. Jadi wajar jika dia ngrasa sakiiiit banget. Dia bingung, saat gw bilang: "Nikmatilah rasanya patah hati." Saran yang aneh ya? Patah hati kan menyakitkan! Kok dinikmati?

Well, tapi itulah makna patah hati bagi gw. Sedih memang. Tapi buat gw, patah hati memiliki arti yang sama penting seperti jatuh cinta. Keduanya membuat hidup gw berwarna. Dan yang terpenting, membuat gw merasa jadi manusia. Bagi gw, hidup terasa datar saat kita tidak jatuh cinta atau patah hati. Monoton banget! Yang ada di pikiran cuma kerjaan di kantor dan kerapihan kamar tidur. Sisi manusiawi gw hanya memikirkan kabar keluarga di kampung. Tapi coba kalau lagi jatuh cinta or patah hati! Hati kita tuh akan lebih melo dan peka. Jiwa pun terasa hangat.

Jatuh cinta dan patah hati juga bisa lebih mendekatkan gw sama yang Maha Pencipta. Saat gw jatuh cinta, gw minta petunjuk dan bimbingan-Nya. Gw juga minta diberi kekuatan iman agar tak larut dalam cinta yang berlebihan. Dan saat gw patah hati, hanya Dia tempat curhat yang terpercaya. Yang paling mengerti luka yang dirasa. Pada-Nya gw memohon kekuatan agar bisa ikhlas dan tawakal. Dan pada-Nya pula aku pasrahkan hari esok.

Jatuh cinta membuat gw tersenyum. Patah hati membuat gw bersedih. Keduanya adalah rasa yang menyadarkan diri bahwa gw adalah seorang manusia. Jatuh cinta dan patah hati, keduanya memberi gw pelajaran hidup agar lebih bijak dan dewasa.

Jadi, nikmatilah rasanya patah hati, layaknya jatuh cinta ;)

One Response to “Jatuh Cinta & Patah Hati”

  1. OhDuy Says:

    ty kata orang sih kita belum tau rasanya manis kalo belum pernah ngerasain pahit ya kan?? sebenarnya inti dari tulisan elo adalah bagaimana kita menyikapinya dengan baik setiap permasalahan yang ada dalam fase hidup kita bukan entah itu masalah hidup, kesusahan atau cinta bahkan…

    gw jadi inget cerita nya lance amstrong ketika dia di vonis kena kanker dan umurnya udah ga lama lagi namun dia berhasil mengatasinya dan melewati semua penyakitnya hanya dari perubahan cara dia berpikir ttg hidupnya dengan menyikapi kemenangan dengan tidak dengan euforia berlebihan maupun kekalahan dengan sedih berkepanjangan dan akhirnya dia masih bisa juara tour de france beberapa kali lagi…

    mungkin kutipan puisi rendra bisa jadi analogi yang bagus buat kehidupan kita mungkin dengan konteks cinta yang lebih luas tentunya nih gw kasih:

    Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
    bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
    bahwa mobilku hanya titipan Nya,
    bahwa rumahku hanya titipan Nya,
    bahwa hartaku hanya titipan Nya,
    bahwa putraku hanya titipan Nya,
    tetapi,
    mengapa aku tak pernah bertanya,
    mengapa Dia menitipkan padaku?
    Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
    Dan kalau bukan milikku,
    apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
    Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
    Mengapa hatiku justru terasa berat,
    ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
    Ketika diminta kembali,
    kusebut itu sebagai musibah,
    kusebut itu sebagai ujian,
    kusebut itu sebagai petaka,
    kusebut dengan panggilan apa saja
    Untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
    Ketika aku berdoa,
    kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
    aku ingin lebih banyak harta,
    ingin lebih banyak mobil,
    lebih banyak rumah,
    lebih banyak popularitas,
    dan kutolak sakit,
    kutolak kemiskinan,
    Seolah …
    semua “derita” adalah hukuman bagiku.
    Seolah …
    keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
    aku rajin beribadah,
    maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
    dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
    Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
    dan bukan Kekasih.
    Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
    dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
    Gusti,
    padahal tiap hari kuucapkan,
    hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
    “ketika langit dan bumi bersatu,
    bencana dan keberuntungan sama saja”

    WS Rendra

Leave a Reply