Kematian Terindah
Suatu siang di bulan Juni, gw sedang liputan Danau Tolire di Ternate. Ring tone lagu Joy, Karena Cinta, menyadarkan kalau ada telpon masuk ke HP gw.
Sebuah kabar mengejutkan terdengar di telinga gw. Salah satu saudara gw, Teh Suci, meninggal pukul 6 pagi karena pendarahan paska melahirkan.
Kabar ini kontan membuat gw sulit memfokuskan konsentrasi pada liputan. Suasana yang tenang di Danau Tolire membuat gw semakin memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Rasa tak percaya dan sedih membuat mood gw untuk liputan, langsung drop. Untung liputannya ringan dan gak menuntut gw berpikir kritis heheheh.
Tapi saat gw hampir larut dalam sedih, gw justru menyadari sesuatu yang membuat gw merasa "iri" pada Teh Suci. Kenapa?
Kematian bukanlah musibah meski memberi rasa duka bagi yang ditinggalkan. Kematian adalah kepastian bagi semua mahluk yang bernafas. Gw melihat kematian Teh Suci sebagai kematian terindah, jauh lebih indah ketimbang kematian Romeo & Juliet yang dipandang tragis namun romantis.
Teh Suci sangat beruntung, kembali pada-Nya secara syahid. Berpulang dengan "memberi" kehidupan pada bayi perempuan cantik yang baru saja ia lahirkan. Tidakkah itu sangat indah?
Kita semua pasti akan bertemu kematian. Entah kapan dan bagaimana. Tapi hanya sedikit orang yang beruntung dipanggil-Nya secara indah.
Saat gw pulang ke Jakarta, gw mendengar beberapa anggota keluarga yang masih meratapi kepergian Teh Suci. Bukannya gw tidak berduka atas kepergiannya, tapi gw hanya tak ingin merusak keindahan kematian Teh Suci.
Ada yang merasa kasihan pada Teh Suci, karena dia meninggal setelah melahirkan anak pertama, sehingga tak sempat merasakan indahnya menjadi seorang ibu. Pendapat ini tak sepenuhnya salah. Tapi kalau kita melihat dengan kacamata yang berbeda, justru dia wanita yang sangat beruntung.
Allah telah memberinya kesempatan menjadi seorang istri. Lalu Allah memberinya kesempatan menjadi wanita "sempurna", merasakan adanya kehidupan di dalam perutnya. Lalu Allah memberinya kesempatan berjuang melahirkan buah hati secara normal. Dan sebelum Allah memanggilnya, ia masih diberi kesempatan menyusui bayinya. Memberi ASI pertama dengan kandungan maha dahsyat untuk si kecil. Allah telah memberinya kesempatan menjadi seorang ibu, meski hanya sejenak.
Bukankah ini kematian terindah?
This entry was posted
on Friday, July 14th, 2006 at 11:29 pm and is filed under Uncategorized.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.