Tragedi UAN

23 Juni 2006

Semenjak pengumuman kelulusan UAN, awal pekan ini, setiap hari kami mendapat dan menayangkan berita seputar kelulusan UAN. Mulai cerita klise tentang tradisi corat-coret baju sampai kisah-kisah tragis mereka yang tak lulus.

Dari Pontianak, kami menayangkan berita ttg seorang siswa yang gantung diri karena tak lulus UAN. Sebelum bunuh diri, ia meminta agar ikut ujian persamaan paket C. Tapi orang tuanya tak bisa mengabulkan karena faktor biaya. Di waktu yang hampir bersamaan, masih di Pontianak, seorang siswi mencoba mengakhiri hidup dengan minum pemutih pakaian. Ia sempat tak sadarkan diri dan harus dirawat intensif di rumah sakit.

Dua hari lalu, kami menanyangkan profil seorang siswi di Jakarta yang dapat PMDK ke IPB. Dia selalu masuk peringkat 3 besar selama SMA. Tapi dia dinyatakan tidak lulus UAN karena nilai matematikanya 4. Harapan kuliah di IPB yang semula sudah digenggaman, tiba-tiba lenyap. Kisah yang hampir serupa juga dialami seorang siswi di Medan. Kerja kerasnya selama 3 tahun agar selalu mendapat peringkat terbaik, jadi "sia-sia" hanya karena satu peristiwa "sesaat".

Lalu, apa reaksi pemerintah? Mendiknas justru menyuruh PTN instropeksi diri, tentang sistem penyaringan siswa melalui PMDK. Dia pun menilai bahwa siswa yang tak lulus, adalah siswa yang malas, siswa yang bodoh…..

Benarkah?

Apakah ia lupa, betapa beda dan senjangnya kualitas pendidikan yang didapat anak-anak di perkotaan dengan di daerah? Jangankan yang berbeda daerah, di satu kota pun, kualitas sarana dan fasilitas pendidikan bisa sangat jomplang. Adilkah jika anak-anak dari berbagai penjuru nusantara ini diuji dengan soal-soal yang sama? Soal-soal yang mengacu pada standar kualitas pendidikan ideal?

Aku jadi ingat masa lalu….saat baru lulus SMA.
Selama 3 tahun aku berjuang agar bisa terus masuk peringkat. Aku pun ikut PMDK, dan alhamdulillah lolos. Tapi andaikan kejadiannya sekarang, mungkin aku termasuk anak yang terancam tidak lulus, dan batal kuliah di salah satu PTN paling favorit di Indonesia. Penyebabnya sederhana, sakit saat mengikuti EBTANAS.

Karena gugup dan stress menghadapi EBTANAS, aku terserang diare. Aku terpaksa belajar sambil berbaring. Bergerak sedikit, perutku langsung mulas dan harus langsung lari ke WC. Dengan kondisi seperti itu, bagaimana aku bisa maksimal belajar? Untungnya, di saat mengisi soal-soal EBTANAS, diareku mau "kompromi", sehingga aku tak harus bolak-balik ke toilet sekolah. Allah pun memberi kekuatan sehingga aku bisa menenangkan diri dan konsentrasi mengisi soal-soal.
Tapi begitu aku sampai di rumah dan mau belajar untuk ujian keesokan hari, diareku kambuh lagi.
Hasilnya, aku mendapat nilai 6 untuk fisika dan matematika, 2 mata pelajaran yang paling membuatku stress. Nilai mata pelajaran yang lain pun tak ada yang memukau.

Jika melihat pengalaman pribadi, bukan tak mungkin mereka yang tak lulus UAN mengalami kegugupan dan stress berat seperti yang pernah aku alami dulu. Mereka gagal UAN bukan karena mereka tak mampu menjawab soal-soal. Rasa gugup dan stress telah membunuh konsentrasi.

Aku bayangkan, jika aku ada di posisi mereka…..
Aku hanya hanya bisa berharap dan berdoa, semoga masih ada harapan bagi mereka mendapat "keadilan".

Leave a Reply