KUPAS TUNTAS (Agustus-November 2002)
“Ok, malam ini kita cari si bidan”, ajak produserku kala itu, Tomi Satyartomo. Bidan berinisial H, si ratu aborsi, yang pernah masuk bui gara-gara ketahuan “membantu” para wanita hamil membunuh janin dlm kandungannya dengan berbagai alasan. Asumsi kami, dia sudah insaf setelah keluar bui. Kami akan memintanya untuk jadi narasumber Kupas Tuntas episode aborsi. Malam itu aku pergi dengan Mas Tomi dan Bang Pe’I, salah satu kameramen di tim Kuptun. Dengan mobil polos tanpa logo, kami pergi ke daerah Senen, tempat sang bidan bermukim. Skenarionya, kami akan datang tanpa mengaku diri sebagai wartawan. Kami akan melakukan “pendekatan” terlebih dulu. Kami tiba di sebuah pemukiman sangat padat dan cenderung kumuh. Sebuah daerah “rawan”. Setelah menanyakan arah beberapa kali, akhirnya kami tiba di lokasi tujuan. Aku turun dengan Mas Tomi. Bang Pe’I dan driver tetep di mobil, menjaga kamera DVC Pro dan mobil agar tetep “utuh”. Baru masuk mulut gang, kami berpapasan dengan seorang pria. Kami bertanya, “Mas, tau rumahnya bidan H?” . “Oh, rumahnya di sana, mari saya antar”. Rupanya rumah sang bidang terletak jauh di dalam gang yang sempit dan sumpek karena padatnya rumah-rumah di sana. Perasaanku semakin tak enak, melihat gelagat pria yang mengantar kami dan suasana di gang itu. Sangat ganjil dan mencurigakan. Kami lalu masuk ke halaman sebuah rumah yang cukup mentereng dibanding rumah-rumah lain di gang itu. “Assalamualaikum, Bu, ada tamu”, tutur si pria yang berusaha tampak “alim” dengan mengucap salam. Seorang wanita muda membukakan pintu, mempersilahkan kami masuk. “Sebentar, saya panggilkan ibu”, katanya. Baru saja pantatku menyentuh sofa di ruangan itu, si wanita muda nongol lagi.” Mbaknya, silahkan tes urine dulu, nanti ibu keluar”, perintah wanita itu sambil menunjukkan arah menuju toilet. Kontan aku dan Mas Tomi saling bertatapan sambil menahan kaget. Aku yakin, pikiran kami saat itu sama: si bidan ternyata belum insyaf. Dia masih praktek aborsi. Kami tak punya waktu, meski hanya sedetik, untuk berdiskusi, mengubah skenario yang sudah kami susun. Kami hanya bisa berkomunikasi lewat mata. Tapi kami sama-sama sadar, kami harus bersandiwara. Si bidan keluar. Dan tentu saja, si bidan mengira kami adalah sepasang kekasih yang ingin meminta tolong mengugurkan kandungan. Mas Tomi berusaha menjelaskan jika kami bukan kekasih. Aku adalah temannya, yang mengantar untuk bertemu sang bidan. Sedangkan sang kekasih tak ikut karena merasa takut diaborsi. Mas Tomi menambahkan jika kedatangan kami untuk mencari informasi dulu soal proses aborsinya, agar Mas Tomi bisa meyakinkan “sang kekasih” berani menggugurkan kandungan. Apakah si bidan percaya? Tentu tidak. Dari matanya terlihat jelas jika ia yakin, akulah wanita kekasih Mas Tomi, yang tengah mengandung janin yang tak diharapkan. Aku sadar, jika aku harus ikut jadi pemeran utama dalam sandiwara itu. Sambil sesekali memegang perut, akhirnya aku bersandiwara jika aku memang kekasih Mas Tomi yang mengaku sebagai temannya. Aku tak mengaku sebagai si kekasih karena takut diaborsi. Aku lontarkan beberapa pertanyaan pada si bidan, untuk menunjukkan kesan aku wanita hamil yang ingin aborsi tapi merasa takut luar biasa. Aku takut akan rasa sakitnya, takut akan efek aborsi, sampai takut jika orang-orang di sekitar rumah si bidan tahu jika aku “pasien” si bidan. Muka pucatku sangat membantu sandiwaraku. Aku yakin sandiwara kami berhasil, karena si bidan begitu bersemangat “menenangkanku” agar tak takut dan khawatir. Aku dan mas Tomi sama-sama sadar jika saat itu keselamatan kami terancam. Kami berada di tengah-tengah pemukiman sarang preman, dimana si bidan termasuk orang yang berkuasa di lingkungan itu. Jadi tamatlah kami jika sampai si bidan tahu kami ternyata wartawan. Disaat kami mulai merasa tenang karena sandiwara berhasil, Bang Pe’I tiba-tiba masuk. Tambah lagi kejadian di luar skenario. Seharusnya dia baru keluar dari mobil setelah ada “panggilan” dari kami. Meski dia mengaku sebagai teman kami, tapi caranya bertanya pada si bidan membuat kami cemas. Jika si bidan jeli dan punya pengalaman diwawancara wartawan investigasi, ia pasti langsung bisa menembak jika Bang Pei seorang wartawan. Kembali aku dan Mas Tomi menggunakan bahasa mata untuk berkomunikasi dengan Bang Pe’I, agar dia berhenti bertanya. Singkat cerita, kami berjanji akan menelpon si bidan untuk membuat janji “eksekusi”, jika “si kekasih” sudah berani diaborsi. Kami bertiga lalu pamit. Kami segera masuk mobil dan keluar dari lingkungan itu. Yakin posisi kami aman, hatiku luar biasa lega. Kami sudah selamat dari maut. Di dalam mobil, meski masih ada sisa rasa cemas, kami langsung tertawa membahas kejadian yang baru saja kami alami. Dasar wartawan……
BERITA TRANS PETANG (Desember 2002-Januari 2003)
Sore itu wartawan TV lain sudah bubar jalan dari Polda Bali. Udah BT nongkrong dari pagi, berharap Imam Samudra keluar dari sel utk masuk ruang penyidikan. Tapi aku dan Delvi memutuskan untuk stay bersama wartawan cetak. Yahhhh….siapa tahu malam ini pelaku bom Bali itu beneran nongol. Selepas adzan Maghrib, kami melihat ada “gerakan” di lokasi Imam ditahan. Kami langsung melonjak…mengintip lebih seksama. Dan ternyata…ada seorang lelaki sambil membawa sarung berjalan sambil digiring beberapa petugas berpakaian preman. Imam!!!!! Teriak kami. Kami langsung beraksi membidik sasaran. Sambil berlari kecil mengikuti Imam Samudra, kami melakukan wawancara “alakadar”. Terbayar sudah BT dan lelah kami seharian ini. Kami satu-satunya TV yang dapat gambar Imam Samudra di Polda Bali untuk pertama kali. Usai Feeding gambar di Telkom, Aku dan Delvi langsung meluncur ke hotel. Baru sejenak melepas lelah…ada masalah yang membuat kami panik. Sim card ku hilang! Karena HP ku dipakai untuk nomor kantor, jadi sim card-nya disimpan di dalam tempat HP-ku. Semalam, Delvi yang memegang tempat HP ku berikut isinya. Mengabadikan Imam Samudra membuat kami tak memperhatikan hal lain. Rupanya, saat berlari kecil itulah, sim card ku terjatuh. Kesokan pagi, kami segera ke Polda. Misi utama: mencari sim card yang hilang. Masalahnya, halaman polda yang kami lewati semalam, sangat luas. Beberapa polisi yang melihat kesibukan kami, ikut membantu mencari benda yang rasanya terlalu kecil untuk bisa ditemukan di tempat seluas itu. Tapi ajaib!! Kami menemukan sim card itu. Tepat di depan pintu masuk ruang penyidikan. Batas dimana kami “diperbolehkan” mengikuti Imam Samudra. Hah….lega. Makanya…lain kali hati-hati ya…he..he…
MENGUNTAI KASIH ACEH (Januari 2005)
Dengan semangat 45 aku menerima tugas ke Aceh, yang baru saja tertimpa bencana tsunami. Buatku, itu adalah kesempatan besar yang belum tentu didapat semua orang. Karena aku yakin, kampir semua warga lantai 3 ingin diberi kesempatan itu. Cuma ini masalah “rejeki”. Sebuah rejeki yang harus dibayar dengan perjuangan di “medan tempur”. Bukan hal yang mudah untuk bisa sampai ke Meulaboh, salah satu kota terhancur di Aceh. Di bandara Polonia Medan, aku dan teman-teman satu tim harus pandai mencari peluang untuk bisa numpang terbang. Berebut dengan para relawan, wartawan lain, bahkan warga yang ingin menjenguk keluarganya di Aceh. Bahkan istilah kasarnya, kami harus “jual diri” agar dapat seat. Kota mati. Itulah Meulaboh saat itu. Sepanjang jalan dari bandara menuju pusat kota Meulaboh, sangat ngeri untuk dilihat. Aku tak menyangka, sebuah “pemandangan” yang kukira hanya bisa kulihat di film-film, kini begitu nyata di hadapanku. Aku seolah bisa mendengar dan melihat histeris, tangis, dan kepanikan orang-orang saat tiba-tiba gelombang mengamuk dan menghancurkan tempat ini. Tapi aku sempet heran….sepanjang jalan, begitu langka aku melihat manusia. Tapi aku beberapa kali bertemu rombongan lembu. Kok mereka banyak yang selamat ya? He…he…he…. Tugas kami ke Meulaboh adalah mempertemukan para korban yang terpisah dari keluarganya. Anak yang sebatang kara. Suami istri yang saling tak mengetahui nasib pasangannya. Kakak beradik yang sedang saling mencari kabar. Alhamdulillah, kami berhasil mempertemukan beberapa anggota keluarga. Seorang bocah dengan orang tuanya, seorang anak yatim piatu dengan pamannya, seorang adik dengan kakaknya, dan beberapa orang lainnya. Tapi yang tak kalah “seru” sekaligus memilukan, adalah pertemuan kami dengan beberapa korban Tsunami yang jadi gila gara-gara bencana itu. Entah karena dia stress kehilangan seluruh harta bendanya, atau karena kehilangan keluarganya. Sejak dulu aku ingin menginjak tanah rencong. Tapi tak kusangka, jika aku ke sana di saat Aceh berwajah memilukan.