Archive for August, 2006

Selamat Ulang Tahun Mama

Sunday, August 6th, 2006

Ini adalah hari pertamaku masuk sekolah dasar. Aku merasa senang sekali. Aku masuk ke dalam ruang dimana aku akan belajar membaca dan berhitung. Aku lalu duduk di bangku barisan belakang. Soalnya bangku-bangku di barisan depan sudah diduduki orang lain. Suasana ruang kelas sangat ramai. Mataku menyisir semua orang yang ada di sana. Lalu aku menyadari sesuatu, yang kemudian membuatku sedih. Aku “berbeda“ dengan anak-anak lain. Aku satu-satunya anak yang tidak diantar orang tua. Semua murid lain, duduk sebanggu dengan mama atau papa mereka. Sementara mamaku, hanya mengantarku hingga ke depan pintu kelas, dan menyuruhku masuk, lalu dia pun berlalu.

Itulah sepenggal kenanganku akan kejadian sekitar 20 tahun lalu. Masa dimana aku sering bingung, kenapa mama sering “membiarkanku“ sendiri. Mama sering kali menolak mengantarku membeli sepatu, baju, sampai buku. Ia selalu menyuruhku untuk pergi sendiri. Tapi di sisi lain, mama sangat memanjakanku dan selalu siap memberi pelukan hangatnya. Pelukan yang membuatku merasa sangat nyaman dan aman.

Setelah usiaku beranjak dewasa, perlahan aku mulai memahami segala sikap dan tindakan mama terhadapku. Seperti saat ia tetap menyuruhku berangkat ke sekolah meski aku bilang saat itu aku merasa tak enak badan. “Sepanjang kamu masih bisa pergi ke sekolah, kamu tidak boleh bolos. Kecuali sakit itu membuatmu tak bisa berpikir karena pusing dan badanmu terlalu lemas untuk melangkah, maka kamu harus istirahat di rumah“ , begitulah pertimbangan mama. Kini aku sadar, saat itu ia tengah mengajariku akan sebuah tanggung jawab dan tak mudah menyerah jika menghadapi masalah.

Begitu pula saat mama tak selalu langsung mengabulkan permintaanku. Ia ingin aku belajar bahwa segala sesuatu harus diperoleh dengan perjuangan, bukan hanya menanti uluran tangan. Atau saat mama selalu menyuruhku membuat keputusan sendiri dan mewajibkanku menanggung segala resikonya, namun ia selalu ada untuk memberi dukungan.

Mama pun mengajariku dengan tindakan. Aku sangat jarang sekali melihatnya membeli baju, sepatu, atau tas. Sembilan puluh persen baju yang ada di lemarinya adalah pemberian dari kakak-kakaknya, alias baju lungsuran. Ia pun hanya membeli sepatu dan tas jika sepasang sepatu dan satu-satunya tas kerjanya sudah tak layak pakai. Mama orang yang sangat sederhana. Aku bahkan tak pernah melihatnya membeli perhiasan. Cincin, kalung, dan gelang yang ia miliki, adalah pemberian nini.

Aku pun sering melihatnya hanya makan nasi dengan goreng tempe dan kerupuk. Tapi ia mengusahakan agar aku dan adikku makan telur atau daging ayam. Satu ekpresi pengorbanan cinta tanpa pamrih.

Yah…seperti itulah mama membesarkanku. Sering “melepasku“  sendiri agar aku belajar mandiri. Ia bersikap tegas dan keras agar aku disiplin dan bisa menentukan sikap, namun selalu menaburiku cinta dan kasih yang tiada batas, agar aku memiliki hati.

Dan dari segala yang dimikili mama, hal yang paling aku kagumi adalah kekuatan dan kelembutannya dalam membesarkanku seorang diri, as a single parent. Ia tak pernah kehilangan harapan dan semangat untuk terus berdiri meski dalam badai dasyat. Ia tetap tersenyum padaku, meski hatinya sedang menangis. Ia selalu memberiku kehangatan cinta, meski ia sedang merasa hampa. Karena ia ingin aku meyakini bahwa Allah itu ada.

Terima kasih mama.

Terima kasih atas mata air cintamu yang tak pernah kering.

Terima kasih atas segala doa yang selalu engkau panjatkan di setiap hembusan nafasmu.

Terima kasih atas cara indahmu membesarkanku.

Terima kasih atas segala pengorbanan yang kau beri tanpa berharap kembali.

Terima kasih ya Allah, atas anugerah indah-Mu, menjadikan ia sebagai mamaku.

Selamat ulang tahun mama…

Kado Istimewa untuk Bunda

Sunday, August 6th, 2006

27 Juli 2006

"Kado apa yang layak kuberikan pada bunda di ulang tahun nanti ya?", itu pertanyaan yang rutin kucari jawabannya setiap menjelang bulan Agustus. Pertanyaan yang sering bikin aku pusing. Mungkin jika Bunda adalah penggemar barang bermerk atau "berkelas", aku tak perlu memutar otak. Setahun sekali memberi kado mahal, masih bisa ditoleransi rekening tabunganku. Tapi masalahnya, bunda tak pernah menilai pemberian berdasarkan nominalnya.

Setelah punya penghasilan sendiri, aku pernah membelikannya baju yang cukup mahal dan mengajaknya ke toko sepatu agar dia bisa memilih sendiri sepatu sesuai seleranya. Apakah dia senang? Senang sih, tapi cenderung tak "ikhlas" menerimanya. Aku harus memohon agar ia mau menerima kado mahal itu. Tapi dia malah kelihatan tak senang. Menurutnya, sayang membeli barang semahal itu. Karena yang penting adalah fungsi dan kenyamanannya. Jika baju puluhan ribu sudah enak dipake, kenapa musti beli yang ratusan ribu, begitu katanya.

Namun pernah suatu ketika, saat aku masih kecil, aku memberinya kado berupa lukisan. Lukisan seorang ibu yang sedang memangku anaknya. Ceritanya sih, kedua orang dalam lukisan itu adalah bunda dan aku. Tapi karena aku sendiri yang memoleskan kuas ke atas kanvas, tentu saja sangat jauh dari mirip. Tampak seperti manusia saja, sudah untung hahahaha. Tapi aku tak akan lupa bagaimana ekspresi wajah bunda saat menerima kado itu. Penuh haru dengan mata berkaca-kaca. Ekspresi yang sama juga aku dapatkan jika aku membuatkannnya puisi.

Kado yang aku nilai "istimewa" yang pernah aku berikan pada bunda, adalah kado di ulang tahunnya 5 tahun lalu. Aku berusaha untuk lulus di bulan Agustus. Hingga di pagi hari ulang tahunnnya, ia menerima kado berupa skripsi. Pada lembar persembahan, tertulis: "Kupersembahkan dengan segenap rasa cinta, hormat dan kagumku untuk ibunda, Daradjati Sudiana, di hari ulang tahunnya yang ke-45. Semoga ini bukan kado terindah yang bisa aku berikan."
Ia menangis penuh haru. Dan air mata kebahagiaannya saat itu, adalah cita-cita yang ingin kuraih dari 4 tahun berkutat dengan puluhan mata kuliah.
Skripsi itu adalah kado jilid 1. Seminggu kemudian, aku serahkan kado jilid 2. Aku memberinya kejutan di acara wisuda. Tanpa sepengetahuannnya, aku menjadi wakil wisudawan FISIP. Bunda pun terkejut saat namaku dipanggil. Rasa kaget yang beriring haru dan tangis yang membuat para orang tua wisudawan lain bingung melihatnya. Dan bunda kembali terkejut saat nama-nama wisudawan cum laude dipanggil untuk mendapat penghargaan rektor. Bunda kembali mendengar namaku.

Hingga detik ini, aku tak pernah berhenti berucap syukur pada Yang Kuasa, karena telah memberiku kesempatan untuk memberi kado istimewa itu pada bunda. Dan aku selalu berdoa, agar aku akan terus diberi kesempatan memberi bunda kado istimewa.

Dan saat ini, aku kembali bingung menentukan kado istimewa untuk ulang tahunnya, 20 hari lagi. Sebetulnya aku tahu, kado apa yang sangat ia harapkan. Kado itu tak mahal, bahkan bisa dibilang bisa didapat dengan modal dengkul. Tapi kado itu sangat bernilai. Mungkinkah aku mendapatkannnya hanya dalam 20 hari?

Lebih dari Sekedar Pengalaman

Sunday, August 6th, 2006

KUPAS TUNTAS (Agustus-November 2002)

“Ok, malam ini kita cari si bidan”, ajak produserku kala itu, Tomi Satyartomo. Bidan berinisial H, si ratu aborsi, yang pernah masuk bui gara-gara ketahuan “membantu” para wanita hamil membunuh janin dlm kandungannya dengan berbagai alasan. Asumsi kami, dia sudah insaf setelah keluar bui. Kami akan memintanya untuk jadi narasumber Kupas Tuntas episode aborsi. Malam itu aku pergi dengan Mas Tomi dan Bang Pe’I, salah satu kameramen di tim Kuptun. Dengan mobil polos tanpa logo, kami pergi ke daerah Senen, tempat sang bidan bermukim. Skenarionya, kami akan datang tanpa mengaku diri sebagai wartawan. Kami akan melakukan “pendekatan” terlebih dulu. Kami tiba di sebuah pemukiman sangat padat dan cenderung kumuh. Sebuah daerah “rawan”. Setelah menanyakan arah beberapa kali, akhirnya kami tiba di lokasi tujuan. Aku turun dengan Mas Tomi. Bang Pe’I dan driver tetep di mobil, menjaga kamera DVC Pro dan mobil agar tetep “utuh”. Baru masuk mulut gang, kami berpapasan dengan seorang pria. Kami bertanya, “Mas, tau rumahnya bidan H?” . “Oh, rumahnya di sana, mari saya antar”. Rupanya rumah sang bidang terletak jauh di dalam gang yang sempit dan sumpek karena padatnya rumah-rumah di sana. Perasaanku semakin tak enak, melihat gelagat pria yang mengantar kami dan suasana di gang itu. Sangat ganjil dan mencurigakan. Kami lalu masuk ke halaman sebuah rumah yang cukup mentereng dibanding rumah-rumah lain di gang itu. “Assalamualaikum, Bu, ada tamu”, tutur si pria yang berusaha tampak “alim” dengan mengucap salam. Seorang wanita muda membukakan pintu, mempersilahkan kami masuk. “Sebentar, saya panggilkan ibu”, katanya. Baru saja pantatku menyentuh sofa di ruangan itu, si wanita muda nongol lagi.” Mbaknya, silahkan tes urine dulu, nanti ibu keluar”, perintah wanita itu sambil menunjukkan arah menuju toilet. Kontan aku dan Mas Tomi saling bertatapan sambil menahan kaget. Aku yakin, pikiran kami saat itu sama: si bidan ternyata belum insyaf. Dia masih praktek aborsi. Kami tak punya waktu, meski hanya sedetik, untuk berdiskusi, mengubah skenario yang sudah kami susun. Kami hanya bisa berkomunikasi lewat mata. Tapi kami sama-sama sadar, kami harus bersandiwara. Si bidan keluar. Dan tentu saja, si bidan mengira kami adalah sepasang kekasih yang ingin meminta tolong mengugurkan kandungan. Mas Tomi berusaha menjelaskan jika kami bukan kekasih. Aku adalah temannya, yang mengantar untuk bertemu sang bidan. Sedangkan sang kekasih tak ikut karena merasa takut diaborsi. Mas Tomi menambahkan jika kedatangan kami untuk mencari informasi dulu soal proses aborsinya, agar Mas Tomi bisa meyakinkan “sang kekasih” berani menggugurkan kandungan. Apakah si bidan percaya? Tentu tidak. Dari matanya terlihat jelas jika ia yakin, akulah wanita kekasih Mas Tomi, yang tengah mengandung janin yang tak diharapkan. Aku sadar, jika aku harus ikut jadi pemeran utama dalam sandiwara itu. Sambil sesekali memegang perut, akhirnya aku bersandiwara jika aku memang kekasih Mas Tomi yang mengaku sebagai temannya. Aku tak mengaku sebagai si kekasih karena takut diaborsi. Aku lontarkan beberapa pertanyaan pada si bidan, untuk menunjukkan kesan aku wanita hamil yang ingin aborsi tapi merasa takut luar biasa. Aku takut akan rasa sakitnya, takut akan efek aborsi, sampai takut jika orang-orang di sekitar rumah si bidan tahu jika aku “pasien” si bidan. Muka pucatku sangat membantu sandiwaraku. Aku yakin sandiwara kami berhasil, karena si bidan begitu bersemangat “menenangkanku” agar tak takut dan khawatir. Aku dan mas Tomi sama-sama sadar jika saat itu keselamatan kami terancam. Kami berada di tengah-tengah pemukiman sarang preman, dimana si bidan termasuk orang yang berkuasa di lingkungan itu. Jadi tamatlah kami jika sampai si bidan tahu kami ternyata wartawan. Disaat kami mulai merasa tenang karena sandiwara berhasil, Bang Pe’I tiba-tiba masuk. Tambah lagi kejadian di luar skenario. Seharusnya dia baru keluar dari mobil setelah ada “panggilan” dari kami. Meski dia mengaku sebagai teman kami, tapi caranya bertanya pada si bidan membuat kami cemas. Jika si bidan jeli dan punya pengalaman diwawancara wartawan investigasi, ia pasti langsung bisa menembak jika Bang Pei seorang wartawan. Kembali aku dan Mas Tomi menggunakan bahasa mata untuk berkomunikasi dengan Bang Pe’I, agar dia berhenti bertanya. Singkat cerita, kami berjanji akan menelpon si bidan untuk membuat janji “eksekusi”, jika “si kekasih” sudah berani diaborsi. Kami bertiga lalu pamit. Kami segera masuk mobil dan keluar dari lingkungan itu. Yakin posisi kami aman, hatiku luar biasa lega. Kami sudah selamat dari maut. Di dalam mobil, meski masih ada sisa rasa cemas, kami langsung tertawa membahas kejadian yang baru saja kami alami. Dasar wartawan……

BERITA TRANS PETANG (Desember 2002-Januari 2003)

Sore itu wartawan TV lain sudah bubar jalan dari Polda Bali. Udah BT nongkrong dari pagi, berharap Imam Samudra keluar dari sel utk masuk ruang penyidikan. Tapi aku dan Delvi memutuskan untuk stay bersama wartawan cetak. Yahhhh….siapa tahu malam ini pelaku bom Bali itu beneran nongol. Selepas adzan Maghrib, kami melihat ada “gerakan” di lokasi Imam ditahan. Kami langsung melonjak…mengintip lebih seksama. Dan ternyata…ada seorang lelaki sambil membawa sarung berjalan sambil digiring beberapa petugas berpakaian preman. Imam!!!!! Teriak kami. Kami langsung beraksi membidik sasaran. Sambil berlari kecil mengikuti Imam Samudra, kami melakukan wawancara “alakadar”. Terbayar sudah BT dan lelah kami seharian ini. Kami satu-satunya TV yang dapat gambar Imam Samudra di Polda Bali untuk pertama kali. Usai Feeding gambar di Telkom, Aku dan Delvi langsung meluncur ke hotel. Baru sejenak melepas lelah…ada masalah yang membuat kami panik. Sim card ku hilang! Karena HP ku dipakai untuk nomor kantor, jadi sim card-nya disimpan di dalam tempat HP-ku. Semalam, Delvi yang memegang tempat HP ku berikut isinya. Mengabadikan Imam Samudra membuat kami tak memperhatikan hal lain. Rupanya, saat berlari kecil itulah, sim card ku terjatuh. Kesokan pagi, kami segera ke Polda. Misi utama: mencari sim card yang hilang. Masalahnya, halaman polda yang kami lewati semalam, sangat luas. Beberapa polisi yang melihat kesibukan kami, ikut membantu mencari benda yang rasanya terlalu kecil untuk bisa ditemukan di tempat seluas itu. Tapi ajaib!! Kami menemukan sim card itu. Tepat di depan pintu masuk ruang penyidikan. Batas dimana kami “diperbolehkan” mengikuti Imam Samudra. Hah….lega. Makanya…lain kali hati-hati ya…he..he…

MENGUNTAI KASIH ACEH (Januari 2005)

Dengan semangat 45 aku menerima tugas ke Aceh, yang baru saja tertimpa bencana tsunami. Buatku, itu adalah kesempatan besar yang belum tentu didapat semua orang. Karena aku yakin, kampir semua warga lantai 3 ingin diberi kesempatan itu. Cuma ini masalah “rejeki”. Sebuah rejeki yang harus dibayar dengan perjuangan di “medan tempur”. Bukan hal yang mudah untuk bisa sampai ke Meulaboh, salah satu kota terhancur di Aceh. Di bandara Polonia Medan, aku dan teman-teman satu tim harus pandai mencari peluang untuk bisa numpang terbang. Berebut dengan para relawan, wartawan lain, bahkan warga yang ingin menjenguk keluarganya di Aceh. Bahkan istilah kasarnya, kami harus “jual diri” agar dapat seat. Kota mati. Itulah Meulaboh saat itu. Sepanjang jalan dari bandara menuju pusat kota Meulaboh, sangat ngeri untuk dilihat. Aku tak menyangka, sebuah “pemandangan” yang kukira hanya bisa kulihat di film-film, kini begitu nyata di hadapanku. Aku seolah bisa mendengar dan melihat histeris, tangis, dan kepanikan orang-orang saat tiba-tiba gelombang mengamuk dan menghancurkan tempat ini. Tapi aku sempet heran….sepanjang jalan, begitu langka aku melihat manusia. Tapi aku beberapa kali bertemu rombongan lembu. Kok mereka banyak yang selamat ya? He…he…he…. Tugas kami ke Meulaboh adalah mempertemukan para korban yang terpisah dari keluarganya. Anak yang sebatang kara. Suami istri yang saling tak mengetahui nasib pasangannya. Kakak beradik yang sedang saling mencari kabar. Alhamdulillah, kami berhasil mempertemukan beberapa anggota keluarga. Seorang bocah dengan orang tuanya, seorang anak yatim piatu dengan pamannya, seorang adik dengan kakaknya, dan beberapa orang lainnya. Tapi yang tak kalah “seru” sekaligus memilukan, adalah pertemuan kami dengan beberapa korban Tsunami yang jadi gila gara-gara bencana itu. Entah karena dia stress kehilangan seluruh harta bendanya, atau karena kehilangan keluarganya. Sejak dulu aku ingin menginjak tanah rencong. Tapi tak kusangka, jika aku ke sana di saat Aceh berwajah memilukan.