Kado Istimewa untuk Bunda

27 Juli 2006

"Kado apa yang layak kuberikan pada bunda di ulang tahun nanti ya?", itu pertanyaan yang rutin kucari jawabannya setiap menjelang bulan Agustus. Pertanyaan yang sering bikin aku pusing. Mungkin jika Bunda adalah penggemar barang bermerk atau "berkelas", aku tak perlu memutar otak. Setahun sekali memberi kado mahal, masih bisa ditoleransi rekening tabunganku. Tapi masalahnya, bunda tak pernah menilai pemberian berdasarkan nominalnya.

Setelah punya penghasilan sendiri, aku pernah membelikannya baju yang cukup mahal dan mengajaknya ke toko sepatu agar dia bisa memilih sendiri sepatu sesuai seleranya. Apakah dia senang? Senang sih, tapi cenderung tak "ikhlas" menerimanya. Aku harus memohon agar ia mau menerima kado mahal itu. Tapi dia malah kelihatan tak senang. Menurutnya, sayang membeli barang semahal itu. Karena yang penting adalah fungsi dan kenyamanannya. Jika baju puluhan ribu sudah enak dipake, kenapa musti beli yang ratusan ribu, begitu katanya.

Namun pernah suatu ketika, saat aku masih kecil, aku memberinya kado berupa lukisan. Lukisan seorang ibu yang sedang memangku anaknya. Ceritanya sih, kedua orang dalam lukisan itu adalah bunda dan aku. Tapi karena aku sendiri yang memoleskan kuas ke atas kanvas, tentu saja sangat jauh dari mirip. Tampak seperti manusia saja, sudah untung hahahaha. Tapi aku tak akan lupa bagaimana ekspresi wajah bunda saat menerima kado itu. Penuh haru dengan mata berkaca-kaca. Ekspresi yang sama juga aku dapatkan jika aku membuatkannnya puisi.

Kado yang aku nilai "istimewa" yang pernah aku berikan pada bunda, adalah kado di ulang tahunnya 5 tahun lalu. Aku berusaha untuk lulus di bulan Agustus. Hingga di pagi hari ulang tahunnnya, ia menerima kado berupa skripsi. Pada lembar persembahan, tertulis: "Kupersembahkan dengan segenap rasa cinta, hormat dan kagumku untuk ibunda, Daradjati Sudiana, di hari ulang tahunnya yang ke-45. Semoga ini bukan kado terindah yang bisa aku berikan."
Ia menangis penuh haru. Dan air mata kebahagiaannya saat itu, adalah cita-cita yang ingin kuraih dari 4 tahun berkutat dengan puluhan mata kuliah.
Skripsi itu adalah kado jilid 1. Seminggu kemudian, aku serahkan kado jilid 2. Aku memberinya kejutan di acara wisuda. Tanpa sepengetahuannnya, aku menjadi wakil wisudawan FISIP. Bunda pun terkejut saat namaku dipanggil. Rasa kaget yang beriring haru dan tangis yang membuat para orang tua wisudawan lain bingung melihatnya. Dan bunda kembali terkejut saat nama-nama wisudawan cum laude dipanggil untuk mendapat penghargaan rektor. Bunda kembali mendengar namaku.

Hingga detik ini, aku tak pernah berhenti berucap syukur pada Yang Kuasa, karena telah memberiku kesempatan untuk memberi kado istimewa itu pada bunda. Dan aku selalu berdoa, agar aku akan terus diberi kesempatan memberi bunda kado istimewa.

Dan saat ini, aku kembali bingung menentukan kado istimewa untuk ulang tahunnya, 20 hari lagi. Sebetulnya aku tahu, kado apa yang sangat ia harapkan. Kado itu tak mahal, bahkan bisa dibilang bisa didapat dengan modal dengkul. Tapi kado itu sangat bernilai. Mungkinkah aku mendapatkannnya hanya dalam 20 hari?

One Response to “Kado Istimewa untuk Bunda”

  1. Mil-mil Says:

    Ass ty, kayaknya gw tau deh apa kado yang lu maksud (sok tau ya gw). Tapi bagi Allah ga ada yang ga mungkin kan? Moga2 bisa terwujud ya say.

Leave a Reply