Selamat Ulang Tahun Mama
Ini adalah hari pertamaku masuk sekolah dasar. Aku merasa senang sekali. Aku masuk ke dalam ruang dimana aku akan belajar membaca dan berhitung. Aku lalu duduk di bangku barisan belakang. Soalnya bangku-bangku di barisan depan sudah diduduki orang lain. Suasana ruang kelas sangat ramai. Mataku menyisir semua orang yang ada di sana. Lalu aku menyadari sesuatu, yang kemudian membuatku sedih. Aku “berbeda“ dengan anak-anak lain. Aku satu-satunya anak yang tidak diantar orang tua. Semua murid lain, duduk sebanggu dengan mama atau papa mereka. Sementara mamaku, hanya mengantarku hingga ke depan pintu kelas, dan menyuruhku masuk, lalu dia pun berlalu.
Itulah sepenggal kenanganku akan kejadian sekitar 20 tahun lalu. Masa dimana aku sering bingung, kenapa mama sering “membiarkanku“ sendiri. Mama sering kali menolak mengantarku membeli sepatu, baju, sampai buku. Ia selalu menyuruhku untuk pergi sendiri. Tapi di sisi lain, mama sangat memanjakanku dan selalu siap memberi pelukan hangatnya. Pelukan yang membuatku merasa sangat nyaman dan aman.
Setelah usiaku beranjak dewasa, perlahan aku mulai memahami segala sikap dan tindakan mama terhadapku. Seperti saat ia tetap menyuruhku berangkat ke sekolah meski aku bilang saat itu aku merasa tak enak badan. “Sepanjang kamu masih bisa pergi ke sekolah, kamu tidak boleh bolos. Kecuali sakit itu membuatmu tak bisa berpikir karena pusing dan badanmu terlalu lemas untuk melangkah, maka kamu harus istirahat di rumah“ , begitulah pertimbangan mama. Kini aku sadar, saat itu ia tengah mengajariku akan sebuah tanggung jawab dan tak mudah menyerah jika menghadapi masalah.
Begitu pula saat mama tak selalu langsung mengabulkan permintaanku. Ia ingin aku belajar bahwa segala sesuatu harus diperoleh dengan perjuangan, bukan hanya menanti uluran tangan. Atau saat mama selalu menyuruhku membuat keputusan sendiri dan mewajibkanku menanggung segala resikonya, namun ia selalu ada untuk memberi dukungan.
Mama pun mengajariku dengan tindakan. Aku sangat jarang sekali melihatnya membeli baju, sepatu, atau tas. Sembilan puluh persen baju yang ada di lemarinya adalah pemberian dari kakak-kakaknya, alias baju lungsuran. Ia pun hanya membeli sepatu dan tas jika sepasang sepatu dan satu-satunya tas kerjanya sudah tak layak pakai. Mama orang yang sangat sederhana. Aku bahkan tak pernah melihatnya membeli perhiasan. Cincin, kalung, dan gelang yang ia miliki, adalah pemberian nini.
Aku pun sering melihatnya hanya makan nasi dengan goreng tempe dan kerupuk. Tapi ia mengusahakan agar aku dan adikku makan telur atau daging ayam. Satu ekpresi pengorbanan cinta tanpa pamrih.
Yah…seperti itulah mama membesarkanku. Sering “melepasku“ sendiri agar aku belajar mandiri. Ia bersikap tegas dan keras agar aku disiplin dan bisa menentukan sikap, namun selalu menaburiku cinta dan kasih yang tiada batas, agar aku memiliki hati.
Dan dari segala yang dimikili mama, hal yang paling aku kagumi adalah kekuatan dan kelembutannya dalam membesarkanku seorang diri, as a single parent. Ia tak pernah kehilangan harapan dan semangat untuk terus berdiri meski dalam badai dasyat. Ia tetap tersenyum padaku, meski hatinya sedang menangis. Ia selalu memberiku kehangatan cinta, meski ia sedang merasa hampa. Karena ia ingin aku meyakini bahwa Allah itu ada.
Terima kasih mama.
Terima kasih atas mata air cintamu yang tak pernah kering.
Terima kasih atas segala doa yang selalu engkau panjatkan di setiap hembusan nafasmu.
Terima kasih atas cara indahmu membesarkanku.
Terima kasih atas segala pengorbanan yang kau beri tanpa berharap kembali.
Terima kasih ya Allah, atas anugerah indah-Mu, menjadikan ia sebagai mamaku.
Selamat ulang tahun mama…