Archive for September, 2006

Nostalgia Asrama

Saturday, September 30th, 2006

Kemarin gw buka puasa bersama plus reuni kecil di asrama UI Depok. Yang datang emang gak banyak, cuma sekitar 20-an orang. Tapi gw seneeeeng banget bisa ketemu teman2 lama. Apalagi beberapa diantaranya, baru ketemu lagi sejak jaman kelulusan dulu. Ini menjadi "siraman" buat jiwa yang kering karena rutinitas pekerjaan.

Martoyo, sang juragan bursa, udah punya 2 buntut. Olik & Bone baru aja dikaruniai bidadari kecil, 4 bulan lalu. Ester dan Adhi, udah gak berstatus single. Beni & Syarif udah punya 2 buah hati. Gw kalah 3 kosong nih! :)) Untungnya gw gak sendirian heheheh, masih ada Mila,Windi, Husnul, Iin, Budhi, dan Royen, yang jomblo sejati :)) Sementara Ola datang bawa calonnya. Tessa, CLBK sama Dolin :P Nah Ema dan Parlin, lupa nih gak gw up date kemarin. Kalau Rio…dia masih jadian ama ceweknya yang dulu itu gak ya? Lupa nanya :P

Tapi jadi "siapa" dan seperti apa pun kami sekarang, ternyata kalau lagi ngumpul gini, kami jadi kembali ke asal. Terutama Windi dengan gaya ketawanya yang khas banget, Husnul yang tetap kocak dan ngocol abis, dan Iin yang tetap lucu karena keluguannya.

Wajah asrama kini sudah banyak berubah. Jumlah kamar yang menggemuk jadi seribu, kantin yang tak lagi 2, ada wartel, warnet, tempat foto kopi, sampai warung cuci. Tapi, gw tetep cinta pada wajah asrama yang dulu. Gak ada wartel bikin gw harus rela jalan kaki sampai ke seberang halte UI. Tapi it was fun, karena gw selalu pergi rame-rame. Makasih buat Indro, Anton, Bambang, dan Dino yang selalu nganter gw dan Maya ke wartel. Gw masih inget banget, kalau ke wartel, pulangnya kami nongkrong sebentar di atas jembatan penyebrangan, nungguin KRL lewat. Soalnya gw dan Maya suka banget ngeliat cahaya lampu yang keluar dari gerbong.

Ngomong-ngomong soal Maya (sayang dia gak bisa datang karena kakak iparnya lagi diopname), dulu kami sering naik ke tempat jemuran di lantai 3, malam-malam, trus duduk di dinding pembatas. Ini kebiasaan kami yang berbahaya, soalnya kalau jatuh, lumayan bisa bikin patah tulang dan gegar otak heheheh. Trus satu lagi kebiasaan kami kalau lagi suntuk dengan kuliah atau lagi pengen curhat. Midnight at portal, duduk di atas tiang portal di depan asrama sambil liatin bintang…hm…hm…hayo apa & siapa yang paling sering kami curhatin? heheheh

Hmmm…masih banyak lagi kenangan manis atau pun getir yang terekam dalam ingatan gw. Buat gw, masa yang paling indah bukanlah masa SMA, tapi masa-masa dimana gw bertemu sahabat-sahabat sejati dan mengalami berbagai peristiwa yang menjadi pelajaran berharga, di asrama.

I miss U all…

“Kebetulan”

Monday, September 25th, 2006

Minggu, 24 September 2006

Week end ini gw membaca sebuah buku yang dipinjamkan Didit, teman sekantor gw. Kamis lalu, kami bertemu di ruang ANN* saat pergantian “shift“. Didit sebagai produser Reportase Pagi, baru saja selesai jagain on air. Dan Gw baru saja akan memulai kerja, mempersiapkan on air Good Morning. Dia menunjukkan satu buku, yang dia bilang bagus. Buku bersampul warna cokelat tanah, dengan judul “TALIPATI, Kisah Kisah Bunuh Diri Di Gunung Kidul”, karangan Iman Budhi Santosa & Wage Daksinarga.

Ada sesuatu pada sampul buku itu yang sempat membuat gw tertegun. “Pertanda itu lagi!”, pikir gw saat itu. Tapi seperti biasa, pikiran itu segera gw tepis dan mengganggapnya sebagai “kebetulan” semata. Sama kebetulannnya dengan Didit yang baru saja selesai membaca buku tersebut dan meminjamkannya sama gw.

Akhir-akhir ini gw memang sedang akrab dengan fenomena bernama “kebetulan”. Soalnya, belakangan ini gw sering “bertemu“ dengan hal-hal yang menunjuk pada satu hal. Hal-hal yang akhirnya membuat gw bertanya kepada Allah SWT, apakah ini pertanda dari-Nya? Tapi gw terlalu takut untuk menganggapnya sebagai pertanda, sehingga selalu gw alihkan sebagai “kebetulan“ semata. Meski gw gak bisa menutup mata jika hal ini adalah fenomena “kebetulan“ yang terlalu sering.

Seperti biasa jika gw membaca buku, gw selalu mengawalinya dari bagian prakata atau pembuka dari penulis. Sampailah gw pada satu paragraf yang membuat gw kembali tertegun: “…Seperti kebetulan. Tetapi jelas bukan. Tak ada peristiwa hidup yang kebetulan. Tuhan telah mengaturnya begitu sempurna. Manusia saja yang tidak tanggap terhadap tanda dan gejala alam yang dikirim kepadanya.“

Apakah ini “kebetulan“ lagi?

Gw lalu merenungkan semua yang pernah gw lalui. Terutama berbagai hal yang dulu gw anggap sebagai kebetulan. Ternyata memang tak pernah ada kebetulan. Karena semua yang terjadi adalah rangkaian sebab akibat yang saling terkait. Selalu ada benang merah dari setiap peristiwa. Bukan kebetulan jika akhirnya gw masuk UI lewat PMDK. Padahal gak ada rencana apalagi cita-cita untuk kuliah di Jakarta. Waktu SMA, gw mantap untuk ngambil Psikologi Unpad. Tapi keluarga dan guru-guru terus mendorong gw untuk mencoba ikut PMDK. Setengah iseng, karena tak gw lakukan dengan sepenuh hati, gw mencoba apply PMDK ke UI. Dan ternyata “kebetulan” gw lolos.

Dan bukan pula kebetulan, jika saat gw mau pulang dari daftar ulang di rektorat UI, gw melihat meja tempat pendaftaran asrama mahasiswa UI. Satu tempat yang menyewakan kamar super murah dengan fasilitas sangat layak. Karena di sanalah gw bertemu dengan sahabat-sahabat sejati. Di sanalah gw banyak mengubah sikap dan cara pandang, termasuk melepaskan diri dari belenggu trauma masa lalu. Di sanalah gw mempelajari beberapa agama dan akhirnya sangat yakin akan pilihan gw. Gw muslim bukan karena gw terlahir sebagai muslim, tapi karena gw memilih sebagai muslim. Di sana pula gw jatuh cinta dan mempelajari apa artinya cinta. Ini hanyalah secuil dari jutaan peristiwa yang awalnya gw anggap kebetulan semata, tapi ternyata adalah rencana sempurna Allah SWT yang maha indah. Dan kini gw kembali dihadapkan dengan berbagai hal, yang secara sadar atau tidak, gw anggap sebagai “kebetulan” semata.

Penggalan paragraf buku TALIPATI itu pun, apakah “kebetulan” semata? Atau kah gw “berani” mengakui bahwa itu adalah teguran Yang Kuasa atas ketakutan gw menerima segala pertanda yang diberikan-Nya?

(* Bagian dari ruang redaksi, tempat membuat lead untuk presenter dan naskah, yang komputernya berhubungan langsung dengan ruang kontrol studio 5 Trans TV).

Dia yang Kurindu

Friday, September 22nd, 2006

Tinggal sehari lagi, aku akan bertemu dia yang begitu kurindu. Maklumlah, aku hanya bisa bertemu dengannya setahun sekali. Ramadhan….

Entah terbawa suasana, atau itulah fitrah Ramadhan, di bulan suci itu aku selalu mendapat kedamaian yang "lebih" ketimbang masa yang lain. Pernah pula aku mendapat keajaiban dan anugerah di luar logika manusia.

Salah satu yang kuingat adalah saat aku menemukan jalan buntu menyelesaikan skripsi. Skripsi yang sudah seperempat jalan tiba-tiba mentok, dan harus ganti tema. Padahal dead line tak sampai 3 bulan lagi untuk bisa mengejar kelulusan Agustus 2001. Tapi di suatu malam di bulan Ramadhan, aku mendapat "pencerahan". Bukan hanya ide topik baru. Aku bahkan bisa dengan cepat mengumpulkan berbagai referensi buku. Mulai dari perpustakaan kampus, pinjam teks book "langka" dari sepupu yang kuliah di Seni Rupa ITB, sampai kiriman buku-buku dari Makassar. Subhanallah, begitu banyak orang yang mengulurkan tangannya, hingga sesuatu yang semula kukira "tak mungkin" berdasarkan logikaku, tapi ternyata…terjadilah apa yang memang Dia kehendaki.

Ramadhan pun memberi rangkaian file memori indah dan lucu. Mulai aku yang masih nakal nyolong makan cokelat di bawah meja belajar (maaf..pengalaman pertama puasa Ramadhan) trus ketangkap basah sama mamah tapi tetep ga ngaku hehehehe, pesantren kilat waktu SD, ngabuburit naik sepeda,  and masih banyak lagi deh….

Eh iya, ngomong-ngomong soal pesantren kilat, dulu aku nakal banget deh. Bukannya buat belajar agama, tapi pesantren kilat yang aku ikutin tiap tahun selama SD, malah aku jadikan lahan bisnis…he..he…aku bikin kartu lebaran, lalu aku jual pada teman-teman di pesantren kilat. Laris manis loh :D

Lalu Ramadhan di asrama….aduh itu juga jadi kenangan sepanjang masa deh!Sahur bareng, buka di kantin, tarawih rame-rame ke mesjid UI. I Miss U all!

Dan untuk Ramadhan tahun ini, aku berdoa semoga lebih baik dari sebelumnya. Semoga aku bisa memperbaiki diri dan mengisinya dengan memperbanyak ibadah. Amien.

Maaf lahir batin ya….dan met menunaikan ibadah puasa :)

Kerinduan Akan Masa Kecil

Thursday, September 21st, 2006

Kadang melelahkan juga ya jadi orang dewasa? Nostalgia pada kenangan masa kecil membuat diri rindu pada jiwa yang begitu lugu, naif, dan sangat apa adanya. Saat aku ikut sepupu-sepupu laki-lakiku mencuri tebu di kebun tebu, lalu dikejar-kejar mandor. Seruuu!! Saat itu aku bahkan belom tahu jika perbuatanku itu adalah tindak pencurian hehehe. Lalu aku lari-lari ke sawah, berenang di irigasi, main tarzan-tarzanan dengan bergelantungan di pohon jambu, lalu terjun bebas ke kolam di bawah pohon tersebut. Asik!!!

Yang gak kalah seru, adalah main kasti, engklek, dampar, loncat tinggi, de es be. Hari riang penuh tawa, meski terkadang diselingi tangis karena badan babak belur habis berkelahi. Berkelahi? heheheh…dulu aku emang "cowok" banget. Soalnya teman mainku cowok semua. Saat SMA aja aku masih ngajak kelahi temen sekelasku, seorang cowok, yang rajin banget gangguin aku.

Mmm…masa SMA…rasanya baru kemarin aku dimarahi Bu Eeng, guru Biologiku, gara-gara aku memetik dan memakan buah mangga di samping kelas. Pikirku saat itu, aku tak mencuri. Kalau guru-guru yang digaji aja boleh memetik mangga, apalagi aku yang bayar SPP, ya ga? hehhehe….

Hmm…I miss all that time. Masa dimana aku begitu "lepas"……

(harap dimaklum, ada yg lagi melo nih heheheh)

Mereka Butuh Cinta

Wednesday, September 13th, 2006

Hari ini Ismi Soraya menjadi tamu Good Morning. Dia adalah bocah 9 tahun yang menjadi korban penganiayaan ibu asuhnya. Kasus Ismi mencuat pada November 2005. Good Morning menghadirkan Ismi, untuk membahas bagaimana kabar Ismi sekarang. Ismi memang jauh lebih baik ketimbang beberapa bulan lalu. Tawa riang sudah kembali menghiasi wajah polosnya. Tapi bekas penyiksaan masih tergurat sangat jelas, baik secara fisik maupun psikologis.

Luka bekas parutan, seterikaan, dan guyuran air panas di sekujur tubuhnya, masih menjadi saksi yang bisa bercerita banyak bagaimana Ismi dulu disiksa Ibu Suri, demikian panggilan ibu asuhnya. Bahkan matanya kini rabun karena dulu sering diolesi balsem oleh sang ibu asuh. Dan secara psikologis, Ismi terlihat masih sulit diatur, berontak, dan sering bersembunyi di kolong tempat tidur.

Kisah pilu Ismi ternyata telah dimulai sejak ia lahir. Ibunya seorang TKW yang pulang dari Pakistan dalam keadaan hamil. Jadi, diduga ayah Ismi adalah seorang laki-laki Pakistan. Setelah menginjakkan kaki di Indonesia, si Ibu terdampar di tempat Ibu Suri. Ia lalu melahirkan dan meninggalkan Ismi mungil di rumah Ibu Suri.

Aku melihat foto Ismi ketika usianya masih 3 tahun. Ia sangat cantik dan lucu. Tapi lihatlah ia kini, wajah dan tubuhnya penuh bekas luka siksaan. Untuk pertama kalinya, aku hanya bisa terpaku di ruang kontrol studio 5. Aku bahkan hampir tak memperhatikan jalannya live Good Morning pagi ini.

Selepas on air, aku masuk ke ruang ganti pakainan. Aku  menemui Ismi di sana. Awalnya ia terlihat apatis. Tapi aku kaget saat Ismi tiba-tiba menghampiri dan memelukku, erat. Tak banyak kata yang terucap dari mulut mungilnya. Tapi gesture-nya bercerita sangat banyak padaku. Tentang perasaannya, tentang harapannya.   

Bukan  hanya Ismi yang membuatku merasa pilu. Tadi Ismi bernyanyi bersama 3 orang temannya, anak-anak tuna netra yang juga ditampung di panti Binanetra, seperti Ismi. Mereka menyayikan lagu berjudul "Heart", yang disambung lagu "Ayah". Tak merdu memang, tapi mampu menyihir siapa pun untuk terus melihat dan mendengarkan nyanyian mereka. Begitu penuh perasaan.

Aku lalu bertanya pada Yohanes dan Aldi, 2 teman Ismi, kenapa mereka suka pada lagu "Ayah".

"Karena dulu aku sering disiksa Ayah. Ayah sering pukul aku", itulah jawaban Yohanes. Satu jawaban yang sangat menusuk nurani. Ia ternyata rindu pada kasih seorang ayah, yang tak pernah ia rasakan. Aku memegang tangannya, yang dibalas dengan genggaman kuat tangan mungil Yohanes.

Ya Allah, aku tahu Engkau pasti punya rencana indah untuk mereka. Engkau akan membalas luka mereka dengan sentuhan-sentuhan penuh kasih. Amien.

Pelajaran Kecil

Sunday, September 10th, 2006

Minggu, 10 September 2006, 9:06 PM

Apa yang akan lo rasakan saat menerima undangan pernikahan dari orang yang pernah sangat lo sayang?

Hati rasa tersayat? Ingin menangis?

Dua jam lalu gw menerima SMS dari seseorang, mengundang gw ke resepsi pernikahannya. Tadinya gw ingin menangis. Tapi gw bertanya pada diri sendiri, apakah gw punya alasan untuk menangis?

Dia adalah first love gw. Satu-satunya cowok yang pernah sangat gw sayang. Dulu, bukan hal yang mudah untuk bisa lepas dari kungkungan  rasa yang hanya menari-nari di hati gw. Seingat gw, butuh waktu sekitar

lima

tahun untuk move on. Dan selama itu pula gw selalu tak sanggup membayangkan jika dia ternyata sudah punya pacar, apalagi menikah. Terlalu sakit.

Tapi itu dulu, bukan sekarang!!

Bukankah rasa itu sudah hilang sejak beberapa tahun lalu? Kenapa pula gw harus menghidupkan kenangan lama? Kenapa pula gw harus menyakiti hati dengan masuk mesin waktu, kembali ke masa lalu?

Jika gw kembalikan diri pada masa sekarang, masihkah ada alasan untuk terluka? Bukankah pernikahannya justru mempertegas keyakinan hati selama beberapa tahun belakangan, bahwa ”he is not the right one?“

Dia hanyalah bagian dari masa lalu. Tapi gw hidup untuk hari ini dan esok.

Kejadian malam ini menjadi pelajaran kecil buat gw. Kita sering membuat hiperbola pada realitas, lalu menyakiti diri sendiri dengan sayatan-sayatan yang kita buat sendiri. Padahal sesungguhnya kita baik-baik saja.