“Kebetulan”
Minggu, 24 September 2006
Week end ini gw membaca sebuah buku yang dipinjamkan Didit, teman sekantor gw. Kamis lalu, kami bertemu di ruang ANN* saat pergantian “shift“. Didit sebagai produser Reportase Pagi, baru saja selesai jagain on air. Dan Gw baru saja akan memulai kerja, mempersiapkan on air Good Morning. Dia menunjukkan satu buku, yang dia bilang bagus. Buku bersampul warna cokelat tanah, dengan judul “TALIPATI, Kisah Kisah Bunuh Diri Di Gunung Kidul”, karangan Iman Budhi Santosa & Wage Daksinarga.
Ada sesuatu pada sampul buku itu yang sempat membuat gw tertegun. “Pertanda itu lagi!”, pikir gw saat itu. Tapi seperti biasa, pikiran itu segera gw tepis dan mengganggapnya sebagai “kebetulan” semata. Sama kebetulannnya dengan Didit yang baru saja selesai membaca buku tersebut dan meminjamkannya sama gw.
Akhir-akhir ini gw memang sedang akrab dengan fenomena bernama “kebetulan”. Soalnya, belakangan ini gw sering “bertemu“ dengan hal-hal yang menunjuk pada satu hal. Hal-hal yang akhirnya membuat gw bertanya kepada Allah SWT, apakah ini pertanda dari-Nya? Tapi gw terlalu takut untuk menganggapnya sebagai pertanda, sehingga selalu gw alihkan sebagai “kebetulan“ semata. Meski gw gak bisa menutup mata jika hal ini adalah fenomena “kebetulan“ yang terlalu sering.
Seperti biasa jika gw membaca buku, gw selalu mengawalinya dari bagian prakata atau pembuka dari penulis. Sampailah gw pada satu paragraf yang membuat gw kembali tertegun: “…Seperti kebetulan. Tetapi jelas bukan. Tak ada peristiwa hidup yang kebetulan. Tuhan telah mengaturnya begitu sempurna. Manusia saja yang tidak tanggap terhadap tanda dan gejala alam yang dikirim kepadanya.“
Apakah ini “kebetulan“ lagi?
Gw lalu merenungkan semua yang pernah gw lalui. Terutama berbagai hal yang dulu gw anggap sebagai kebetulan. Ternyata memang tak pernah ada kebetulan. Karena semua yang terjadi adalah rangkaian sebab akibat yang saling terkait. Selalu ada benang merah dari setiap peristiwa. Bukan kebetulan jika akhirnya gw masuk UI lewat PMDK. Padahal gak ada rencana apalagi cita-cita untuk kuliah di Jakarta. Waktu SMA, gw mantap untuk ngambil Psikologi Unpad. Tapi keluarga dan guru-guru terus mendorong gw untuk mencoba ikut PMDK. Setengah iseng, karena tak gw lakukan dengan sepenuh hati, gw mencoba apply PMDK ke UI. Dan ternyata “kebetulan” gw lolos.
Dan bukan pula kebetulan, jika saat gw mau pulang dari daftar ulang di rektorat UI, gw melihat meja tempat pendaftaran asrama mahasiswa UI. Satu tempat yang menyewakan kamar super murah dengan fasilitas sangat layak. Karena di sanalah gw bertemu dengan sahabat-sahabat sejati. Di sanalah gw banyak mengubah sikap dan cara pandang, termasuk melepaskan diri dari belenggu trauma masa lalu. Di sanalah gw mempelajari beberapa agama dan akhirnya sangat yakin akan pilihan gw. Gw muslim bukan karena gw terlahir sebagai muslim, tapi karena gw memilih sebagai muslim. Di sana pula gw jatuh cinta dan mempelajari apa artinya cinta. Ini hanyalah secuil dari jutaan peristiwa yang awalnya gw anggap kebetulan semata, tapi ternyata adalah rencana sempurna Allah SWT yang maha indah. Dan kini gw kembali dihadapkan dengan berbagai hal, yang secara sadar atau tidak, gw anggap sebagai “kebetulan” semata.
Penggalan paragraf buku TALIPATI itu pun, apakah “kebetulan” semata? Atau kah gw “berani” mengakui bahwa itu adalah teguran Yang Kuasa atas ketakutan gw menerima segala pertanda yang diberikan-Nya?
(* Bagian dari ruang redaksi, tempat membuat lead untuk presenter dan naskah, yang komputernya berhubungan langsung dengan ruang kontrol studio 5 Trans TV).