Pelajaran Kecil
Minggu, 10 September 2006, 9:06 PM
Apa yang akan lo rasakan saat menerima undangan pernikahan dari orang yang pernah sangat lo sayang?
Hati rasa tersayat? Ingin menangis?
Dua jam lalu gw menerima SMS dari seseorang, mengundang gw ke resepsi pernikahannya. Tadinya gw ingin menangis. Tapi gw bertanya pada diri sendiri, apakah gw punya alasan untuk menangis?
Dia adalah first love gw. Satu-satunya cowok yang pernah sangat gw sayang. Dulu, bukan hal yang mudah untuk bisa lepas dari kungkungan rasa yang hanya menari-nari di hati gw. Seingat gw, butuh waktu sekitar
lima tahun untuk move on. Dan selama itu pula gw selalu tak sanggup membayangkan jika dia ternyata sudah punya pacar, apalagi menikah. Terlalu sakit.
Tapi itu dulu, bukan sekarang!!
Bukankah rasa itu sudah hilang sejak beberapa tahun lalu? Kenapa pula gw harus menghidupkan kenangan lama? Kenapa pula gw harus menyakiti hati dengan masuk mesin waktu, kembali ke masa lalu?
Jika gw kembalikan diri pada masa sekarang, masihkah ada alasan untuk terluka? Bukankah pernikahannya justru mempertegas keyakinan hati selama beberapa tahun belakangan, bahwa ”he is not the right one?“
Dia hanyalah bagian dari masa lalu. Tapi gw hidup untuk hari ini dan esok.
Kejadian malam ini menjadi pelajaran kecil buat gw. Kita sering membuat hiperbola pada realitas, lalu menyakiti diri sendiri dengan sayatan-sayatan yang kita buat sendiri. Padahal sesungguhnya kita baik-baik saja.