Archive for October, 2006

Kembali “Akrab” dgn Asap Rokok

Tuesday, October 31st, 2006

Tiga hari pertama masuk kerja selepas libur lebaran, bukan cuma badan dan otak yang kembali ke rutinitas. Tapi juga hidung gw yang harus ikhlas kembali akrab dengan asap rokok.

Sepanjang bulan Ramadhan kemarin, gw bisa menghirup udara tanpa asap nikotin. Yang puasa atau pun tidak, menghentikan hobi mereka, merokok di depan pantry. Puasa berlalu, jatah libur hidung gw pun ikutan selesai :((

Temen-temen kantor (yang perokok) kembali nongkrong di pojokan depan pantry sambil menghisap batangan kesayangan mereka. Gak peduli meski asapnya berjalan-jalan ria ke ruangan redaksi. Padahal, jelas-jelas tempat tongkrongan mereka masih bagian dari ruang redaksi yang tertutup. Dan ada larangan merokok di dalam ruangan tertutup, gitu loh!!!

Kalau ingat hal ini, gw cuma bisa mengelus dada. Bagaimana kita bisa menyadarkan orang awam, jika orang-orang yang berlabel intelek pun tak peduli pada kesehatan mereka sendiri juga orang-orang di sekitarnya.

Kalau ditegur, mereka selalu mengusung "hak asasi manusia" sebagai pembenaran. Padahal, kita-kita yang tak merokok pun punya hak asasi juga kan untuk bisa menghirup udara bebas asap rokok?!!!!

Ketik C spasi D, capek deeeh!!! Negur, malah adu mulut. Ujung-ujungnya, gw memilih mengalah dan harus merelakan hidung gw akrab dengan asap rokok :(( 

Kembang Api

Thursday, October 26th, 2006

Malam takbiran, gw pulang dari rumah nini, pake motor. Hampir sepanjang jalan gw melihat orang-orang yang lagi main kembang api. Pengen rasanya gw mampir, ikutan main kembang api :D

Sejak kecil gw suka banget sama kembang api, terutama kembang api air mancur. Makanya dulu, kalau malam takbiran, gw selalu main kembang api sama sepupu-sepupu gw. Tapi seiring waktu, bertambahnya umur, kebiasaan itu pun jadi pensiun. Tapi honestly, sampe sekarang gw masih suka banget sama kembang api!!

Tahun lalu, gw dan salah satu sepupu gw sengaja beli kembang api, waktu malam takbiran. Sama penjualnya sih, kami bilang mo beliin buat ponakan hahahahah. Trus kami ke rumah nini, berdua nyalain kembang api sambil mengenang masa kecil.

Tapi tahun ini keluarga besar gw baru kumpul di lebaran kedua. Jadinya gw gak punya temen deh buat beli dan main kembang api :((

Gak tau kenapa gw suka banget sama "cahaya di tengah kegelapan". Gw suka liat kembang api dan lampu di malam hari. Makanya, salah satu tempat "nongkrong" favorit gw adalah tempat yang tinggi, dimana gw bisa melihat kota yang bertabur cahaya lampu. Menurut gw, itu indah banget.

Tahun depan, kalau masih ada umur….bisa main kembang api lagi gak ya? :D

Saat Hati Bisa Tersenyum

Wednesday, October 18th, 2006

Inilah Ramadhan terindah yang pernah gw rasakan selama hidup. Ramadhan yang memberi gw banyak pelajaran dan teguran, sekaligus berkah.

Di Ramadhan ini gw mencapai klimaks akumulasi emosi di kantor. Di saat diri sedang sangat jenuh dengan pekerjaan dan tuntutan deadline, gw dihadapkan pada masalah yang sangat menyulut emosi. Tapi Allah Maha Tahu. Di satu sisi, diri mendapat "godaan" yang memancing gugurnya puasa. Tapi di sisi lain, gw bersyukur, semua masalah ini datang di bulan Ramadhan, dimana gw sedang berusaha untuk lebih sabar dari biasanya. Ngontrol emosi emang jauh lebih berat ketimbang nahan lapar dan haus!!!

Di Ramadhan ini pula gw banyak dihadapkan pada kejadian yang mengajak diri untuk lebih merenung dan instropeksi diri. Betapa selama ini Allah begitu sayang sama gw, tapi gw sering tak menyadarinya. Betapa Allah sangat menjaga dan melindungi gw, tapi gw sendiri sering lalai menjaga diri. Betapa Allah selalu memberi gw yang terbaik, tapi gw terkadang lupa bersyukur. Betapa Allah selalu menyiapkan rencana indah buat gw, tapi gw masih sering "protes".

Dan satu berkah terindah gw dapatkan di Ramadhan ini. Yaitu kedamaian hati saat bisa memaafkan. Kadang kita menyangka jika hati ini tlah memaafkan, tapi ternyata jauh di dalamnya masih menyimpan luka. Luka yang membuat kita menjadi dingin dan menutup nurani.

Di awal Ramadhan, gw memohon pada-Nya untuk memberi gw kekuatan memaafkan dengan ikhlas. Bertahun-tahun gw menyimpan luka yang sebetulnya hanya merugikan diri sendiri. Meski mulut telah berkata, "aku sudah maafkan, aku sudah melupakan", tapi nurani tak bisa berbohong jika luka itu masih ada. Jika maaf yang keluar, belumlah sepenuhnya ikhlas. Luka yang telah terkubur hampir seumur hayat, hingga gw kira sudah mati. Tapi ternyata hanya mati suri.

Dan kini, dengan rahmat-Nya, gw merasakan satu kedamaian yang sulit gw gambarkan dengan kata-kata. Saat hati bisa tersenyum dan luka terobati dengan kasih-Nya. Saat jiwa bisa terbebas dari keringnya rasa. Saat tangan gw bersedia menggenggam tangan"nya", yang tanpa gw sadari sudah sejak lama terulur.

Terima kasih, ya Allah…

Kerja itu Selingan untuk Menunggu Waktu Shalat

Wednesday, October 18th, 2006

Ini bukan tulisan gw sendiri, tp dapet dr temen. Cuma karena isinya "dalem" dan "menegur" (setidaknya buat gw sendiri hehehe), jadi ingin gw share ama temen-temen. Semoga bermanfaat :)

"Kerja itu cuma selingan, Untuk menunggu waktu shalat…"

Ketika Pak Heru, atasan saya, memerintahkan untuk mencari klien yang
bergerak di bidang interior, seketika pikiran saya sampai kepada Pak Azis.
Meskipun hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak Azis mampu membuat kios
internet, dalam bentuk serupa dengan anjungan tunai mandiri dan dari kayu
pula, dengan segera saya menuju ke bengkel workshop Pak Azis.

Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya saya menemukan bengkel
Pak Azis, yang kini ternyata sudah didampingi sebuah masjid. Pak Azispun
tampak awet muda, sama seperti dulu, hanya pakaiannya yang sedikit
berubah. Kali ini dia selalu memakai kopiah putih. Rautnya cerah, fresh,
memancarkan kesan tenang dan lebih santai. Beungeut wudhu-an ( wajah sering
wudhu), kata orang sunda. Selalu bercahaya.

Hidayah Allah ternyata telah sampai sejak lama, jauh sebelum Pak Azis
berkecimpung dalam berbagai dinamika kegiatan Islam. Hidayah itu bermula
dari peristiwa angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu seluruh atap
bengkel workshop-nya, pada suatu malam kira-kira lima tahun silam. "Atap rumah saya tertiup angin sampai tak tersisa satupun. Terbuka semua." cerita Pak Azis."Padahal nggak ada hujan, nggak ada tanda-tanda bakal ada angin besar. Angin berpusar itupun cuma sebentar saja."

Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu. Walau uang dan pekerjaan
masih terus mengalir kepadanya, Pak Azis tetap merasa gelisah, stres &
selalu tidak tenang. "Seperti orang patah hati, Ndra. Makan tidak enak,
tidur juga susah."cerita Pak Azis lagi.

Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal di rumah dan stres.
Padahal, sebelum kejadian angin puting-beliung yang anehnya hanya mengenai
bengkel workshop merangkap rumahnya saja, Pak Azis merasa hidupnya sudah
sempurna. Dari desainer grafis hingga jadi arsitek. Dengan keserbabisaannya
itu, pak Azis merasa puas dan bangga, karena punya penghasilan tinggi. Tapi
setelah peristiwa angin puting-beliung itu, pak Azis kembali bangkrut,
beliau bertanya dalam hati : "apa sih yang kurang" apa salahku " ?

Akhirnya pak Azis menekuni ibadah secara mendalam "Seperti musafir atau
walisongo, saya mendatangi masjid-masjid di malam hari. Semua masjid besar
dan beberapa masjid di pelosok Bandung ini, sudah pernah saya inapi."
Setahun lebih cara tersebut ia jalani, sampai kemudian akhirnya saya bisa
tidur normal, bisa menikmati pekerjaan dan keseharian seperti sediakala.

"Bahkan lebih tenang dan santai daripada sebelumnya."
"Lebih tenang ? Memang Pak Azis dapet hikmah apa dari tidur di masjid itu?"

"Di masjid itu ‘kan tidak sekedar tidur, Ndra. Kalau ada shalat malam, kita
dibangunkan, lalu pergi wudhu dan tahajjud. Karena terbiasa, tahajjud juga
jadi terasa enak. Malah nggak enak kalau tidak shalat malam, dan shalat-shalat wajib yang lima itu jadi kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Ndra."
"Sekarang tidak pernah terlambat atau bolong shalat-nya, Pak Azis ?"
"Alhamdulillah. Sekarang ini saya menganggap bhw yg utama itu adalah
shalat. Jadi, saya dan temen-temen menganggap kerja itu cuma sekedar
selingan aja."

"Selingan ?"

"Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu kewajiban shalat, Ndra."

Untuk beberapa lama saya terdiam, sampai kemudian adzan ashar mengalun
jelas dari masjid samping rumah Pak Azis. Pak Azis mengajak saya untuk
segera pergi mengambil air wudhu, dan saya lihat para pekerjanyapun sudah
pada pergi ke samping rumah, menuju masjid. Bengkel workshop itu menjadi
lengang seketika. Sambil memandang seluruh ruangan bengkel, sambil berjalan
menuju masjid di samping workshop, terus terngiang-ngiang di benak saya :
"Kerja itu cuma selingan, Ndra. Untuk menunggu waktu shalat…"

Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang sibuknya lalu lintas di
jalan raya, saya merenungi apa yang tadi dikatakan oleh Pak Azis. Sungguh
trenyuh saya, bahwa setelah perenungan itu, saya merasa sebagai orang yang
sering berlaku sebaliknya. Ya, saya lebih sering menganggap shalat sebagai
waktu rehat, cuma selingan, malah saya cenderung lebih mementingkan
pekerjaan kantor. Padahal sholat yang akan bantu kita nantinya…( sungguh saya orang yang merugi..)

Kadang-kadang waktu shalat dilalaikan sebab pekerjaan belum selesai, atau
rapat dengan klien dirasakan tanggung untuk diakhiri.
Itulah penyebab dari kegersangan hidup saya selama ini. Saya lebih semangat
dan habis-habisan berjuang meraih dunia, daripada mempersiapkan bekal
terbaik untuk kehidupan kekal di akhirat nanti.
padahal dunia ini akan saya tinggalkan.. juga ……….kenapa saya begitu
bodoh..

Saya lupa, bahwa shalat adalah yang utama.
Mulai saat itu saya berjanji untuk mulai shalat di awal waktu..

Kalau Anda tidak mengirimkan email ini ke temen Anda..ya ga papa sih. Cuma
kalo dikirim mungkin ada gunanya bagi mereka gitu loh.