Kembali “Akrab” dgn Asap Rokok

Tiga hari pertama masuk kerja selepas libur lebaran, bukan cuma badan dan otak yang kembali ke rutinitas. Tapi juga hidung gw yang harus ikhlas kembali akrab dengan asap rokok.

Sepanjang bulan Ramadhan kemarin, gw bisa menghirup udara tanpa asap nikotin. Yang puasa atau pun tidak, menghentikan hobi mereka, merokok di depan pantry. Puasa berlalu, jatah libur hidung gw pun ikutan selesai :((

Temen-temen kantor (yang perokok) kembali nongkrong di pojokan depan pantry sambil menghisap batangan kesayangan mereka. Gak peduli meski asapnya berjalan-jalan ria ke ruangan redaksi. Padahal, jelas-jelas tempat tongkrongan mereka masih bagian dari ruang redaksi yang tertutup. Dan ada larangan merokok di dalam ruangan tertutup, gitu loh!!!

Kalau ingat hal ini, gw cuma bisa mengelus dada. Bagaimana kita bisa menyadarkan orang awam, jika orang-orang yang berlabel intelek pun tak peduli pada kesehatan mereka sendiri juga orang-orang di sekitarnya.

Kalau ditegur, mereka selalu mengusung "hak asasi manusia" sebagai pembenaran. Padahal, kita-kita yang tak merokok pun punya hak asasi juga kan untuk bisa menghirup udara bebas asap rokok?!!!!

Ketik C spasi D, capek deeeh!!! Negur, malah adu mulut. Ujung-ujungnya, gw memilih mengalah dan harus merelakan hidung gw akrab dengan asap rokok :(( 

2 Responses to “Kembali “Akrab” dgn Asap Rokok”

  1. Melisa Says:

    Hi Asty,
    I’ve been your blog’s silent reader. Khusus posting-an yang ini gue gak bisa ’silent’:) gue keseeeeeeelll banget sama orang yang merokok dalam ruangan (khususnya du ruangan ber-AC). Setuju! betapa tidak tolerannya mereka. di kantor sih gue dikenal yang paling ‘galak’ sama orang yang ngerokok sembarangan, pas lagi hamil maupun tidak lagi hamil, hehe;p. walaupun demikian, ada aja tuh yg cuek aja. menyebalkan! kyaknya peraturan pemerintah soal merokok sembarangan gak digubris. Diangkat jadi liputan di TransTV aja, ty. dengan senang hati gue jadi nara sumber *atau jadi pendemo perokok itu*, hihihi.

  2. asTY Says:

    heheheh itulah “lucunya”, kami pernah tayangin liputan ttg hal ini. Ironisnya itu banyak dilakukan oleh temen2 gw sendiri, orang yang suka mengkritisi dan mengkritik :((

Leave a Reply