Archive for November, 2006

Kangen belajar nih

Monday, November 27th, 2006

Tiap hari ngedon di kantor seharian, membuat gw kangen pada masa-masa ke lapangan. Selain badan jadi kurang bergerak dan selalu "terlindung" dari matahari, otak juga jadi kurang berkembang deh. Dulu, saat gw tiap hari liputan ke lapangan, gw selalu mendapat ilmu baru dari guru yang berbeda. Guru dari berbagai kalangan dan usia. Mulai presiden sampai tunawisma. Mulai balita sampai lansia. Mulai wawancara di ruang ber -AC dengan jamuan makanan "wah" sampai wawancara di atas tumpukan sampah. Bagi gw, semuanya sama penting, sama berkesan, dan sama menyenangkannya.
Menulis kembali beberapa kisah yang pernah gw angkat, sedikit bisa mengobati kerinduan sih. Tapi still….gw kangen "sekolah"….kangen belajar lagi…kangen bertemu dengan guru-guru kehidupan yang selalu memberi inspirasi dan pengalaman berharga.

Pelajaran dari Pak Mujino

Monday, November 27th, 2006

    Pukul 4 pagi aku tiba di rumah mertua Mujino, di
daerah Karang Mendo, Bantul. Mujino adalah seorang loper koran, yang memulai
kesibukannya sejak subuh.
Usai solat subuh, Mujino berangkat ke agen koran, di
jalan Solo. Jarak dari rumahnya sekitar 1 kilometer, yang ditempuhnya hanya
dengan bantuan sandal cepit. Kalian mungkin menggangapnya sebagai hal yang
biasa. Apa istimewanya berjalan kaki sejauh 1 kilometer? Hmm…tapi mungkin
kalian akan berubah pikiran jika melihat kondisi fisik Mujino. Tubuh bagian
kiri Mujino cacat. Mata kirinya buta,
bentuk tangan kirinya tak sempurna sehingga tak bisa berfungsi dengan
semestinya, serta kaki kirinya lebih pendek, sehingga jalannya pincang.

Dari agen koran, Mujino
beranjak, keliling mengantar koran ke rumah puluhan pelanggannya. Lagi-lagi, ia
berjalan kaki. Cacat di kakinya tak memungkinkan Mujino mengendarai sepeda. Aku
mengikuti Mujino berkeliling…dan huhhh….cukup melelahkan.

Selesai mengantar koran ke
pelanggan, Mujino menuju pasar. Di sana ia menawarkan koran pada para pedagang.
Ia lalu beristirahat sejenak, mengumpulkan energi sambil melepas dahaga dengan
segelas teh manis. Sebelum kembali bekerja, ia mampir ke sebuah koperasi di
pasar tersebut.
Aku bertanya pada Mujino,
untuk apa ia ke tempat tersebut. Rupanya ia punya kebiasaan istimewa.
Di tengah keterbatasan
ekonomi, ia mengusahakan untuk menabung setiap hari. Jumlahnya memang tak
banyak, sekitar 2 ribu sampai 10 ribu rupiah, tergantung pendapatan Mujino hari
itu. Tapi jika dibandingkan dengan penghasilan Mujino yang tak lebih dari 50
ribu setiap hari, itu jumlah yang lumayan, kan?  Demi masa depan buah hatinya, Mujino bertekad
untuk disiplin menabung. Ia ingin kelak anak-a
naknya mendapat pendidikan hingga ke bangku kuliah.

Luar biasa! Mujino bukanlah orang yang berpendidikan
tinggi. Ia hanya lulusan

SLB

setingkat SMP. Tapi lihatlah kemampuannya merencanakan masa depan! Lihatkah kemampuannya
mengelola penghasilan! Aku semakin kagum
padanya.

 Dari koperasi, aku mengikuti Mujino
ke perempatan IAIN Kalijaga. Di

sana

ia menawarkan korannya pada setiap kendaraan yang berhenti karena lampu merah. Di perempatan itu pula, istri Mujino, Lasmiati
membantunya mencari nafkah. Lasmi menjadi pengecer koran. Kondisi fisik Lasmi
ternyata tak jauh berbeda dengan Mujino. Kaki kanannya cacat. Ukurannya lebih
kecil dari yang yang kiri, sehingga jalannya pincang. Saat itu Lasmi sedang
hamil anak kedua.  

 Lepas tengah hari, kami beranjak
pulang ke rumah mertua Mujino. Aku sempatkan untuk mengenal keluarga Mujino
lebih dekat. Dan
kembali aku menemukan pelajaran-pelajaran kecil, namun luar biasa berharga.

 Dalam
kesederhaan, mereka mengajakku makan siang bersama.
Lauknya memang hanya sayur asam dan goreng

tempe

. Tapi ketulusan dan
kehangatan mereka membuat makan siangku terasa begitu nikmat.

 Usai
makan siang, Mujino bercengkarama akrab dengan si kecil, Puji yang berusia 5
tahun. Puji bukanlah gadis kecil biasa. Seperti orang tuanya, Puji menderita
cacat bawaan. Bahkan lebih parah dari orang tuanya. Ukuran kedua tangannya jauh
lebih kecil dan lebih pendek dari yang
seharusnya. Puji pun tak bisa berjalan dengan kedua telapak kaki, melainkan
dengan punggung kaki, karena kakinya melengkung ke belakang.  

 Meski
cacat, aku tak melihat Puji menarik diri dari pergaulan. Ia riang bermain
dengan teman-teman sebayanya. Bahkan aku perhatikan, Puji cenderung jadi
pemimpin teman-temannya. Beberapa kali aku melihat ia yang mengusulkan
permainan, dan diikuti oleh teman-temannya. Caranya berbicara, menunjukkan Puji
sebagai bocah yang sangat percaya diri. Dan dari percakapan kecil kami, aku
bisa melihat tingkat kecerdasan Puji yang lebih tinggi dari standar. Cara
berpikirnya pun lebih dewasa dari usianya.

 Sementara
Puji bermain dengan teman-temannya, aku kembali ngobrol dengan Mujino dan Lasmi.
Salah satu topiknya adalah tentang bagaimana
mereka memandang hidup. Adakah loper koran yang merasa dirinya kaya? Ternyata
ada. Yaitu Mujino dan istrinya. Mereka tak merasa hidup kekurangan. Mereka sangat
merasa bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Begitu pula saat kami
membicarakan putri mereka. Keduanya tak melihat Puji sebagai beban atau cobaan
dari Allah. “Puji adalah anugrah terindah yang diberikan Allah pada kami. Cacat Puji bukanlah cobaan. Kami yakin, setiap
orang diciptakan Allah dengan segala kelebihan dan kekurangannya”, tutur Lasmi.

 Kini aku mengerti, kenapa Puji
memiliki rasa percaya diri yang tinggi, hingga ia bisa bermain dengan
teman-temannya dengan penuh keceriaan.
Tanpa beban, tanpa merasa malu, dan tanpa merasa
berbeda.  

 

 

 

 

 

 

Berguru dari Seorang Blantik Buta

Monday, November 27th, 2006

Gunung Kidul, Pertengahan 2005

 Suara
jangkrik masih ramai terdengar. Mbah Khoiriah, seorang wanita setengah baya,
sudah bangun dan mengambil air wudhu. Usai sholat subuh, ia mulai meladeni
suaminya, Mbah Salim. Ia mengantar Mbah Salim mengambil air wudhu lalu kembali
ke kursi kayu panjang, tempat biasa Mbah Salim duduk atau pun tidur.

 Pagi
itu Mbah Salim dan Mbah Khoiriah hendak ke pasar hewan, untuk menjual 2 ekor
kambing yang  dibeli kemarin. Ya…Mbah
Salim adalah seorang blantik alias makelar kambing. Tapi mata Mbah Salim buta. Karena
itulah, Mbah Khoiriah selalu setia menemani Mbah Salim kemana pun melangkah.
Mata Khoiriah adalah pula mata Mbah Salim.

 Pasar
yang mereka tuju jaraknya sekitar 13 kilometer. Berjalan kaki sambil membawa 2
ekor kambing dengan mata buta dan kaki renta, tentu itu bukan perjalanan yang mudah bagi Mbah Salim. Apalagi mereka
harus melewati jalan setapak, ladang, sampai hutan. Maklumlah, rumah mereka
berada di atas bukit.

 Sepanjang
jalan, tak henti Mbah Salim mengajak bicara kedua kambingnya dengan penuh
kasih. Mungkin, bagi sebagian orang, tingkah laku Mbah Salim terlihat bodoh.
Tapi itulah caranya memperlakukan setiap kambingnya, layaknya manusia.

 Hampir
5 jam perjalanan, akhirnya Mbah Salim, Mbah Khoiriah, dan kedua kambing mereka,
tiba di muka pasar. Mbah Salim langsung berteriak menawarkan kedua kambingnya.
Calon pembeli pun berdatangan. Harga tak cocok, kambing tak ia jual.

 Masuk ke dalam pasar, suasana semakin ramai. Mbah
Salim harus bersaing peruntungan dengan ratusan pedagang kambing lainnya.
Keramaian pasar sering membuat kepala Mbah Salim terasa pusing. Apalagi ia
harus perang harga, tawar-menawar dengan calon pembeli. Belum lagi, ia sering
mendapat ledekan orang atas kebutaannya.

 Tiga jam sudah mereka berdiri,
berjuang agar kedua kambingnya laris. Akhirnya, ada juga yang membeli, meski
hanya 1 ekor. Itu pun terpaksa ia lepas dengan harga 300 ribu rupiah. Padahal,
ia membeli kedua ekor kambing itu seharga 1 juta rupiah.

 Setengah jam kemudian, kambing yang
satunya laku terjual, tapi dengan harga yang lebih murah dari kambing yang
pertama. Hanya 290 ribu rupiah. Berarti hari itu Mbah Salim tekor sebanyak 410
ribu rupiah. Harga kedua kambingnya jatuh karena ternyata ada cacat di mulut kedua
kambing tersebut.

 Mengambil untung puluhan ribu dan
beresiko rugi hingga ratusan ribu rupiah, itulah taruhan pekerjaan Mbah Salim.
Seorang blantik yang buta. Mengumpulkan uang ratusan ribu untuk menambal kerugian,
bukanlah hal mudah.
Tak jarang kerugian itu justru bertambah saat penjualan di hari pasar
berikutnya.Tertipu atau tak sengaja tertipu, tak membuatnya kapok lalu pensiun
dari pekerjaannya.

 Usia
Mbah Karim kini sudah lebih dari 70 tahun. Ia menjadi blantik sejak masih
kecil. Dan katarak telah membuatnya buta sejak 7 tahun yang lalu. Dalam
kebutaan, ia tak lagi mampu menggarap sawah. Hanya dengan bertahan sebagai
blantiklah, Mbah Salim terus berjuang mencari nafkah.

 Ia
tak memakai alat khusus untuk memeriksa setiap kambing yang dibelinya, untuk
kemudian ia jual kembali. Ia hanya meraba sang kambing untuk mengetahui
kemulusan si kambing, dan mengangkatnya untuk mengira-ngira berat si kambing.
Jadi tak heran jika Mbah Salim sering tertipu. Misalnya
si kambing ternyata sakit atau ada cacat, namun Mbah Salim tak mengetahuinya.
Ia tak bisa mengandalkan Khoiriah, yang tak tahu menahu soal kambing.

 Tapi diantara kesulitan hidup, Mbah
Karim adalah orang yang suka berkelakar, membuat orang-orang di sekitarnya
merasa terhibur. Tawa dan keceriaan, selalu menghiasi wajah keriputnya.

 Mbah Salim yakin, hidup akan
berputar seperti roda.
Kadang di atas, kadang di bawah. Saat itu, hidupnya memang sedang susah, tapi ia tak
merasa sedih. Suatu hari nanti, mungkin saja ia berada di atas. Yang penting
baginya, apa pun yang terjadi, dan berapa pun materi yang ia dapat, ia akan
selalu bersyukur. Karena ia yakin, semua adalah karunia Allah.

 

 

Lapindo Again

Wednesday, November 22nd, 2006

Jam 9 malam tadi, Korda ngasih kabar kalau ada ledakan pipa gas pertamina yang menjebol tanggul lumpur panas Lapindo. Gw masih blom punya gambaran sampai seberapa parah akibat dari ledakan tersebut.

Jam 11, tim liputan Surabaya feeding gambar suasana TKP dan rumah sakit tempat mengevakuasi korban. Miris banget liatnya. Gw sampai gak sanggup melihat potongan beberapa gambar, karena terlalu mengerikan. Innalillahi wainailahi rojiun.

Salah satu teman gw, koresponden Surabaya yang kebetulan di BKO-kan ke Jakarta, merasa "mimpi" saat melihat gambar tersebut. Karena sebelum ke Jakarta, saat liputan up date lapindo beberapa hari lalu, dia nongkrong bareng di dekat tanggul utama dengan salah satu korban tewas, kapten Afandi. Mereka berbincang akrab sambil ngerokok. Saat itu teman gw bertanya "ngasal": "wah gimana ya kalau sampai tanggul ini jebol?".  Lalu Pak Afandi menjawab: "ya kita gak bisa rokoan lagi kayak gini, Mas."

Musibah ini mengingatkan gw ke masa gw tugas ke Aceh, liputan tsunami, 2 tahun lalu. Saat gw ikut menjadi saksi sisa-sisa yang membuktikan betapa dasyatnya kuasa Allah.  Bagaimana  kota Melaboh  bisa  benar-benar rata disapu air.  Saat itu gw sengaja ke pantai, menatap  gelombang air yang begitu tenang, dan membayangkan jika beberapa hari lalu, ketenangan ini berwujud air bah yang luar biasa dasyat.

Apalagi saat gw mendengar cerita pengalaman mereka yang berhasil selamat. Gak sedikit yang gw nilai sebagai "keajaiban". Karena kalau menggunakan logika manusia, mereka gak mungkin selamat. Tapi hati juga terus membiru melihat mereka yang kehilangan keluarga dan harta.

Tapi gw yakin, akan selalu ada hikmah dari semua kejadian meski kita merasakannya sebagai duka.

Gerah

Monday, November 20th, 2006

Berasa gak sih kalau beberapa hari belakangan, udara Jakarta lebih panas dari biasanya?
Seminggu ini kan gw tugas di Reportase Pagi, masuk malam sampe pagi. Otomatis, jam tidur gw sekitar jam 9 pagi sampe sore. Naaaaah…gara-gara kegerahan, gw gak bisa tidur nyenyak. Setelah bangun tengah hari, gw susah tidur lagi. Udara terasa puaaanas banget. Gw sampe buka jendela dan pintu kamar. Kipas angin pun udah distel dengan putaran tercepat. Tapi teteeeeeeep aja, gerah banget. Gw berasa dalam sauna.

Dan yang bikin badan gw lebih teriak, karena di malam hari gw mendapat kondisi ekstrim. Kantor dingiiiiiiiin banget.  Jaket  terasa gak mempan. Buntutnya, badan mulai kerasa nge-drop deh.

Kepanasan, kedinginan, dan kurang tidur….tetep sehat!!…tetep semangat yeeee!!!!!!!

Amien…amien…amien….

Cover Both Side

Thursday, November 16th, 2006

Cover both side adalah salah satu keharusan bagi jurnalis dalam membuat berita. Di bawah ini, gw lampirkan penjelasan pihak SCTV terkait masalah Sumanto dg TV 7 (versi TV 7 udah gw posting beberapa waktu lalu). ****************************************************************************************************************************************************** From: PR SCTV E-mail: pr@sctv.co.id Date: Fri Nov 10, 2006 4:46 pm

Kami telah mengangkat soal keluarnya Sumanto dari penjara dan penolakan warga desa Plumutan dan keluarganya pada Derap Hukum edisi Jumat, 20 Oktober 2006. Selama hampir seminggu reporter Derap Hukum menemui Sumanto untuk melakukan wawancara, karenanya reporter kami cukup mengenal Sumanto. Pada hari Minggu 29 Oktober 2006 reporter Derap Hukum yang sama, kami kirim ke Panti Rehabilitas An-Nur di Purbalingga, tempat Sumanto ditampung. Namun tugasnya kali ini bukan untuk Derap Hukum tapi mengisi di program Bayu di Liputan6 pagi, yang telah direncanakan seminggu sebelumnya. Kami menganggap sosok Sumanto setelah keluar dari penjara dan tidak pulang kampung masih layak untuk diketahui.

Rencana awal, tim kami harus membawa sumanto ke studio SCTV Jakarta. Di Purbalingga, masih di hari Minggu 29 Oktober 2006 ada kabar kalau Sumanto dan Pak H. Supono diajak TV7 ke Jakarta untuk Kupas Tuntas. Reaksi kami saat itu, ya sudah, kami tidak akan mengganggu acara Sumanto di Kupas Tuntas TV7.

Seusai acara Kupas Tuntas TV7, selasa sekitar jam 01.00 wib tim kami menghubungi kembali Pak Supono dan menanyakan apakah bisa tampil di studio SCTV. Saat itu Pak Supono menjawab bisa dan memberitahu dimana mereka menginap. Esok paginya, tim Derap Hukum yang telah dikenal Sumanto dan Pak H. Supono Mustadjab di Purbalingga- lah yang menjemput mereka. Dengan demikian, baik Sumanto maupun Pak H. Supono Mustadjab sudah tahu bahwa yang menjemputnya adalah dari SCTV. Kami tidak pernah mengatasnamakan Kupas Tuntas pada saat negosiasi dengan pak H. Supono Mustadjab.

Artiya apa? Artinya tidak ada pelanggaran etika di sini. Perlu diingat, kami langsung berhubungan dengan nara sumber utuk meminta kesediaanya menjadi tamu setelah ia tampil di program Kupas Tuntas TV7. dan yang bersangkutan menyatakan kesediaannya. Jadi, kalau kami menjemput Sumanto dan Pak H. Supono di Hotel, itu karena sudah ada janji sebelumnya dengan yang bersangkutan. Dengan demikian, tidak benar kami menculik mereka…

Apakah untuk itu kami harus meminta izin lagi ke pihak Kupas Tuntas bahwa kami akan mengundang tamu yang baru tampil diprogramnya? Kami rasa tidak begitu cara kerja yang benar,. Karena Kupas Tuntas bukan Manager Sumanto dan Pak H. Supono yang bisa mengatur kepada siapa Sumanto dan Pak Ustad harus menerima wawancara.

Setelah Sumanto tampil di program Bayu di liputan 6 pagi. Melalui telepon kami berhubungan dengan pihak Kupas Tuntas TV7. Intinya pihak Kupas Tuntas TV7 meminta kami datang ke kantor TV7 untuk memberikan penjelasan. Kami menolak karena menurut kami TV7 bukan atasan kami dan juga tidak ada masalah yang harus dijelaskan. Lagi pula kami telah menjelaskannya via telepon. Namun begitu, kami masih menawarkan pertemuan di tempat lain, bukan di TV7, waktu itu kami tawarkan untuk bertemu di hotel tempat Sumanto menginap. Tapi pihak TV7 menolaknya….. Jadi penjelasan telah kami berikan, tidak ada hubungannya dengan pemred kami yang sedang di Eropa. Demikian penjelasan kami. Terima kasih.

Insan Kamil Produser Program “Bayu di Liputan6 pagi” GRAHA SCTV JL. JENDERAL GATOT SUBROTO KAV 21 TELP : 021-5225555 FAKS; 021-5220120 ******************************************************************************************************************************************************* Sebagai outsider (meski gw akui sulit untuk bersikap murni objektif dalam kasus ini), ada beberapa kejanggalan yang menggelitik. Pertama, fakta bahwa SCTV mengetahui jika Sumanto & Pak Supono ke Jakarta atas undangan dan tanggungan TV7. Mulai transportasi, akomodasi, hingga berbagai keperluan lainnya sepanjang mereka di Jakarta dan perjalanan pulang pergi Purbalingga-Jakarta. Hal ini sudah mereka ketahui sejak reporter SCTV masih di Purbalingga. Dalam hal ini, gw akui SCTV cerdas melihat "peluang". Mereka tak perlu repot membawa Sumanto ke Jakarta, kan? Ingat, Sumanto bukan orang biasa, yang dengan mudah diajak dan dibawa ke Jakarta.

Lalu komparasikan dua pernyataan berikut: "kami tidak akan mengganggu acara Sumanto di Kupas Tuntas TV7" dan "Karena Kupas Tuntas bukan Manager Sumanto dan Pak H. Supono yang bisa mengatur kepada siapa Sumanto dan Pak Ustad harus menerima wawancara".

"Apakah untuk itu kami harus meminta izin lagi ke pihak Kupas Tuntas bahwa kami akan mengundang tamu yang baru tampil diprogramnya? Kami rasa tidak begitu cara kerja yang benar,…", gw setuju dengan pernyataan ini. Karena narasumber adalah milik "bersama". Dia berhak menentukan sendiri, bersedia atau tidak menjadi tamu atau narasumber media mana pun. Tapi masalahnya, dalam hal ini konteksnya Sumanto Dan Pak Supono bukan sekedar tamu dalam dialog di Kupas Tuntas. SCTV menjemput kedua narasumber ini di hotel, yang disediakan TV7 untuk tamunya beristirahat. So, bisa dikatakan hotel tersebut adalah "rumah" TV7, dimana Sumanto & Supono adalah tamunya. Menurut gw, idealnya SCTV permisi dulu sama tuan rumah, saat akan membawa tamunya keluar rumah. Simple aja kan?

Tapi pihak manapun yang salah atau yang benar, kejadian ini adalah pelajaran berharga buat semua pihak, bahkan khalayak luas. iya, gak? :)

“Ganti” Penampilan

Wednesday, November 15th, 2006

Tiga hari belakangan, banyak orang yang menyangka gw "ganti" penampilan. Padahal mah gak disengaja.
Soalnya, karena sekarang lagi tugas malam ampe pagi, jadi gw bisa ke kantor dengan kostum lebih santai (meski tetep wajib pake seragam!). Gw gak pake jilbab kain seperti biasanya, tapi pake bergo. Trus, gw juga pake kacamata, gak pake soft lens. Kalau malam, AC di ruang redaksi kan lebih dingiiiiiiin, sehingga bikin mata kering. Ditambah ngantuk, bikin mata terasa keset. Kan lebih nyaman & aman pake kacamata. Eeeeh banyak yang baru tahu kalau gw sebetulnya bermata empat heheheheh….

Zzzzzz

Wednesday, November 15th, 2006

Kamis, 3:37 AM, lantai 3 gedung Trans TV

Cek email & YM…sortir berita daerah…bikin rundown…ngedit naskah…mulai ngantuk…beli cemilan…kedinginan…minum susu…ngedit naskah lagi…cuci muka…bolak-balik nganter temen ke toilet…cek lead & CG…buka friendster…kelaparan…ngantuuuuuk…cek rundown…on air Reportase Pagi…log off komputer…ganjel perut…pulang ke Zeni…Zzzzzzzzzz.

:))

Curhat Kerjaan..boleh ya?

Sunday, November 12th, 2006

Di rolingan November ini gw dipindahkan ke salah satu desk / program yang selama ini gw
“hindari”. Setiap menjelang pengumuman rolingan, gw selalu berdoa agar gak
ditempatkan di desk ini. Assignment Editor (AE). Kenapa?

Sekilas, desk ini
punya beban kerja yang kurang lebih sama dengan desk atau program lain. Malah sekarang gw “bebas tugas” dari ngedit
naskah dan bikin rundown. Gambaran
kerjaan gw sekarang, seperti ini:

Gw mulai kerja jam 7 pagi (kalau kena shift pagi), memastikan tim liputan Reportase sudah datang ke
kantor dan mengetahui proyeksi liputan masing-masing yang terpasang di papan
ruang redaksi. Kalau ada tim liputan yang gak ngerti dengan liputan yang harus
digarap, gw menjelaskannya sampe mereka ngerti (ini tergantung prosesor yang
terpasang di kepala masing-masing heheheh).

Jam setengah 9, biasanya semua tim liputan udah jalan ke
lapangan. Tugas gw selanjutnya adalah membaca koran, media on line, dengerin radio, dan memantau peristiwa yang terjadi,
terutama di daerah Jabotabek. Jadi, mata dan telinga harus mampu bekerja
masing-masing.

Jam 11 siang, gw (biasanya dibantu staf AE or asprod lain
yang juga bertugas) mengkontak masing-masing tim liputan untuk mengetahui
belanjaan sementara. Selanjutnya, rapat belanjaan tim, jam 1 siang, bareng eksekutif
produser, kordinator daerah (korda), produser & asprod Reportase Sore. Di
rapat ini, kami mendiskusikan belanjaan tim, baik tim  Jakarta mapun daerah, memutuskan liputan mana saja yang akan tayang sore itu. 


Tugas selanjutnya, gw kembali mengontak tim liputan satu per
satu untuk mengetahui perkembangan eksekusi di lapangan dan memastikan mereka
segera meluncur ke kantor sebelum dead
line
, terutama mereka yang belanjaannya akan ditayangkan.

Jam 3 sore, rata-rata tim liputan udah nyampe kantor untuk
bikin naskah. Nah gw udah mulai bisa sedikit leha-leha deh. Tugas gw, handle tim liputan siang dan malam,
sambil telinga tetap siaga satu dengerin radio dam mata liat media on line.

Terlihat simple
aja kan kerjaan gw?? 

Lalu apa yang gw "takutkan" dari desk ini?

Pertama, karena setiap detik waktu berjalan, gw selalu
merasa khawatir kebobolan berita. Kalau sampai ada berita yang tayang di media
lain, sementara tim Reportase gak dapet, maka AE-lah yang pertama dimintai
pertanggung jawaban. Jika ada peristiwa yang terjadi, seperti kecelakaan yang
memakan korban, ledakan bom, de es be, maka AE musti pandai memilih tim mana
yang dialihkan atau ditugaskan meng-cover peristiwa tersebut. Yang dilematis adalah jika jumlah tim yang lagi minim,
sehingga kita musti mengorbankan satu atau beberapa liputan yang sedang digarap
demi meliput peristiwa tersebut. Salah menentukan pilihan, bisa “digantung” bos
deh :P

Gw pun harus stand by
menerima missed call temen-temen di
lapangan. Setiap ada trouble di
lapangan, mereka memberi kode dengan missed
call
, yang harus gw tanggapi dengan segera menelepon mereka. Maklumlah…kite kan  gak dikasih jatah pulsa sama kantor, jadi cuma "mampu" nge-missed call doang :D

Nah, di sini kita musti cepat membuat keputusan dan memberi
solusi setiap masalah atau kendala yang ditemui temen-temen di lapangan. Salah
or lambat membuat keputusan…ya berabe deh! Jantung juga makin berdegup kenceng
kalau ada tim liputan yang belum balik kanan padahal udah lewat jam dead line. Siap-siap aja kuping
mendengar teriakan produser Reportase Sore, nanyain posisi tim yang
bersangkutan.

Setelah on air Reportase, kami meeting evaluasi. Di sini nih, semua “pihak” dimintai
pertanggungjawabannya, termasuk kite anak AE. Jadi siap-siap aja “dipojokin”
bos even tim liputan, jika ada berita yang bobol.

Setelah meeting,
AE bikin proyeksi liputan tim esok hari. Meski terkesan gampang, tapi
sebetulnya lumayan alot. Seperti memasangkan reporter dengan kameramen yang
kadang musti ada kejelian, apakah mereka “pas” dipasangkan atau tidak, dan
apakah mereka “pas” untuk bikin liputan tersebut. Trus menyortir undangan
liputan yang masuk, menentukan mana yang layak diliput, mana yang enggak. Di
sini juga nih, kite musti pinter menolak bujukan si pengundang, atau sebaliknya
pinter ngebujuk orang agar mau diliput.

Dan yang gak kalah bikin tangan sering ngelus dada adalah saat harus berkompromi dengan puluhan kepala temen-temen tim liputan dengan  karakter masing-masing. Ada yang aktif..ada yang apatis, ada yang rajin.. ada yang males-malesan,  ada yang nurut..da yang ngeyel, ada yang cerewet..ada yang pendiam, ada yang bisa kerja tim..ada yang individualistis banget.

Terus, beban kerjaan desk
ini pengaruh juga terhadap kehidupan sosial gw. Selain makin sedikit waktu buat
ketemu temen-temen, karena gw gak libur Sabtu-Minggu, buka email dan ngobrol lewat YM pun makin susah….hik…hik…

Akhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!

Dan baru seminggu gw di desk
ini, it means masih tahap
adaptasi, mulai besok gw di BKO- kan,  alias dipindah tugaskan sementara ke program Reportase Pagi, karena 2 asisten
produser (asprod)nya lagi cuti. Yang satu cuti nikah, yang satunya lagi cuti
istri melahirkan. So, 2 minggu ke depan, gw akan tugas dari jam 9 malam sampe 7
pagi.

Phhhh………………………..

Well, tapi inilah
“seninya” kerja di bidang media, terutama jurnalis. Harus selalu siap, rela,
dan mampu untuk tugas apa pun dan kapan pun. Gw cuma bisa berusaha untuk tetap
bekerja dengan hati, meski pada dasarnya gw “gak rela” heheheheh.

Makasih Mas Amien

Thursday, November 9th, 2006

Masih nyambung sama cerita gw tentang beli sepatu hitam. Kan gw beli sepatu tersebut di Detos, Depok. Saat itu, gw sekalian beli kabel data buat HP CDMA gw, DKU 5, di Flexi Center, di lantai paling atas. Toko tersebut memberi gw panduan langkah-langkah untuk install software-nya plus setting modem telkom flexi.

Malamnya, gw coba ikutin langkah-langkah tersebut. Tapi dasar gaptek, gw gak berhasil. Di bidang IT, gw emang lemot banget heheheh. Jadi, besoknya gw minta tolong sama salah satu temen gw yang anak IT. Sebetulnya dia udah bisa ngikutin semua langkah-langkah settingan. Tapi gak tau kenapa, internet telkom flexi masih gak bisa konek.

Akhirnya, kemarin gw bawa laptop gw ke Flexi Center di Detos. Gw minta tolong mereka untuk menyetting. Untungnya Mas Amien, si pemilik toko, bersedia membantu meski dia sendiri belum tahu persis caranya. Selama ini dia terbiasa setting PC, bukan laptop.

Dia sampe telpon orang telkom untuk kasih instruksi. Lumayan lama tuh prosesnya, lebih dari setengah jam. Dan alhamdulillah, akhirnya internetnya bisa konek. Nah, setelah beresin laptop ke dalam tas, gw tanya berapa harga jasa service-nya. Eh rupanya Mas Amien menolak. Dia bilang: "Gak usah Mbak, kan Mbak beli kabelnya di sini. Lagian saya kan jadi sekalian belajar."

Gw kan jadi ngerasa gak enak, terutama karena dia sudah menghabiskan banyak pulsa buat telpon si orang Telkom itu. Setidaknya gw pengen bayar sebagai pengganti pulsa dia yang kepake. Tapi dia tetep gak mau. Alhamdulillah ya, gw masih bisa bertemu orang kayak Mas Amien, yang rela memberi bantuan tanpa berhitung materi sebagai timbal balik. Padahal counter dia sepi pembeli loh! Kan meminta uang jasa service bisa jadi pemasukan counternya dia.
Makasih banyak ya Mas Amien :)