Di rolingan November ini gw dipindahkan ke salah satu desk / program yang selama ini gw
“hindari”. Setiap menjelang pengumuman rolingan, gw selalu berdoa agar gak
ditempatkan di desk ini. Assignment Editor (AE). Kenapa?
Sekilas, desk ini
punya beban kerja yang kurang lebih sama dengan desk atau program lain. Malah sekarang gw “bebas tugas” dari ngedit
naskah dan bikin rundown. Gambaran
kerjaan gw sekarang, seperti ini:
Gw mulai kerja jam 7 pagi (kalau kena shift pagi), memastikan tim liputan Reportase sudah datang ke
kantor dan mengetahui proyeksi liputan masing-masing yang terpasang di papan
ruang redaksi. Kalau ada tim liputan yang gak ngerti dengan liputan yang harus
digarap, gw menjelaskannya sampe mereka ngerti (ini tergantung prosesor yang
terpasang di kepala masing-masing heheheh).
Jam setengah 9, biasanya semua tim liputan udah jalan ke
lapangan. Tugas gw selanjutnya adalah membaca koran, media on line, dengerin radio, dan memantau peristiwa yang terjadi,
terutama di daerah Jabotabek. Jadi, mata dan telinga harus mampu bekerja
masing-masing.
Jam 11 siang, gw (biasanya dibantu staf AE or asprod lain
yang juga bertugas) mengkontak masing-masing tim liputan untuk mengetahui
belanjaan sementara. Selanjutnya, rapat belanjaan tim, jam 1 siang, bareng eksekutif
produser, kordinator daerah (korda), produser & asprod Reportase Sore. Di
rapat ini, kami mendiskusikan belanjaan tim, baik tim Jakarta mapun daerah, memutuskan liputan mana saja yang akan tayang sore itu.
Tugas selanjutnya, gw kembali mengontak tim liputan satu per
satu untuk mengetahui perkembangan eksekusi di lapangan dan memastikan mereka
segera meluncur ke kantor sebelum dead
line, terutama mereka yang belanjaannya akan ditayangkan.
Jam 3 sore, rata-rata tim liputan udah nyampe kantor untuk
bikin naskah. Nah gw udah mulai bisa sedikit leha-leha deh. Tugas gw, handle tim liputan siang dan malam,
sambil telinga tetap siaga satu dengerin radio dam mata liat media on line.
Terlihat simple
aja kan kerjaan gw??
Lalu apa yang gw "takutkan" dari desk ini?
Pertama, karena setiap detik waktu berjalan, gw selalu
merasa khawatir kebobolan berita. Kalau sampai ada berita yang tayang di media
lain, sementara tim Reportase gak dapet, maka AE-lah yang pertama dimintai
pertanggung jawaban. Jika ada peristiwa yang terjadi, seperti kecelakaan yang
memakan korban, ledakan bom, de es be, maka AE musti pandai memilih tim mana
yang dialihkan atau ditugaskan meng-cover peristiwa tersebut. Yang dilematis adalah jika jumlah tim yang lagi minim,
sehingga kita musti mengorbankan satu atau beberapa liputan yang sedang digarap
demi meliput peristiwa tersebut. Salah menentukan pilihan, bisa “digantung” bos
deh
Gw pun harus stand by
menerima missed call temen-temen di
lapangan. Setiap ada trouble di
lapangan, mereka memberi kode dengan missed
call, yang harus gw tanggapi dengan segera menelepon mereka. Maklumlah…kite kan gak dikasih jatah pulsa sama kantor, jadi cuma "mampu" nge-missed call doang
Nah, di sini kita musti cepat membuat keputusan dan memberi
solusi setiap masalah atau kendala yang ditemui temen-temen di lapangan. Salah
or lambat membuat keputusan…ya berabe deh! Jantung juga makin berdegup kenceng
kalau ada tim liputan yang belum balik kanan padahal udah lewat jam dead line. Siap-siap aja kuping
mendengar teriakan produser Reportase Sore, nanyain posisi tim yang
bersangkutan.
Setelah on air Reportase, kami meeting evaluasi. Di sini nih, semua “pihak” dimintai
pertanggungjawabannya, termasuk kite anak AE. Jadi siap-siap aja “dipojokin”
bos even tim liputan, jika ada berita yang bobol.
Setelah meeting,
AE bikin proyeksi liputan tim esok hari. Meski terkesan gampang, tapi
sebetulnya lumayan alot. Seperti memasangkan reporter dengan kameramen yang
kadang musti ada kejelian, apakah mereka “pas” dipasangkan atau tidak, dan
apakah mereka “pas” untuk bikin liputan tersebut. Trus menyortir undangan
liputan yang masuk, menentukan mana yang layak diliput, mana yang enggak. Di
sini juga nih, kite musti pinter menolak bujukan si pengundang, atau sebaliknya
pinter ngebujuk orang agar mau diliput.
Dan yang gak kalah bikin tangan sering ngelus dada adalah saat harus berkompromi dengan puluhan kepala temen-temen tim liputan dengan karakter masing-masing. Ada yang aktif..ada yang apatis, ada yang rajin.. ada yang males-malesan, ada yang nurut..da yang ngeyel, ada yang cerewet..ada yang pendiam, ada yang bisa kerja tim..ada yang individualistis banget.
Terus, beban kerjaan desk
ini pengaruh juga terhadap kehidupan sosial gw. Selain makin sedikit waktu buat
ketemu temen-temen, karena gw gak libur Sabtu-Minggu, buka email dan ngobrol lewat YM pun makin susah….hik…hik…
Akhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!
Dan baru seminggu gw di desk
ini, it means masih tahap
adaptasi, mulai besok gw di BKO- kan, alias dipindah tugaskan sementara ke program Reportase Pagi, karena 2 asisten
produser (asprod)nya lagi cuti. Yang satu cuti nikah, yang satunya lagi cuti
istri melahirkan. So, 2 minggu ke depan, gw akan tugas dari jam 9 malam sampe 7
pagi.
Phhhh………………………..
Well, tapi inilah
“seninya” kerja di bidang media, terutama jurnalis. Harus selalu siap, rela,
dan mampu untuk tugas apa pun dan kapan pun. Gw cuma bisa berusaha untuk tetap
bekerja dengan hati, meski pada dasarnya gw “gak rela” heheheheh.