Berguru dari Seorang Blantik Buta

Gunung Kidul, Pertengahan 2005

 Suara
jangkrik masih ramai terdengar. Mbah Khoiriah, seorang wanita setengah baya,
sudah bangun dan mengambil air wudhu. Usai sholat subuh, ia mulai meladeni
suaminya, Mbah Salim. Ia mengantar Mbah Salim mengambil air wudhu lalu kembali
ke kursi kayu panjang, tempat biasa Mbah Salim duduk atau pun tidur.

 Pagi
itu Mbah Salim dan Mbah Khoiriah hendak ke pasar hewan, untuk menjual 2 ekor
kambing yang  dibeli kemarin. Ya…Mbah
Salim adalah seorang blantik alias makelar kambing. Tapi mata Mbah Salim buta. Karena
itulah, Mbah Khoiriah selalu setia menemani Mbah Salim kemana pun melangkah.
Mata Khoiriah adalah pula mata Mbah Salim.

 Pasar
yang mereka tuju jaraknya sekitar 13 kilometer. Berjalan kaki sambil membawa 2
ekor kambing dengan mata buta dan kaki renta, tentu itu bukan perjalanan yang mudah bagi Mbah Salim. Apalagi mereka
harus melewati jalan setapak, ladang, sampai hutan. Maklumlah, rumah mereka
berada di atas bukit.

 Sepanjang
jalan, tak henti Mbah Salim mengajak bicara kedua kambingnya dengan penuh
kasih. Mungkin, bagi sebagian orang, tingkah laku Mbah Salim terlihat bodoh.
Tapi itulah caranya memperlakukan setiap kambingnya, layaknya manusia.

 Hampir
5 jam perjalanan, akhirnya Mbah Salim, Mbah Khoiriah, dan kedua kambing mereka,
tiba di muka pasar. Mbah Salim langsung berteriak menawarkan kedua kambingnya.
Calon pembeli pun berdatangan. Harga tak cocok, kambing tak ia jual.

 Masuk ke dalam pasar, suasana semakin ramai. Mbah
Salim harus bersaing peruntungan dengan ratusan pedagang kambing lainnya.
Keramaian pasar sering membuat kepala Mbah Salim terasa pusing. Apalagi ia
harus perang harga, tawar-menawar dengan calon pembeli. Belum lagi, ia sering
mendapat ledekan orang atas kebutaannya.

 Tiga jam sudah mereka berdiri,
berjuang agar kedua kambingnya laris. Akhirnya, ada juga yang membeli, meski
hanya 1 ekor. Itu pun terpaksa ia lepas dengan harga 300 ribu rupiah. Padahal,
ia membeli kedua ekor kambing itu seharga 1 juta rupiah.

 Setengah jam kemudian, kambing yang
satunya laku terjual, tapi dengan harga yang lebih murah dari kambing yang
pertama. Hanya 290 ribu rupiah. Berarti hari itu Mbah Salim tekor sebanyak 410
ribu rupiah. Harga kedua kambingnya jatuh karena ternyata ada cacat di mulut kedua
kambing tersebut.

 Mengambil untung puluhan ribu dan
beresiko rugi hingga ratusan ribu rupiah, itulah taruhan pekerjaan Mbah Salim.
Seorang blantik yang buta. Mengumpulkan uang ratusan ribu untuk menambal kerugian,
bukanlah hal mudah.
Tak jarang kerugian itu justru bertambah saat penjualan di hari pasar
berikutnya.Tertipu atau tak sengaja tertipu, tak membuatnya kapok lalu pensiun
dari pekerjaannya.

 Usia
Mbah Karim kini sudah lebih dari 70 tahun. Ia menjadi blantik sejak masih
kecil. Dan katarak telah membuatnya buta sejak 7 tahun yang lalu. Dalam
kebutaan, ia tak lagi mampu menggarap sawah. Hanya dengan bertahan sebagai
blantiklah, Mbah Salim terus berjuang mencari nafkah.

 Ia
tak memakai alat khusus untuk memeriksa setiap kambing yang dibelinya, untuk
kemudian ia jual kembali. Ia hanya meraba sang kambing untuk mengetahui
kemulusan si kambing, dan mengangkatnya untuk mengira-ngira berat si kambing.
Jadi tak heran jika Mbah Salim sering tertipu. Misalnya
si kambing ternyata sakit atau ada cacat, namun Mbah Salim tak mengetahuinya.
Ia tak bisa mengandalkan Khoiriah, yang tak tahu menahu soal kambing.

 Tapi diantara kesulitan hidup, Mbah
Karim adalah orang yang suka berkelakar, membuat orang-orang di sekitarnya
merasa terhibur. Tawa dan keceriaan, selalu menghiasi wajah keriputnya.

 Mbah Salim yakin, hidup akan
berputar seperti roda.
Kadang di atas, kadang di bawah. Saat itu, hidupnya memang sedang susah, tapi ia tak
merasa sedih. Suatu hari nanti, mungkin saja ia berada di atas. Yang penting
baginya, apa pun yang terjadi, dan berapa pun materi yang ia dapat, ia akan
selalu bersyukur. Karena ia yakin, semua adalah karunia Allah.

 

 

Leave a Reply