Pelajaran dari Pak Mujino

    Pukul 4 pagi aku tiba di rumah mertua Mujino, di
daerah Karang Mendo, Bantul. Mujino adalah seorang loper koran, yang memulai
kesibukannya sejak subuh.
Usai solat subuh, Mujino berangkat ke agen koran, di
jalan Solo. Jarak dari rumahnya sekitar 1 kilometer, yang ditempuhnya hanya
dengan bantuan sandal cepit. Kalian mungkin menggangapnya sebagai hal yang
biasa. Apa istimewanya berjalan kaki sejauh 1 kilometer? Hmm…tapi mungkin
kalian akan berubah pikiran jika melihat kondisi fisik Mujino. Tubuh bagian
kiri Mujino cacat. Mata kirinya buta,
bentuk tangan kirinya tak sempurna sehingga tak bisa berfungsi dengan
semestinya, serta kaki kirinya lebih pendek, sehingga jalannya pincang.

Dari agen koran, Mujino
beranjak, keliling mengantar koran ke rumah puluhan pelanggannya. Lagi-lagi, ia
berjalan kaki. Cacat di kakinya tak memungkinkan Mujino mengendarai sepeda. Aku
mengikuti Mujino berkeliling…dan huhhh….cukup melelahkan.

Selesai mengantar koran ke
pelanggan, Mujino menuju pasar. Di sana ia menawarkan koran pada para pedagang.
Ia lalu beristirahat sejenak, mengumpulkan energi sambil melepas dahaga dengan
segelas teh manis. Sebelum kembali bekerja, ia mampir ke sebuah koperasi di
pasar tersebut.
Aku bertanya pada Mujino,
untuk apa ia ke tempat tersebut. Rupanya ia punya kebiasaan istimewa.
Di tengah keterbatasan
ekonomi, ia mengusahakan untuk menabung setiap hari. Jumlahnya memang tak
banyak, sekitar 2 ribu sampai 10 ribu rupiah, tergantung pendapatan Mujino hari
itu. Tapi jika dibandingkan dengan penghasilan Mujino yang tak lebih dari 50
ribu setiap hari, itu jumlah yang lumayan, kan?  Demi masa depan buah hatinya, Mujino bertekad
untuk disiplin menabung. Ia ingin kelak anak-a
naknya mendapat pendidikan hingga ke bangku kuliah.

Luar biasa! Mujino bukanlah orang yang berpendidikan
tinggi. Ia hanya lulusan

SLB

setingkat SMP. Tapi lihatlah kemampuannya merencanakan masa depan! Lihatkah kemampuannya
mengelola penghasilan! Aku semakin kagum
padanya.

 Dari koperasi, aku mengikuti Mujino
ke perempatan IAIN Kalijaga. Di

sana

ia menawarkan korannya pada setiap kendaraan yang berhenti karena lampu merah. Di perempatan itu pula, istri Mujino, Lasmiati
membantunya mencari nafkah. Lasmi menjadi pengecer koran. Kondisi fisik Lasmi
ternyata tak jauh berbeda dengan Mujino. Kaki kanannya cacat. Ukurannya lebih
kecil dari yang yang kiri, sehingga jalannya pincang. Saat itu Lasmi sedang
hamil anak kedua.  

 Lepas tengah hari, kami beranjak
pulang ke rumah mertua Mujino. Aku sempatkan untuk mengenal keluarga Mujino
lebih dekat. Dan
kembali aku menemukan pelajaran-pelajaran kecil, namun luar biasa berharga.

 Dalam
kesederhaan, mereka mengajakku makan siang bersama.
Lauknya memang hanya sayur asam dan goreng

tempe

. Tapi ketulusan dan
kehangatan mereka membuat makan siangku terasa begitu nikmat.

 Usai
makan siang, Mujino bercengkarama akrab dengan si kecil, Puji yang berusia 5
tahun. Puji bukanlah gadis kecil biasa. Seperti orang tuanya, Puji menderita
cacat bawaan. Bahkan lebih parah dari orang tuanya. Ukuran kedua tangannya jauh
lebih kecil dan lebih pendek dari yang
seharusnya. Puji pun tak bisa berjalan dengan kedua telapak kaki, melainkan
dengan punggung kaki, karena kakinya melengkung ke belakang.  

 Meski
cacat, aku tak melihat Puji menarik diri dari pergaulan. Ia riang bermain
dengan teman-teman sebayanya. Bahkan aku perhatikan, Puji cenderung jadi
pemimpin teman-temannya. Beberapa kali aku melihat ia yang mengusulkan
permainan, dan diikuti oleh teman-temannya. Caranya berbicara, menunjukkan Puji
sebagai bocah yang sangat percaya diri. Dan dari percakapan kecil kami, aku
bisa melihat tingkat kecerdasan Puji yang lebih tinggi dari standar. Cara
berpikirnya pun lebih dewasa dari usianya.

 Sementara
Puji bermain dengan teman-temannya, aku kembali ngobrol dengan Mujino dan Lasmi.
Salah satu topiknya adalah tentang bagaimana
mereka memandang hidup. Adakah loper koran yang merasa dirinya kaya? Ternyata
ada. Yaitu Mujino dan istrinya. Mereka tak merasa hidup kekurangan. Mereka sangat
merasa bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Begitu pula saat kami
membicarakan putri mereka. Keduanya tak melihat Puji sebagai beban atau cobaan
dari Allah. “Puji adalah anugrah terindah yang diberikan Allah pada kami. Cacat Puji bukanlah cobaan. Kami yakin, setiap
orang diciptakan Allah dengan segala kelebihan dan kekurangannya”, tutur Lasmi.

 Kini aku mengerti, kenapa Puji
memiliki rasa percaya diri yang tinggi, hingga ia bisa bermain dengan
teman-temannya dengan penuh keceriaan.
Tanpa beban, tanpa merasa malu, dan tanpa merasa
berbeda.  

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply