Archive for December, 2006

Belaian Lembut

Thursday, December 28th, 2006

Semalam gw nemenin nyokap tidur di rumah dinas. Jadi tidur bareng lagi deh heheheh. Subuh tadi, nyokap membelai kepala gw. Sebetulnya gw terbangun saat nyokap membelai gw dengan sangat lembut. Tapi gw memilih pura-pura masih tertidur…soalnya, belaian nyokap terasa damai banget, hingga gw merasa gak ingin mamah berhenti membelai.

Gw gak ingat, kapan terakhir kali nyokap membelai manja gw seperti subuh tadi. Pertama, karena kami emang jarang ketemu sejak gw merantau kuliah. Kedua, umur sering membuat kita merasa gak pantas lagi untuk bermanja-manja…heheheh.

Belaian nyokap emang lembut, tapi kekuatannya dahsyat banget ya! Tangannya tuh bikin kita merasa sangat nyaman, aman, dan damai.

Kayaknya, sesekali menjadi "anak kecil", gak ada salahnya ya? :)

Saat Aku Kembali

Thursday, December 28th, 2006

Selasa, 26 Desember 2006

Bertahun aku tak menyapamu.

Kamu pasti mengira aku lupa, bukan?

Tapi lihat, hari ini aku kembali.

Bukankah aku masih sama?

Tapi kemari, mendekatlah!

Pandang wajahku.

Tatap mataku.

Apakah aku masih seperti dulu?

Bersamamu aku kerap berbagi cinta dan harapan, dulu.

Bercerita akan rasa dan luka.

Aku membuatmu tertawa dan sering mengajakmu menangis.

Tapi kini, aku hanya punya alasan untuk mengajakmu tersenyum.

Jadi, hanya kamu yang tak berubah…dan tak akan pernah berubah, bukan?

Kamu tetap akan berdiri di sana.

Tetap dengan sinar yang sama.

Tetap setia mendengar ocehanku, dalam keramaian tawa atau pun airmata.

Dan tetap menjawab dalam kebisuanmu.

Home sweet home

Tuesday, December 26th, 2006

Tadi hujan lebat banget. Mengingatkan gw pada "tradisi" lama di kampung gw, yang ternyata masih bertahan sampe sekarang.

Dulu, kalau hujan lebat disertai guntur dan kilat, hampir bisa dipastikan bakal mati lampu. Dan tadi, ternyata mati lampu….hahahaha ternyata tradisi yang satu ini masih betah "dipertahankan" di kampung gw :P

Tapi….home sweet home lah :)

Satu Rindu

Tuesday, December 26th, 2006

(Lagunya Kang Opick)

Satu Rindu

Hujan kau ingatkan aku

Tentang satu rindu

Di masa yang lalu

Saat mimpi masih indah bersamamu

Terbayang satu wajah

Penuh cinta, penuh kasih

Terbayang satu wajah

Penuh dengan kehangatan

Allah, ijinkan aku bahagiakan dia

Meski dia telah jauh,

Biarkanlah aku berarti untuk dirinya

Oh Ibu….oh Ibu…kau Ibu

Kedamaian Sederhana (3)

Monday, December 25th, 2006

Ada awal, pasti ada akhir. Tapi rasanya berat banget meninggalkan tempat ini. Gw sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bisa ke sini. Suasananya sangat damai dan tenang, juga memberi banyak ilmu:

Kemarin siang, usai Zuhur, saat turun dari tangga mesjid, gw melihat seorang perempuan dan seorang laki-laki mendorong gerobak sampah, melintas di depan mesjid. Di atas tumpukan sampah, duduk seorang bocah. Gw melihat ada yang “ganjil” dari 2 orang yang sedang mendorong gerobak itu. Yang perempuan berpakaian kumal dengan rambut yang acak-acakan. Sedangkan si laki-laki berpenampilan rapi dan bersih, dengan setelan kemeja panjang dan celana panjang. Kebetulan, gw kemudian berjalan di belakang mereka. Selang beberapa langkah, keduanya berhenti mendorong gerobak sampah. Si laki-laki lalu berpamitan, dan si perempuan mengucapkan terima kasih. Ooooh rupanya, si laki-laki membantu si perempuan yang sudah ibu-ibu, mendorong gerobak sampah. Jalan di depan mesjid memang agak menanjak, sedang gerobak si ibu terisi penuh, ditambah muatan seorang bocah. Mungkin si laki-laki itu adalah salah satu orang yang baru selesai sholat zuhur berjamaah, lalu ia melihat si ibu-ibu itu. Hmm..menolong atau memberi memang tak harus dengan sesuatu yang “besar“ ya? Sesuatu yang terlihat “kecil“ dan sederhana pun bisa bermakna “besar“. Ya gak?

Gw perhatikan, orang-orang di sini jauh dari egois. Mereka sangat memikirkan orang lain. Contoh sederhananya, seperti yang gw ceritakan sebelumnya, tentang seorang perempuan yang membereskan sendal-sendal yang berserakan di teras mesjid. Ia menatanya jadi rapi dan teratur. Trus, gw juga gak melihat satu orang pun yang merokok. Termasuk di warung makan. Bayangkan, udara bebas asap rokok!! Gimana gak bikin gw betah?! J

Gw juga mengamati roda ekonomi di kawasan ini. “Unik“! Setiap menjelang waktu sholat, para pedagang akan menutup tokonya, meski saat itu sedang ada pembeli. Seperti yang gw alami sendiri. Saat itu gw lagi memilih jilbab di salah satu toko di jalan Geger Kalong Girang. Dengan sopan, si penjaga toko meminta maaf dan memberi tahu jika ia akan menutup dulu tokonya karena sebentar lagi akan masuk waktu zuhur. Fenomena ini mengingatkan gw pada sebuah tulisan tentang seorang pengusaha sukses (gw lupa namanya), yang memandang bekerja sebagai aktivitas untuk mengisi waktu, menunggu waktu sholat.

Di toko lainnya, saat adik gw sudah memilih jilbab yang akan dibelinya, si penjaga toko memeriksa jilbab tersebut. Lalu ia menyarankan kami untuk tak membeli jilbab tersebut karena ternyata jilbab itu ada cacatnya.

Dan yang tak kalah istimewanya, semua penjaga toko selalu menyambut gw (sebagai calon pembeli) dengan sangat ramah. Keramahan itu tak luntur meski akhirnya gw pamit tanpa membeli satu pun barang dagangannya. Dan jika transaksi terjadi, biasanya mereka berterima kasih seraya mendoakan semoga barang yang gw beli akan menjadi barokah. Malah ada yang mendoakan, semoga rejeki gw dimudahkan. Subhanallah!

I’ll be back, insya Allah J

Kedamaian Sederhana (2)

Friday, December 22nd, 2006

Menjelang maghrib gw kembali ke mesjid. Walah…ternyata udah penuh. Rupanya mesjid ini tergolong "laku" ya?
Usai solat maghrib, lanjut tafsir Al Quran.  Rupanya jemaah lain udah siap sedia, bawa Quran dari rumah. Gw celingukan deh heheheh ketauan orang baru. Untungnya, di mesjid itu sudah disiapkan banyak Al-Quran. Hmm…emang udah biasa didatengin "orang luar", toh.
Disambung solat isya berjamaah, lalu ceramah yang "ditunggu" kebanyakan jemaah. Siapa lagi kalau bukan ceramah ustad yang lagi heboh jadi perbincangan, Aa Gym. Baru saja Aa Gym naik ke mimbar, sinar blits berkali kali membuat Aa Gym silau…ck..ck..
Ada yang berbeda dari ceramah Aa Gym. Tak seperti biasanya yang lebih banyak membuat pendengar tertawa, Aa Gym tampil lebih serius. Hanya sesekali ia membuat banyolan yang menjadi ciri khasnya. Materi yang disampaikannya pun sedikit berbeda dari kebiasaannya, yang lebih berbicara soal akhlak. Kini ia lebih banyak bicara soal  akidah. Soal  Allah  SWT.  Ia pun kini lebih banyak menyampaikan ayat-ayat dan hadis.
Hmmm….
Aa Gym sendiri mengakui perubahan ini. Ia bahkan mengakui jika "episode poligami" menjadi evaluasi besar bagi dirinya. Dan semalam, ia menutup ceramahnya dengan meminta maaf. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir, katanya, karena hari ini ia berangkat ke Jakarta untuk bertolak ke Mekah, menunaikan ibadah haji.
Pengajian selesai pukul 9 malam, kala hujan masih turun dengan deras. Gw melihat Aa Gym bolak-balik mengatar jemaah menyebrang, jadi "ojek payung". Tak lama gw melihat Teh Ninih, lalu mereka pulang bersama-sama.
Sebelum ke cottage, gw makan malam dulu di warung di sekitar mesjid. Di sana gw ngobrol dengan seorang perempuan yang langganan datang ke mesjid DT, terutama setiap Kamis malam. Katanya sekarang sepi banget jemaah yang datang. Gw sempet kaget. Karena tadi jemaah menyesaki mesjid hingga ke teras. Kondisi seperti ini dia bilang sepi? Lalu ia cerita, jika dulu, jemaah sampai memenuhi pelataran cottage. Dan seumur-umur dirinya ikut pengajian Kamis malam di DT, baru kali ini dia dapat tempat di dalam mesjid.
Jam 3 pagi, gw kembali ke mesjid. Gw kira masih sepi. Eeeeh ternyata mesjid penuh oleh jemaah yang itikaf. Luar biasa! Gw merasa malu deh.
Selama ini, gw hanya memberikan "sisa" waktu untuk beribadah. Kebanyakan waktu yang gw miliki, habis untuk bekerja. Bahkan untuk solat pun, kadang gw tergesa-gesa. Entah diburu deadline atau diburu meeting yang belum selesai. Sementara mereka…memberikan waktu lebih banyak untuk-Nya.

Kedamaian Sederhana

Thursday, December 21st, 2006

Tempatnya sangat jauh dari kesan mewah. Bahkan pesawat televisi pun tak ada di dalam kamar. Awalnya gw kaget juga: "Wah bakal gak tau perkembangan dunia luar nih!".
Tak lama gerimis turun, membuat hawa Bandung atas semakin dingin. Semula gw berniat untuk menghangatkan diri di balik selimut. Namun saat gw melihat keluar jendela, gw justru memutuskan untuk melanjutkan membuat tulisan (yang sudah 1 tahun gak kelar-kelar heheheh) di teras kamar.
Tetes air membuat rumput dan pepohonan di taman mungil depan kamar terlihat lebih segar dan hijau. Suasana yang sangat damai dan membuat hati tenang.
Menjelang ashar, gw mematikan notebook yang baterenya udah tiris banget. Karena listrik lagi mati, jadi  gak bisa  di-charge deh.
Gerimis sudah pamit, meninggalkan hawa yang kian sejuk. Gw melenggang keluar cottage, menuju jalan raya. Hmm sebuah kawasan yang rapi dan tertata. Di sana sini gw melihat perempuan berbusana muslim. Waaah, gak ada yang berani pake baju minim di kawasan ini ya? hehehhe. Pantesan banyak yang bilang pemandangan di sini "sejuk".
Karena waktu ashar tinggal hitungan menit, gw putuskan untuk mampir ke mesjid. Sambil menunggu kumandang adzan, gw memperhatikan suasana di sekitar mesjid. Ada yang sedang membaca Quran, ada yang baca buku, ada pula yang ngobrol-ngobrol (anak ABG heheh). Lalu pandangan gw terkunci pada seorang akhwat dengan jilbab oranye tua. Parasnya cantik dengan kulit putih bersih. Ia baru saja akan menginjakkan kaki ke teras mesjid, tapi urung karena terlebih dulu  ia membereskan barisan sandal yang semberawut. Ia menatanya sangat rapi dan teratur, sehingga enak dilihat. Gak berantakan. Selain itu, caranya menata sendal akan memudahkan si pemilik menemukan sendalnya dan memudahkan pula untuk memakainya, karena sudah di posisikan dengan menghadap searah dengan si pemilik yang akan meninggalkan mesjid. Hmm…kalau cowok yang lihat "pemandangan" ini, siapa yang gak bakalan meleleh ya? :D
Usai pengajian singkat, gw berjalan menyusuri jalanan kecil yang ramai. Di kanan kiri, adalah toko-toko yang menawarkan berbagai barang bernuansa Islam. Wah gawat juga nih, bisa tergoda untuk ngeborong karena merasa aji mumpung hehehheeh kan susah lagi kalau sengaja nyari :D

bersambung…….:P

Untuk Bunda (menjelang hari ibu)

Tuesday, December 19th, 2006

Satu kedamaian yang tak berujung, itu senyum bundaku.

Satu kasih yang tiada akhir, itu hati bundaku.

Satu kehMe_momangatan yang tak akan beku, itu cinta bundaku.

Satu perlindungan yang tiada akhir, itu doa bundaku.

Terima kasih Bunda :)


Maaf ya ‘Cil

Monday, December 18th, 2006

Guys, pernahkah kalian lupa hari ulang tahun teman dekat or sahabat? Dan ternyata lupa kita itu membuat sedih sahabat kita?
Gw pernah, dan rasanya sangat tidak enak.
Minggu lalu gw mampir ke kantor (meski lagi cuti). Trus gw diminta Decil, nama panggilan salah satu temen deket gw sejak kuliah sampe bareng-bareng ngais rejeki di Trans Tipi, untuk nemenin dia makan di LG.
Di antara obrolan perkembangan kehamilan dia, tiba-tiba wajahnya jadi serius dan agak sedih.

Decil: "Ty, kemaren kan gw ulang tahun. Lo lupa ya?"
Asty:"…." (speachless)
Decil: "Lo tau, pagi pas kita ketemu, gw udah yakin lo bakal ngucapin selamat ulang tahun. Tapi ternyata enggak. Trus gw pikir, entar siang kali ya. Kan lo selalu ingat ulang tahun gw. Tapi saat kita ketemu lagi, siangan, lo gak ngucapin juga. Sampe malam, sampe pulang. Lo gak ngucapin juga."

Raut wajah kecewa Decil bener-bener menusuk perasaan gw. Gw merasa bersalah.  Tapi, waktu itu gw bener-bener lupa jika hari itu dia ulang tahun.  Mungkin gw lagi pusing dengan kerjaan, atau entah gw lagi lupa aja.

Gw hanya bisa minta maaf dan mengucapkan selamat ulang tahun, meski sudah terlambat.
Decil, maaf ya gw udah lupa hari penting lo. Padahal dari jaman kuliah sampe sekarang kita udah kerja, lo adalah salah satu orang yang gak pernah lupa ulang tahun gw.
Maafin gw ya ‘Cil.

And guys, kadang kita gak pernah mengira jika sesuatu yang sederhana ternyata sangat berarti buat seseorang. Bukan kado, bukan pula pesta kejutan. Cukup sebuah ucapan selamat, ternyata itu sangat penting buat orang-orang yang kita sayangi or menyayangi kita.

Wajahmu Kini

Friday, December 15th, 2006

Beberapa hari lalu gw main ke Fisip, diajak makan siang di sana sama Mila.
Waduh…udah banyak yang berubah loh! Berjalan di pelataran gedung dosen (gedung paling anyar di Fisip) sarasa berjalan di mall. Terasnya tertata dengan kursi dan meja seperti teras sebuah kafe. Lalu berderet berbagai "counter". Dimulai dengan resto masakan Korea, Cafe & Books Lounge, sampe penataan koperasi pun gak kalah rapi dan elok seperti di pusat perbelanjaan elit.
Gazebo, tempat dulu gw dan temen2 nongkrong nunggu jam kuliah sambil ngemil, sekarang udah jadi "padang rumput". Waaah berubah banget deh wajah Fisip. Untung gw udah gak kuliah di situ lagi. Kalau enggak, musti merogoh kocek sangat dalam untuk bisa bertahan hidup di sana heheheh….
Tapi nih…musholla Fisip juga diperluas dan dipercantik…bakal  bisa bikin makin betah "nongkrong" di sana deh.