Ada awal, pasti ada akhir. Tapi rasanya berat banget meninggalkan tempat ini. Gw sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bisa ke sini. Suasananya sangat damai dan tenang, juga memberi banyak ilmu:
Kemarin siang, usai Zuhur, saat turun dari tangga mesjid, gw melihat seorang perempuan dan seorang laki-laki mendorong gerobak sampah, melintas di depan mesjid. Di atas tumpukan sampah, duduk seorang bocah. Gw melihat ada yang “ganjil” dari 2 orang yang sedang mendorong gerobak itu. Yang perempuan berpakaian kumal dengan rambut yang acak-acakan. Sedangkan si laki-laki berpenampilan rapi dan bersih, dengan setelan kemeja panjang dan celana panjang. Kebetulan, gw kemudian berjalan di belakang mereka. Selang beberapa langkah, keduanya berhenti mendorong gerobak sampah. Si laki-laki lalu berpamitan, dan si perempuan mengucapkan terima kasih. Ooooh rupanya, si laki-laki membantu si perempuan yang sudah ibu-ibu, mendorong gerobak sampah. Jalan di depan mesjid memang agak menanjak, sedang gerobak si ibu terisi penuh, ditambah muatan seorang bocah. Mungkin si laki-laki itu adalah salah satu orang yang baru selesai sholat zuhur berjamaah, lalu ia melihat si ibu-ibu itu. Hmm..menolong atau memberi memang tak harus dengan sesuatu yang “besar“ ya? Sesuatu yang terlihat “kecil“ dan sederhana pun bisa bermakna “besar“. Ya gak?
Gw perhatikan, orang-orang di sini jauh dari egois. Mereka sangat memikirkan orang lain. Contoh sederhananya, seperti yang gw ceritakan sebelumnya, tentang seorang perempuan yang membereskan sendal-sendal yang berserakan di teras mesjid. Ia menatanya jadi rapi dan teratur. Trus, gw juga gak melihat satu orang pun yang merokok. Termasuk di warung makan. Bayangkan, udara bebas asap rokok!! Gimana gak bikin gw betah?! J
Gw juga mengamati roda ekonomi di kawasan ini. “Unik“! Setiap menjelang waktu sholat, para pedagang akan menutup tokonya, meski saat itu sedang ada pembeli. Seperti yang gw alami sendiri. Saat itu gw lagi memilih jilbab di salah satu toko di jalan Geger Kalong Girang. Dengan sopan, si penjaga toko meminta maaf dan memberi tahu jika ia akan menutup dulu tokonya karena sebentar lagi akan masuk waktu zuhur. Fenomena ini mengingatkan gw pada sebuah tulisan tentang seorang pengusaha sukses (gw lupa namanya), yang memandang bekerja sebagai aktivitas untuk mengisi waktu, menunggu waktu sholat.
Di toko lainnya, saat adik gw sudah memilih jilbab yang akan dibelinya, si penjaga toko memeriksa jilbab tersebut. Lalu ia menyarankan kami untuk tak membeli jilbab tersebut karena ternyata jilbab itu ada cacatnya.
Dan yang tak kalah istimewanya, semua penjaga toko selalu menyambut gw (sebagai calon pembeli) dengan sangat ramah. Keramahan itu tak luntur meski akhirnya gw pamit tanpa membeli satu pun barang dagangannya. Dan jika transaksi terjadi, biasanya mereka berterima kasih seraya mendoakan semoga barang yang gw beli akan menjadi barokah. Malah ada yang mendoakan, semoga rejeki gw dimudahkan. Subhanallah!
I’ll be back, insya Allah J