Kedamaian Sederhana (2)

Menjelang maghrib gw kembali ke mesjid. Walah…ternyata udah penuh. Rupanya mesjid ini tergolong "laku" ya?
Usai solat maghrib, lanjut tafsir Al Quran.  Rupanya jemaah lain udah siap sedia, bawa Quran dari rumah. Gw celingukan deh heheheh ketauan orang baru. Untungnya, di mesjid itu sudah disiapkan banyak Al-Quran. Hmm…emang udah biasa didatengin "orang luar", toh.
Disambung solat isya berjamaah, lalu ceramah yang "ditunggu" kebanyakan jemaah. Siapa lagi kalau bukan ceramah ustad yang lagi heboh jadi perbincangan, Aa Gym. Baru saja Aa Gym naik ke mimbar, sinar blits berkali kali membuat Aa Gym silau…ck..ck..
Ada yang berbeda dari ceramah Aa Gym. Tak seperti biasanya yang lebih banyak membuat pendengar tertawa, Aa Gym tampil lebih serius. Hanya sesekali ia membuat banyolan yang menjadi ciri khasnya. Materi yang disampaikannya pun sedikit berbeda dari kebiasaannya, yang lebih berbicara soal akhlak. Kini ia lebih banyak bicara soal  akidah. Soal  Allah  SWT.  Ia pun kini lebih banyak menyampaikan ayat-ayat dan hadis.
Hmmm….
Aa Gym sendiri mengakui perubahan ini. Ia bahkan mengakui jika "episode poligami" menjadi evaluasi besar bagi dirinya. Dan semalam, ia menutup ceramahnya dengan meminta maaf. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir, katanya, karena hari ini ia berangkat ke Jakarta untuk bertolak ke Mekah, menunaikan ibadah haji.
Pengajian selesai pukul 9 malam, kala hujan masih turun dengan deras. Gw melihat Aa Gym bolak-balik mengatar jemaah menyebrang, jadi "ojek payung". Tak lama gw melihat Teh Ninih, lalu mereka pulang bersama-sama.
Sebelum ke cottage, gw makan malam dulu di warung di sekitar mesjid. Di sana gw ngobrol dengan seorang perempuan yang langganan datang ke mesjid DT, terutama setiap Kamis malam. Katanya sekarang sepi banget jemaah yang datang. Gw sempet kaget. Karena tadi jemaah menyesaki mesjid hingga ke teras. Kondisi seperti ini dia bilang sepi? Lalu ia cerita, jika dulu, jemaah sampai memenuhi pelataran cottage. Dan seumur-umur dirinya ikut pengajian Kamis malam di DT, baru kali ini dia dapat tempat di dalam mesjid.
Jam 3 pagi, gw kembali ke mesjid. Gw kira masih sepi. Eeeeh ternyata mesjid penuh oleh jemaah yang itikaf. Luar biasa! Gw merasa malu deh.
Selama ini, gw hanya memberikan "sisa" waktu untuk beribadah. Kebanyakan waktu yang gw miliki, habis untuk bekerja. Bahkan untuk solat pun, kadang gw tergesa-gesa. Entah diburu deadline atau diburu meeting yang belum selesai. Sementara mereka…memberikan waktu lebih banyak untuk-Nya.

Leave a Reply