Archive for December, 2006

Happy Birthday

Thursday, December 14th, 2006

Reporter Trans TV: "Pagi Pak, saya Asty dari Trans TV."
Narasumber            : "Apa? Trans TV? Apaan tuh?"
Reporter Trans TV: "Trans TV itu salah satu stasiun televisi baru, Pak. Dan saya dari bagian pemberitaannya. Begini Pak…."

Itulah pembukaan "wajib" yang selalu mengawali percakapan gw dengan narasumber  lewat telepon, di bulan-bulan pertama kehidupan Trans TV. Saat nama Trans TV masih asing  bagi masyarakat.  Saat  Trans masih dipandang sebelah mata dan diliput Trans tak  seprestis  nongol  di layar  RCTI atau SCTV.

Dengan semangat anak-anak muda, yang mayoritas fresh graduate, kami membuat fondasi dan membangun satu persatu batu bata hingga menjadi tembok yang kokoh. Bersaing dengan kompetitor yang sangat senior dengan perlengkapan tempur lengkap, kami maju dengan modal semangat. Melihat TV lain datang dengan SNG (Satelitte News Gathering), kami cuma bisa nyeces dan berpuas diri dengan "bantuan" telkom.

Tapi peluh itu kini mulai berbuah manis. Trans sudah akrab di telinga, mata, dan hati pemirsa.
Senang rasanya mendapat kesempatan menjadi bagian dari perjuangan panjang namun menyenangkan.

Selamat ulang tahun Trans TiPi :)

Kabar Itu Ternyata Benar

Saturday, December 2nd, 2006

Saat itu baru saja selesai live Reportase Investigasi. "Seseorang" datang ke ruang redaksi. Ia menceritakan bahwa dirinya baru menemani Aa Gym dan Teh Ninih melakukan konfrensi pers, menjelaskan  dan meluruskan  kabar  yang saat  ini sedang hangat jadi perbincangan masyarakat: Aa Gym menikah lagi.
Ruang redaksi jadi ramai. Gw tergelitik bertanya pada "seseorang" itu: apa yang membuat Aa Gym akhirnya memutuskan untuk poligami?
"Seseorang" itu pun bercerita panjang tentang latar belakangnya. Sejarah yang  sudah dimulai  setahun  lalu.

Gw perhatikan ekpresi beberapa teman kantor gw yang laki-laki. Ada yang begitu  "bersemangat".  Mengingat posisis Aa Gym yang selama ini menjadi figur, maka ada yang memandang tindakan Aa kali ini juga sebagai "contoh". ‘Seorang Aa Gym aja kawin lagi, dia gak bisa nahan’ (apalagi kita yang biasa saja, mungkin ini kalimat mereka jika dilanjutkan).

Kenapa tidak berpikir sebaliknya? Aa Gym sendiri menyatakan bahwa poligami ternyata sangat berat buat dirinya. Ini dia nyatakan langsung saat dia konfrensi pers, juga dari cerita "seseorang", yang selama setahun ini sering dimintai nasihat oleh Aa Gym. Untuk seseorang dengan ilmu agama setingkat Aa Gym dan tingkat ekonomi selevel Aa Gym saja, poligami dirasakan sangat berat, apalagi bagi kita dengan ilmu yang masih terbatas dan ekonomi pas-pasan.

Tapi, peristiwa ini bisa jadi pelajaran buat kita semua. Selama ini kita terlalu memandang "tinggi" Aa Gym. Bahwa sesempurna apa pun manusia di mata manusia, ia hanyalah manusia biasa. Apalagi, semakin tinggi iman seseorang, maka ujiannya pun akan semakin berat.

Allah memang Maha Membolak-balikkan hati. Ini bisa jadi peringatan pada kita, untuk meminta pada-Nya, agar senantiasa melindungi iman kita. Amien.

Poligami

Friday, December 1st, 2006

Kabar Aa Gym menikah lagi membuat  wacana poligami kembali menjadi bahasan “seru” di ruang redaksi. Meski kabar ini belum 100% terbukti kebenarannya, ada sebagian yang yakin jika kabar ini benar, sementara sebagian lainnya yakin jika itu hanya kabar burung, atau setidaknya berharap itu tidak benar.

Yang paling bersemangat, tentu saja teman-teman gw yang laki-laki. Salah satu komentarnya: “tuuuh Aa Gym aja nikah lagi!”

Poligami memang dibenarkan dalam Islam. Tapi gw pribadi merasa khawatir akan efek jika kabar itu benar adanya. Karena gak sedikit laki-laki di sekitar gw yang selalu menjadikan halalnya poligami dalam islam sebagai dasar mereka memiliki istri lebih dari satu. Namun yang membuat gw mengelus dada, adalah mereka hanya mengambil hukum sahnya poligami dalam Islam, tapi tak mau pusing dengan syarat-syarat dari dibenarkannya poligami tersebut. Tentunya, Islam tak membenarkan poligami hanya sebatas sebagai sarana pelampiasan syahwat semata, agar tak terjadi zina, kan? Karena jika berbicara libido, gw yakin semua lelaki dimuka bumi ini punya hasrat bukan? Tapi toh banyak yang bisa bertahan dan merasa cukup dengan satu pasangan. Di sinilah iman yang tingkat ilmu si laki-laki yang berbicara.

Karena jika mempertimbangkan syarat-syarat dan konsekuansi dari melakukan poligami dalam Islam yang sesungguhnya, gw yakin setiap laki-laki akan berpikir panjang dan panjaaaaaaang untuk punya istri lagi. Menjadi imam dari satu istri dan anak-anak yang terlahir dari pernikahan mereka saja tentu bukan perkara mudah. Apalagi harus menjadi imam dalam 2 rumah tangga. 

Dulu gw sirik banget sama laki-laki. Betapa banyaknya hak istimewa yang diberikan Allah sama laki-laki (suami). Tapi setelah gw baca beberapa buku pernikahan dalam Islam, gw jadi merasa bersyukur jadi perempuan. Karena seiring dengan hak istimewa laki-laki (suami) diberikan pula tanggung jawab dan kewajiban yang besar dan buaaanyak.

Jadi gw yakin, seorang laki-laki (suami) beriman dan berilmu akan punya alasan yang kuat dan pertimbangan yang sangat matang saat memutuskan melakukan poligami. Tak sekedar untuk mendapat "pengesahan" agar terhindar dari zina.

Tulll gak? :)