Di Satu Bintang Aku Menanti

Menjadikan benda mati sebagai teman bicara…mungkin itu terasa agak aneh ya? Tapi itu sangat biasa dilakukan oleh anak kecil. Biasanya, mereka mengajak bicara boneka atau mainan lainnya, bahkan teman imajinasi yang hanya ada dalam penglihatan mereka sendiri.
Salah satu "teman" bicara waktu gw masih kecil adalah bintang. Gw sering duduk sendiri di teras loteng, untuk menemui dan ngobrol dengan teman istimewa gw tersebut. Banyak hal yang gw bicarakan, mulai kejadian yang gw alami hari itu, curhat tentang teman main, dan seringnya tentang kerinduan gw pada seseorang.
Dalam khayalan gw, seseorang tersebut juga melihat bintang yang sama. Karena katanya, bintang kan besaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar sekali. Jadi, kalau gw lagi sedih, terutama rindu pada seseorang itu, makan bintanglah teman curhat gw. Karena melihat bintang yang sama, menurut gw, bintang bisa menyampaikan kerinduan gw pada orang tersebut. Kebiasaan ini masih berlanjut hingga gw SMA. Meski tentunya, saat itu gw udah tahu pasti jika bintang tak akan bisa menyampaikan isi hati kita pada seseorang. Tapi, kalau lagi melo bin melo….dan gak ada tempat yang terpercaya untuk diajak sharing, maka benda mati dianggap teman paling aman untuk menyimpan rahasia kan?
Dan bukan kebetulan, jika 2 hari lalu seseorang yang hampir seumur hidup gw rindukan itu, menelepon gw. Kami berbincang hangat meski agak canggung….finally. Lalu kemarin, tak sengaja gw mendengar salah satu lagu Naff (yang judulnya gw gak tahu). Salah satu penggalan liriknya: "di satu bintang aku menanti…"
Gw tersenyum….senyum bahagia. Mengenang, di satu bintang aku menanti seseorang, bahkan hampir seumur nafas :)

Leave a Reply