Archive for January, 2007

Single Fighter

Saturday, January 6th, 2007

Kemarin adalah hari yang mendebarkan buat gw. Karena divisi gw sedang raker di Bandung, sehingga gw cuma tugas sendirian, dibantu seorang staf AE. Jadi single fighter deh. Kan biasanya yang tugas minimal 3 orang plus 2 staf AE.
Untungnya kemarin dunia termasuk adem ayem. Hanya ada 3 kejadian spot: kedatangan kloter haji pertama di Jakarta, pembunuhan kondektur kereta api, dan kebakaran di daerah HI. Dan semunya bisa ter-cover. Lega banget. Gw sempet was-was ada kejadian besar dan missed. Seorang diri deh gw "diadili". Tapi alhamdulillah, doa gw terkabul, semua baik-baik aja :)

Dan hari ini….kantor masih sepiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. Aneh juga liat lantai 3 hening begini :P

Keajaiban-Nya

Wednesday, January 3rd, 2007

Hari ini gw kembali mendapat keajaiban-Nya.

Hingga mulut pun sulit untuk berkata-kata karena gw sangat bahagia dan terharu.

Terima kasih ya Allah…:)

Sungguh tiada yang tak mungkin dengan kuasa-Mu…meski itu gak bisa dipahami dengan logika manusia.

“Penipuan” Terselubung

Wednesday, January 3rd, 2007

Dua hari lalu gw belanja bulanan di sebuah supermarket di kawasan Mampang (gampang ditebak lah nama supermarketnya). Salah satu barang yang gw beli adalah pembalut. Di barisan rak pembalut, ada produk baru dari salah satu merek yang biasa gw pake. Gw lihat harga satu bungkus isi 20, Rp 18.500. Gw ambil satu, lalu kembali menyisiri rak, mencari barang lain yang gw butuhkan.

Sampailah gw pada rak yang di atasnya tergantung kertas bertuliskan "HARGA MURAH". Salah satu barang di rak tersebut adalah produk pembalut yang sama dengan pembalut yang barusan gw ambil. Gw bingung, karena harga yang tertera di sana berbeda, RP 15.450. Kok bisa, produk yang sama persis dengan jumlah isi yang sama, tapi harganya beda?

Lalu gw menanyakan perbedaan harga ini pada satpam yang berdiri tak jauh dari gw. Gw tanya, mana harga yang betul. Pak satpam tersebut lalu membawa masuk bungkusan pembalut tersebut ke dalam ruangan khusus karyawan, untuk mengecek harganya dengan komputer. Tapi saat dia kembali, dia meminta maaf karena komputernya rusak.

Ya sudah, akhirnya gw urung membeli pembalut yang gw ambil sebelumnya, dan menukarnya dengan pembalut yang ada di rak "HARGA MURAH".

Saat dikasir, ternyata harga yang muncul adalah harga yang pertama, yaitu RP 18.500. Gw kembali menanyakan perbedaan harga tersebut pada si mbak kasir. Dia lalu membawa bungkusan pembalut yang gw beli itu ke rak khusus pembalut. Dia menunjukkan jika harganya sesuai. Lalu gw tunjukan sama dia, rak dimana gw mengambil pembalut tersebut, yaitu rak dengan tulisan "HARGA MURAH".

Si mbak kasir bilang kalau harga tersebut (Rp 15.450) adalah harga lama, sekarang harganya yang 18.500. Kebetulan pak satpam yang tadi gw mintain tolong masih berdiri di dekat rak tersebut.

"Maaf Mbak, kalau harga ini sudah tidak berlaku, kenapa masih dipasang? Bukankah ini bisa menipu pembeli?", tanya gw.

"Oh ini mungkin petugas kami lupa mencopotnya", jawab si mbak kasir sambil menyuruh pak satpam untuk mencopot semua label harga yang terpasang di rak "HARGA MURAH" tersebut.

Sebelum kembali ke kasir, gw kembali mengingatkan pak satpam kalau label harga lebih murah tersebut bisa termasuk usaha penipuan, entah disengaja atau pun tidak (misal karena kelalaian petugas untuk segera mencopot label harga "murah meriah" tersebut).

Saat kembali ke kasir, rupanya si Mbak kasir mengganti harga pembalut yang RP 18.500 menjadi Rp 15.450 pada perhitungan belanjaan gw.

Well…intinya bukan berapa jumlah nominal yang menjadi masalah, tapi label harga yang bisa menipu pembeli. Kalau saja sebelumnya gw tidak ke rak khusus pembalut dulu, tapi langsung mengambil pembalut dari rak "HARGA MURAH", berarti tanpa gw sadari, gw telah tertipu. Membeli barang dengan harga tercantum Rp 15.450, tapi membayar Rp 18.500. Dan kemungkinan besar, sebagian besar pembeli di supermarket tersebut juga akan "tertipu", karena produk yang dipasang label "HARGA MURAH" itu beraneka macam. Dan semua harga tersebut ternyata sudah tidak berlaku. Sementara, kebanyakan dari kita suka gak ngecek lagi rincian harga dari semua barang yang kita beli setelah melakukan transaksi di kasir, kan?

Well, ternyata kita harus lebih hati-hati saat berbelanja, even di supermarket "elit" or hypermarket sekali pun. Sekali lagi, bukan nilai nominal yang menjadi alasan utama, tapi agar kita tak membiarkan "mereka" melakukan penipuan terselubung dan sangat halus, sehingga kita sebagai pembeli tak sadar jika kita telah tertipu. 

Kalau pun mereka tak bermaksud (gak menyadari) menipu pembeli  (secara sengaja), seperti yang di bilang si mbak kasir, bahwa karyawan lupa mencopot label harga murah meriah yg sudah gak berlaku, kita bisa menyadarkan mereka jika tanpa sengaja mereka telah menipu pembeli.

Ya gak?