Archive for February, 2007

Salah Siapa?

Tuesday, February 27th, 2007

Akhirnya, jenazah M. Guntur ditemukan. Dalam duka, terselip rasa lega.

Namun kontroversi kenapa wartawan bisa berada di bangkai KM Levina 1, masih bergulir. Polri dan Dephub saling tuding.

Tapi menurut gw, kesalahan itu ada pada kami (wartawan) sendiri. Meski dilarang, wartawan pasti akan terus melobi agar diijinkan masuk (meliput) TKP. Sering kali, saat di lapangan kami terlena oleh suasana. Bahaya yang mengancam nyawa pun akhirnya terlupakan. Hasrat mendapatkan liputan, terutama gambar, yang "dramatis" mendominasi akal sehat. Suasana mencekam bukannya membuat nyali ciut, tapi justru membangkitkan adrenalin. Sayangnya, kami lupa memproteksi diri. Misal, enggan memakai live vest saat liputan di habitat air, jengah memakai rompi anti peluru saat di daerah konflik, dll.   

Kejadian ini adalah pelajaran dan peringatan, terutama buat kami. Agar kami tetap memperhatikan keselamatan diri saat bertugas.

(dari ruang redaksi yang diselimuti rasa duka)

Bencii jadi Cintaaa

Monday, February 26th, 2007

Awalnya, gw benciiiiiiiiiiiii…..eh belakangan malah jadi cintaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Begini ceritanya…alkisah….alah, emangnya gw mau mendongeng sama anak TK heheheh…..

 

@@@

 

Suatu siang di awal tahun 1997, gw kembali dipanggil ke ruang BP (waduh….ini singkatan dari apa ya? Hilap euy!). Lagi-lagi, guru BP gw mengajukan pertanyaan yang sama, “Jadi kamu mau nyoba daftar PMDK kemana? UGM, IPB, Unsud, atau Undip?“.

Dan jawaban gw tetap sama, “Enggak ah, Bu. Soalnya saya maunya masuk Psikologi Unpad.“
“Asty, Unpad itu gak pernah buka jalur PMDK. Lagian, Psikologi UGM kan bagus!“, sang guru masih berusaha membujuk muridnya yang keras kepala.

“Nah…makanya saya gak ikut daftar PMDK, Bu. Abis gak ada Unpad sih!“

 

Itulah salah satu kejelekan gw dulu (dan masih ada sisa-sisanya hingga sekarang hehehe), keras kepala banget. Jika udah punya satu keinginan…maka gw akan fokus pada satu keinginan itu. Biar kata hujan badai….gak bakalan bikin gw berubah pikiran. Apalagi untuk soal yang satu ini. Sejak kelas 1 SMU,
gw mantap dengan pilihan gw untuk kuliah nanti: Psikologi Unpad!!!!
Gak mau yang lain!!!!

 

Tapi rupanya…guru BP gw tak jua menyerah. Beberapa hari kemudian, dia kembali memanggil gw ke ruang BP dan kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Cuapek deeeh…. Akhirnya, dengan ngasal gw ngomong, “Gini deh, Bu. Kalau UI ngasih kesempatan PMDK, maka saya akan coba daftar.” Sebuah jawaban yang meluncur begitu saja, tanpa sempat diproses di otak.

 

@@@

 

Di liburan catur wulan 2, gw menemani adik gw yang masih SD dan sepupu gw, liburan ke  Jakarta.Tak dinyana, beberapa hari kemudian, mamah gw telepon untuk memberi kabar, jika ada guru gw datang ke rumah. Dia ngasih tahu jika UI memberi 3 aplikasi PMDK. Dan salah satunya, diberikan pada gw. Sontak mamah meminta gw segera pulang ke Majalengka untuk ngurus pendaftaran PMDK tersebut. Merasa tak punya alasan untuk menolak, gw pun pulang keesokan harinya.

 

Tiba di rumah, hari sudah gelap. Gw membaca lembar aplikasi dan daftar
jurusan yang ditawarkan. Semua jurusan di UI tertulis di sana, kecuali
satu: psikologi!!! Gw bingung 7 keliling….jurusan apa yang akan gw
pilih? Secara ya…gw cuma punya waktu 1 malam untuk berpikir dan
memutuskan, karena aplikasi tersebut harus dikirimkan keesokan pagi.
Akhirnya, tanpa tahu persis seperti apa “wujudnya”, gw memilih: Ilmu
Komunikasi.

 

@@@

 

Kepala gw masih pening gara-gara soal-soal try out. Yup…saat
itu gw ikut bimbel kelas super intensif di Vila Merah, Bandung. Gw
bersama Irra & Diana, masuk ke rumah ua gw (tempat kami bertiga
menumpang selama bimbel) dengan kepala panas. Tiba-tiba….setelah kami
masuk ke ruang tamu, dua sepupu gw menguyur gw dari belakang. Gw
bingung….ada apa? Kenapa gw diguyur?!!! Rupanya karena mereka sudah
mendapat kabar dari kampung, jika gw keterima PMDK ke UI. Semua orang
senang. Sepupu, ua, dan tentu saja mamah. Hanya satu orang yang tidak
bahagia mendengar kabar tersebut: GUE!!! Gw justru merasa sedih. Karena
ini berarti….tamat sudah cita-cita “agung” gw selama ini: Psikologi
Unpad! Huaaaaaaa hik…hik….. Secara ya….sejak satu SMU gw cuma punya
satu tujuan, Psikologi Unpad!!! Itu pula yang bikin gw semangat 45 ikut
bimbel, sebagai usaha agar lolos UMPTN. Dan hari itu….gw merasa dunia
“kiamat”!

 

@@@

 

Ditemani Teh Nela, gw melakukan survai ke UI, sekalian cari kost-an. Langsung dari Bandung, lewat gambir, lalu naik KRL, kami meluncur ke UI. Keluar stasiun UI…lutut gw langsung bergetar. Oh my God..noooooooooooo!!! Hati gw masih “menolak“ realita. Di sinikah? Di sinikah gw akhirnya akan kuliah? Bukan di Unpad? Hik…..hik….

Di halte stasiun, gw bertanya pada salah satu mahasiswi yang sedang menunggu bis kuning, “Mbak, Fikom di sebelah mana, ya?“ (gini nih…gara-gara unpad minded…gw mencari Fakultas Ilmu Komunikasi, disingkat Fikom, seperti yang ada di Unpad). Si mbak mahasiswi sempat mengerutkan kening, “Maksudnya fasilkom?“ Fakultas Ilmu Komputer?“. Gw berusaha meluruskan, “Oooh bukan, Fakultas Ilmu Komunikasi, Mbak.“

Si mbak mahasiswi itu lalu menjelaskan jika di UI gak ada Fikom. “Kalau jurusan Komunikasi , adanya di Fisip.“
Fisip?!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
My God, No!!!!!! Lutut gw makin bergetar dan lemas. Benarkah ini? Fisip
alias Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik? Pasalnya, gw gak suka
pada pelajaran sosial or hapalan. Meski otak pas-pasan, tapi gw
lebih suka berkutat dengan angka-angka ketimbang rangkaian kata. Itu
pula yang menjadi alasan gw ambil kelas IPA saat SMU,
disamping karena Psikologi Unpad memang menerima siswa dari kelas IPA.

Saat menyusuri jalan setapak menuju Fisip, gw masih berharap ada keajaiban. Semoga saja salah….semoga saja bukan di Fisip (gini nih akibatnya, jika kita menentukan pilihan, tanpa kita tahu “wujudnya”). Dan kenyataannya….Komunikasi memang salah satu jurusan di Fisip. Gw makin lemas. “Teh, asty ngundurin diri aja, ya”, ucap gw lirih.

 

Ya…gw masih punya kesempatan untuk meraih impian gw: kuliah di Psikologi Unpad. Bukankah UMPTN masih ada di depan mata?! Meski berat, mamah menyetujui keinginan gw: mengundurkan diri dari UI. Tapi sebelum memutuskan, mamah minta gw untuk kembali mempertimbangkan segala kemungkinan dan konsekuensinya. Terutama kemungkinan SMU gw akan di-black list UI. UI tak akan lagi memberi kesempatan PMDK pada SMU gw. Bagaimana nasib adik-adik kelas gw? Tidakkah gw akan mencuri kesempatan mereka?

 

Lalu bagaimana dengan mamah? Meski dia bilang akan mendukung apa pun keputusan gw, tapi gw tahu, jauuuuh di lubuk hatinya, dia merasa berat. Mata mamah begitu berbinar saat menyampaikan kabar gw diterima di UI. Sanggupkah gw mencuri kebahagian itu darinya? Karena belum tentu gw bisa lolos UMPTN dan mengembalikan binar tersebut di mata mamah.

 

Akhirnya….2 alasan itu membuat gw memutuskan untuk tetap mengambil kesempatan yang sudah diberikan Allah. Sebuah kesempatan yang bertentangan dengan hati.

 

@@@

 

Agustus 1997. Gw berbaris diantara mahasiswa baru lainnya. Kami hendak latihan nyanyi di balairung. Dan diantara tawa dan ceria mereka yang sedang mengharu biru karena bisa masuk UI, hati gw menjerit: “aku gak mau disini!!”. Gw masih ingat, betapa bencinya gw melihat makara yang terpasang di dalam balairung. Gile ya…segitu cintanya gw pada Psikologi Unpad hehehe.

 

Dan penderitaan pun semakin lengkap setelah gw tahu mata kuliah apa saja yang akan gw pelajari di semester 1. Pengantar Ilmu Politik, Pengantar Ilmu Sosiologi, Pengantar Ilmu Ekonomi, Pengantar Ilmu Hukum, Pengantar Ilmu Antropologi, dan Pengantar Ilmu Komunikasi. Gw menatap “takjub” kertas daftar mata kuliah di tangan gw. Inikah yang bakal gw pelajari? Semuanya hapalan? Sama sekali tak ada hitung-menghitung?  Oh my God!!!!! Gw pun teringat betapa tak sukanya gw pada pelajaran sosial saat SMU dulu. Dan kini…dengan ilmu-ilmu itulah gw akan berkutat? Huaaaa…hik..hik…..

 

Hari pertama berkumpul dengan teman-teman satu jurusan, gw kembali mendapat “kejutan“. Dari 47 mahasiswa Komunikasi, cowoknya ternyata hanya 6 orang!!!!! Masalahnya, dari kecil gw terbiasa main dengan cowok. Temen cewek gw jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. Gw terbiasa kemana-mana, termasuk di dalam kelas, dengan segerombolan cowok. Malah nih…waktu SMP, gw jadi satu-satunya mahluk cantik di kelas saat pelajaran keterampilan elektro. So, gw kurang tau bagaimana cara bergaul dengan segerombolan perempuan.

 

Setahun hampir berlalu, tapi waktu terasa lamban merangkak. Gw tak jua jatuh hati pada kuliah gw. Stress berat deh! Gw tak sabar menanti waktu UMPTN. Yup, gw berencana untuk ikut UMPTN, meraih impian yang tertunda untuk terwujud. Menurut gw, itu akan menjadi win-win solutions. Jika gw keluar dari UI setelah setahun kuliah, rasanya itu tak akan membuat SMU gw di-black list UI, kan? 

 

Tapi rupanya Allah kembali punya rencana lain. Karena peristiwa Trisakti dan kerusuhan Mei, jadwal UAS mundur 2 minggu. Alhasil, pelaksanaan UAS bentrok dengan UMPTN. Gw menghadapi dilema. Jika ikut UMPTN, berarti gw terancam tak lulus 3 mata kuliah. Jika ikut UAS, berarti gw kembali melepas kesempatan untuk meraih impian. Tapi, siapa yang akan sangat sedih jika gw sampai mendapat nilai E atau D? Mamah!

 

@@@

 

Hmmm….manusia boleh berencana, tapi Allah-lah yang menentukan. Saat gw menjerit dalam hati karena menghadapi realita yang tak sejalan dengan impian, tanpa gw sadari, sebetulnya Allah sedang menyiapkan rencana indah buat gw. Yup…Ia menyiapkan berbagai “bingkisan” luar biasa indah untuk gw.

 

Karena masuk UI-lah, akhirnya gw jadi penghuni asrama mahasiswa UI. Sebuah tempat dimana gw belajar banyak hal dan bertemu dengan beberapa orang yang menjadi sahabat sejati. Gw belajar menjadi mahluk sosial. Belajar berbagi, saling care dan merasakan unconditional love. Sahabat-sahabat sejati yang menemani gw tertawa dan menangis. Yang selalu ada, terutama saat gw melewati masa-masa sulit itu. Sahabat-sahabat sejati yang men-support gw untuk “bermetamorfosis” dengan membawa gw melewati moment-moment “bersejarah” untuk memulai kehidupan dengan cara pandang baru. Sahabat-sahabat sejati yang membuat gw menyadari jika hidup ternyata begitu indah dan berwarna. Di asrama pula gw belajar agama lebih banyak dan membuat gw lebih dekat dengan Sang Maha Pengasih. Sungguh nikmat Allah yang luar biasa. Daaan….he hehehe…I met someone who became my first love (puber gw telat ya? hehehe).

 

Kuliah di Komunikasi yang didominasi mahasiswi, membawa gw pada dunia baru. Dunia perempuan. Yup, gw belajar menjadi perempuan….hehehe…secara ya, gw kan perempuan  :P . Allah memang Maha Tahu. 

 

Pengalaman ini juga membuat gw instropeksi diri. Dulu gw terlalu fokus pada satu rencana: masuk Psikologi Unpad. Gw tak menyiapkan plan A, plan B, plan C. Gw bahkan tak mencari informasi tentang jurusan lain. Akibatnya, gw memilih jurusan Ilmu Komunikasi yang gw tak tahu “wujudnya” seperti apa, bak memilih kucing dalam karung. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga banget deh! Sebagai manusia, kita hanya bisa berharap yang terbaik tapi harus bersiap untuk yang terburuk. Dalam artian, jika ternyata realita tak sejalan dengan harapan dan rencana. Tapi apa pun yang terjadi, tentunya itulah yang terbaik J. Allah akan selalu memiliki rencana indah buat gw.

 

Sejak semester 4, gw mulai enjoy dengan kuliah gw. Mata kuliah Komunikasi ternyata kebanyakan sangat aplikatif banget. Bahkan beberapa diantaranya berbau psikologi. Gw belajar tentang bahasa tubuh, komunikasi antar personal, bahkan psikologi komunikasi. Dan salah satu mata kuliah yang sangat gw suka adalah Desain Grafis. Waaaaah seneng banget bisa mendapat ilmu yang sejalan dengan hobi.

 

Dan pada akhirnya….pada saat wisuda, Agustus 2001, gw menatap makara di balairung dengan penuh cinta. Makara yang sama, dimana tepat 4 tahun sebelumnya, gw tatap dengan kebencian hehehhe…

 

Dan sekarang, setiap kali gw ke UI, gw selalu merasakan getaran hangat. Getaran yang mendorong gw untuk kembali mengingat masa-masa “penuh siksaan“ namun memberi sejuta hikmah luar biasa. Terima kasih ya Allah J

 

 (Lagi ingin nostalgia “sejarah” yang dimulai tepat 10 tahun yang lalu J)  

 

 

AE ke Reportase Pagi

Friday, February 23rd, 2007

Minggu lalu…sebuah kertas pengumuman terpasang. Lagi-lagi, terjadi reposisi tim di pertengahan masa tugas (yang "resminya" baru terjadi pada bulan Mei mendatang, sebagai agenda rolingan reguler). Dan kali ini, ternyata nama gw tertulis di sana.
Nama                    Ex. Program        New Program
Asty Rastiya                 AE                 Reportase Pagi

Am I sad or happy ?
Jujur…AE adalah desk yang selama ini gw "takuti" (as I said before). And thanks God, gak sampe 4 bulan gw bertugas di desk yang terkenal dengan sebutan "KURSI PANAS" ini. Jantung gw akan kembali berdetak normal. Gak lagi resah kebobolan berita, salah memproyeksikan tim, pusing ngurus banyak kepala (yang kadang bikin esmosi sampe keubun-ubun tapi harus ditahaaaaaaan jangan sampe meledak heheheh).

Tapi…ternyata ada juga rasa sedih yang terselip. Bang Erwin, Ponco, Rizky, Budi, Tina,  Aulia, Chrisna…sedih juga "pisah" dengan kalian. Karena meski kita duduk di kursi panas, banyak cerita lucu ( kebanyakan garing sih :D ) dan fun yang kita alami. Dan ‘Ky…gw terharu saat lo menyatakan keberatan lo atas "pemindahan" gw :)
Tengkyu ya guys…..well, AE itu bagus juga buat melatih kita dalam mengontrol emosi ya? :P

Dan…Reportase Pagi….2 bulan lalu gw pernah di-BKO di program ini selama 2 minggu. Jadi…udah warming up lah ya….
Program ini, konon katanya, adalah program paling "damai". Kerjanya gak sekeos Reportase Sore yang bikin spot jantung (tapi lain cerita kalau ANN / server nge-hang!!!!). Cuma eh cuma….lumayan juga sih kerjaannya…secara ya…bikin rundown untuk on air 1 setengah jam!! Rasanya…kok gak habis-habis naskah yang musti diedit :D
Tapi, bagian terbaiknya…..libur gw jadi 3 hari, bo!!!! Tiga hari KERJA, tiga hari LIBUR…bikin sirik gak siiiiih? hehehehehe

Infeksi karena “Hidup Bersih”

Friday, February 23rd, 2007

Maksud hati mau menjaga kebersihan….eeeh malah kena infeksi :D
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, gw jadi sakit karena hidup "bersih". Setidaknya 2 hari sekali, gw membersihkan telinga dengan cotton bud. Ternyata….kebiasaan itu gak bagus untuk telinga!! Kemarin gw periksa ke dokter THT karena beberapa minggu belakangan, telinga gw terasa sakit dan bikin kepala gw pusing. Malah, kadang-kadang gw jadi agak budek. Kata dokter, telinga gw infeksi. Penyebabnya, bisa karena udara dan……ternyata eh ternyata…karena gw terlalu sering membersihkan telinga. Akibatnya telinga gw jadi lecet…weleh…weleh…. Jadi ya….membersihkan telinga itu jangan terlalu sering….paling cepet, cukup SEMINGGU SEKALI!!!

Kaca Mata Mereka

Saturday, February 17th, 2007

Semalam, gw sebetulnya udah letih banget, ditambah masih gak
enak badan gara-gara flu & batuk (penyakit ringan yang cukup mengganggu
ya?). Tapi acara diskusi dengan Nasir Abas, mantan ketua mantiqi III Jamaah
Islamiah (JI), terlalu menggoda untuk gw lewatkan. Buat gw, JI masih menjadi
pertanyaan besar. Apakah mereka benar-benar ada? Siapa sebetulnya mereka?
Kenapa mereka ada? Apa tujuan mereka? Dan apa korelasinya dengan aksi-aksi
teror selama ini di Indonesia?

Rencananya sih, gw gak bakal ikut diskusi ini sampai selesai.
Paling malam, jam 9 udah balik
kanan. Tapi ternyata pembahasan membuat gw lupa waktu. Akhirnya, gw ikut
diskusi selama 3 setengah jam tersebut.

Diskusi santai
namun serius, sedikit banyak memberi info yang menjawab beberapa pertanyaan
yang selama ini menggelitik. Tapi yang membuat gw puas adalah, mendapatkan info
tesebut dari tangan pertama. Hmmm….inilah salah satu yang gw suka dari
profesi gw. Mendengar cerita dari pihak-pihak yang terkait secara langsung.

Gw jadi ingat saat
gw liputan kaum lesbian sekitar 4 tahun lalu, dan kaum gay sekitar 2 tahun lalu. Bertemu dengan kaum lesbian,
lebih “berkesan“ ketimbang kaum gay. Kenapa? Karena gw perempuan. Hingga gw
kuliah, gw hanya tahu jika lesbian itu ada. Tapi gw gak pernah bertemu dengan
satu orang pun perempuan yang (mengakui dirinya) lesbian. Sedangkan gay, sejak
SMP gw udah ketemu dengan cowok yang terang-terangan nunjukin dirinya gay.

Waktu
pertama kali gw akan bertemu dengan salah satu perempuan lesbian, untuk lobi
liputan, jujur…..gw gugup dan ada rasa takut. Dari sini gw mengerti, kenapa
temen-temen cowok gw banyak yang takut berinteraksi dengan gay or waria. Singkat
cerita, akhirnya eksekusi liputan pun bisa terlaksana beberapa hari kemudian. Pagi hari, gw liputan
sekelompok lesbian dari kalangan menengah atas. Dan siangnya, gw liputan
puluhan lesbian dari kalangan menengah bawah yang sedang melakukan arisan. Ini
membuat gw "takjub". Dari yang tak pernah bertemu satu orang pun, saat itu gw ketemu
dengan puluhan lesbian!!!

Liputan ini
memberi gw sebuah sudut pandang baru dalam memandang kaum homoseksual.
Well,
selama ini judgment gw hanya berdasarkan referensi pribadi, alias kaca mata gw sendiri.
Tanpa bermaksud membenarkan pilihan mereka (terutama secara hukum agama), tapi
gw jadi bisa melihat fenomena ini dari kaca mata mereka. Yang membuat miris,
dari sekian lesbian yang gw wawancara, kebanyakan mereka pindah orientasi
seksual karena pengalaman buruk dengan laki-laki. Rasa sakit hati membuat mereka
trauma dan takut untuk menjalin relations dengan kaum adam. Mereka merasa lebih
save dan mendapatkan affection yang diharapkan dari sesama perempuan.

Nah kalau dengan
komunitas gay, gw mendapat pengalaman yang gak kalah “berkesan“ juga. Waktu itu gw janjian dengan
narasumber gw, seorang gay yang udah coming out, di mal Malioboro, Jogja. Dia
ditemani teman-temannya, menunggu gw di pelataran mall. Gw masih ingat
bagaimana ekspresi mereka saat melihat….ternyata reporter yang akan
mewawancara mereka adalah seorang perempuan berjilbab. Ini sempat membuat
mereka jadi kikuk. Gw perlu sedikit ekstra usaha untuk membuat mereka nyaman
sharing sama gw.
Singkat cerita, gw mengajak mereka makan di salah satu
restoran fast food. Akhirnya suasana pun cair sehingga kami bisa ngobrol dengan
akrab. Ngobrol ngalor ngidul, rupanya mereka punya latar belakang yang berbeda,
kenapa menjadi gay.

Ada yang sejak
kecil suka sesama jenis, ada juga yang awalnya heteroseksual tapi jadi beralih
homo karena pengalaman masa lalu. Misalnya
karena beberapa kali disodomi oleh teman mainnya sendiri….NGERI BANGET kan?!!!! Dan yang lebih membuat gw prihatin adalah, mereka diasingkan oleh keluarga dan teman-temannya (yang heteroseksual). Padahal, beberapa diantara mereka masih punya keinginan besar untuk kembali menjadi hetero.  Sayangnya, sikap keluarga yang justru menjauhi mereka, membuat mereka jadi terus  bersama komunitas gay. 

Semua pengalaman
mereka adalah pelajaran berharga buat gw. Setidaknya, dengan mengetahui
penyebab dan gejala homoseksual, kita bisa berusaha mengantisipasi itu terjadi,
minimal pada orang-orang di sekitar gw. Dan mendapat kesempatan untuk berteman
dengan mereka, membuka sudut pandang gw. Soalnya, sebelumnya gw termasuk orang
yang cepet bikin penilaian. Penilaian yang tentu saja hanya dari kacamata gw,
tanpa gw tahu latar belakang dan konteks suatu fenomena itu sendiri.

CaNtiK

Sunday, February 11th, 2007

Sabtu kemarin,
Reportase Investigasi mengangkat topik “operasi pelatik ilegal“. Demi tampil
cantik dan menarik, baik wajah maupun body, banyak perempuan yang berani ambil
resiko, dioperasi pelastik oleh mereka yang bukan ahlinya. Seperti pelaku yang
diwawancarai Reportase kali ini. Jangan bayangkan dia bergelar dokter spesialis,
karena dia hanya lulusan SMA.

Gw jadi
mikir….apa sih definisi cantik itu?
Tubuh tinggi ramping, rambut
panjang, kulit putih bersih, hidung mancung? Sadar atau tidak, sebetulnya kita
sudah manut dengan definisi cantik yang dibuat industri dan media. Lihat saja
iklan-iklan di TV dan majalah. Laki-laki bermasalah dengan “kekuatan”,
sementara perempuan bermasalah dengan berat badan dan warna kulit. Tapi
benarkah seperti itu?

Jujur, gw pernah
merasa bermasalah dengan badan gw.
Bahkan di masa remaja, gw mengalami
krisis percaya diri. I was an ugly duck. Nih bayangin: tubuh pendek, kurus
kering, hitam legam, wajah kumal karena malas merawat diri, berkacamata, dan
gigi atas yang tonggos. Pernah nih,
waktu SMP, gw sedang bersepeda dan menyusul segerombolan teman sekolah yang
berjalan kaki. Lalu mereka meneriaki gw, “Eh Ty, kok gigi lo duluan dari sepeda
lo!“. Aduuuuuh gimana gak makin turun tuh kepercayaan diri gw! Gw merasa diri
gw sangat tidak cantik!

Pas gw SMA, ada
sedikit “perbaikan“. Berkat hobi berenang 2 kali seminggu, tinggi badan gw
bertambah cukup signifikan. Tapi itu gak melunturkan krisis PD gw. Apalagi
badan gw masih tetep seperti papan, meski gw udah makan banyak. Beberapa sepupu
gw ada yang beropini, “Ty kasihan banget deh suami kamu nanti, pas malam
pertama, liat badan kamu, gak berhasrat! Abis rata depan, belakang, samping!“.
Sebetulnya mereka mungkin cuma bercanda, tapi itu bikin gw makin merasa
bermasalah dengan ukuran dan bentuk badan gw.

Baru di masa
kuliah-lah, gw mengubah paradigma. Gw bertemu dan bersahabat dengan beberapa
cowok. Dari merekalah gw tahu jika definisi cantik bukanlah judgment yang
berkekuatan hukum tetap. Perlahan, gw bisa “menerima“ diri gw apa adanya. Gw
pun jadi percaya diri dan merasa cantik….heheheheh…apa bedanya coba gw sama
Dian Sastro? Kami sama-sama punya mata, hidung, mulut. Letaknya pun sama. Bibir
gw gak di atas mata kan? Begitu lupa body kami. Kami sama-sama punya 2 tangan
dan 2 kaki dengan letak yang sama.
Cuma…wajah dan body Dian Sastro
lebih enak diliat hehehhe.

Soal Body yang kurus kering…just look at the bright sight
aja! Gw gak perlu diet dan bisa
makan apa aja. Gak pantang makan coklat, es krim, susu, dan makanan berkalori
tinggi. Gw juga gak perlu bayar personal trainer (seperti beberapa temen gw)
untuk menurunkan berat badan dan memiliki bentuk tubuh yang diinginkan.

Dan buat temen-temen yang over weight, juga tetep look at the
bright sight ya! Karena cantik bukan harga mutlak dan sifatnya sangat relatif /
subjektif. Yang penting mah kita merasa nyaman dengan diri kita apa adanya…ya
gak?! Karena setiap perempuan punya kecantikannya masing-masing. Setuju?! ;)

Pertemuan tak Terduga

Sunday, February 11th, 2007

Jumat,
9 Februari 2007

“Mas Budi, ya?”, sapaku sedikit ragu, takut salah menyapa
orang. Wajah lelaki paruh baya yang kusapa mengekspersikan jika ia sedang
berusaha mengingat. Di waktu yang bersamaan, mulut kami meluncurkan namaku.
Lega, rupanya ia masih ingat padaku. Sudah 6 tahun kami tak bertemu. Terakhir
aku menemuinya, adalah beberapa hari setelah diwisuda. Aku “berpamitan”
sekaligus memberinya sebuah kenang-kenangan kecil.

Sebetulnya, sudah lama aku ingin menemuinya saat aku
“singgah” ke UI. Tapi selalu urung,
karena tak yakin dia masih mengingatku. Dia kan punya ratusan klien yang rajin
mengkonsultasikan masalahnya. Tapi di luar dugaan, dia bukan hanya ingat
namaku, tapi juga “masalahku“. Dia bahkan masih ingat kalau dulu aku anak
asrama. Wah…daya ingatnya luar biasa juga ya?! (apalagi kalau dibandingkan
kemampuan kepalaku menyimpan memori).

“Tentu saja saya
masih ingat kamu. Hanya saja…dulu kamu tidak…“, tuturnya sambil menggerakkan
kedua tangannya di samping kepala, membuat kode bermakna jilbab. “Oh ya, dulu
saya belum berjilbab. Baru sekitar 2…3 tahun belakangan“, aku menjelaskan.
Hmm….pantas
tadi wajahnya memancarkan ekspresi “pangling“ saat melihat penampilanku.

“Tapi, sedang apa
kamu di sini?“, tanyanya yang heran bertemu denganku di kampus Psikologi UI.
Saat aku menjelaskan tujuanku ke tempat tersebut, Bang Donny datang
menghampiri. Dia tahu jika aku sangat ingin bertemu Mas Budi, salah satu orang
yang berjasa membantuku keluar dari belenggu masa lalu.

Bang Donny pun
ikut nimbrung dalam percakapanku dengan Mas Budi. “Waah kebetulan nih ketemu.
Oya Mas, kata Asty, nanti kalau dia nikah, ingin ngundang Mas Budi, loh!“

“Oh ya Tentu!“,
Mas Budi menimpali dengan mimik antusias. Mungkin karena dia tahu persis apa
“makna“ pernikahan buatku. Tapi sebelum dia bertanya siapa calonnya (heheheh),
langsung aku mengganti topik. “Mas, kondisiku sekarang sudah jauh lebih baik.“,
aku sedikit menceritakan kondisku saat ini, terutama perubahan-perubahan “penting“
yang telah terjadi. Sayangnya kami tak punya banyak waktu untuk berbincang. Mas
Budi tengah buru-buru, sementara aku dan Bang Donny dikejar waktu mempersiapkan
penelitian Bang Donny.

Tapi aku sangat
senang. Meski hanya pertemuan sekilas, Mas Budi tahu seperti apa aku sekarang. Aku bukan
lagi Asty yang memakai baju astronot ;)

Rafting di Pondok Bahar

Thursday, February 8th, 2007

Akhirnya, selasa lalu, gw kembali turun ke lapangan. Tapi misi utamanya bukan untuk liputan, melainkan menyalurkan bantuan "Trans Peduli" (sumbangan dari klien2 marketing Trans).
Tengah hari gw keliling RW 7 perumahan Ciledug Indah 2 dengan menggunakan perahu karet. Tinggi air mencapai sedada orang dewasa. Tapi untung arusnya tak terlalu deras. Begitu pula kondisi di RW 5.
Yang "seru" adalah di perumahan Pondok Bahar, Ciledug. Pertama, karena arus banjir di daerah ini paling deras. Hingga konon, marinir pun urung untuk masuk ke kompleks bagian belakang. Kedua, karena kami masuk ke kompleks ini selepas maghrib, hanya berbekal 2 senter kecil (karena rencana semula, distribusi bantuan selesai di sore hari).
Setelah mencari info, akhirnya kami tahu cara "menaklukan" arus di kompleks ini. Untungnya gw pergi dengan tim dari sebuah operator rafting yang sangat kooperatif dan willing untuk membantu. Lewat jalan kecil, perahu dan bantuan makanan, kami gotong beramai-ramai, hingga tiba di "hulu sungai" dadakan. Dan alhamdulillah, kami bisa masuk ke kompleks bagian belakang. Suasananya mencekam karena gelap gulita. Gw merasa bukan di sebuah pemukiman yang berlokasi di selemparan sendal dari Jakarta. Dan yang lebih miris,  saat melihat  para korban banjir "menongolkan diri" di atap rumah saat menyadari kehadiran kami. Mereka terjebak dalam rumah. Tapi kebanyakan, mereka gak mau dievakuasi. Padahal, untuk bisa ke "daratan" adalah hal yang sangat sulit, mengingat tingginya air banjir dan derasnya arus. Bahkan di jalan utama komlpeks ini, kami merasa beneran rafting, saking derasnya arus.
Semoga bencana ini akan segera berlalu. Amiiiin.