Awalnya, gw benciiiiiiiiiiiii…..eh belakangan malah jadi cintaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Begini ceritanya…alkisah….alah, emangnya gw mau mendongeng sama anak TK heheheh…..
@@@
Suatu siang di awal tahun 1997, gw kembali dipanggil ke ruang BP (waduh….ini singkatan dari apa ya? Hilap euy!). Lagi-lagi, guru BP gw mengajukan pertanyaan yang sama, “Jadi kamu mau nyoba daftar PMDK kemana? UGM, IPB, Unsud, atau Undip?“.
Dan jawaban gw tetap sama, “Enggak ah, Bu. Soalnya saya maunya masuk Psikologi Unpad.“
“Asty, Unpad itu gak pernah buka jalur PMDK. Lagian, Psikologi UGM kan bagus!“, sang guru masih berusaha membujuk muridnya yang keras kepala.
“Nah…makanya saya gak ikut daftar PMDK, Bu. Abis gak ada Unpad sih!“
Itulah salah satu kejelekan gw dulu (dan masih ada sisa-sisanya hingga sekarang hehehe), keras kepala banget. Jika udah punya satu keinginan…maka gw akan fokus pada satu keinginan itu. Biar kata hujan badai….gak bakalan bikin gw berubah pikiran. Apalagi untuk soal yang satu ini. Sejak kelas 1 SMU,
gw mantap dengan pilihan gw untuk kuliah nanti: Psikologi Unpad!!!! Gak mau yang lain!!!!
Tapi rupanya…guru BP gw tak jua menyerah. Beberapa hari kemudian, dia kembali memanggil gw ke ruang BP dan kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Cuapek deeeh…. Akhirnya, dengan ngasal gw ngomong, “Gini deh, Bu. Kalau UI ngasih kesempatan PMDK, maka saya akan coba daftar.” Sebuah jawaban yang meluncur begitu saja, tanpa sempat diproses di otak.
@@@
Di liburan catur wulan 2, gw menemani adik gw yang masih SD dan sepupu gw, liburan ke Jakarta.Tak dinyana, beberapa hari kemudian, mamah gw telepon untuk memberi kabar, jika ada guru gw datang ke rumah. Dia ngasih tahu jika UI memberi 3 aplikasi PMDK. Dan salah satunya, diberikan pada gw. Sontak mamah meminta gw segera pulang ke Majalengka untuk ngurus pendaftaran PMDK tersebut. Merasa tak punya alasan untuk menolak, gw pun pulang keesokan harinya.
Tiba di rumah, hari sudah gelap. Gw membaca lembar aplikasi dan daftar
jurusan yang ditawarkan. Semua jurusan di UI tertulis di sana, kecuali
satu: psikologi!!! Gw bingung 7 keliling….jurusan apa yang akan gw
pilih? Secara ya…gw cuma punya waktu 1 malam untuk berpikir dan
memutuskan, karena aplikasi tersebut harus dikirimkan keesokan pagi.
Akhirnya, tanpa tahu persis seperti apa “wujudnya”, gw memilih: Ilmu
Komunikasi.
@@@
Kepala gw masih pening gara-gara soal-soal try out. Yup…saat
itu gw ikut bimbel kelas super intensif di Vila Merah, Bandung. Gw
bersama Irra & Diana, masuk ke rumah ua gw (tempat kami bertiga
menumpang selama bimbel) dengan kepala panas. Tiba-tiba….setelah kami
masuk ke ruang tamu, dua sepupu gw menguyur gw dari belakang. Gw
bingung….ada apa? Kenapa gw diguyur?!!! Rupanya karena mereka sudah
mendapat kabar dari kampung, jika gw keterima PMDK ke UI. Semua orang
senang. Sepupu, ua, dan tentu saja mamah. Hanya satu orang yang tidak
bahagia mendengar kabar tersebut: GUE!!! Gw justru merasa sedih. Karena
ini berarti….tamat sudah cita-cita “agung” gw selama ini: Psikologi
Unpad! Huaaaaaaa hik…hik….. Secara ya….sejak satu SMU gw cuma punya
satu tujuan, Psikologi Unpad!!! Itu pula yang bikin gw semangat 45 ikut
bimbel, sebagai usaha agar lolos UMPTN. Dan hari itu….gw merasa dunia
“kiamat”!
@@@
Ditemani Teh Nela, gw melakukan survai ke UI, sekalian cari kost-an. Langsung dari Bandung, lewat gambir, lalu naik KRL, kami meluncur ke UI. Keluar stasiun UI…lutut gw langsung bergetar. Oh my God..noooooooooooo!!! Hati gw masih “menolak“ realita. Di sinikah? Di sinikah gw akhirnya akan kuliah? Bukan di Unpad? Hik…..hik….
Di halte stasiun, gw bertanya pada salah satu mahasiswi yang sedang menunggu bis kuning, “Mbak, Fikom di sebelah mana, ya?“ (gini nih…gara-gara unpad minded…gw mencari Fakultas Ilmu Komunikasi, disingkat Fikom, seperti yang ada di Unpad). Si mbak mahasiswi sempat mengerutkan kening, “Maksudnya fasilkom?“ Fakultas Ilmu Komputer?“. Gw berusaha meluruskan, “Oooh bukan, Fakultas Ilmu Komunikasi, Mbak.“
Si mbak mahasiswi itu lalu menjelaskan jika di UI gak ada Fikom. “Kalau jurusan Komunikasi , adanya di Fisip.“
Fisip?!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
My God, No!!!!!! Lutut gw makin bergetar dan lemas. Benarkah ini? Fisip
alias Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik? Pasalnya, gw gak suka
pada pelajaran sosial or hapalan. Meski otak pas-pasan, tapi gw
lebih suka berkutat dengan angka-angka ketimbang rangkaian kata. Itu
pula yang menjadi alasan gw ambil kelas IPA saat SMU, disamping karena Psikologi Unpad memang menerima siswa dari kelas IPA.
Saat menyusuri jalan setapak menuju Fisip, gw masih berharap ada keajaiban. Semoga saja salah….semoga saja bukan di Fisip (gini nih akibatnya, jika kita menentukan pilihan, tanpa kita tahu “wujudnya”). Dan kenyataannya….Komunikasi memang salah satu jurusan di Fisip. Gw makin lemas. “Teh, asty ngundurin diri aja, ya”, ucap gw lirih.
Ya…gw masih punya kesempatan untuk meraih impian gw: kuliah di Psikologi Unpad. Bukankah UMPTN masih ada di depan mata?! Meski berat, mamah menyetujui keinginan gw: mengundurkan diri dari UI. Tapi sebelum memutuskan, mamah minta gw untuk kembali mempertimbangkan segala kemungkinan dan konsekuensinya. Terutama kemungkinan SMU gw akan di-black list UI. UI tak akan lagi memberi kesempatan PMDK pada SMU gw. Bagaimana nasib adik-adik kelas gw? Tidakkah gw akan mencuri kesempatan mereka?
Lalu bagaimana dengan mamah? Meski dia bilang akan mendukung apa pun keputusan gw, tapi gw tahu, jauuuuh di lubuk hatinya, dia merasa berat. Mata mamah begitu berbinar saat menyampaikan kabar gw diterima di UI. Sanggupkah gw mencuri kebahagian itu darinya? Karena belum tentu gw bisa lolos UMPTN dan mengembalikan binar tersebut di mata mamah.
Akhirnya….2 alasan itu membuat gw memutuskan untuk tetap mengambil kesempatan yang sudah diberikan Allah. Sebuah kesempatan yang bertentangan dengan hati.
@@@
Agustus 1997. Gw berbaris diantara mahasiswa baru lainnya. Kami hendak latihan nyanyi di balairung. Dan diantara tawa dan ceria mereka yang sedang mengharu biru karena bisa masuk UI, hati gw menjerit: “aku gak mau disini!!”. Gw masih ingat, betapa bencinya gw melihat makara yang terpasang di dalam balairung. Gile ya…segitu cintanya gw pada Psikologi Unpad hehehe.
Dan penderitaan pun semakin lengkap setelah gw tahu mata kuliah apa saja yang akan gw pelajari di semester 1. Pengantar Ilmu Politik, Pengantar Ilmu Sosiologi, Pengantar Ilmu Ekonomi, Pengantar Ilmu Hukum, Pengantar Ilmu Antropologi, dan Pengantar Ilmu Komunikasi. Gw menatap “takjub” kertas daftar mata kuliah di tangan gw. Inikah yang bakal gw pelajari? Semuanya hapalan? Sama sekali tak ada hitung-menghitung? Oh my God!!!!! Gw pun teringat betapa tak sukanya gw pada pelajaran sosial saat SMU dulu. Dan kini…dengan ilmu-ilmu itulah gw akan berkutat? Huaaaa…hik..hik…..
Hari pertama berkumpul dengan teman-teman satu jurusan, gw kembali mendapat “kejutan“. Dari 47 mahasiswa Komunikasi, cowoknya ternyata hanya 6 orang!!!!! Masalahnya, dari kecil gw terbiasa main dengan cowok. Temen cewek gw jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. Gw terbiasa kemana-mana, termasuk di dalam kelas, dengan segerombolan cowok. Malah nih…waktu SMP, gw jadi satu-satunya mahluk cantik di kelas saat pelajaran keterampilan elektro. So, gw kurang tau bagaimana cara bergaul dengan segerombolan perempuan.
Setahun hampir berlalu, tapi waktu terasa lamban merangkak. Gw tak jua jatuh hati pada kuliah gw. Stress berat deh! Gw tak sabar menanti waktu UMPTN. Yup, gw berencana untuk ikut UMPTN, meraih impian yang tertunda untuk terwujud. Menurut gw, itu akan menjadi win-win solutions. Jika gw keluar dari UI setelah setahun kuliah, rasanya itu tak akan membuat SMU gw di-black list UI, kan?
Tapi rupanya Allah kembali punya rencana lain. Karena peristiwa Trisakti dan kerusuhan Mei, jadwal UAS mundur 2 minggu. Alhasil, pelaksanaan UAS bentrok dengan UMPTN. Gw menghadapi dilema. Jika ikut UMPTN, berarti gw terancam tak lulus 3 mata kuliah. Jika ikut UAS, berarti gw kembali melepas kesempatan untuk meraih impian. Tapi, siapa yang akan sangat sedih jika gw sampai mendapat nilai E atau D? Mamah!
@@@
Hmmm….manusia boleh berencana, tapi Allah-lah yang menentukan. Saat gw menjerit dalam hati karena menghadapi realita yang tak sejalan dengan impian, tanpa gw sadari, sebetulnya Allah sedang menyiapkan rencana indah buat gw. Yup…Ia menyiapkan berbagai “bingkisan” luar biasa indah untuk gw.
Karena masuk UI-lah, akhirnya gw jadi penghuni asrama mahasiswa UI. Sebuah tempat dimana gw belajar banyak hal dan bertemu dengan beberapa orang yang menjadi sahabat sejati. Gw belajar menjadi mahluk sosial. Belajar berbagi, saling care dan merasakan unconditional love. Sahabat-sahabat sejati yang menemani gw tertawa dan menangis. Yang selalu ada, terutama saat gw melewati masa-masa sulit itu. Sahabat-sahabat sejati yang men-support gw untuk “bermetamorfosis” dengan membawa gw melewati moment-moment “bersejarah” untuk memulai kehidupan dengan cara pandang baru. Sahabat-sahabat sejati yang membuat gw menyadari jika hidup ternyata begitu indah dan berwarna. Di asrama pula gw belajar agama lebih banyak dan membuat gw lebih dekat dengan Sang Maha Pengasih. Sungguh nikmat Allah yang luar biasa. Daaan….he hehehe…I met someone who became my first love (puber gw telat ya? hehehe).
Kuliah di Komunikasi yang didominasi mahasiswi, membawa gw pada dunia baru. Dunia perempuan. Yup, gw belajar menjadi perempuan….hehehe…secara ya, gw kan perempuan
. Allah memang Maha Tahu.
Pengalaman ini juga membuat gw instropeksi diri. Dulu gw terlalu fokus pada satu rencana: masuk Psikologi Unpad. Gw tak menyiapkan plan A, plan B, plan C. Gw bahkan tak mencari informasi tentang jurusan lain. Akibatnya, gw memilih jurusan Ilmu Komunikasi yang gw tak tahu “wujudnya” seperti apa, bak memilih kucing dalam karung. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga banget deh! Sebagai manusia, kita hanya bisa berharap yang terbaik tapi harus bersiap untuk yang terburuk. Dalam artian, jika ternyata realita tak sejalan dengan harapan dan rencana. Tapi apa pun yang terjadi, tentunya itulah yang terbaik J. Allah akan selalu memiliki rencana indah buat gw.
Sejak semester 4, gw mulai enjoy dengan kuliah gw. Mata kuliah Komunikasi ternyata kebanyakan sangat aplikatif banget. Bahkan beberapa diantaranya berbau psikologi. Gw belajar tentang bahasa tubuh, komunikasi antar personal, bahkan psikologi komunikasi. Dan salah satu mata kuliah yang sangat gw suka adalah Desain Grafis. Waaaaah seneng banget bisa mendapat ilmu yang sejalan dengan hobi.
Dan pada akhirnya….pada saat wisuda, Agustus 2001, gw menatap makara di balairung dengan penuh cinta. Makara yang sama, dimana tepat 4 tahun sebelumnya, gw tatap dengan kebencian hehehhe…
Dan sekarang, setiap kali gw ke UI, gw selalu merasakan getaran hangat. Getaran yang mendorong gw untuk kembali mengingat masa-masa “penuh siksaan“ namun memberi sejuta hikmah luar biasa. Terima kasih ya Allah J
(Lagi ingin nostalgia “sejarah” yang dimulai tepat 10 tahun yang lalu J)