Kaca Mata Mereka
Semalam, gw sebetulnya udah letih banget, ditambah masih gak
enak badan gara-gara flu & batuk (penyakit ringan yang cukup mengganggu
ya?). Tapi acara diskusi dengan Nasir Abas, mantan ketua mantiqi III Jamaah
Islamiah (JI), terlalu menggoda untuk gw lewatkan. Buat gw, JI masih menjadi
pertanyaan besar. Apakah mereka benar-benar ada? Siapa sebetulnya mereka?
Kenapa mereka ada? Apa tujuan mereka? Dan apa korelasinya dengan aksi-aksi
teror selama ini di Indonesia?
Rencananya sih, gw gak bakal ikut diskusi ini sampai selesai.
Paling malam, jam 9 udah balik
kanan. Tapi ternyata pembahasan membuat gw lupa waktu. Akhirnya, gw ikut
diskusi selama 3 setengah jam tersebut.
Diskusi santai
namun serius, sedikit banyak memberi info yang menjawab beberapa pertanyaan
yang selama ini menggelitik. Tapi yang membuat gw puas adalah, mendapatkan info
tesebut dari tangan pertama. Hmmm….inilah salah satu yang gw suka dari
profesi gw. Mendengar cerita dari pihak-pihak yang terkait secara langsung.
Gw jadi ingat saat
gw liputan kaum lesbian sekitar 4 tahun lalu, dan kaum gay sekitar 2 tahun lalu. Bertemu dengan kaum lesbian,
lebih “berkesan“ ketimbang kaum gay. Kenapa? Karena gw perempuan. Hingga gw
kuliah, gw hanya tahu jika lesbian itu ada. Tapi gw gak pernah bertemu dengan
satu orang pun perempuan yang (mengakui dirinya) lesbian. Sedangkan gay, sejak
SMP gw udah ketemu dengan cowok yang terang-terangan nunjukin dirinya gay.
Waktu
pertama kali gw akan bertemu dengan salah satu perempuan lesbian, untuk lobi
liputan, jujur…..gw gugup dan ada rasa takut. Dari sini gw mengerti, kenapa
temen-temen cowok gw banyak yang takut berinteraksi dengan gay or waria. Singkat
cerita, akhirnya eksekusi liputan pun bisa terlaksana beberapa hari kemudian. Pagi hari, gw liputan
sekelompok lesbian dari kalangan menengah atas. Dan siangnya, gw liputan
puluhan lesbian dari kalangan menengah bawah yang sedang melakukan arisan. Ini
membuat gw "takjub". Dari yang tak pernah bertemu satu orang pun, saat itu gw ketemu
dengan puluhan lesbian!!!
Liputan ini
memberi gw sebuah sudut pandang baru dalam memandang kaum homoseksual. Well,
selama ini judgment gw hanya berdasarkan referensi pribadi, alias kaca mata gw sendiri.
Tanpa bermaksud membenarkan pilihan mereka (terutama secara hukum agama), tapi
gw jadi bisa melihat fenomena ini dari kaca mata mereka. Yang membuat miris,
dari sekian lesbian yang gw wawancara, kebanyakan mereka pindah orientasi
seksual karena pengalaman buruk dengan laki-laki. Rasa sakit hati membuat mereka
trauma dan takut untuk menjalin relations dengan kaum adam. Mereka merasa lebih
save dan mendapatkan affection yang diharapkan dari sesama perempuan.
Nah kalau dengan
komunitas gay, gw mendapat pengalaman yang gak kalah “berkesan“ juga. Waktu itu gw janjian dengan
narasumber gw, seorang gay yang udah coming out, di mal Malioboro, Jogja. Dia
ditemani teman-temannya, menunggu gw di pelataran mall. Gw masih ingat
bagaimana ekspresi mereka saat melihat….ternyata reporter yang akan
mewawancara mereka adalah seorang perempuan berjilbab. Ini sempat membuat
mereka jadi kikuk. Gw perlu sedikit ekstra usaha untuk membuat mereka nyaman
sharing sama gw. Singkat cerita, gw mengajak mereka makan di salah satu
restoran fast food. Akhirnya suasana pun cair sehingga kami bisa ngobrol dengan
akrab. Ngobrol ngalor ngidul, rupanya mereka punya latar belakang yang berbeda,
kenapa menjadi gay.
Ada yang sejak
kecil suka sesama jenis, ada juga yang awalnya heteroseksual tapi jadi beralih
homo karena pengalaman masa lalu. Misalnya
karena beberapa kali disodomi oleh teman mainnya sendiri….NGERI BANGET kan?!!!! Dan yang lebih membuat gw prihatin adalah, mereka diasingkan oleh keluarga dan teman-temannya (yang heteroseksual). Padahal, beberapa diantara mereka masih punya keinginan besar untuk kembali menjadi hetero. Sayangnya, sikap keluarga yang justru menjauhi mereka, membuat mereka jadi terus bersama komunitas gay.
Semua pengalaman
mereka adalah pelajaran berharga buat gw. Setidaknya, dengan mengetahui
penyebab dan gejala homoseksual, kita bisa berusaha mengantisipasi itu terjadi,
minimal pada orang-orang di sekitar gw. Dan mendapat kesempatan untuk berteman
dengan mereka, membuka sudut pandang gw. Soalnya, sebelumnya gw termasuk orang
yang cepet bikin penilaian. Penilaian yang tentu saja hanya dari kacamata gw,
tanpa gw tahu latar belakang dan konteks suatu fenomena itu sendiri.