Pertemuan tak Terduga
Jumat,
9 Februari 2007
“Mas Budi, ya?”, sapaku sedikit ragu, takut salah menyapa
orang. Wajah lelaki paruh baya yang kusapa mengekspersikan jika ia sedang
berusaha mengingat. Di waktu yang bersamaan, mulut kami meluncurkan namaku.
Lega, rupanya ia masih ingat padaku. Sudah 6 tahun kami tak bertemu. Terakhir
aku menemuinya, adalah beberapa hari setelah diwisuda. Aku “berpamitan”
sekaligus memberinya sebuah kenang-kenangan kecil.
Sebetulnya, sudah lama aku ingin menemuinya saat aku
“singgah” ke UI. Tapi selalu urung,
karena tak yakin dia masih mengingatku. Dia kan punya ratusan klien yang rajin
mengkonsultasikan masalahnya. Tapi di luar dugaan, dia bukan hanya ingat
namaku, tapi juga “masalahku“. Dia bahkan masih ingat kalau dulu aku anak
asrama. Wah…daya ingatnya luar biasa juga ya?! (apalagi kalau dibandingkan
kemampuan kepalaku menyimpan memori).
“Tentu saja saya
masih ingat kamu. Hanya saja…dulu kamu tidak…“, tuturnya sambil menggerakkan
kedua tangannya di samping kepala, membuat kode bermakna jilbab. “Oh ya, dulu
saya belum berjilbab. Baru sekitar 2…3 tahun belakangan“, aku menjelaskan. Hmm….pantas
tadi wajahnya memancarkan ekspresi “pangling“ saat melihat penampilanku.
“Tapi, sedang apa
kamu di sini?“, tanyanya yang heran bertemu denganku di kampus Psikologi UI.
Saat aku menjelaskan tujuanku ke tempat tersebut, Bang Donny datang
menghampiri. Dia tahu jika aku sangat ingin bertemu Mas Budi, salah satu orang
yang berjasa membantuku keluar dari belenggu masa lalu.
Bang Donny pun
ikut nimbrung dalam percakapanku dengan Mas Budi. “Waah kebetulan nih ketemu.
Oya Mas, kata Asty, nanti kalau dia nikah, ingin ngundang Mas Budi, loh!“
“Oh ya Tentu!“,
Mas Budi menimpali dengan mimik antusias. Mungkin karena dia tahu persis apa
“makna“ pernikahan buatku. Tapi sebelum dia bertanya siapa calonnya (heheheh),
langsung aku mengganti topik. “Mas, kondisiku sekarang sudah jauh lebih baik.“,
aku sedikit menceritakan kondisku saat ini, terutama perubahan-perubahan “penting“
yang telah terjadi. Sayangnya kami tak punya banyak waktu untuk berbincang. Mas
Budi tengah buru-buru, sementara aku dan Bang Donny dikejar waktu mempersiapkan
penelitian Bang Donny.
Tapi aku sangat
senang. Meski hanya pertemuan sekilas, Mas Budi tahu seperti apa aku sekarang. Aku bukan
lagi Asty yang memakai baju astronot