Rafting di Pondok Bahar
Akhirnya, selasa lalu, gw kembali turun ke lapangan. Tapi misi utamanya bukan untuk liputan, melainkan menyalurkan bantuan "Trans Peduli" (sumbangan dari klien2 marketing Trans).
Tengah hari gw keliling RW 7 perumahan Ciledug Indah 2 dengan menggunakan perahu karet. Tinggi air mencapai sedada orang dewasa. Tapi untung arusnya tak terlalu deras. Begitu pula kondisi di RW 5.
Yang "seru" adalah di perumahan Pondok Bahar, Ciledug. Pertama, karena arus banjir di daerah ini paling deras. Hingga konon, marinir pun urung untuk masuk ke kompleks bagian belakang. Kedua, karena kami masuk ke kompleks ini selepas maghrib, hanya berbekal 2 senter kecil (karena rencana semula, distribusi bantuan selesai di sore hari).
Setelah mencari info, akhirnya kami tahu cara "menaklukan" arus di kompleks ini. Untungnya gw pergi dengan tim dari sebuah operator rafting yang sangat kooperatif dan willing untuk membantu. Lewat jalan kecil, perahu dan bantuan makanan, kami gotong beramai-ramai, hingga tiba di "hulu sungai" dadakan. Dan alhamdulillah, kami bisa masuk ke kompleks bagian belakang. Suasananya mencekam karena gelap gulita. Gw merasa bukan di sebuah pemukiman yang berlokasi di selemparan sendal dari Jakarta. Dan yang lebih miris, saat melihat para korban banjir "menongolkan diri" di atap rumah saat menyadari kehadiran kami. Mereka terjebak dalam rumah. Tapi kebanyakan, mereka gak mau dievakuasi. Padahal, untuk bisa ke "daratan" adalah hal yang sangat sulit, mengingat tingginya air banjir dan derasnya arus. Bahkan di jalan utama komlpeks ini, kami merasa beneran rafting, saking derasnya arus.
Semoga bencana ini akan segera berlalu. Amiiiin.
September 28th, 2008 at 2:30 pm
Iya tuh..
Saya sendiri(warga von-bar) sampek ngontrak drumah petak yg cukup tinggi dr daerah rumah saya. Udh gt listrik mati.
Ya sutralah.. Smoga nda lg terulang. Amiin.
An’ thx for all
December 6th, 2008 at 5:13 am
Tiap tahun saya dan warga pondok bahar udah ga asing lagi yang namanya banjir, apalagi yang lebih “berkesan waktu banjir 2007″, wah…bener-bener ngeri, parah, dan menakutkan, kenapa saya bilang begitu karena lokasi rumah saya tepat dibelakang komplek yang arus airnya paling deras seperti ngedenger arus air terjun, maklum tanggul pada bocor. Sampai sekarang 2008 tanggul belum juga diperbaiki secara permanen, gawat nich siaga satu.