Sebuah buku mengajak gw menyelami kisah kehidupan 2 manusia
paling mulia, Muhammad & Khadijah. Buku tersebut berjudul KHADIJAH, The
True Love Story of Muhammad, karangan Abdul Mun’im Muhammad. Selama ini
pengetahuan gw tentang keduanya, sangat terbatas. Apa yang gw tahu hanya
berdasar pada yang gw dapat dari buku-buku pelajaran agama selama gw sekolah
sejak SD hingga SMA serta ceramah-ceramah. Namun kesemua sumber informasi
tersebut lebih banyak bercerita tentang perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan
agama Islam dan peran Khadijah di dalamnya. Tak ada yang bercerita secara detil
bagaimana keduanya hidup berumah tangga, bagaimana keduanya saling mengisi, dan
seperti apa kehidupan mereka sebagai “manusia biasa”. Dan buku ini, membuat gw beberapa kali terkejut,
tertegun, terharu, bahkan “merinding”. Namun keseluruhan buku ini sungguh
memberi hikmah dan pandangan baru yang membawa gw pada perenungan.
Well, gw ingin sedikit berbagi isi buku ini (siapa tahu ada yang seperti gw,
memiliki pengetahuan yang minim tentang mereka). Sebagian besar tulisan di
bawah ini adalah kutipan dari buku tersebut.
@@@
Khadijah adalah
seorang perempuan cantik dan berperilaku baik. Ia mendapat gelar “wanita yang
suci“. Ia memiliki garis keturunan paling terhormat di suku Quraisy. Sebelum
menjadi istri Muhammad, Khadijah pernah menikah 2 kali dan memiliki 3 anak. Dua
anak laki-laki dari pernikahan pertamanya dengan Abu Halah, dan seorang putri
dari pernikahan keduanya dengan Athiq Ibnu Aidal-Makhzumi. Selepas suami
keduanya wafat, banyak lelaki yang mencoba meminang Khadijah dengan menawarkan
sejumlah besar harta sebagai mas kawin. Tetapi Khadijah menolak semua pinangan
itu, karena ia berpikir bahwa mereka hanya menghendaki harta dan status
sosialnya. Perhatiannya difokuskan pada
upaya mengasuh anak dan mengelola perdagangan.
Sampailah pada
masa dimana Khadijah bertemu dengan Muhammad. Berawal dari informasi yang
didengarnya tentang Muhammad sebagai seorang pemuda yang bisa menjaga kejujuran
dan keluhuran budi di tengah rekan-rekan sebayanya yang sibuk berfoya-foya.
Saat itu ia sedang mencari seseorang yang dapat diutusnya ke Syam untuk
mengawasi dan memimpin rombongan dagang Khadijah. Kemudian Khadijah memanggil
Muhammad dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan. Dari perbincangan
tersebut, Khadijah menangkap kesan bahwa Muhammad adalah pemuda yang jujur,
cerdas, santun, pandai menjaga diri dan berpenampilan sempurna. Muhammad
terlihat begitu tenang ketika diam dan terlihat begitu berpengaruh ketika
berbicara. Ia selalu memperhatikan lawan bicaranya, mendengarkan dengan teliti,
dan tidak pernah memperlihatkan sikap setengah-setengah. Dan akhirnya, sebagai
seorang pedagang yang berpengalaman, Khadijah tahu jika Muhammad adalah orang
yang ia cari.
Singkat cerita, Khadijah semakin mendapat informasi tentang
pribadi Muhammad. Rasa hormat dan cinta pada Muhammad, tumbuh perlahan-lahan
hingga akhirnya mencengkram hati & perasaan. Apakah ini bagian dari takdir
Tuhan? Khadijah bertanya, inikah balasan untuk dirinya dari Tuhan atas
perbuatan baik, sifat kedermawanan, serta keteguhannya menjaga diri dan
kehormatan? Ia tahu bahwa cinta yang tumbuh di hatinya adalah perasaan wajar
bagi wanita mulia yang mendambakan seorang pendamping hidup yang dapat
dipercaya.
Akan tetapi, Khadijah juga sempat ragu. Pantaskah ia menikah dengan Muhammad? Selama ini,
ia yakin bahwa ia harus menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Karena itulah ia
menolak semua pinangan yang datang. Apa kata para pemuka Quraisy jika mereka
mendengar Khadijah meminang seorang pemuda untuk dirinya sendiri?
Dalam tradisi
Arab, seorang perempuan hanya boleh menunggu lamaran dari laki-laki. Namun,
berbekal pengamannya dalam dunia perdagangan, Khadijah memahami bahwa keteguhan
dan inisiatif merupakan 2 hal yang sangat menentukan kesuksesan. Khadijah
sendiri adalah perempuan yang sangat teguh memegang pendiriannya apabila ia
yakin bahwa pendiriannya itu baik dan benar. Keteguhan dan inisiatif itu yang
menjadikannya memilih dan mengutus Muhammad ke Syam. Apa salahnya jika ia memilih
Muhammad sekali lagi untuk menjadi pendamping hidupnya.
Hmm…ini tentu
bukan berkara yang mudah diputuskan untuk seorang perempuan. Apalagi ia harus
menentang tradisi. Khadijah adalah seorang wanita kaya dan terpandang, apa kata
orang jika mereka tahu Khadijah meminang seorang laki-laki? Apalagi jika
ternyata ia ditolak? Tentunya terjadi perang dalam hatinya, antara ego dan
cintanya pada Tuhan. Antara harga diri dengan sesuatu yang dia yakini benar.
Manakah yang ia pilih?
Akhirnya, meski
sempat ragu, Khadijah kemudian memutuskan untuk menikah dengan Muhammad dan
mengambil inisiatif untuk meminangnya. Tetapi masih ada satu pertanyaan yang
harus ia jawab: siapa yang dapat menjamin bahwa Muhammad akan menerima
pinangannya?
Khadijah adalah wanita kaya, cantik, dan berstatus sosial
tinggi. Ia masih memiliki pesona bagi banyak laki-laki. Di sisi lain, Muhammad
bukanlah bukanlah lelaki yang rakus dan mudah tergoda oleh hal-hal yang
lahiriah. Tetapi Khadijah tahu bahwa walau bagaimana pun, Muhammad tetaplah
seorang pemuda. Adalah haknya untuk mencintai seorang gadis yang sebaya.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tadi, Khadijah memilih untuk
menggunakan sebuah siasat. Ia mengutus wanita yang ia yakini kemampuan dan
loyalitasnya untuk secara diam-diam melakukan pendekatan awal kepada Muhammad.
Wanita tersebuat adalah Nafisah binti
Umayyah yang masih kerabat dekat Muhammad.
Dan berikut sebuah riwayat yang menceritakan proses
“diplomasi” awal yang dilakukan Nafisah. Ia berkata, “Khadijah pernah
mengutusku sebagai perantara kepada Muhammad setelah ia pulang dari Syam.
Kukatakan kepadanya, ‘Apa yang menghalangimu untuk menikah? Muhammad menjawab,
‘Aku orang miskin yang tak punya harta.’ Kukatakan, ‘Jika aku tanggung semua
keperluanmu untuk menikah dan kupilihkan seorang wanita cantik, kaya, mulia,
dan cocok untukmu, maukah engkau menikah?’ Muhammad menjawab, ‘Siapa wanita
itu?’ Aku menjawab, ‘Khadijah.’ Muhammad kembali bertanya, ‘Bagaimana mungkin?’
Kukatakan, ‘Aku yang akan mengaturnya.
Dengan meminang Muhammad, Khadijah sebenarnya sedang
menciptakan sebuah tradisi yang memihak dan menghormati perempuan. Jika
perempuan berhak untuk mengatur urusan-urusannya sendiri, mengapa ia tidak
boleh memilih laki-laki untuk menjadi pendamping hidup dan ayah bagi
anak-anaknya? Apalagi Khadijah tidak memilih calon suami yang kaya. Pilihannya
atas Muhammad lebih didasarkan atas budi pekerti yang mulia dan perilaku yang
luhur. Muhammad juga terbukti mampu menjaga dan mengembangkan aset-aset
bisnisnya.
Akan tetapi,
bukan hal itu saja yang bisa dipelajari dari kisah ini. Setelah Nafisah memberi
tahu hasil pendekatannya, Khadijah lalu mengundang Muhammad ke kediamannya. Di
sana, dengan berani, Khadijah mengungkapkan secara langsung pinangannya. Hal
itu menunjukkan rasa percaya yang tinggi sekaligus keberanian menuntut hak dan
menyampaikan aspirasi tanpa perantara. Khadijah memperlihatkan bahwa wanita
mampu menangani urusan-urusannya sendiri, berhak melakukan apa pun demi
mencapai kebahagiaan, serta boleh menerima siapa pun yang pantas menjadi
tamunya.
Nafisah memang
membantunya melakukan pendekatan awal untuk menjajaki kemungkinan Muhammad
menerima pinangannya. Tetapi setelah itu, Khadijah menjalani sendiri semua proses yang harus dilakukannya. Berikut
ucapan Khadijah kepada Muhammad:
“Wahai anak pamanku, aku
berhasrat menikah denganmu atas dasar kekerabatan, kedudukanmu yang mulia,
ahlakmu yang baik, integritas moralmu, dan kejujuran perkataanmu.“
Muhammad
menerimanya. Pernikahan mereka dilaksanakan 2 bulan 15 hari setelah Muhammad
datang dari Syam. Mahar yang diberikan pada Khadijah adalah 20 ekor unta. Usia
Muhammad saat itu adalah 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.
-@-
Dalam kehidupan
rumah tangganya, Muhammad sangat rendah hati. Ia tak malu melayani dirinya
sendiri. Ia tak pernah menunggu uluran tangan pembantu dalam menangani urusan
rumah tangganya. Jika Muhammad memiliki pembantu, ia yang justru menolong
mereka dalam tugas-tugas yang mereka lakukan. Tidak ada pembantu yang mereka
bebani dengan kerja berlebihan di luar batas kemampuan. Subhanallah!! Jika
pembantu saja sudah diperlakukan dengan demikian baik, bayangkan bagaimana ia
memperlakuan istrinya.
Muhammad tidak
pernah memaksakan kehendaknya. Ia selalu bermusyawarah dengan Khadijah dalam
urusan-urusan yang mereka tangani bersama. Ia juga merupakan pendengar yang baik dan penuh perhatian.
Tidak pernah ia mengecewakan atau menolak permintaan istrinya.
Khadijah tentu
sangat bahagia dengan pernikahannya. Ia merasa tak perlu lagi mengurus usaha
dagangnya. Semua diserahkan pada Muhammad, suaminya. Perhatian Khadijah
dipusatkan sepenuhnya pada bagaimana melayani dan mencintai suaminya serta
menangani urusan-urusan rumah tangga. Ketiga anak Khadijah dari 2 perkawinan
sebelumnya tinggal bersama Muhammad dan Khadijah.
Muhammad &
Khadijah menikmati hidup rumah tangga yang bahagia. Mereka adalah pasangan yang
saling melengkapi. Sebagai seorang pemuda yang sedang berada di puncak kekuatan
fisiknya, Muhammad mengambil alih semua urusan ekonomi dan kerja-kerja yang
melelahkan. Khadijah mengimbanginya dengan cinta & kasih sayang.
Namun bukan
berarti tak ada ujian dalam kehidupan rumah tangga mereka berdua. Diantaranya,
satu masalah yang menggangu perasaan Khadijah. Setelah setahun menikah, kenapa
belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada dirinya?
Khadijah merasa
gundah. Ia berpikir, apakah setelah melewati usia 40 tahun ia menjadi mandul?
Padahal ia merasa sehat, kuat, dan normal. Ia juga mengalami menstruasi secara
teratur. Lalu apa yang salah pada dirinya?
Tahun kedua pun
berlalu. Khadijah belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Ia memang tak
sama sekali kehilangan harapan, tapi perasaan bahwa ia tak mampu memberikan
keturunan bagi suaminya, menjadikannya tertekan.
Lama-lama
Khadijah merasa khawatir. Ia tahu bahwa setiap orang mendambakan keturunan dari
pernikahan mereka. Muhammad tentu bukan pengecualian dari hal ini. Apa yang
akan terjadi jika ia tak mampu memberikan anak pada suaminya itu? Tidakkah ia
akan memilih wanita lain untuk dinikahi – wanita yang mampu memberinya
keturunan?
Kekhawatiran itu
memenuhi perasaannya sepanjang tahun kedua pernikahannya. Hanya keyakinan pada
rahmat Tuhan-lah, yang menjadikannya sabar dan bertahan.
Beberapa bulan
dari tahun ketiga terlampaui sudah. Kesabaran Khadijah hampir habis. Namun, di
saat kritis itulah rahmat dari Tuhan turun. Ia menunjukkan tanda-tanda
kehamilan. Muhammad menerima kabar ini dengan rasa gembira yang tak terucapkan.
Satu persoalan
selesai. Persoalan lain datang. Khadijah, seperti halnya perempuan-perempuan Quraisy
di masa itu, mengharap anak yang dikandungnya adalah laki-laki. Kaum Quraisy
tak pernah bangga memiliki anak perempuan seperti halnya kebanggaan mereka
memperoleh anak laki-laki. Dan terlahirlah putra pertama mereka yang diberi
nama Qasim.
Hanya beberapa
bulan setelah kelahiran anak pertamanya, Khadijah kembali hamil. Hal itu
menjadikannya semakin tenang. Ia kembali mempertanyakan jenis kelamin anaknya
kelak. Ia berharap Tuhan menganugerahkan kepadanya lebih banyak anak laki-laki.
Namun lahirlah seorang bayi perempuan yang molek.
Muhammad
menyambut kelahiran anak keduanya dengan gembira. Sama sekali tidak tampak
kesan bahwa ia kurang bahagia memperoleh anak perempuan. Diberinya nama Zainab
pada anak keduanya itu. Khadijah merasa lega karena Muhammad tidak menunjukkan
rasa kecewa terhadap lahirnya anak perempuan ini.
Waktu berjalan,
dan Qasim tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat. Seringkali Khadijah
membayangkan bahwa pada suatu hari nanti, ia akan melihat Qasim menjadi pemuda
kuat yang berdiri di samping ayahnya. Dan Khadijah mendambakan lahirnya anak
laki-laki lagi.
Akan tetapi,
tidak ada yang tahu apa yang tersembunyi di balik takdir. Mendadak sebuah
peristiwa menghancurkan impian Khadijah. Qasim meninggal dunia secara tiba-tiba
setelah melewati tahun kedua dalam hidupnya. Rumah tangga Khadijah pun terasa
gelap. Semua angan-angan dan cita-cita runtuh. Seisi rumah tenggelam dalam rasa
duka yang tiada terkira.
Bagi Muhammad,
musibah ini benar-benar terasa berat. Sebagaimana umumnya seorang ayah,
Muhammad juga berharap anaknya akan tumbuh menjadi lelaki dewasa yang dapat
membantunya dalam urusan-urusan hidup dan keluarga. Anak-anak yang banyak dan
sehat adalah harapan setiap ayah. Muhammad pun begitu. Ia sempat
membayangkan memiliki dua anak laki-laki yang membanggakan. Tetapi Allah melakukan dan memberikan apa pun pada
siapa pun yang Dia kehendaki. Selalu ada hikmah yang tersembunyi di balik apa
yang ditakdirkan-Nya. Manusia dituntut untuk menyikapi setiap takdir dengan
sabar dan ikhlas.
Muhammad bersedih
dan menangis. Barangkali ia mengutarakan sesuatu yang sama seperti yang ia
katakan ketika anaknya yang lain, Abdullah, meninggal beberapa tahun kemudian, “Air mata boleh mengalir, hati boleh sedih,
tetapi lisan hanya boleh mengucapkan apa yang membuat Allah ridha. Kami sungguh
bersedih atas kematianmu“.
Waktu merambat
pelan. Khadijah terus tenggelam dalam kesedihannya. Tetapi Muhammad tak larut
dalam kesedihan dan dengan cepat mengambil hikmah dari peristiwa ini. Ia tidak
pernah bosan menghibur dan membujuk istrinya. Ia juga selalu meluangkan waktu
untuk bercanda dan bermain bersama Khadijah dan Zainab. Perlahan-lahan,
keluarga ini mendapatkan kebahagiaannya kembali.
Akan tetapi
Khadijah merasa resah. Setahun setelah kematian Qasim, ia tak jua merasakan
tanda-tanda kehamilan. Tahun kedua pun tiba. Khadijah berharap dan kecewa.
Sedapat mungkin ia menyembunyikan rasa sedihnya dari Muhammad, suami yang tak
pernah lelah menghibur dan menyayanginya.
Akhirnya, di
tahun ketiga setelah kematian Qasim, Khadijah kembali hamil. Harapan dan
optimisme membuncah di dadanya. Khadijah berharap anaknya laki-laki. Namun,
terlahirlah bayi perempuan. Khadijah terdiam. Ia membayangkan apa respon
suaminya, Muhammad, terhadap kelahiran anak perempuan ini.
Ternyata Muhammad
menerima kabar itu dengan rasa gembira yang tulus. Ia masuk ke dalam kamar
istrinya dengan wajah berseri. Muhammad juga menyatakan rasa gembiranya melihat
istri dan anaknya selamat. Dan anak perempuan tersebut diberi nama Ruqayyah.
Melihat respon Muhammad,
Khadijah kembali lega. Muhammad, pikirnya, benar-benar seorang suami yang patut
dicintai sepenuh hati.
Beberapa waktu
kemudian, Khadijah kembali hamil. Kehamilan ini dibarengi perasaan harap-harap
cemas. Khadijah berharap anak yang dikandungnya laki-laki, agar kematian Qasim
tergantikan. Ternyata, anak yang keempat ini pun perempuan. Sekali lagi
Khadijah kecewa.
Akan tetapi,
kekecewaan itu tidak berlangsung lama. Muhammad tidak terpengaruh oleh adat dan
tradisi jahiliah yang menganggap kelahiran anak perempuan sebagai aib. Melihat
suaminya sama sekali tak menampakkan rasa sedih dan kecewa, Khadijah pun
gembira. Dan mereka memberi nama anak tersebut, Ummu Kultsum.
Tak lama
berselang, Khadijah hamil kembali. Sama seperti lelaki lain di masa itu,
Muhammad tentu berharap mendapat banyak anak lelaki. Lagi pula, hingga saat
itu, Allah belum menganugerahkan kepadanya pengganti Qasim yang telah
meninggal. Lelakikah anaknya kali ini? Muhammad yakin sepenuhnya bahwa Allahlah
yang Maha Pemberi, bahwa setiap pemberian-Nya mengandung hikmah yang sering
kali tak bisa ditangkap manusia. Sepanjang hidupnya, Muhammad selalu menerima
dengan rela segala hal yang dianugerahkan Allah kepadanya dan bersabar atas
setiap musibah yang menimpanya. Memiliki isteri seperti Khadijah saja sudah
merupakan nikmat yang tiada kira, maka sikap apakah yang pantas ia tampakan
selain sabar dan rela menerima putusan Tuhannya?
Ketika Salma, perempuan tua yang membantu persalinan
Khadijah, bergegas mendatanginya dan mengabarkan bahwa Khadijah, lagi-lagi,
melahirkan anak perempuan. Muhammad mengesampingkan jauh-jauh perasaan
pribadinya. Ia justru memikirkan Khadijah. Ia tahu bahwa bagi Khadijah, rasa
duka akibat kelahiran anak perempuan jauh lebih menyesakkan daripada rasa sakit
yang diakibatkan oleh proses persalinan.
Muhammad bergegas menemui Khadijah dengan membawa bayi yang
baru lahir itu dalam gendongannya. Begitu melihat wajah istrinya tersenyum,
kebahagiaan yang besar menyelimuti hatinya. Ia membalas senyum Khadijah. Anak
kelima mereka ini diberi nama Fatimah. Saat itu usia Muhammad 35 tahun dan
Khadijah 50 tahun.
Sejarah lain dari kehidupan rumah tangga Muhammad dan
Khadijah yang belum diketahui banyak orang adalah jika ketiga putri mereka
menikah di usia yang belum genap 10 tahun. Salah satu adat dan tradisi turun
menurun masyarakat dimana keduanya berada adalah menikahkan anak perempuan pada
usia muda. Zainab di usia 9 tahun, Ruqayyah di usia 7 tahun, dan Ummu Kultsum 6
tahun (namun Rukayyah & Ummu Kultsum tak langsung serumah dengan suaminya setelah mereka menikah).
Muhammad dan Khadijah adalah patner yang saling menguatkan
satu sama lain. Dalam keresahan Khadijah menanti lahirnya anak laki-laki dan
duka kehilangan putra pertama mereka, Muhammad menghibur Khadijah dan
memastikan rumah tangga mereka akan baik-baik saja. Dan sebaliknya, saat
Muhammad resah bahkan ketakutan, Khadijah yang menenangkan Muhammad. Seperti
saat awal-awal Muhammad ditemui Jibril. Saat itu Muhammad sangat ketakutan,
hingga pulang dalam keadaan mengigil. Ia berkali-kali minta diselimuti
Khadijah. Muhammad berkata, “wahai
Khadijah. Demi Allah, tidak pernah aku membenci sesuatu seperti aku mambenci
berhala dan para peramal. Aku takut apa yang kulihat itu pertanda
bahwa aku akan menjadi seorang peramal.”
Khadijah
menjawab, “Tidak, saudara sepupuku.
Jangan katakan itu. Allah tidak akan pernah melakukan hal itu kepadamu. Engkau
selalu menyambung tali silaturahmi, engkau selalu jujur, engkau selalu
menunaikan amanat, dan ahlakmu sungguh mulia.“
Saat menyadari
fenomena-fenomena aneh sering dilihatnya, seperti saat Muhammad berjalan di
tengah gulita dan ia merasa ada cahaya yang menerangi jalannya. Ia merasa itu
adalah ilusi atau tanda-tanda kegilaan. Dan Khadijah meyakinkan Muhammad jika
Allah tidak akan melakukan itu padanya. Khadijah menjadi penenang keresahan dan
ketakutan Muhammad. Dan Khadijah adalah orang pertama yang mengikuti Muhammad
memeluk Islam.
Beberapa bulan
berlalu semenjak Muhammad diangkat menjadi rasul. Khadijah turut menyaksikan
peristiwa turunnya wahyu dan masuk Islamnya beberapa orang muslim pertama.
Pengalaman itu menjadikan cahaya keimanan memenuhi hatinya. Ia merasa bahwa
dibalik kesulitan-kesulitan yang ia hadapi, tersisa sebuah tugas suci baginya:
mendorong suaminya, mendampinginya, dan meringankan beban-beban tugas yang
ditanggungnya.
Lima tahun
berlalu sejak kelahiran Fatimah, suatu hari, betapa terkejutnya Khadijah saat
ia merasakan sesuatu di dalam tubuhnya – sesuatu yang tidak asing. Ia heran.
Mungkinkah di usianya yang ke-55 ini ia mengandung lagi? Benarkah perasaannya
ini?
Dalam segala
harapan dan doanya, Khadijah tetap berusaha untuk merahasiakan apa yang
dirasakan di dalam tubuhnya itu. Segenap rasa sakit dan lelah akan
ditanggungnya sendiri hingga ia tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi pada
dirinya.
Namun Khadijah
tak terlalu lama tenggelam dalam harapannya. Rasulullah, suaminya, menghadapi
masalah yang rumit. Beliau sedih karena wahyu terputus sekian lama. Rasulullah
bahkan sempat berpikir untuk melompat dari puncak sebuah bukit. Khadijah
berusaha sekuat tenaga untuk menghibur dan mendorong suaminya agar bersabar.
Dicobanya untuk meyakinkan sang suami bahwa Allah tidak akan meninggalkan dan
mengabaikannya. Peristiwa ini sekali lagi menunjukkan bahwa Khadijah memiliki
pertimbangan yang matang, pemikiran yang seimbang, keimanan yang kukuh, serta
keikhlasan yang total. Allah menganugerahkan kepadanya kemampuan untuk bersabar
menanggung setiap kesulitan dan cobaan dalam memperjuangkan kebenaran serta
mendampingi suaminya tercinta. Khadijah adalah istri dan penasihat terbaik yang
pernah dimiliki Rasulullah.
Kemudian, turunlah
surat adh-Dhuha yang menimbulkan kegembiraan di dalam hati Rasulullah dan umat
Islam. Secara lebih khusus, kegembiraan itu juga dirasakan oleh Khadijah.
Setelah Rasulullah merasa yakin bahwa Allah tidak pernah mengabaikan dan selalu
memuliakannya, tugas Khadijah pun menjadi ringan. Berlalu sudah masa-masa sulit
ketika Khadijah harus melupakan urusan-urusan pribadinya demi kepentingan
menghibur dan menjaga Rasulullah.
Saat itulah
Khadijah merasa bahwa janin di dalam rahimnya mulai bergerak. Khadijah melonjak
girang. Itu berarti ia tidak salah. Ia pun berdoa semoga Allah menganugerahkan
seorang anak laki-laki. Ia pun memberi tahu Rasulullah dan memintanya untuk
ikut memohon dan berdoa kepada Allah bagi kebaikan anak yang ada di dalam
kandungannya.
Rasulullah
sendiri adalah manusia biasa yang juga merasa gembira ketika memperoleh
kebaikan dan merasa sedih ketika ditimpa kesusahan. Tetapi, Allah memberinya
keutamaan di atas manusia-manusia lain dengan ahlak mulia yang menjadikan
segenap perkataan dan perbuatannya menjadi teladan. Beliaulah manusia
sempurna yang memiliki perasaan luhur dan cita-cita mulia.
Tibalah dihari Khadijah menjalani persalinan. Khadijah
melahirkan anak laki-laki. Rasulullah menengadahkan wajahnya ke langit,
bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diterimanya. Lalu beliau
bergegas menemui Khadijah dan mengucapkan selamat. Bayi laki-laki ini kemudian
diberi nama Abdullah.
Namun belum genap Abdullah berusia 2 tahun, Rasulullah dan
Khadijah kembali kehilangan putra mereka. Khadijah kembali ditimpa guncangan
dan kesedihan yang luar biasa. Tetapi, iman kepada Allah jualah yang
menjadikannya bertahan. Diserahkannya segala urusan kepada Allah semata. Ia
yakin bahwa Allah belum menghendakinya memiliki keturunan laki-laki, hal itu pasti
ada hikmah-hikmah tertentu yang barangkali tak tertangkap oleh pikirannya.
Di sisi lain, Muhammad saw. juga merupakan manusia biasa yang – sebagaimana
orang-orang pada masanya – meyakini bahwa harta benda dan anak keturunan
merupakan perhiasan kehidupan dunia. Beliau juga berharap dapat memiliki anak
laki-laki yang tumbuh dewasa dan menjadi pembantu terbaik bagi orang tuanya.
Dalam tradisi Arab saat itu, anak laki-laki bisa mengharumkan nama orang tua,
keluarga, dan kabilah. Anak laki-laki pula yang akan membantu ekonomi keluarga
dan menjaga mereka dari serangan musuh. Begitu pula harapan Rasulullah: seorang
anak laki-laki yang akan menjadi pewarisnya dan akan melahirkan anak cucu yang
saleh.
Orang-orang
musyrik bergembira mendengar berita duka yang dialami oleh Rasulullah.
Kebencian mereka sungguh besar. Bagi mereka, kematian Abdullah menjadikan
Muhammad tidak lagi memiliki pewaris yang dapat melanjutkan misinya. Pengaruh
Muhammad tidak akan bertahan lama. Begitu Rasulullah meninggal, semua
yang dirintisnya semasa hidup akan buyar. Mereka mengatakan bahwa Muhammad
adalah orang yang terputus.
Dan Khadijah, adalah orang yang selalu mendukung Rasulullah
dalam segala kesulitannya. Baik saat dakwah tertutup selama 3 tahun, apalagi
setelah Rasulullah berdakwah secara terbuka. Khadijah adalah orang pertama yang
beriman kepada Rasulullah tanpa sedikit pun merasa ragu. Khadijah pula yang
selalu menenangkan Rasulullah ketika rasa takut dan cemas mencengkram perasan
beliau.
Dalam setiap kesulitan, Khadijah merupakan orang pertama
yang berada di sisi Rasulullah. Ia selalu meyakinkan beliau bahwa Allah tidak
akan pernah mengabaikan orang sebaik beliau. Khadijah senantiasa mencurahkan
cintanya yang paling tulus – cinta yang memberikan ketenangan kepada Rasulullah
dan menjadikan beliau melupakan kesulitan serta rasa lelah dalam perjuangan
menyebarkan Islam. Tidak ada penolakan, penghinanaan, dan pendustaan yang
dihadapi Rasulullah kecuali Khadijah berperan penting dalam meringankannya.
Tidak cukup dengan pikiran dan kasih sayang, Khadijah juga
membelanjakan seluruh hartanya untuk keperluan perjuangan. Segenap suka dan
duka dijalaninya bersama suaminya tanpa keluh kesah. Karena itu Allah sendiri
berkenan untuk mengirimkan salam kepada Khadijah melalui Jibril. Allah juga
menjanjikan bagi Khadijah sebuah rumah yang terbuat dari permata di surga.
Dua puluh lima tahun lamanya Khadijah hidup bersama Rasulullah, mengarungi hidup rumah tangga
dengan penuh cinta. Khadijah mulai sakit-sakitan. Ia semakin lemah, seperti
pohon mawar yang perlahan-lahan layu dan mengering, kemudian berguguran
daun-daunnya. Ia tergolek di atas pembaringan.
Pada masa-masa sakit Khadijah, Rasulullah setia menunggui
istri beliau itu, memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Khadijah
meninggal tanggal 10 Ramadhan, tahun 10 kenabian, sebulan lebih 5 hari semenjak
kematian Abu Thalib, paman sekaligus pelindung Rasulullah. Kesedihan terjadi
dimana-mana, Khadijah dikuburkan di Hujun. Rasulullah kembali tenggelam dalam
dukanya. Tapi beliau tidak terlalu lama larut dalam perasaannya. Hati beliau
yang dipenuhi oleh cahaya iman segera pulih.
Dan berikut pernyataan Rasulullah mengenai Khadijah: “Tidak. Demi Allah, aku tidak pernah mendapat
pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia yang beriman kepadaku ketika
semua orang ingkar. Ia yang mempercayaiku tatkala semua orang mendustakanku. Ia
yang memberiku harta pada saat semua orang enggan memberi. Dan darinya aku
memperoleh keturunan, sesuatu yang tidak kuperoleh dari istri-istriku yang yang
lain.”
Dan berikut kisah Aisyah mengenai Khadijah: “ Aku tidak pernah merasa cemburu kepada
seorang wanita sebesar rasa cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak pernah
melihatnya, tetapi Rasulullah sering menyebut dan mengingatnya. Ketika
menyembelih kambing, beliau memotong sebagian dagingnya dan menghadiahkan
kepada sahabat-sahabat Khadijah. Aku pernah berkata pada Rasulullah, ‘Seperti
tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah’. Rasulullah menjawab,
‘Khadijah ini begini dan begitu, dan dari dialah aku memperoleh anak’.”
-@-
Well, itulah
sepenggal kisah tentang 2 manusia termulia sepanjang sejarah. Untuk lengkapnya,
gw saranin temen-temen untuk membaca sendiri buku ini…secara ya…tebalnya 363
halaman…jadi gw punya keterbatasan untuk menceritakan kembali isi buku tersebut
secara lebih banyak.
Kita mungkin tak akan pernah mampu untuk menyamai kemuliaan
Muhammad dan Khadijah, termasuk dalam hidup berumah tangga. Tapi, 2 syair
renungan singkat di bawah ini (bukan bikinan gw ya!), mungkin sedikit memberi
kita motivasi untuk memperbaiki kualitas diri.
Sebuah Syair Renungan Singkat untuk Laki-laki
Pernikahan
atau perkawinan,
menyingkap tabir rahasia.
Isteri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
Pun tidak setabah Fatimah.
Justru isteri hanyalah wanita akhir zaman
Yang punya cita-cita menjadi solehah……
Pernikahan atau pun perkawinan,
mengajar kita kewajiban bersama.
Isteri menjadi tanah, kamu langit penaungnya,
Isteri ladang tanaman, kamu pemagarnya,
Isteri kiasan ternakan, kamu gembalanya,
Isteri adalah murid, kamu mursyidnya,
Isteri bagaikan anak kecil, kamu tempat bermanjanya,
Saat isteri menjadi madu, kamu teguklah sepuasnya,
Seketika isteri menjadi racun, kamulah penawar bisanya,
Seandainya isteri tulang yang bengkok, berhatilah meluruskannya.
Pernikahan atau perkawinan,
Menginsyafkan kita perlunya iman dan taqwa.
Untuk belajar meniti sabar dan ridha,
Karena memiliki isteri yang tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Rasulallah,
Pun bukanlah Saidina Ali Karamallauwajhah,
Cuma suami akhir zaman, yang berusaha menjadi soleh…
Amin.
Sebuah Syair Renungan Singkat untuk Perempuan
Pernikahan
atau pun perkawinan,
Membuka
tabir rahasia.
Suami
yang menikahi kamu,
Tidaklah
semulia Muhammad,
Tidaklah
setaqwa Ibrahim,
Pun
tidak setabah Ayub,
Ataupun
segagah Musa,
Apalagi
setampan Yusuf,
Justru
suamimu hanyalah pria akhir zaman, yang punya cita-cita
Membangun
keturunan yang soleh….
Pernikahan
ataupun perkawinan,
Mengajarkan
kita kewajiban bersama.
Suami menjadi pelindung, kamu penghuninya,
Suami menjadi nahkoda kapal, kamu navigatornya.
Suami bagaikan balita yang nakal, kamu adalah penuntun
kenakalannya,
Saat suami menjadi raja, kamu nikmati anggur
singasananya,
Seketika suami menjadi bisa, kamulah penawar obatnya.
Seandainya
suami masinis yang lancang,
Sabarlah memperingatkannya….
Pernikahan ataupun perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa,
Untuk belajar meniti sabar dan ridha,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Khadijah,
Yang begitu sempurna di dalam menjaga,
Pun bukanlah Hajar,
Yang begitu setia dalam sengasara.
Cuma wanita akhir zaman,
Yang berusaha menjadi solehah….
Amin.