Bukan Perempuan BIasa

"Mamah jadinya berangkat Jumat, nginap dulu di Bandung. Kan biar bisa nengok Yessy dulu. Biar adil. Sabtu subuh, berangkat ke Jakarta."

Hmmm….diantara setumpuk pekerjaannya, Mamah berusaha memberi waktu untuk buah hatinya. Dan itulah sosok Mamah yang gw kenal. Secara kuantitas, dulu gw memang gak banyak ketemu sama Mamah, karena kami tak tinggal satu rumah. Tapi secara kualitas, kedekatan gw dan Mamah sering bikin sirik teman-teman gw, yang satu atap dengan orang tuanya. Karena hubungan kami tak sekedar sebagai ibu dengan anak, tapi juga sahabat. Nyokap gw adalah tempat curhat gw yang paling terpercaya dan paling "aman" (karena gak bakal diumbar sama orang lain kan?). Begitu pula sebaliknya, gw jadi tempat curhat Mamah. Hubungan yang sangat sederhana dan informal. Bahkan nih, Mamah tuh gak pernah sungkan minta maaf sama gw jika dia merasa melakukan kesalahan. Mamah juga sangat terbuka menerima masukan dan kritik dari gw. Gw salut banget sama Mamah.

Banyak hal yang gw kagumi dari sosok yang gw anggap bukan perempuan biasa ini. Dulu, gw pernah mempertanyakan kenapa Mamah selalu memaafkan orang yang sudah berkali-kali melakukan kesalahan yang sama. Tidakkah Mamah "kapok"? Toh setelah Mamah maafkan, dia akan mengulang kesalahan yang sama! Akan kembali menyakiti hati Mamah! Tapi Mamah pernah bilang, jika sabar itu tak ada batasnya. Subhanallah! Dan setelah gw beranjak dewasa, gw mulai mengerti, jika "diamnya" Mamah, bukan berarti dia lemah dan kalah. Tapi justru di sanalah letak kekuatan Mamah.

Mamah gw emang cukup "berbeda" dengan orang tua pada umumnya. Gak cuma karena dia sengaja menciptakan hubungan yang santai dan bersahabat dengan anak-anaknya, tapi juga niiiiiih….nyokap gw udah ngasih pendidikan seks sejak gw kecil. Padahal, banyak orang tua teman-teman gw saat itu, sangat mentabukan seks. Tapi tentunya ya….materi yang diberikan nyokap gw disesuaikan dengan umur gw.

Sejak SD, gw sudah diperkenalkan pada alat-alat kontrasepsi dan fungsinya (kebetulan saat itu nyokap kerja di BKKBN). Menurut nyokap, seks itu pengetahuan. Dan dengan bertambahnya umur gw, konten pun disesuaikan. Apalagi setelah gw masuk masa remaja. Nyokap menjelaskan alat-alat reproduksi manusia sampai pada apa itu hubungan intim, termasuk tentang aturan dan "konsekuensi" dari perbuatan tersebut. Dan itu membuat gw jadi ngerti kenapa Mamah melarang keras gw pacaran saat itu.

Saat SMA, gw pernah nanya, kenapa Mamah "beda" dengan orang tua teman-teman gw yang sangat mentabukan seks. Terus, Mamah gw bilang, agar gw punya pengetahuan soal seks dan mendapatkannya tidak dengan cara yang salah, misalnya dari buku cerita or film porno. Masa remaja adalah masa dimana manusia ingin tahu lebih banyak dan penasaran dengan berbagai fenomena di sekitarnya, dan punya ketertarikan pada lawan jenis. So, nyokap ingin gw punya tempat bertanya yang tepat. Dan ternyata…emang ampuh juga. Heheheheh…nuhunnya, Mah.

Leave a Reply