Latao

Seorang lelaki bernama Latao. Butuh perjalanan panjang bagi gw dan Andri (seorang kameramen) untuk bisa menemuinya. Pertama, kami harus terbang  ke Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Tengah hari, dengan kapal motor cepat, kami berlayar ke Bau-Bau di pulau Buton selama 4 setengah jam. Pukul 10 malam, kaWakatobi5mi melanjutkan perjalanan ke pulau Wangi-Wangi, di selatan pulau Sulawesi. Tak ada alat transportasi lain kecuali dengan menumpangi kapal kayu (yang baru gw sadari belakangan jika di kapal tersebut  tidak disiapkan pelampung, apalagi sekoci untuk penumpang). Kami tiba di tujuan pada waktu menjelang subuh.

Selanjutnya, pukul 9 pagi kami bertolak ke pulau Kaledupa dengan speed boat. Di pulau itulah Latao tinggal. Perjalanan kali ini hanya 2 jam, tapi sangat menegangkan. Ombak lebih tinggi dari speed boat. Dan yang bikin was-was, karena dengan santainya si sopir speed boat naik dan duduk di atas hanjungan speed boat. Dia makan dan meninggalkan setir speed boat tanda ada yang mengendalikan. Gw perhatikan para penumpang yang lain. Tapi rupanya, hanya gw dan Andri yang bermuka tegang.

Tiba di Ambeua, ibukota kabupaten Kaledupa, kami melanjutkan perjalanan ke dusun Umala dengan  naik ojek. Jaraknya hanya 3 kilometer, tapi medan yang ditempuh adalah tanjakan dan turunan tajam dengan jalan berlapis batu kapur yang terjal.

Apakah perjalanan sudah selesai sampai di sini? Rupanya belum. Di dermaga super mini, kami menunggu sampan yang akan mengantar kami ke perkampungan Wakatobi6 suku bajo, yang lokasinya di tengah laut. Mereka mengurug laut dengan batu karang dan membuat 3 dusun, yaitu Mantigola Barat, Mantigola Timur, dan Mantigola Selatan. Dan rumah Latao berada di dusun Mantigola Barat. Well, apa istimewanya Latao sehingga kami bela-belain menemui dia?

Latao hanya seorang guru, tepatnya guru tsanawiyah.Tapi kecintaan dan dedikasinya pada mengajar, membuat dia menjadi guru bukan sembarang guru.

Wakatobi4

Latao mengajar di sekolah yang ia rintis sendiri sejak tahun 2002. Awalnya ia hanya mengajar mengaji anak-anak suku Bajo di Mantigola. Lalu ia mendirikan kelas tsanawiyah jarak jauh, yang selanjutnya berkembang menjadi tsanawiyah mandiri dengan status terdaftar. Latao ingin anak-anak di Mantigola menjadi pintar dan bisa membaca al-Quran. Latao adalah satu-satunya suku bajo di sana yang menjadi guru Tsanawiyah.

Setiap pagi, Latao selalu memulai hari dengan sholat subuh berjamaah di mesjid. Pukul setengah 7 pagi, waktunya ia pergi mengajar. Ia sering mengajak anak-anak didiknya naik sampannya. Bahkan tak jarang, ia menjemput murid-muridnya. Kemudian, bersama 31 orang muridnya, yang semuanya anak-anak suku Bajo di Mantigola, ia bersampan ke daratan.

Tiba di darat, mereka berjalan kaki sejauh 2 kilometer menuju sekolah Aliyah, dimana mereka meminjam 1 ruang kelas untuk belajar. Melewati ilalang, melewati jalanan berdebu kapur. Sebuah perjalanan yang melahirkan ikatan persahabatan antara sang guru dengan murid-muridnya.

Wakatobi3

Dalam 1 ruang kelas, Latao mengajar murid kelas 1 sampai kelas 3 secara bergantian. Jika ia sedang mengajar murid kelas 1, maka ia akan menyuruh ketua kelas 2 dan 3 untuk membacakan buku pelajaran pada teman-temannya. Ya….Latao hanya memiliki 1 buku panduan untuk masing-masing mata pelajaran. Sebetulnya, ada 9 guru yang bertugas mengajar di sekolah Latao. Tapi hanya Latao yang selalu datang tiap hari.

Untuk semua jerih payahnya, Latao hanya mendapat honor dari Departemen Agama Kendari sebesar Rp 1.200.000,- SETAHUN. Ia pun tak mau memaksa muridnya membayar SPP. Yang penting baginya, murid-muridnya datang ke sekolah. Soal SPP, ia bebaskan murid-murid membayar sesuai dengan kemampuan masing-masing. Alhasil, tak jarang untuk operasional sekolah, seperti membeli kapur dan penghapus, ia harus merogoh kocek pribadi. “Apa pun yang terjadi pada saya, saya ingin tetap mengajar”, tutur Latao.   

Wakatobi2Dari 11 bersaudara, hanya Latao yang berpendidikan tinggi. Ia adalah sarjana, lulusan IAIN Kendari. Sedangkan saudara-saudaranya, hanya lulusan SD dan tsanawiyah. Jadi sebetulnya, Latao adalah harapan keluarga. Tapi Latao sangat mantap dengan pilihannya, menjadi seorang guru, meski berpenghasilan super minim.

Tak jarang, Latao menghadapi benturan ekonomi. Apalagi ia sudah menikah. Jangankan untuk membeli pakaian, untuk membeli beras pun terkadang sulit. Tak heran, jika ada kalanya Latao tergoda untuk ganti profesi. Tapi godaan itu selalu hilang dengan sendirinya, menguap oleh bara semangat Latao untuk mengajar. Saat gw bertanya, mengapa ia tetap bertahan dengan kondisi seperti ini, berikut kutipan jawaban Latao:

“Yang penting saya mengamalkan ilmu yang saya dapat di perguruan tinggi. Dari pada ilmu yang kita dapat, kemudian tidak kita amalkan pada sesama, berdosa juga”.

@@@@@

Terima kasih pada Didit (produser gw saat itu) yang telah meng-approve risetan gw untuk dieksekusi, 2 tahun lalu. Sehingga meski hanya 3 hari bersama Latao, gw mendapat ilmu yang tak pernah diberikan guru-guru lain sepanjang hidup gw J

Leave a Reply