Why ???

Again!!! Lagi-lagi gw mendengar kisah seperti ini. Saat adat, tradisi, suku, dan hal-hal lain yang sejenis, lebih diutamakan ketimbang aturan-aturan yang sudah digariskan agama. Teman kuliah gw pernah ngalamin. Sepupu gw. Mama gw. Dan gw sendiri.

Saat manusia mempersulit jalan yang sudah dimudahkan-Nya. Bukankah Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal? Tak ada satu pun suku atau bangsa yang diciptakan lebih baik atau lebih buruk dari bangsa or suku lainnya, right?

Gw jadi teringat pada 2 peristiwa “besar” di keluarga besar gw. Peristiwa yang dialami 2 orang sepupu gw. Kalau gak salah, kejadiannya saat gw masih SMP or SMA dan setelah gw kuliah. Kedua sepupu gw adalah perempuan. Dan keduanya pernah menghadapi masalah serupa tapi tak sama.

Kisah sepupu gw yang pertama. Saat itu dia hendak menikah dengan seorang laki-laki yang udah jadi pacarnya sejak mereka masih kuliah. Calonnya ini memang berbeda suku dengan sepupu gw yang campuran Jawa-Sunda. Tak disangka, adat dan tradisi melahirkan masalah yang alot pada sepupu gw dan calon suaminya. Keluarga calon suami sepupu gw meminta keluarga sepupu gw yang “melamar” dan “membeli” pihak laki-laki. Sementara, keluarga sepupu gw tetap berteguh jika pihak laki-laki lah yang harusnya melamar.

Singkat cerita, tak ditemukan titik temu diantara kedua belah pihak. Yang ada, justru muncul masalah lain. Hingga akhirnya keluarga besar gw merasa sangat tersinggung oleh pernyataan dan sikap keluarga calon sepupu gw. Walhasil, suku calon suami sepupu gw itu sempat di-black list keluarga besar gw. Tapi untung gak berlangsung lama….selanjutnya….pemilihan dikembalikan pada penilaian personal ketimbang latar belakang suku….Thanks God!

Segala cara dan pendekatan sudah dilakukan sepupu gw dan calonnya. Perjuangan yang cukup panjang meski hasilnya tetap tak menemukan titik temu. Akhirnya, keduanya memutuskan untuk tak melanjutkan niat mereka untuk menikah.

@@@

Kisah sepupu gw yang kedua. Sepupu gw bertaaruf dengan seorang laki-laki. Meski hanya dengan proses perkenalan yang singkat, keduanya yakin untuk menyempurnakan separuh ibadah. Sayangnya, niat ini tak bisa segera mereka realisasikan. Orang tua calon suami sepupu gw kurang setuju dengan pilihan anaknya. Penyebabnya, karena sepupu gw tak berdarah biru. Meski secara ekonomi keluarga sepupu gw tergolong lebih dari mampu, tapi kami bukan keturunan ningrat.

Hambatan ini tak menyurutkan langkah keduanya untuk terus berusaha mencairkan gunung es. Terutama calon suami sepupu gw yang bersungguh-sungguh membuka pandangan kedua orang tuanya. Meski alot dan berliku, tapi alhamdulillah, akhirnya ijab kabul pun bisa terlaksana. Kini, mereka hidup sederhana bersama keempat anak mereka di sebuah kota di Jawa Tengah.

@@@

Meski kedua sepupu gw mendapatkan "titik akhir" yang berbeda, tapi ada persamaan mendasar pada keduanya. Mereka telah memaksimalkan ikhtiar. Memperjuangkan apa yang mereka yakini benar dan bersabar dalam "menaklukan" prinsip dan pandangan keluarga. Sementara hasilnya, mereka serahkan pada-Nya. Gw salut!

Leave a Reply