Archive for May, 2007

Jadi “Narasumber” dadakan

Saturday, May 26th, 2007

Pesawat mendarat sekitar pukul 5 am. Dua orang penjemput sudah menunggu tepat di depan pintu kedatangan. Yang satu, seorang guide dari travel agent yang bisa berbahasa Indonesia dengan logat Jawa, sehingga gw mengira dia orang Indonesia. Tapi ternyata dia orang Cina Daratan tulen! Kebetulan aja ibunya orang Kediri sehingga di rumah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Yang satunya lagi pegawai Viva Macau Airlands (yang ngundang gw dan wartawan lain ke Macau), seorang Portugis. Mewakili teman-teman yang lain, gw bertanya pada kedua orang penjemput itu: dimanakah praying room? Dan ternyata…..di bandara internasional Macau gak ada musholla! Untungnya waktu shubuh di sana adalah 5:30 am, jadi masih sempat shubuh di hotel.

Dari sinilah, si wanita Portugis bertanya, berapa kali dalam sehari gw sholat, agar dia bisa alokasikan waktunya dalam itinerary. Setelah dua hari bersama, kami jadi cukup akrab. Mungkin karena gw satu-satunya perempuan dalam rombongan wartawan, sehingga dia selalu bareng sama gw. Dia pun mulai berani mengajukan beberapa pertanyaan, yang selalu diawali dengan kalimat: "may I ask you something?". Jika prolognya seperti itu, gw udah bisa menebak topik pertanyaannya: seputar Islam.

Yup, semakin hari, semakin banyak pertanyaan yang dia ajukan tentang Islam (padahal kan yang wartawan itu gw….jadi gw ya yang harusnya banyak tanya?! heheheheh). Pertanyaan-pertanyaan dasar dan sederhana, namun ternyata tak mudah juga buat gw untuk menjelasannya. Pertama, karena ilmu agama gw minim banget. Kedua….karena gw harus menjelaskannya dalam bahasa Inggris!!!! Pusing juga…. Inggris gw kan ancur banget hehheheheh. Dan ketiga, gw harus menjelaskannya dalam "bahasa" yang bisa dia "mengerti"…..soalnya, dia bilang: "I don’t believe in God but I believe in man." Makanya, dia gak menganut agama apapun.

Contoh pertanyaan dia: Berapa kali muslim sholat dalam sehari? Apa bedanya dari kelima sholat wajib itu? Apa tujuan sholat? Kenapa gw memakai jilbab? Apa itu jihad? Bagaimana perempuan dalam Islam? Dan kenapa gw percaya Tuhan?

Dan saat dia melihat gw selalu meminta makanan non pork dan tak pernah meminum wine (karena selalu ada wine di setiap jamuan), dia bertanya: tidakkah gw merasa penasaran untuk merasakan pork dan wine? Apa yang membuat gw bergeming untuk tidak mencoba makan pork dan meminum wine?

Dan tahukah apa yang terjadi kemudian….dia semakin menunjukkan rasa ingin tahunya akan Islam. Dia juga menceritakan bagaimana pandangan dia selama ini terhadap muslim dan Islam. Duuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh ternyata banyak banget persepsi yang salah ya?! Gak heran jika dia sering menunjukkan ekspresi "oooooh" saat gw menjelaskan. Dia bilang, kalau selama ini dia ingin sekali bertanya, tapi gak pernah ketemu tempat untuk bertanya. Dia juga bilang kalau dia sangat takut mengajukan pertanyan yang salah, pertanyaan yang akan menyinggung. Makanya di awal-awal dia selalu terlihat ragu dan sungkan untuk bertanya. Dan setelah tahu kalau gw sangat tidak keberatan dengan pertanyaan-pertanyaannya, dia kelihatan antusias banget.

Oya…ada satu kejadian yang sangat gw ingat. Waktu itu kami sedang duduk di sebuah taman (sementara kameramen gw sedang sibuk ngambil gambar…gw malah ngobrol ya…hehhehe…). Dengan sedikit ragu, mungkin takut akan reaksi gw, dia cerita kalau dia dan tunangannya udah tinggal bersama. Obrolan pun jadi berlanjut ke topik relationship. Dia menceritakan alasan kenapa dia tinggal bareng sebelum menikah: untuk memastikan he is the right person. Lalu dia bertanya sama gw: jika suatu hari nanti gw ketemu dengan seorang laki-laki, dan saling suka (maksudnya sih "klik"), apakah  gw akan langsung menikah dengan  laki-laki itu?

Well ….8 hari bersama….menjadi "narasumber" dadakan….semoga gw tak memberikan penjelasan yang keliru….karena sampe sekarang, ternyata kepikiran juga….takut ada yang salah gw jelaskan sehingga salah juga persepsinya…..

Sedih deh :(

Saturday, May 5th, 2007

Minggu pagi, gw baru saja selesai bertugas on air Reportase Pagi. Dari control room, gw beranjak ke ruang redaksi. Saat melewati deretan pesawat televisi, sayup-sayup terdengar narasi dari sebuah program infotainment, bercerita tentang Tamara Bleszynski yang mendatangi rumah mantan suaminya untuk bertemu Rasya, sang buah hati. Namun dia harus berlapang dada, berdiri di depan pagar dan tak bisa menemui Rasya.

Selama ini gw termasuk orang yang gak up to date tentang "kabar" selebritis. Tapi, ada 2 kasus selebritis yang belakangan ini "mengundang" perhatian gw. Tamara Bleszynski dan Ahmad Dani-Maia Ahmad. Gw merasa getir, sedih, dan prihatin.

Gw pernah bertanya pada mamah, kenapa dua orang yang semula saling menyayangi bisa jadi saling membenci?  Nyokap bilang, karena cinta dan benci sangat tipis batasnya. Well...soal ini akhirnya bisa gw pahami karena gw pun pernah ngalamin sendiri. First love gw adalah orang yang sebelumnya gw benci….ini namanya kualat ya? hehehheh….

Tapi, gw masih tak bisa memahami, bagaimana dua manusia yang kemudian saling membenci itu, lebih mempedulikan dirinya ketimbang hati-hati lugu yang terluka. Jika suami istri harus berpisah, tak bisakah menghindari konflik terbuka? Agar hati-hati lugu itu tak bingung….tak terluka.

Setiap pasangan suami istri yang berpisah akan punya peluang untuk membangun hidupnya kembali dan meraih kebahagian dengan orang lain. Dengan pasangan yang baru. Tapi bagaimana dengan anak-anak mereka?  Melihat orang tua saling membenci dan menyakiti…pasti akan menjadi luka terdalam bagi anak, dan mungkin menoreh trauma.

Mengumpulkan Keberanian

Saturday, May 5th, 2007

Siapakah orang paling sulit kita bujuk atau kita yakinkan untuk melakukan / tidak melakukan sesuatu?
Menurut gw, dia adalah diri kita sendiri…
Kadang kita "kehilangan akal" untuk meyakinkan diri kita sendiri agar berani melangkah or membuat keputusan. Rasa khawatir bahkan takut akan segala resiko dan konsekuensi, sering kali membuat diri jadi maju mundur. Kita jadi tak percaya diri pada kemampuan sendiri.
Padahal, mungkin yang terjadi nanti tidak akan seberat yang kita bayangkan. Tapi mengumpulkan keberanian dan kemantapan hati, kadang tak semudah yang kita harapkan. Terutama jika itu menyangkut sesuatu yang "besar" or "penting" buat "masa depan".
Duuuuh…kadang kesel juga ya?….Kesel pada diri sendiri yang jadi pengecut!
Meski hati dan pikiran sangat yakin jika usaha, doa, dan tawakal, adalah kunci untuk meraih apa pun dalam hidup ini….tapi tetep aja….alam bawah sadar berbicara lain.

Jika Mata Bicara

Thursday, May 3rd, 2007

Kucoba terus tak menoleh.
Namun akhirnya aku melihatnya juga,
tatapan keruh tanpa cahaya.

Bukankah dulu aku pergi agar kamu tersenyum?
Bukankah dulu aku pergi agar kamu tak lagi gamang?
Tapi, kenapa bukan itu yang diceritakan matamu?
Tidakkah ia bisa membuatmu tertawa?
Tidakkah ia membuatmu "feel at home"?

Tak ada lagi kata terucap untuk memohon, seperti dulu.
Saat aku tetap bergeming.
Namun kini, sinar pilu itu justru menusuk hati.

Jahatkah diri jika berusaha tetap tak peduli?
Tapi benarkah jika kubiarkan diri luruh?