cinta itu…

Tulisan seorang teman dalam blogsnya, membuat ingatan gw
kembali kemasa-masa “muda” (red. masa kuliah). Soalnya, isi tulisan tersebut
seputar cinta. Satu tema yang paling
laris manis untuk dibahas sepanjang masa, apalagi dijadikan lirik lagu,
skenario film dan sinetron.

Mungkin, gw termasuk orang yang telat puber, karena baru
merasakan jatuh cinta setelah umur hampir merayap ke kepala 2. Dan jika gw
mengingat apa saja yang gw lakukan saat itu, gw selalu menggeleng-gelengkan
kepala dan merasa malu pada diri sendiri. Abis norak banget sih! Hehehhehe

Meski merasakan first love di umur yang tak lagi bau kencur,
tapi ternyata gw sempat tergagap juga. Yaaa…mungkin karena bagaimana pun, itu
adalah pengalaman pertama, sehingga gw masih bingung sekaligus “exiting”.

Orang bilang, seseorang yang sedang jatuh cinta, akan caper
alias cari perhatian jika orang yang dia suka ada di sekitarnya. Tapi gw malah
sebaliknya, gw langsung terdiam
seribu bahasa. Seingat gw, saat menyadari kehadiran CT gw (red. Cinta Terpendam
= duuuh bahasa ABG banget ya!!), lutut langsung terasa lemas dan gw jadi mati
gaya …hahahhaah…..jadi geli mengingatnya.

Keterbatasan ilmu dan lemahnya pondasi, membuat gw sempat
salah kaprah mendefinisikan sebuah rasa yang pada dasarnya memang sebuah  “gift”.  Salah
satu yang gw ingat, gw sering membuat teman-teman gw gemes karena gak pernah
mau melirik kanan kiri.

“Duuh tuh cowok
ganteng banget! Lihat deh, Ty!“

“Biasa aja, ah“, respon gw datar, setelah
melihat selintas dengan enggan.

Yup, saat itu gw
berpikir, melirik cowok lain berarti menghianati perasaan gw. Gw bak
menggunakan kacamata kuda, seolah tak ada cowok lain di bumi ini. Ya ampun,
sampe segitunya!

Persepsi yang
salah, juga membuat gw membiarkan perasaan itu tumbuh tanpa kendali.  Gw bahkan memupuknya agar tumbuh semakin
subur. Gak heran jika akarnya makin merambat hingga ke lapisan tanah paling
dasar dan batangnya terus menjulang. Saat itu gw tak berpikir, apakah gw sudah
memberikan perasaan itu pada seseorang yang memang “berhak“ menerimanya. Bahkan
saat ada yang mengingatkan gw, bahwa cintailah seseorang karena cintamu pada
Allah dan cintanya pada Allah, gw belum mampu memahaminya. Rasanya itu masih
terlalu berat.

Tapi, kesalahan
di masa lalu bisa kita jadikan pelajaran berharga, kan? Karena tentunya, gw gak
mau jatuh di tempat yang sama untuk kedua kalinya, apalagi ketiga kali!

Setidaknya,
pengalaman itu membuat gw bisa lebih jernih mendefinisikan rasa yang menjadi
fitrah manusia tersebut. Gw jadi tahu, jika sebetulnya ada 2 pilihan saat kita
jatuh cinta: kita dikendalikan perasaan atau kita yang mengendalikan perasaan?

MENGENDALIKAN
PERASAAN
, terdengar sulit untuk dilakukan. Dan memang sulit! Tapi itu jauh
lebih “aman“ ketimbang pilihan yang pertama. Lebih “aman“ karena kita terhindar
dari harapan berlebih, angan-angan yang bisa jadi bumerang, dan perihnya patah
hati. Gw jadi mengerti, kenapa Allah menyuruh kita menjaga hati dan kenapa Dia
tak menyukai hal-hal yang berlebihan. Karena hasilnya, kita juga yang
menikmati.

Beranjak dari
pengalaman pertama, selanjutnya gw hanya mengijinkan diri merasakan cinta di
permukaan. Begini maksudnya….
Sebagai manusia,
ketertarikan pada lawan jenis udah datang dari sononya. Jatuh cinta kedua kali,
ketiga, keempat dan kesekian kali…menjadi pengalaman gw selanjutnya. Tapi
belajar dari yang pertama, gw berusaha untuk tidak membiarkan“nya“ lebih dari
suka, kagum, atau simpatik. Hasilnya, gw sendiri yang menikmati.
Karena
berbeda dengan yang pertama, saat begitu sulitnya untuk move on, yang
selanjutnya gw bisa recovery dengan express.

Well, cinta memang buta. Karena kita tak perlu seseorang
berwajah ganteng or cantik untuk bisa jatuh cinta setelah melihatnya. Tapi kita
punya hati yang bisa merasakan dan otak yang bisa berfungsi sebagai “rem“. Ya
gak?! Karena cinta itu indah, tapi bisa jadi "musibah".

2 Responses to “cinta itu…”

  1. Fridz Says:

    mo insert komen ahhh, kok sama sih kalo ada cem2an tiba2 aja ngerasa musti jadi patung, ga gerak, n jangan ampe tu cem2an notis kalo kite ade. Wah tapi itu gaya 90-s, sekarang sih gak lagi.. coz emang kagak demen cem2an lagi hahahahaha

  2. AsTY Says:

    ya iyalah…hari gini masih ngurus cemceman…gak jamannya lagi :P Cari yang pasti-pasti aja deh!! daaaaaaaaaaan satu yang penting,In …IKHTIAR! :D

Leave a Reply