Istana Kecil di Hutan Kasino
Mata gw masih terasa berat, mungkin karena gw baru tidur 2 jam. Tapi jam 4 pagi itu, gw harus segera meluncur ke daerah Moloyeen. Untungnya tak sulit untuk mendapatkan taksi di depan hotel, meski masih di pagi buta. Maklumlah, di kota ini judi berdenyut 24 jam, dan hampir di setiap hotel terdapat kasino.
Setelah menjemput seorang kenalan di daerah San Malou, yang memberi gw informasi tentang tempat yang akan kami liput pagi itu, kami segera bergegas ke tempat tujuan. Kami ingin tiba di lokasi sebelum adzan subuh.
Daan tibalah kami di depan gerbang halaman Mesjid Macau. Satu-satunya mesjid di kota itu. Sayangnya, gerbang digembok. Kami jadi harus berteriak, berharap ada orang di dalam mesjid, sehingga ada yang bisa membukakan pintu pagar.
Akhirnya, seseorang datang dan membukakan kunci gembok. Betapa terperanggahnya gw saat mesjid sudah di depan mata. Ada pilu merayap di hati. "Ya Allah, kecil sekali!" . Ukuran mesjid hanya 6,5 m x 12 m. Rasanya, lebih cocok disebut musholla. Bayangan orang-orang yang ramai-ramai datang ke mesjid untuk berjamaah sholat shubuh, yang sebelumnya ada di kepala gw, menghadapi realita yang sangat berbeda. Pagi itu, hanya ada 4 orang yang datang ke mesjid, dan salah satunya datang bersama gw dan kameramen gw.
Dua orang dari ketiganya ternyata orang Indonesia yang sengaja datang ke Macau dalam rangka dakwah. Setiap hari minggu, di mesjid ini diadakan pengajian untuk para TKI di Macau. Lalu bagaimana dengan penduduk lokal?
Gw mendengar realita yanng sangat miris. Jumlah muslim yang semula sekitar 45 % dari penduduk Macau, kini cuma tinggal kurang lebih 45 orang!!!! Islam yang dibawa oleh orang Pakistan, hanya mampu bertahan hingga generasi kedua. Setelah generasi kedua meninggal, mayoritas keturunan mereka tak lagi memeluk Islam. Mereka kini menyembah dewa dan dewi. Jangan harap menemukan anak atau cucu yang sedang membaca Fatihah or Yasin di makam-makam yang ada di samping masjid. Yang mereka lakukan justru membakar dupa dan menaruh sesajian (termasuk daging babi).
Minimnya dana dan kurangnya SDM , membuat Islam makin terkikis di Macau. Untungnya, masih ada segelintir orang dari Indonesia dan Malaysia yang menyengajakan datang ke sana untuk berdakwah. Tapi itu sangat tak cukup untuk memberi energi iman muslim di sana. Semoga, akan bertambah orang-orang yang peduli. Amin.