Kata Hati
Baru saja kaki gw menapak di Depok, HP berdering. Di layar muncul nomor kantor.
"Halo"
"Ty, rumahmu dimana?"
"Di mampang, Mas"
"Ty, gimana kalau kita rapat pulang kampung?"
"Tapi saya lagi di Depok, Mas, mau ngurus transkrip nilai."
"Oooh, gitu. Ya udah. Tadinya gw pengen kita rapat hari ini. Ya udah kalau gitu besok aja."
Panggilan di hari libur, bukan hal aneh sejak gw menjadi kuli tinta. Tapi, untungnya pagi ini gw mengikuti kata hati. Meski badan capek sehingga males banget keluar kamar, tapi sejak semalam, feeling gw terus-terusan ngajak ke Depok. "Ayo Ty, mumpung libur. Ngurus transkrip nilai kan gak bisa sehari. Ayo pergi hari ini!"
Akhirnya, dengan malas-malasan gw meluncur ke Depok. Daaaan untungnya gw mengikuti kata hati hehehhehehe….pertama karena gw tak terus menunda ngurus transkrip nilai….kedua…hehehhehe….gw "terselamatkan" dari bekerja di hari libur
Untungnya bukan rapat urgent…jadi bos gak insist rapat hari ini hehhehehe
Sebelum ke Fisip, gw setor ke BNI dulu, lalu ke Mesjid UI buat zuhur. Merasakan kembali kedamaian di tempat itu. Kayaknya, mesjid UI adalah satu dari sedikit "penghuni" UI yang gak berubah. Rupa dan suasananya…masih seperti dulu. Jadi ingat waktu jaman bikin skripsi. Gw sering numpang baca buku di tempat itu. Suasana yang tenang dan peace banget, bikin gw lebih bisa konsen untuk memahami buku-buku yang harus gw lalap. Apalagi perpus Mesjid UI menyediakan buku-buku referensi yang gw butuhkan.
Jam 1 lebih 10 menit, setelah gw yakin jika SBA FISIP udah kembali buka (lepas dari jam istirahat), gw pun bergeser ke kampus yang sudah banyak berubah rupa, hingga gw agak kebingungan juga.
Tapi gw menemukan seseuatu yang masih sama saat sampe di loket SBA. Pak Markijo masih setia duduk di balik loket. Lelaki paruh baya itu menjelaskan dengan ramah, bagaimana prosedur untuk membuat translate ijazah dan transkrip nilai. Dan ternyata gw menghadapi masalah! Karena gw mengira tak perlu dibawa, maka gw gak membawa transkrip nilai asli ataupun fotokopinya. Gw hanya membawa ijazah.
So…berarti gw harus balik lagi lain waktu, membawa semua dokumen yang disyaratkan. Cuapek deeeh
Mungkin Pak Markijo bisa membaca air muka gw, maka dia menawarkan untuk mencoba mencari file transkrip nilai gw. "Ya udah, coba saya carikan. Mbak duduk aja dulu di sana, karena mungkin akan lama."
Tapi ternyata gw tak perlu menunggu terlalu lama, Pak Markijo sudah kembali muncul dengan membawa bundelan kertas nilai.
"Ketemu nih, Mbak. Cuma dibendel, jadi gak bisa difotokopi. Ya udah, nanti saya bikinnya liat dari sini aja. Sekarang Mbak tinggal bayar administrasinya aja ke Bank Lippo, nanti form pembayarannya diserahkan ke sini ya. Sama ini Mbak, terjemahin judul skripsinya sendiri ya."
Akhirnya, gw tak perlu balik lagi untuk melengkapi dokumen. Minggu depan, tinggal balik lagi untuk ngambil hasilnya. Alhamdulillah. Makasih banyak ya Pak Markijo