Archive for September, 2007

Aku, Kamu, dan Dia (part 3)

Tuesday, September 25th, 2007

            Meoooong!!! Suara
kucing yang kesakitan karena jatuh dari atap, membangunkan Yara dari
lamunannya.
“Hmmm….pasti itu kucing tetangga. Dasar kucing,
hujan-hujan gini, main di atap.“, bisiknya. Tangan kanannya masih setia menggenggam kartu undangan yang kian basah oleh
airmata.
Yara melirik jam dinding yang terpasang di atas televisi. Pukul
1 pagi. Ia kemudian meletakkan kartu
undangan di atas ranjang dan melangkah menuju kamar mandi, mengambil air wudhu.
Dengan segala gundah dan kesedihan, Yara sholat 2 rakaat, istikharah memohon
kemantapan hati dari-Nya.

 Dalam 2 rakaat sholatnya,
Yara tak henti menangis. Saat dirinya merasa benar-benar dekat dengan yang Maha
Kuasa, Yara kian tak kuasa membendung tangis. Pada-Nya Yara mengadu juga
memohon ampun. Pada-Nya Yara meminta petunjuk. Hanya pada Allah, Yara bisa
jujur hingga ke dasar hati. Yara tak punya keberanian untuk menceritakan
kecamuk hatinya pada orang lain. Yara akhirnya larut dalam curhat pada Sang
Maha Pengasih.

“Ya Allah, telah Kau kabulkan doaku. Ardi
meminangku. Tapi maafkan aku ya Rabbi, aku bukannya bersyukur tapi malah
bersedih. Aku justru ingin lari dari harapanku sendiri. Mohon ampuni aku, ya
Allah…… Ya Allah, tapi kini aku menyadari kekeliruanku selama ini. Aku
telah jatuh cinta pada seseorang karena kesempurnaannya di mataku. Aku telah
menentukan sosok yang terbaik untukku, padahal Engkau-lah yang Mata Tahu dan
Menentukan. Aku khayalkan sebuah rumah tangga yang sakinah dan bahagia bersamanya,
tanpa ada pertengkaran atau konflik. Aku khayalkan ia sebagai suami yang penuh
tanggung jawab dan kelembutan. Aku khayalkan ia akan sangat mencintaiku hingga
tak akan pernah melukaiku. Semuanya akan indah jika aku bersamanya. Tak ada
dalam khayalku, aku akan merasa kesal padanya. Karena kubayangkan Ardi sebagai
sosok tanpa kekurangan.“  

“Tapi khayalku jika bersama Agung, justru sebaliknya. Agung yang tak
sempurna di mataku. Dalam khayalku, rumah tanggaku tak akan melulu berisi
keindahan. Kubayangkan, diriku akan kerap kesal karena sikapnya yang cuek
bebek. Kesal karena ia tak bersikap romantis ataupun penuh kelembutan. Kubayangkan
kami akan sering berbeda pendapat karena kami memiliki banyak perbedaan. Tapi
anehnya, sekarang aku justru berpikir jika bersama Agung-lah aku akan meraih
kebahagian yang sejati. Kebahagian yang kudapat karena aku mencintainya sebagai
manusia biasa. Manusia yang Kau ciptakan dengan segala kelebihan dan
kekurangan….Dengan segala hal yang kuanggap kekurangganya, aku justru jadi
merasa lengkap. Kami begitu berbeda. Aku yang pendiam sedang dia sangat pandai
bicara. Aku yang introvert sedang dia sangat ekspresif. Aku yang datar dan dia
emosional. Aku yang pemalu, dia begitu cuek.“ 

“Aku juga menyadari, selama ini aku tak menjadi diriku yang sasungguhnya
saat bersama Ardi. Aku selalu berusaha tampil sempurna di depannya. Aku sangat
menjaga sikap dan ucapanku. Aku ingin tampak “sepadan“ dengannya. Tapi saat
bersama Agung, aku menjadi diriku apa adanya. Bersamanya, aku bisa tertawa
lepas. Aku tak sungkan menunjukkan kelemahanku. Saat kusedih, saat kubahagia,
aku selalu ingin berbagi dengannya.“    

“Ya Allah, kesempurnaan Ardi telah mempesona mataku. Tapi keteguhan dan
ketulusan Agung mencintai-Mu telah meluluhkan hatiku. Ya Rabbi, aku sungguh tak
menyangka, dibalik penampilannya yang jauh dari kesan religius, ternyata dia
mencintai-Mu lebih dari apapun. Aku tak pernah bertemu orang yang begitu tulus
memaafkan orang-orang yang sudah sangat menyakitinya. Orang yang selalu bersyukur
dengan segala yang Kau beri. Orang yang begitu tegar meski ujian yang Kau beri
begitu berat dan bertubi-tubi. Dia justru selalu mengambil hikmah dan semakin
tegar. Orang yang teguh memegang prinsipnya meski harus melawan arus.
Di
saat teman-temannya meminum wisky, ia tetap memilih air mineral. Ia tak peduli
jika dirinya disebut kuno. Toh ujung-ujungnya, ada juga beberapa temannya yang
bertanya kenapa minum alkohol itu haram, hingga Agung pun mendapat kesempatan
menjelaskan dan si teman akhirnya mengerti serta tak lagi minum alkohol. Ya
Allah…aku  sangat kagum pada
keberaniannya untuk berdakwah di antara orang-orang yang tak peduli pada
hukum-Mu karena ketidaktahuan dan ketidakpahaman mereka. Ia tak banyak bicara
tapi lebih banyak berbuat…..Tapi ya Allah, sayangnya, mataku terlanjur silau
oleh pesona Ardi, hingga aku terlambat melihat sosok Agung yang sebenarnya. Hingga dulu aku menolak pinangan laki-laki
seindah dia. Maafkan aku ya Allah…..“, tangis Yara pun makin meledak.   

  Pagi itu, Yara bangun dengan mata bengkak.
Wajahnya mirip ikan mas koki. Seusai sholat subuh, Yara memandangi dirinya di
cermin. “Apa yang akan kau lakukan Yara?“, ia bertanya pada diri sendiri dengan
hembusan nafas yang sangat berat. Ia lalu memandangi puluhan kartu undangan pernikahannya
yang tertumpuk rapi di atas meja kecil, di samping tempat tidurnya. Sebagian
besar undangan sudah dikirim. Sisanya adalah kartu undangan cadangan dan
beberapa undangan yang belum terkirim. Salah satunya adalah undangan yang
ditujukan pada seseorang bernama Ramadhan Agung Dharmawan. Undangan yang
semalam basah oleh puluhan tetes airmata Yara.

Yara kembali berdialog dengan hatinya. Ia berusaha mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan: apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus jujur pada
dunia, jika menikah dengan Ardi bukan lagi impiannya? Tapi, tidakkah ia sudah
terlalu jauh melangkah untuk memutar balik? Apakah cinta yang sesungguhnya ia
rasakan, lebih baik disimpan di hati saja? Tapi jika begitu, tidakkah akan
menjadi penyesalan seumur hidup? Tapi, jika pun ia memilih untuk membatalkan
pernikahannya dengan Ardi, apakah Agung masih memiliki perasaan untuknya?
Bukankah Agung akan menikah dengan Dira? Egoiskah ia jika memilih meraih
kebahagiannya? Karena jika itu ia lakukan, maka akan banyak orang yang terluka.
Ardi, Dira, keluarganya, keluarga Ardi, keluarga Dira……. 

Semua pertanyaan itu terus berputar
di kepala Yara hingga membuatnya pusing. Rasanya tak ada jalan keluar terbaik. Yara ingin berlari ke gunung, sendiri, dan
tak perlu kembali. Hidupnya, masa depannya, kebahagiannya…..kini tergantung
pada satu pilihan besar. Tapi Yara harus berlomba dengan waktu, karena tak
sampai sepekan lagi, ia akan menjadi isteri Ardi.

Yara membuka jendela. Ia melihat sinar matahari perlahan menerangi pagi. Yara
lalu memejamkan matanya dan menarik nafas dengan lembut. Ia ingin udara pagi
masuk ke dalam dirinya, memberi kesegaran dan menggantikan penat yang menyiksa.
Saat ia kembali membuka mata, suasana pagi sudah jauh lebih terang. Tiba-tiba
ekspresi wajahnya berubah. Ada senyum di bibirnya. “Sepanjang aku hidup, aku
masih punya kesempatan untuk bertemu pagi, karena pagi akan selalu datang.“,
gumamnya sambil mulai berseri. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya. 

==============nyambung lagi============

Aku, Kamu, dan Dia (part 2)

Wednesday, September 19th, 2007

        Ada rasa takut
saat Yara harus jujur mengungkapkan penolakannya pada Agung.
Yara tak
ingin menyakiti hati Agung, apalagi merusak hubungan baik mereka. Tapi Yara tak bisa menggantikan posisi
Ardi di hatinya, dengan Agung. Kejujuran yang mungkin harus ia bayar dengan
beranjaknya Agung dari hari-hari Yara.

     Tapi ketakutan Yara ternyata
tak terjadi. Rupanya Agung adalah laki-laki yang berjiwa besar. Ia sangat
mengerti dan menghormati pilihan Yara. Penolakan Yara tak mengubah sikapnya.
Agung tetap hangat dan bersahabat. Tetap setia mendengarkan keluh kesah Yara,
memberi Yara dukungan, membuat Yara tertawa, bahkan mendorong Yara untuk meraih
impiannya, termasuk menjadikan Ardi pendamping hidup. Tak hanya di depan Yara,
Ardi bahkan mendoakan kebahagian Yara di setiap nafasnya, terutama setiap
selesai sholat. Bagi Agung, kebahagian Yara adalah utama, meski kebahagian itu
terwujud tanpa dirinya. Satu ketulusan
rasa yang membuat Agung selalu ingin memberi tanpa berharap Yara akan
memberikan hal serupa.

3 bulan lalu

         Sejak lulus kuliah 2 tahun lalu,
tepat sebulan setelah Yara diantar pulang oleh Ardi, Yara bekerja di sebuah
konsultan PR. Dunianya semakin luas, namun hatinya tetap tertuju pada Ardi.
Sesekali bertukar kabar lewat email dengan Ardi, sudah cukup membuat Yara enggan
mengalihkan harapannya pada sosok lain.  

         Hingga akhirnya, Allah mengabulkan
harapan terbesarnya. Siang itu, Yara menerima email dari Ardi. Isinya sangat
singkat. Tanpa basa-basi, Ardi mengungkapkan niatnya untuk “resmi“ bertaaruf
dengan Yara. Hati Yara melayang. Dan orang pertama yang dijadikan Yara sebagai
tempat berbagi kebahagiannya, tak lain adalah Agung. Agung yang tetap menyimpan
rasa pada Yara, ikut bahagia. Agung tak peduli meski ada bagian dari dirinya
yang terluka, yang terpenting baginya, akhirnya impian Yara akan terwujud.

         Hanya selang 2 minggu kemudian, Ardi
datang bersama keluarga besarnya, untuk melamar Yara. Tanggal pernikahan pun
ditetapkan. Tak sampai 3 bulan ke depan, Ardi akan mengucapkan ijab kabul. Yara
menghitung hari karena tak sabar menanti hari bersejarahnya dengan Ardi.
Sedangkan Agung menghitung hari, berusaha ikhlas menerima ketetapan-Nya, Yara
akan menjadi istri laki-laki lain.   

1 bulan lalu

Agung: Assalamuilaikum, Neng. Pa kabar nih?

Yara: alhamdulillah baik. Lagi sibuk apa, pak?

Agung: Biasalah, menuhin pesanan. Alhamdulillah kantorku minggu lalu dapat 2
klien baru.

Yara: siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip lah! ;)

Agung: gimana persiapannya nih? undangan udah beres?

Yara: Masih
dicetak, insya Allah Minggu depan udah jadi. Tapi kami sengaja cuma cetak
sedikit. Acaranya pengen sederhana aja. Paling keluarga dan teman dekat aja lah
yang diundang.

Agung: Mudah2an
lancar ya, Ra. Amin. Btw, aku punya berita nih…..

Yara: Apaan tuh?

Agung: Weekend nanti aku diajak pamanku ke rumah temannya. Katanya, dia ingin
mengenalkan aku dengan anak temannya itu.

Sreeeet….hati Yara mendesir. Ia tertegun. Ia melanjutkan chatting
dengan Agung sore itu dengan perasaan tak karuan. Yara sendiri tak mengerti
kenapa ia merasakan demikian. Ia menjadi tegang menghadapi weekend yang tinggal
2 hari lagi. “Apakah Agung akan taaruf dengan gadis itu?“, hatinya bertanya
dalam keresahan.

3 minggu lalu

         Hujan yang baru saja reda membuat
udara sore itu terasa sejuk. Tanaman terlihat lebih segar dengan titik-titik
air. Yara dan Ardi tengah sibuk menulis nama dan alamat undangan di atas label
yang kemudian ditempel pada kartu undangan. Keduanya duduk lesehan di lantai
teras samping rumah Yara. Ibu dan adik Yara ikut membantu, sambil sesekali
melirik televisi di ruang tengah yang sedang menayangkan program berita. Tak
satupun dari mereka, Ardi, ibu dan adik Yara, yang menyadari jika pikiran Yara
tak bersama mereka.  

Sejak pagi, Yara jarang ikut
berbincang. Ia lebih banyak diam dan terlihat tak bergairah.
Saat Ardi
bertanya ada apa, Yara hanya menjawab jika dirinya sedang merasa sedikit
pusing. Tapi Yara bohong. Yang sebenarnya, pikiran Yara melayang mencari
keberadaan Agung. Dua hari lalu, saat chatting di YM, Agung memberitahu Yara, jika dia dan Dira,
gadis yang diperkenalkan sang paman, sepakat untuk taaruf.

Agung:
Dia memang belum berjilbab, Ra. Tapi kalau aku perhatikan, orangnya hanif.
Jika kelak kami berjodoh, doakan gw bisa membimbingnya agar berjilbab dengan
hati ya. Amin.

Yara: amin. trus…?
Agung: Anaknya
manis. Meski pendiam, tapi dia teman ngobrol yang cukup asyik. Orangnya sederhana dan gak muluk-muluk. Insya
Allah, aku serius akan taaruf sama dia.   

            Percakapan itu membuat hati Yara bergolak. Dia cemburu. Sangat cemburu.
Kedatangan Ardi sejak pagi tadi tak sedikit pun membuat perasaannya membaik.
Yara bahkan mengabaikan keberadaan Ardi di rumahnya. Ia terus asyik dalam
lamunan. Lamunan yang sesungguhnya hanya menyiksa hatinya.  

1 minggu lalu

Agung: Ra, kok kamu belum kasih undanganmu sih? Kamu nikah 2 minggu lagi kan?

Yara: Iya. Loh kamu kan udah tahu kapan dan dimana aku nikah….:P

Agung: ya iya sih…tapi masak kamu gak kirim undangannya sih….kan aku pengen
liat juga. Yang hard copy-nya! ;)

Yara: Iya deh, nanti aku kirim. Ngomong-ngomong, gimana perkembangan
taarufmu?

Agung:
alhamdulillah lancar, Ra. Lusa aku akan
pulang kampung. Ngenalin Dira sama orang tua aku. Nah setelah itu, aku kan tinggal
minta tolong orangtuaku datang ke Jakarta, melamar Dira. Mudah2an jalannya
dimudahkan. Amin.

Yara: amin. Eh Gung, aku dipanggil bos nih…..aku pamit dulu ya

….

Tapi yang sesungguhnya terjadi, Yara
lari menuju toilet.
Ia tak ingin teman-teman kantornya melihat dirinya
menitikkan air mata.

 ======nyambung lagi deh=====

 

Aku, Kamu, dan Dia (part 1)

Friday, September 14th, 2007

Sudah 2 jam Yara bertahan dalam posisinya. Duduk di tepi ranjang, menghadap jendela yang sengaja belum ia tutup meski waktu telah beranjak tengah malam. Ia berharap menemukan kedamaian dari gerimis yang tak jua berhenti sejak sore tadi. Kepala Yara kembali tertunduk, menatap undangan yang digenggamnya. Semakin lekat ia menatap undangan, semakin berat nafas di dadanya, dan berujung pada airmata yang menambah titik-titik genangan di atas undangan. “Andai aku bisa menghentikan waktu“, hatinya berbisik dengan lirih.

“Astaghfirullah!“, Yara kembali membaca istighfar. Ia sadar betul jika kecamuk di hatinya saat itu, adalah sesuatu yang salah. Tapi perang melawan diri sendiri kadang memang jauh lebih sulit ketimbang meyakinkan orang lain.

Semula, Yara tak terlalu memperdulikan kegundahannya. Keraguan menjelang hari pernikahan, itu hal yang jamak dirasakan orang bukan? Tapi keraguan itu kian menjadi seiring dekatnya waktu perubahan statusnya menjadi nyonya Aryo Widiardi Pratomo. Keraguan yang menjadi ironi atas harapan besarnya selama bertahun-tahun. Bukankah Ardi adalah sosok pendamping yang selama ini dicarinya? Seorang lelaki soleh, berkarakter lembut, tegas, sabar, dan sangat sopan. Ia pun sangat cerdas, aktif, dan pekerja keras. Belum lagi fisik Ardi yang sangat menyejukkan pandangan. Mulai wajah yang terbilang ganteng hingga postur tubuh yang tinggi berisi. Sungguh tak ada yang kurang darinya. Tak ada! Seorang lelaki yang Yara yakini akan mampu menjadi imam baginya dan anak-anak mereka, kelak. Lalu apa yang membuat Yara ragu, bahkan ingin meledakkan tangis?

Yara menghapus airmata yang kembali membuat pipinya terasa panas. Kini ia berdiri dan melangkah mendekati jendela. Ia ingin lebih dekat dengan gerimis. Dalam hitungan detik, pikirannya tak lagi seruang dengan raga. Ia seolah memasuki mesin waktu, kembali kemasa lalu.

2 tahun yang lalu

“Pulang sendiri, Ra?“, suara Ardi membuat Yara yang sedang memasang sepatu di tangga musholla kampus, sedikit kaget. Sejenak Yara memperhatikan Ardi yang kini duduk sekitar satu meter di samping kanannya, mencari sepatu keds warna hitam miliknya. “Iya“, Yara menjawab singkat sambil tertunduk, malu. Keringat dingin mengucur, jantung berdegup kencang, tangan bergetar. Sekuat tenaga Yara berusaha menenangkan diri. Ia tak ingin Ardi menangkap basah dirinya salah tingkah. Ia berharap, jilbab hijau yang membalut kepalanya menyamarkan wajahnya yang merona.

“Rumahmu di Pasar Minggu, kan?“, Yara menjawab pertanyaan ini hanya dengan anggukan kecil. “Kalau gitu kita searah. Aku pulang bareng Dika dan Ririn. Kamu bisa ikut bergabung. Bagaimana?“, tawaran yang membuat Yara makin sulit menenangkan diri. Belum sempat Yara menjawab, Ardi meyakinkan Yara untuk pulang bersama, “Ini udah jam 10 malam, Ra. Gak baik kalau kamu pulang sendiri.“

Akhirnya, Yara mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Hatinya melonjak girang, ia akan pulang bersama laki-laki yang beberapa minggu terakhir ini selalu membuatnya tersenyum setiap bangun pagi dan ingin segera meluncur ke kampus. Tapi di waktu yang sama, Yara merasa bersalah pada Allah karena tak bisa menjaga hati.

    Bagi Yara, bertemu Ardi bak menemukan mata air di tengah gurun. Sebelum mengenal Ardi, hati Yara seakan tergembok. Tak satu pun laki-laki yang membawa kunci yang tepat untuk bisa membukanya. Ardi adalah sosok yang lengkap! Itulah Ardi di mata Yara. Dan kini….Ardi duduk di depannya, mengemudikan Honda Jazz hitam, mengantarnya pulang.

1 tahun yang lalu

        “Yara?!”, suara berat hampir membuat Yara menjatuhkan buku yang dipegangnya. Yara menengok ke si pemilik suara yang berada di depannya, di balik rak buku setinggi dada. “Agung! Subhanallah. Apa kabarmu?”, Yara langsung mengenali teman SMAnya itu. “Alhamdulillah baik. Waaah udah lama ya kita gak ketemu?“, keduanya kemudian larut dalam nostalgia.

         Pertemuan tak sengaja Yara dengan Agung di Gramedia Blok M berujung pada saling menukar nomor HP dan alamat email. Entah kenapa, keduanya jadi berteman dekat. Padahal sewaktu di SMA dulu, mereka hanya saling mengenal sebatas teman sekelas. Percakapan diantara mereka hanya berupa bertegur sapa saat berpapasan dan diskusi kelompok di kelas. Tapi sekarang, mereka justru menemukan banyak kecocokan hingga keduanya nyaman untuk bertukar pikiran bahkan curhat, meski hanya lewat jasa SMS dan Yahoo Messenger. Sedangkan pertemuan langsung, hanya terjadi sekali dari seribu kesempatan.

         Pada Agung, Yara bahkan tak sungkan untuk menceritakan perasaannya yang selalu rapi terpendam dalam hati, termasuk tentang Ardi. Agung yang supel dan pandai bicara, membuat Yara tak sadar telah menghabiskan waktunya di depan komputer, chatting dengan Agung. Agung yang humoris kerap membuat Yara tertawa geli. Agung yang berpenampilan cuek dan sederhana, membuat Yara nyaman berteman. Hingga terjadilah peristiwa itu…..Agung meminta Yara untuk menjadi istrinya.

         Kaget, bingung, sekaligus tersanjung, ketiga rasa itu bercampur di hati Yara. Yara menyayangi Agung, tapi hanya sebatas teman. Yang Yara tahu, hatinya masih tertuju pada Ardi, sosok yang selama ini ia cari untuk menjadi teman hidup. Dan kenyataanya, Agung sungguh berbeda dengan Ardi. Secara penampilan, Ardi terlihat jauh lebih religius. Ardi pun lebih bisa menjaga sikap. Sedangkan Agung, sering terkesan asal buka mulut. Ardi terlihat sangat dewasa, sedangkan Agung kerap terlihat konyol.

Tapi dibalik penampilannya yang selengean, Agung rupanya tergolong teguh memegang prinsip. Kalau soal yang satu ini, Yara bahkan merasa kagum. Mungkin tak banyak yang tahu, jika meski terlihat sebagai anak gaul, Agung justru menjaga dirinya agar tidak berpacaran. Begitupun dalam cara Agung menjalani hari-harinya. Meski sangat ekspresif dan tergolong emosional, Agung orang yang sangat pemaaf. Agung pun orang yang peka terhadap sekitar dan selalu mengulurkan tangan untuk membantu. Sebagai seorang perantau, Agung menjadi pribadi yang sangat mandiri dan pekerja keras. Agung bukan orang yang mudah putus asa dan relatif selalu berpikiran positif terhadap segala ujian yang diberikan Allah padanya. Tapi Agung adalah Agung. Bukan Ardi. Bukan sosok yang diidamkannya sebagai teman hidup.

–> bersambung deh……  

Pilihan

Sunday, September 9th, 2007

Semula, percakapan siang itu hanya obrolan ringan untuk meng-up date kabar teman-teman. Tapi kabar yang kudengar tentang Lili dan Damar, ternyata menancap dalam kepala hingga terus menempel meski malam itu aku sudah sangat mengantuk. Percakapan siang itu terus tervisualisasi di benakku, lengkap dengan audionya.

"Loh, jadi mereka serius akan menikah?"

"Yup! Kabarnya sih mereka udah menentukan tanggal."

"Terus, soal perbedaan mereka gimana?"

"Lili akan convert. Karena Damar gak mau convert. Dia lebih teguh memegang keyakinannya."

"Jadi Lili rela convert?"

"Katanya sih gitu. Dia bilang, dia nggak sanggup jika harus kehilangan Damar. Semua orang udah ngingetin dia. Mulai dari cara halus hingga agak kasar. Tapi dia tetep memilih untuk convert. Dia cinta mati sama si Damar."

Orang bilang, cinta itu buta…hingga kadang membuat orang melakukan hal-hal karena dorongan emosi semata…termasuk menukar keyakinan atas nama cinta pada seseorang.

Rasa takut pun merayap. "Ya Allah, bagaimana jika pilihan itu dihadapkan padaku? Aku hanya manusia lemah. Ya Allah, tolong lindungi aku dari cinta yang bisa mengalahkan cintaku padaMU. Tolong lindungi aku dari dari cinta yang akan menjauhkanku dariMU. Dan tolong Kau bukakan hatinya, ya Allah. Semoga kau masih memilih ia sebagai hambaMU. Tolong beri ia petunjukMU, agar tetap di jalanMU. Amin"