Aku, Kamu, dan Dia (part 1)
Sudah 2 jam Yara bertahan dalam posisinya. Duduk di tepi ranjang, menghadap jendela yang sengaja belum ia tutup meski waktu telah beranjak tengah malam. Ia berharap menemukan kedamaian dari gerimis yang tak jua berhenti sejak sore tadi. Kepala Yara kembali tertunduk, menatap undangan yang digenggamnya. Semakin lekat ia menatap undangan, semakin berat nafas di dadanya, dan berujung pada airmata yang menambah titik-titik genangan di atas undangan. “Andai aku bisa menghentikan waktu“, hatinya berbisik dengan lirih.
“Astaghfirullah!“, Yara kembali membaca istighfar. Ia sadar betul jika kecamuk di hatinya saat itu, adalah sesuatu yang salah. Tapi perang melawan diri sendiri kadang memang jauh lebih sulit ketimbang meyakinkan orang lain.
Semula, Yara tak terlalu memperdulikan kegundahannya. Keraguan menjelang hari pernikahan, itu hal yang jamak dirasakan orang bukan? Tapi keraguan itu kian menjadi seiring dekatnya waktu perubahan statusnya menjadi nyonya Aryo Widiardi Pratomo. Keraguan yang menjadi ironi atas harapan besarnya selama bertahun-tahun. Bukankah Ardi adalah sosok pendamping yang selama ini dicarinya? Seorang lelaki soleh, berkarakter lembut, tegas, sabar, dan sangat sopan. Ia pun sangat cerdas, aktif, dan pekerja keras. Belum lagi fisik Ardi yang sangat menyejukkan pandangan. Mulai wajah yang terbilang ganteng hingga postur tubuh yang tinggi berisi. Sungguh tak ada yang kurang darinya. Tak ada! Seorang lelaki yang Yara yakini akan mampu menjadi imam baginya dan anak-anak mereka, kelak. Lalu apa yang membuat Yara ragu, bahkan ingin meledakkan tangis?
Yara menghapus airmata yang kembali membuat pipinya terasa panas. Kini ia berdiri dan melangkah mendekati jendela. Ia ingin lebih dekat dengan gerimis. Dalam hitungan detik, pikirannya tak lagi seruang dengan raga. Ia seolah memasuki mesin waktu, kembali kemasa lalu.
2 tahun yang lalu
“Pulang sendiri, Ra?“, suara Ardi membuat Yara yang sedang memasang sepatu di tangga musholla kampus, sedikit kaget. Sejenak Yara memperhatikan Ardi yang kini duduk sekitar satu meter di samping kanannya, mencari sepatu keds warna hitam miliknya. “Iya“, Yara menjawab singkat sambil tertunduk, malu. Keringat dingin mengucur, jantung berdegup kencang, tangan bergetar. Sekuat tenaga Yara berusaha menenangkan diri. Ia tak ingin Ardi menangkap basah dirinya salah tingkah. Ia berharap, jilbab hijau yang membalut kepalanya menyamarkan wajahnya yang merona.
“Rumahmu di Pasar Minggu, kan?“, Yara menjawab pertanyaan ini hanya dengan anggukan kecil. “Kalau gitu kita searah. Aku pulang bareng Dika dan Ririn. Kamu bisa ikut bergabung. Bagaimana?“, tawaran yang membuat Yara makin sulit menenangkan diri. Belum sempat Yara menjawab, Ardi meyakinkan Yara untuk pulang bersama, “Ini udah jam 10 malam, Ra. Gak baik kalau kamu pulang sendiri.“
Akhirnya, Yara mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Hatinya melonjak girang, ia akan pulang bersama laki-laki yang beberapa minggu terakhir ini selalu membuatnya tersenyum setiap bangun pagi dan ingin segera meluncur ke kampus. Tapi di waktu yang sama, Yara merasa bersalah pada Allah karena tak bisa menjaga hati.
Bagi Yara, bertemu Ardi bak menemukan mata air di tengah gurun. Sebelum mengenal Ardi, hati Yara seakan tergembok. Tak satu pun laki-laki yang membawa kunci yang tepat untuk bisa membukanya. Ardi adalah sosok yang lengkap! Itulah Ardi di mata Yara. Dan kini….Ardi duduk di depannya, mengemudikan Honda Jazz hitam, mengantarnya pulang.
1 tahun yang lalu
“Yara?!”, suara berat hampir membuat Yara menjatuhkan buku yang dipegangnya. Yara menengok ke si pemilik suara yang berada di depannya, di balik rak buku setinggi dada. “Agung! Subhanallah. Apa kabarmu?”, Yara langsung mengenali teman SMAnya itu. “Alhamdulillah baik. Waaah udah lama ya kita gak ketemu?“, keduanya kemudian larut dalam nostalgia.
Pertemuan tak sengaja Yara dengan Agung di Gramedia Blok M berujung pada saling menukar nomor HP dan alamat email. Entah kenapa, keduanya jadi berteman dekat. Padahal sewaktu di SMA dulu, mereka hanya saling mengenal sebatas teman sekelas. Percakapan diantara mereka hanya berupa bertegur sapa saat berpapasan dan diskusi kelompok di kelas. Tapi sekarang, mereka justru menemukan banyak kecocokan hingga keduanya nyaman untuk bertukar pikiran bahkan curhat, meski hanya lewat jasa SMS dan Yahoo Messenger. Sedangkan pertemuan langsung, hanya terjadi sekali dari seribu kesempatan.
Pada Agung, Yara bahkan tak sungkan untuk menceritakan perasaannya yang selalu rapi terpendam dalam hati, termasuk tentang Ardi. Agung yang supel dan pandai bicara, membuat Yara tak sadar telah menghabiskan waktunya di depan komputer, chatting dengan Agung. Agung yang humoris kerap membuat Yara tertawa geli. Agung yang berpenampilan cuek dan sederhana, membuat Yara nyaman berteman. Hingga terjadilah peristiwa itu…..Agung meminta Yara untuk menjadi istrinya.
Kaget, bingung, sekaligus tersanjung, ketiga rasa itu bercampur di hati Yara. Yara menyayangi Agung, tapi hanya sebatas teman. Yang Yara tahu, hatinya masih tertuju pada Ardi, sosok yang selama ini ia cari untuk menjadi teman hidup. Dan kenyataanya, Agung sungguh berbeda dengan Ardi. Secara penampilan, Ardi terlihat jauh lebih religius. Ardi pun lebih bisa menjaga sikap. Sedangkan Agung, sering terkesan asal buka mulut. Ardi terlihat sangat dewasa, sedangkan Agung kerap terlihat konyol.
Tapi dibalik penampilannya yang selengean, Agung rupanya tergolong teguh memegang prinsip. Kalau soal yang satu ini, Yara bahkan merasa kagum. Mungkin tak banyak yang tahu, jika meski terlihat sebagai anak gaul, Agung justru menjaga dirinya agar tidak berpacaran. Begitupun dalam cara Agung menjalani hari-harinya. Meski sangat ekspresif dan tergolong emosional, Agung orang yang sangat pemaaf. Agung pun orang yang peka terhadap sekitar dan selalu mengulurkan tangan untuk membantu. Sebagai seorang perantau, Agung menjadi pribadi yang sangat mandiri dan pekerja keras. Agung bukan orang yang mudah putus asa dan relatif selalu berpikiran positif terhadap segala ujian yang diberikan Allah padanya. Tapi Agung adalah Agung. Bukan Ardi. Bukan sosok yang diidamkannya sebagai teman hidup.
–> bersambung deh……