Aku, Kamu, dan Dia (part 2)

        Ada rasa takut
saat Yara harus jujur mengungkapkan penolakannya pada Agung.
Yara tak
ingin menyakiti hati Agung, apalagi merusak hubungan baik mereka. Tapi Yara tak bisa menggantikan posisi
Ardi di hatinya, dengan Agung. Kejujuran yang mungkin harus ia bayar dengan
beranjaknya Agung dari hari-hari Yara.

     Tapi ketakutan Yara ternyata
tak terjadi. Rupanya Agung adalah laki-laki yang berjiwa besar. Ia sangat
mengerti dan menghormati pilihan Yara. Penolakan Yara tak mengubah sikapnya.
Agung tetap hangat dan bersahabat. Tetap setia mendengarkan keluh kesah Yara,
memberi Yara dukungan, membuat Yara tertawa, bahkan mendorong Yara untuk meraih
impiannya, termasuk menjadikan Ardi pendamping hidup. Tak hanya di depan Yara,
Ardi bahkan mendoakan kebahagian Yara di setiap nafasnya, terutama setiap
selesai sholat. Bagi Agung, kebahagian Yara adalah utama, meski kebahagian itu
terwujud tanpa dirinya. Satu ketulusan
rasa yang membuat Agung selalu ingin memberi tanpa berharap Yara akan
memberikan hal serupa.

3 bulan lalu

         Sejak lulus kuliah 2 tahun lalu,
tepat sebulan setelah Yara diantar pulang oleh Ardi, Yara bekerja di sebuah
konsultan PR. Dunianya semakin luas, namun hatinya tetap tertuju pada Ardi.
Sesekali bertukar kabar lewat email dengan Ardi, sudah cukup membuat Yara enggan
mengalihkan harapannya pada sosok lain.  

         Hingga akhirnya, Allah mengabulkan
harapan terbesarnya. Siang itu, Yara menerima email dari Ardi. Isinya sangat
singkat. Tanpa basa-basi, Ardi mengungkapkan niatnya untuk “resmi“ bertaaruf
dengan Yara. Hati Yara melayang. Dan orang pertama yang dijadikan Yara sebagai
tempat berbagi kebahagiannya, tak lain adalah Agung. Agung yang tetap menyimpan
rasa pada Yara, ikut bahagia. Agung tak peduli meski ada bagian dari dirinya
yang terluka, yang terpenting baginya, akhirnya impian Yara akan terwujud.

         Hanya selang 2 minggu kemudian, Ardi
datang bersama keluarga besarnya, untuk melamar Yara. Tanggal pernikahan pun
ditetapkan. Tak sampai 3 bulan ke depan, Ardi akan mengucapkan ijab kabul. Yara
menghitung hari karena tak sabar menanti hari bersejarahnya dengan Ardi.
Sedangkan Agung menghitung hari, berusaha ikhlas menerima ketetapan-Nya, Yara
akan menjadi istri laki-laki lain.   

1 bulan lalu

Agung: Assalamuilaikum, Neng. Pa kabar nih?

Yara: alhamdulillah baik. Lagi sibuk apa, pak?

Agung: Biasalah, menuhin pesanan. Alhamdulillah kantorku minggu lalu dapat 2
klien baru.

Yara: siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip lah! ;)

Agung: gimana persiapannya nih? undangan udah beres?

Yara: Masih
dicetak, insya Allah Minggu depan udah jadi. Tapi kami sengaja cuma cetak
sedikit. Acaranya pengen sederhana aja. Paling keluarga dan teman dekat aja lah
yang diundang.

Agung: Mudah2an
lancar ya, Ra. Amin. Btw, aku punya berita nih…..

Yara: Apaan tuh?

Agung: Weekend nanti aku diajak pamanku ke rumah temannya. Katanya, dia ingin
mengenalkan aku dengan anak temannya itu.

Sreeeet….hati Yara mendesir. Ia tertegun. Ia melanjutkan chatting
dengan Agung sore itu dengan perasaan tak karuan. Yara sendiri tak mengerti
kenapa ia merasakan demikian. Ia menjadi tegang menghadapi weekend yang tinggal
2 hari lagi. “Apakah Agung akan taaruf dengan gadis itu?“, hatinya bertanya
dalam keresahan.

3 minggu lalu

         Hujan yang baru saja reda membuat
udara sore itu terasa sejuk. Tanaman terlihat lebih segar dengan titik-titik
air. Yara dan Ardi tengah sibuk menulis nama dan alamat undangan di atas label
yang kemudian ditempel pada kartu undangan. Keduanya duduk lesehan di lantai
teras samping rumah Yara. Ibu dan adik Yara ikut membantu, sambil sesekali
melirik televisi di ruang tengah yang sedang menayangkan program berita. Tak
satupun dari mereka, Ardi, ibu dan adik Yara, yang menyadari jika pikiran Yara
tak bersama mereka.  

Sejak pagi, Yara jarang ikut
berbincang. Ia lebih banyak diam dan terlihat tak bergairah.
Saat Ardi
bertanya ada apa, Yara hanya menjawab jika dirinya sedang merasa sedikit
pusing. Tapi Yara bohong. Yang sebenarnya, pikiran Yara melayang mencari
keberadaan Agung. Dua hari lalu, saat chatting di YM, Agung memberitahu Yara, jika dia dan Dira,
gadis yang diperkenalkan sang paman, sepakat untuk taaruf.

Agung:
Dia memang belum berjilbab, Ra. Tapi kalau aku perhatikan, orangnya hanif.
Jika kelak kami berjodoh, doakan gw bisa membimbingnya agar berjilbab dengan
hati ya. Amin.

Yara: amin. trus…?
Agung: Anaknya
manis. Meski pendiam, tapi dia teman ngobrol yang cukup asyik. Orangnya sederhana dan gak muluk-muluk. Insya
Allah, aku serius akan taaruf sama dia.   

            Percakapan itu membuat hati Yara bergolak. Dia cemburu. Sangat cemburu.
Kedatangan Ardi sejak pagi tadi tak sedikit pun membuat perasaannya membaik.
Yara bahkan mengabaikan keberadaan Ardi di rumahnya. Ia terus asyik dalam
lamunan. Lamunan yang sesungguhnya hanya menyiksa hatinya.  

1 minggu lalu

Agung: Ra, kok kamu belum kasih undanganmu sih? Kamu nikah 2 minggu lagi kan?

Yara: Iya. Loh kamu kan udah tahu kapan dan dimana aku nikah….:P

Agung: ya iya sih…tapi masak kamu gak kirim undangannya sih….kan aku pengen
liat juga. Yang hard copy-nya! ;)

Yara: Iya deh, nanti aku kirim. Ngomong-ngomong, gimana perkembangan
taarufmu?

Agung:
alhamdulillah lancar, Ra. Lusa aku akan
pulang kampung. Ngenalin Dira sama orang tua aku. Nah setelah itu, aku kan tinggal
minta tolong orangtuaku datang ke Jakarta, melamar Dira. Mudah2an jalannya
dimudahkan. Amin.

Yara: amin. Eh Gung, aku dipanggil bos nih…..aku pamit dulu ya

….

Tapi yang sesungguhnya terjadi, Yara
lari menuju toilet.
Ia tak ingin teman-teman kantornya melihat dirinya
menitikkan air mata.

 ======nyambung lagi deh=====

 

4 Responses to “Aku, Kamu, dan Dia (part 2)”

  1. Nurul Says:

    well..that story really touching…make me so….(can’t talk…)…
    it’s your own story?
    i want to know the next story…soon…

  2. AsTY Says:

    hehehe..iya…lagi iseng2 belajar bikin cerita…tolong kasih masukan ya…..

  3. Yadi Says:

    “Tak hanya di depan Yara, “”-Ardi-”" bahkan mendoakan kebahagian Yara di setiap nafasnya, terutama setiap selesai sholat.”

    salah ketik-kah??

    maap :”>… biasalah.. lebih mudah mengkritisi orang lain daripada diri sendiri #-o…

    Salam kenal :) ditunggu bagian 6-nya… btw udah ketebak ah… kecelakaan… pertanyaan berikutnya… apakah penulis tega “mematikan” tokoh Ardi ato malah membuat Ardi kehilangan kesempurnaannya dan terus melanjutkan pernikahan… eng ing eng… kita tunggu saja cerita selanjutnya hehehehe #-o

  4. AsTY Says:

    Waaaah makasih ya atas masukannya…iya tuh aku salah ketik, harusnya “Agung”.
    Makasih juga atas tebakan endingnya, beberapa temanku juga menebak demikian….tapi endingnya gak begitu loh heheheh. Di kepala udah ada, tapi lagi malas ngetiknya :P

Leave a Reply