Aku, Kamu, dan Dia (part 3)
Meoooong!!! Suara
kucing yang kesakitan karena jatuh dari atap, membangunkan Yara dari
lamunannya. “Hmmm….pasti itu kucing tetangga. Dasar kucing,
hujan-hujan gini, main di atap.“, bisiknya. Tangan kanannya masih setia menggenggam kartu undangan yang kian basah oleh
airmata. Yara melirik jam dinding yang terpasang di atas televisi. Pukul
1 pagi. Ia kemudian meletakkan kartu
undangan di atas ranjang dan melangkah menuju kamar mandi, mengambil air wudhu.
Dengan segala gundah dan kesedihan, Yara sholat 2 rakaat, istikharah memohon
kemantapan hati dari-Nya.
Dalam 2 rakaat sholatnya,
Yara tak henti menangis. Saat dirinya merasa benar-benar dekat dengan yang Maha
Kuasa, Yara kian tak kuasa membendung tangis. Pada-Nya Yara mengadu juga
memohon ampun. Pada-Nya Yara meminta petunjuk. Hanya pada Allah, Yara bisa
jujur hingga ke dasar hati. Yara tak punya keberanian untuk menceritakan
kecamuk hatinya pada orang lain. Yara akhirnya larut dalam curhat pada Sang
Maha Pengasih.
“Ya Allah, telah Kau kabulkan doaku. Ardi
meminangku. Tapi maafkan aku ya Rabbi, aku bukannya bersyukur tapi malah
bersedih. Aku justru ingin lari dari harapanku sendiri. Mohon ampuni aku, ya
Allah…… Ya Allah, tapi kini aku menyadari kekeliruanku selama ini. Aku
telah jatuh cinta pada seseorang karena kesempurnaannya di mataku. Aku telah
menentukan sosok yang terbaik untukku, padahal Engkau-lah yang Mata Tahu dan
Menentukan. Aku khayalkan sebuah rumah tangga yang sakinah dan bahagia bersamanya,
tanpa ada pertengkaran atau konflik. Aku khayalkan ia sebagai suami yang penuh
tanggung jawab dan kelembutan. Aku khayalkan ia akan sangat mencintaiku hingga
tak akan pernah melukaiku. Semuanya akan indah jika aku bersamanya. Tak ada
dalam khayalku, aku akan merasa kesal padanya. Karena kubayangkan Ardi sebagai
sosok tanpa kekurangan.“
“Tapi khayalku jika bersama Agung, justru sebaliknya. Agung yang tak
sempurna di mataku. Dalam khayalku, rumah tanggaku tak akan melulu berisi
keindahan. Kubayangkan, diriku akan kerap kesal karena sikapnya yang cuek
bebek. Kesal karena ia tak bersikap romantis ataupun penuh kelembutan. Kubayangkan
kami akan sering berbeda pendapat karena kami memiliki banyak perbedaan. Tapi
anehnya, sekarang aku justru berpikir jika bersama Agung-lah aku akan meraih
kebahagian yang sejati. Kebahagian yang kudapat karena aku mencintainya sebagai
manusia biasa. Manusia yang Kau ciptakan dengan segala kelebihan dan
kekurangan….Dengan segala hal yang kuanggap kekurangganya, aku justru jadi
merasa lengkap. Kami begitu berbeda. Aku yang pendiam sedang dia sangat pandai
bicara. Aku yang introvert sedang dia sangat ekspresif. Aku yang datar dan dia
emosional. Aku yang pemalu, dia begitu cuek.“
“Aku juga menyadari, selama ini aku tak menjadi diriku yang sasungguhnya
saat bersama Ardi. Aku selalu berusaha tampil sempurna di depannya. Aku sangat
menjaga sikap dan ucapanku. Aku ingin tampak “sepadan“ dengannya. Tapi saat
bersama Agung, aku menjadi diriku apa adanya. Bersamanya, aku bisa tertawa
lepas. Aku tak sungkan menunjukkan kelemahanku. Saat kusedih, saat kubahagia,
aku selalu ingin berbagi dengannya.“
“Ya Allah, kesempurnaan Ardi telah mempesona mataku. Tapi keteguhan dan
ketulusan Agung mencintai-Mu telah meluluhkan hatiku. Ya Rabbi, aku sungguh tak
menyangka, dibalik penampilannya yang jauh dari kesan religius, ternyata dia
mencintai-Mu lebih dari apapun. Aku tak pernah bertemu orang yang begitu tulus
memaafkan orang-orang yang sudah sangat menyakitinya. Orang yang selalu bersyukur
dengan segala yang Kau beri. Orang yang begitu tegar meski ujian yang Kau beri
begitu berat dan bertubi-tubi. Dia justru selalu mengambil hikmah dan semakin
tegar. Orang yang teguh memegang prinsipnya meski harus melawan arus. Di
saat teman-temannya meminum wisky, ia tetap memilih air mineral. Ia tak peduli
jika dirinya disebut kuno. Toh ujung-ujungnya, ada juga beberapa temannya yang
bertanya kenapa minum alkohol itu haram, hingga Agung pun mendapat kesempatan
menjelaskan dan si teman akhirnya mengerti serta tak lagi minum alkohol. Ya
Allah…aku sangat kagum pada
keberaniannya untuk berdakwah di antara orang-orang yang tak peduli pada
hukum-Mu karena ketidaktahuan dan ketidakpahaman mereka. Ia tak banyak bicara
tapi lebih banyak berbuat…..Tapi ya Allah, sayangnya, mataku terlanjur silau
oleh pesona Ardi, hingga aku terlambat melihat sosok Agung yang sebenarnya. Hingga dulu aku menolak pinangan laki-laki
seindah dia. Maafkan aku ya Allah…..“, tangis Yara pun makin meledak.
Pagi itu, Yara bangun dengan mata bengkak.
Wajahnya mirip ikan mas koki. Seusai sholat subuh, Yara memandangi dirinya di
cermin. “Apa yang akan kau lakukan Yara?“, ia bertanya pada diri sendiri dengan
hembusan nafas yang sangat berat. Ia lalu memandangi puluhan kartu undangan pernikahannya
yang tertumpuk rapi di atas meja kecil, di samping tempat tidurnya. Sebagian
besar undangan sudah dikirim. Sisanya adalah kartu undangan cadangan dan
beberapa undangan yang belum terkirim. Salah satunya adalah undangan yang
ditujukan pada seseorang bernama Ramadhan Agung Dharmawan. Undangan yang
semalam basah oleh puluhan tetes airmata Yara.
Yara kembali berdialog dengan hatinya. Ia berusaha mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan: apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus jujur pada
dunia, jika menikah dengan Ardi bukan lagi impiannya? Tapi, tidakkah ia sudah
terlalu jauh melangkah untuk memutar balik? Apakah cinta yang sesungguhnya ia
rasakan, lebih baik disimpan di hati saja? Tapi jika begitu, tidakkah akan
menjadi penyesalan seumur hidup? Tapi, jika pun ia memilih untuk membatalkan
pernikahannya dengan Ardi, apakah Agung masih memiliki perasaan untuknya?
Bukankah Agung akan menikah dengan Dira? Egoiskah ia jika memilih meraih
kebahagiannya? Karena jika itu ia lakukan, maka akan banyak orang yang terluka.
Ardi, Dira, keluarganya, keluarga Ardi, keluarga Dira…….
Semua pertanyaan itu terus berputar
di kepala Yara hingga membuatnya pusing. Rasanya tak ada jalan keluar terbaik. Yara ingin berlari ke gunung, sendiri, dan
tak perlu kembali. Hidupnya, masa depannya, kebahagiannya…..kini tergantung
pada satu pilihan besar. Tapi Yara harus berlomba dengan waktu, karena tak
sampai sepekan lagi, ia akan menjadi isteri Ardi.
Yara membuka jendela. Ia melihat sinar matahari perlahan menerangi pagi. Yara
lalu memejamkan matanya dan menarik nafas dengan lembut. Ia ingin udara pagi
masuk ke dalam dirinya, memberi kesegaran dan menggantikan penat yang menyiksa.
Saat ia kembali membuka mata, suasana pagi sudah jauh lebih terang. Tiba-tiba
ekspresi wajahnya berubah. Ada senyum di bibirnya. “Sepanjang aku hidup, aku
masih punya kesempatan untuk bertemu pagi, karena pagi akan selalu datang.“,
gumamnya sambil mulai berseri. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.
==============nyambung lagi============
October 8th, 2007 at 5:54 am
bete, sengaja banget siy nge-cutnya!!
Btw busway, kadang pengalaman itu emang sumber inspirasi yang paling dahsyat wuezzz hehehe…
Doesnt mean anything loh, ojo marah, bukan ngomongin, poso2 dilarang marah. Bersabar adalah lebih disuka Allah
October 9th, 2007 at 7:05 am
Waduh maaf ya, In, kalau pengalaman pribadi lo gw angkat jadi cerita
Wa wis…ojo marah…puasa2 dilarang marah…hahahahahah