Aku, Kamu, dan Dia (Part 4)

            Yara mengambil HP-nya yang tergeletak di atas meja rias. Tangannya
sedikit gemetar saat jempol tangan kanannya membuka phone book, mencari nama Ardi, lalu men-dial-nya. Jantungnya kian berdetak kencang karena gugup. “Assalamualaikum”,
suara Ardi dari seberang sana terdengar begitu lembut. “Wa’alaikum salam. Maaf aku telepon pagi-pagi, Di.”,
suara Yara masih terdengar serak karena gugup. Ardi langsung menunjukkan rasa tak keberatannya atas telepon Yara. Tanpa
berpanjang-panjang, Yara mengemukakan tujuannya menelepon. Ia meminta Ardi
datang ke rumahnya siang ini. “Ada yang ingin aku diskusikan sama kamu, Di.
Bisakan?“ Pertanyaan ini langsung bersambut persetujuan Ardi, “Okay, insya
Allah, aku berangkat ke rumahmu selepas dzuhur.“ Yara menutup telepon setelah
mengucapkan salam. Ia lalu menarik napas panjang seraya memejamkan mata.

     Yara melirik jam dinding
yang masih menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Mulutnya menguap. Masih cukup
pagi untuk tidur lagi, meski hanya sebentar. Yara melangkah mendekati tempat
tidur lalu merebahkan badannya. Matanya terasa perih dan berat. Yara baru saja
akan terlelap saat pintu kamarnya diketuk dan membuatnya kembali terjaga.

     “Neng Yara, ada tamunya
tuh. Mas Agung.“, Bi Sum mengatakan maksud ketukannya dari balik pintu.
“Agung?!“, Yara sangat terkejut. Ia bergegas membuka pintu dan menanyakan siapa
nama tamu yang datang pada wanita setengah baya yang sudah bekerja di rumahnya
sejak dirinya masih balita. Yara ingin memastikan jika dirinya tak salah
dengar, Agung-lah sang tamu yang dimaksud Bi Sum. Seketika ia merasa bingung,
gembira, sekaligus gugup. Agung, memang dia yang datang! “Tolong minta dia
nunggu bentar ya, Bi. Saya mau cuci muka dulu“, Yara lalu kembali menutup pintu
kamarnya, sementara Bi Sum beranjak menuju ruang tamu, menemui Agung.

         Yara gelisah. Ia bingung
harus bagaimana. Haruskah ia melakukan rencana yang baru saja terlintas di
benaknya beberapa menit lalu? Apakah kedatangan Agung yang mendadak, adalah
petunjuk-Nya agar ia melakukan rencana itu? Sekujur tubuh Yara terasa dingin. Yara
membasuh wajahnya. Sebetulnya ia ingin mandi dulu sebelum menemui Agung.
Tapi
ia tak mau membuat Agung menunggu lama. Yara menyisir rambut dan mengikatnya. Ia
lalu memakai bergo warna biru muda. Berkali-kali Yara membaca basmallah untuk
menenangkan diri, meyakinkan hati, dan berharap ia tak salah melangkah.

         Agung meneguk kopi racikan Bi Sum. Matanya
mengitari ruang tamu. Meski sudah lama berteman dengan Yara, tapi ini adalah
kali pertama dirinya bertandang ke rumah Yara. Ia mengamati foto keluarga Yara
yang terpasang di ruang tengah, tapi masih cukup jelas terlihat dari ruang
tamu. Ruang tamu dan ruang tengah rumah itu memang hanya dipisahkan oleh lemari
kaca dimana ayah Yara menyimpan buku-bukunya. Agung melihat kehangatan dalam
foto tersebut. Saat itulah Yara muncul sambil tersenyum dan mengucap salam.

         “Wa’alaikum salam. Apa
kabar, Ra?“, Agung memulai percakapan dengan pertanyaan standar dan disambut
dengan jawaban standar pula. Agung terlihat sedikit salah tingkah dan berusaha
ia tutupi dengan kembali meneguk kopi. “Kopinya mantap nih!“, komentarnya. Yara
menangapinya dengan senyuman. Senyuman yang dulu membuat Agung semakin kesemsem
oleh Yara.

          “Tumben kamu mampir ke
sini?
Pagi-pagi pula! Apa ada yang penting, Gung?“, Yara langsung to the point. “Mmmm…gak juga sih.
Sebetulnya aku dalam perjalanan ke Depok. Jadi, mumpung sejalan, aku mampir
aja. Gak papakan?”. Yara kembali tersenyum sambil mengangguk. “Mata kamu kok
kelihatan bengkak, Ra?”, Agung rupanya menyadari “kelainan” di mata Yara. “Oooh
ini…semalam aku kurang tidur, keasyikan baca”, Yara berbohong. Adalah hal yang
tak mungkin jika ia mengakui fakta bahwa semalaman ia menangis, kan?

         “Ooooh
kirain begadang bikin kebaya buat nanti kawinan”, Agung melontarkan kalimat
canda yang membuat jantung Yara hampir berhenti berdetak. Yara menunduk,
menyembunyikan ekspresi wajahnya yang berusaha menahan tangis. “Kamu ini, nikah tinggal beberapa hari lagi, tapi
undangan buatku kok belum dikirimin sih?
Janjinya udah dari minggu
kemarin. Jadi akunya deh yang datang untuk ngambil undangannya. Nanti kalau gak
bawa undangan, aku gak diperbolehkan masuk heheheh…”, Agung kembali memberi guyonan
yang membuat Yara harus semakin keras berusaha membendung airmata. Matanya kini
berkaca-kaca. Tapi Yara segera memiliki alasan untuk mencegah Agung melihatnya.
“Oooh, sebentar ya, aku ambilkan dulu undangannya.”, Yara bangkit dari duduknya
lalu berlari kecil menuju kamar.

         Yara
berusaha menenangkan diri. Kembali ia basuh wajahnya, berharap sembab di
matanya tak lagi meninggalkan jejak. Tapi ia tak bisa berlama-lama agar Agung
tak curiga. Yara mengambil salah satu undangan dari atas meja kecil di samping
tempat tidurnya. Tapi bukan undangan dengan nama Agung yang tertempel di
amplop, yang semalam basah oleh airmatanya. Melainkan satu kartu undangan tanpa
nama. Secepat kilat ia mengambil pulpen di rak buku, lalu menuliskan nama
lengkap Agung di amplop undangan tersebut. Hatinya bergetar saat nama laki-laki
itu ditulisnya. Selama beberapa detik Yara memandangi undangan di depannya,
sebelum ia melangkah menuju ruang tamu.

     Yara menyerahkan undangan pernikahannya
tanpa berkata-kata. Ia hanya….lagi-lagi tersenyum. Tapi kali ini,
sesungguhnya senyum yang keluar dari hati yang menjerit. Agung mengambil
undangan yang diletakkan Yara di atas meja, tepat di depan Agung. Agung
mengamati undangan berwarna hijau daun dengan gambar latar belakang panorama
hutan pinus. “Undangan yang sederhana tapi cantik.“, Agung berkomentar. Yara
hanya menimpali dengan ucapan terima kasih.

     “Kamu belakangan kok aneh,
Ra?“, sebuah pertanyaan dari mulut Agung yang membuat Yara tersentak. Belum
sempat ia menjawab, Agung kembali berbicara. “Sejak minggu lalu, kamu gak
pernah online lagi di YM, padahal
kamu baru cuti minggu ini kan? Aku sms, kamu gak jawab. Aku telepon, HP-mu
selalu mati. Sekalinya nyambung, tapi kamu gak angkat. Kamu baik-baik aja
kan?“, akhirnya Agung menyampaikan tujuannya bertandang ke rumah Yara.
“Aku….“, Yara tergagap. Ia tak mampu menemukan alasan kuat untuk dijadikan
dalih yang masuk akal. Hingga dari mulutnya meluncur alasan sekedarnya, “Aku
gak papa. Internet di kantorku lagi bermasalah, jadi aku gak online. Kalau HP, belakangankan aku
sering banget telpon. Telpon percetakan, katering, temen-temen, penjahit, ada aja masalah. Jadi baterenya cepet abis dan aku lagi keluar rumah.
Jadi, HP-ku kan mati. Kalau sms, aku kelupaan balas. Maaf ya.“

         Agung mengamati Yara yang
berbicara sambil menundukkan kepala. Ia berusaha meyakinkan diri jika Yara
berkata jujur. “Syukurlah kalau kamu baik-baik aja. Aku sempat khawatir aja.“,
Agung menyembunyikan kecurigaannya. “Kalian, maksudku kamu dan Dira, apa
kabarnya“, Yara balik bertanya. “Baik. Tapi Dira masih minta waktu untuk
mencari kemantapan hati sebelum aku dan keluargaku datang melamar. Jadi….aku
sih tergantung dia.“, Agung bercerita sambil mengganti posisi duduknya.

             “Jadi, kamu sendiri sudah
yakin memilih Dira?“, Yara kembali bertanya. “Ya!“, jawaban singkat dan tegas
dari Agung. “Kenapa?“, Yara menunjukkan rasa ingin tahunya dengan penuh
kecemasan. “Apa yang ada pada Dira, sudah cukup bagiku.“, Agung kembali menjawab
dengan suara penuh kepastian.
“Kamu mencintainya?“, Yara meluncurkan
pertanyaan dengan suara serak. Agung
tak menjawab. Mata mereka beradu, berusaha berbicara lewat mata. Tapi sesaat
kemudian keduanya tertunduk. “Aku akan menikahinya.“, Agung berbicara sambil
mengangkat kepalanya, tapi kali ini dengan  suara yang tak setegas sebelumnya.

             “Wah, udah mulai siang“,
Agung melirik jam tangannya. “Aku pamit ya. Yang penting sekarang aku merasa
tenang kamu baik-baik saja.“, Agung mengambil jaket yang ia letakkan di samping
kanannya, berdiri, lalu melangkah menuju pintu. Tapi kemudian ia berhenti,
membalikkan badan, memandang sejenak Yara yang masih duduk di sofa. “Kamu sudah
menentukan pilihan Yara. Dan sekarang, aku juga sudah  menentukan pilihan.“, Agung berkata dengan
sebuah senyum. Ia lalu mengucapkan salam dan beranjak pergi, meninggalkan Yara
yang masih duduk, tertunduk, dan meneteskan air mata. Yara tak mendengar jika
hati Agung berkata, “Aku masih menyanyangimu, Yara. Tapi Dira adalah
pilihanku“.

 

=======nyambung
lagi==========

3 Responses to “Aku, Kamu, dan Dia (Part 4)”

  1. Mila Says:

    Ya Asty, kapan nyambung lagi nih….. Mbok ya satu episod dipanjangin dikit. Lagi asyik2 baca eh…. ternyata nyambung lagi…

  2. NuRLiTa Says:

    asty…cerita kamu menandakan suatu kekuasaan tuhan…dari cerita kamu aquw jadi mengerti ternyata tuhan udah memberikan jalan sendiri terhadap umatnya…mungkin hanya butuh waktu untuk bisa menjalaninya…tapi nanti km kirim lagi ya ceritanya aquw amu denger…klo udah ada comment aquw ya di lita_cute_bgd@yahoo.co.id keyz…bubbye asty moga kehadiran seseorang yang saat ini da di samping kamu memberikan kamu sesuatu yang baik…dan tidak membeikan penyesalan dilain waktu…

    lam kenal,

    lita

  3. AsTY Says:

    Makasih ya udah mau baca blogsku dan kasih komen :)

Leave a Reply