Aku, Kamu, dan Dia (part 5)
Berkali-kali Yara mengganti channel televisi. Tak ada satu pun acara yang menarik baginya. Kini ia beralih ke majalah, membuka lembar demi lembar tanpa membaca satu kata pun. Menunggu memang pekerjaan yang paling menjenuhkan. Apalagi jika kita harus menunggu dengan perasaan yang tak karuan. Sudah pukul 2 siang, tapi Ardi belum juga nongol. Padahal, jika ia berangkat selepas dzuhur, seharusnya sudah sampai di rumah Yara sekitar pukul 1 siang. Kalaupun macet, biasanya hanya akan molor sekitar setengah jam. Toh rumah mereka memang tak terlalu jauh, yang bisa ditempuh hanya dalam tempo seperempat jam jika jalanan kosong melompong.
Kini keresahan Yara jadi double. Resah karena dia akan melakuan sebuah langkah besar, juga cemas akan keterlambatan Ardi. Kejadian tadi pagi, meski Yara sadar Agung tak lagi menjadi harapan, tidak mengurungkan niat Yara melakukan rencananya. Akhirnya Yara menelepon rumah Ardi dan tersambung dengan sang calon ibu mertua. Darinya Yara tahu jika Ardi sudah berangkat sejak pukul setengah 1 siang. Ardi bahkan sengaja menggunakan sepeda motor agar bisa sampai lebih cepat di rumah Yara. Tapi kenapa Ardi belum juga datang? Pertanyaan itu makin membuat Yara gelisah. Yara mencoba menghubungi HP Ardi. Non aktif.
Pukul 4 sore. Ardi masih belum menginjakkan kaki di rumah Yara. Yara berdiri di teras mengamati jalan di depan rumah, berharap Ardi segera datang. Sayup-sayup Yara mendengar dering telepon rumah. Sesaat kemudian, suara Bi Sum memanggilnya dan memberi tahu jika Ayah Ardi meneleponnya. Yara berlari menuju ruang tengah lalu mengambil gagang telepon. “Assalamualaikum, Pak“, Yara menyapa dengan salam. “Yara, kamu harus kuat ya, Nak.“, nada suara Pak Dharmawan membuat Yara bertanya-tanya, “Ada apa, Pak?“. Hati Yara semakin gelisah dan merasakan firasat tak enak. “Ardi, Nak, Ardi…..“, suara Pak Dharmawan sempat terputus, “Ardi di rumah sakit. Tadi ia kecelakaan, ditabrak truk dari belakang. Sekarang dia di ruang operasi, ada pendarahan di dalam…” Pak Dharmawan belum selesai bicara, namun Yara sudah terkulai lemas. Tangannya yang gemetar tak lagi kuasa memegang gagang telepon. Ibu Yara yang sedang menonton televisi kontan menjerit melihat anaknya setengah tak sadarkan diri.
Mulut Yara masih terkunci saat ayah ibunya bertanya apa yang terjadi. Yara dibopong menuju sofa di seberang pesawat televisi. Bi Sum mengambilkannya segelas air putih. Tapi belum sempat air tersebut diteguk, tangis Yara meledak. “Maafkan aku Ardi, maafkan aku Ardi…” , kalimat itu meluncur dari mulut Yara seiring air matanya yang kian deras. Keluarga Yara semakin bingung menerka apa yang terjadi.
Ayah Yara membimbing membaca istighfar. Perlahan Yara mulai tenang dan menguasai diri. Akhirnya ia bisa menjelaskan kabar yang baru saja disampaikan Ayah Ardi. Ia pun mengungkapkan rasa bersalahnya, Ardi mendapat kecelakaan dalam perjalanan ke rumah mereka. Kecelakaan yang mungkin tak akan terjadi jika ia tak meminta Ardi untuk datang siang itu. Orang tua Yara berusaha menenangkan Yara dan meyakinnya jika kecelakaan itu bukan salahnya, melainkan sudah kehendak Allah. Tapi hati Yara tetap dicekam rasa bersalah. Karena jauh di dasar hatinya, rasa bersalah itu hadir bukan karena dia telah meminta Ardi datang ke rumahnya, melainkan tujuan ia meminta Ardi datang.
@@@
Langkah Yara terhenti di depan pintu ruang ICU. Tangannya memegang gagang pintu dengan gemetar. Ia mengumpulkan keberanian untuk sanggup melihat Ardi terbaring, koma. Perlahan Yara masuk dan mendekati Ardi. Ia melihat 2 pasien lain di ruangan tersebut yang kondisinya sama dengan Ardi. Inilah kali pertama Yara memperhatikan wajah Ardi dengan seksama. Wajah pucat dengan mata tertutup, oksigen di hidung dan selang di mulut. Yara tak mampu menahan tangis. Rasa bersalah menusuk hati hingga ia sulit bernafas. Ia terduduk lemas di samping kanan tubuh Ardi. Kepalanya menunduk dan hatinya berdialog dengan Tuhan, memohon ampunan dan kesembuhan Ardi.
Yara kembali memandang wajah Ardi. Ia berharap apa yang ada di depannya hanyalah mimpi buruk semata. Ia berharap bisa memutar kembali sang waktu. “Di, kamu kabulkan permintaanku sebelum aku sempat mengatakannya. Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini?“, Yara tak kuasa meneruskan kata-katanya. Ia merasa dirinya sebagai perempuan paling jahat di muka bumi.
Sebuah tepukan lembut di bahu kanan Yara, sedikit mengejutkannya. Yara menengokkan wajahnya pada si empunya tangan. Calon ibu mertua Yara tersenyum meski kesedihan terpancar jelas dari wajahnya.Yara bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Ibu Dharmawan. “Maafkan Yara, Bu. Ini semua salah Yara. Andaikan saja Yara tak meminta Ardi untuk datang ke rumah, ini semua tak akan terjadi.”, kalimat itu mengalir dari mulut Yara sambil sesegukan. Tangan Bu Dharmawan mengelus lembut kepala Yara yang berbalut jilbab biru tua. “Ini bukan salah mu, Nak. Sudah…sudah…jangan salahkan dirimu seperti ini. Ini musibah, Nak. Ibu dan Bapak sama sekali tak punya pikiran jika ini salahmu.“ Ucapan Bu Dharmawan sedikit menyejukkan hati Yara. Perlahan Yara melepas pelukannya lalu memandang wajah sang calon ibu mertua.
“Jika mau mencari siapa yang salah, maka kita semualah yang salah, termasuk Ardi sendiri”, kalimat Bu Dharmawan terhenti sejenak, ia duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Yara. Tangannya mengelus rambut putra bungsunya. “Kamu menyuruhnya datang ke rumahmu. Tapi sesaat sebelum ia keluar rumah, Ibu memintanya untuk sekalian mampir ke rumah teman Ibu di Lenteng Agung, menyerahkan undangan pernikahan kalian. Karena itulah, akhirnya Ardi menukar kunci mobil dengan kunci motor. Ibu sempat memintanya untuk tetap pake mobil karena Ibu lihat di luar sangat mendung. Tapi Ardi bersikeras naik motor, katanya agar tak terlambat ke rumahmu meski ia mampir dulu ke rumah teman ibu. Kalau hujan, dia bilang ada jas hujan. Itulah Ardi, keras kepala! Tapi kalaupun kamu tak memintanya datang, Ardi tetap akan keluar rumah. Semalam dia cerita sama ibu kalau siang ini dia akan ke toko bunga. Ia ingin memberi kejutan di hari pernikahan kalian. Ia ingin pelaminan kalian dipenuhi bunga lili, bunga kesukaanmu kan?“. Yara melongo mendengar akhir cerita Bu Dharmawan. Yara sungguh tak menyangka jika dibalik sikap Ardi yang jauh dari romantis, ternyata punya rencana memberikan kejutan semanis itu. Sementara Bu Dharmawan, akhirnya tak kuasa membendung airmata. Meski tak bersuara, tangis itu menjadi ungkapan kesedihan hati seorang ibu yang berusaha tetap tabah.
@@@
HP Yara non stop menerima SMS sejak pagi tadi. Semuanya menanggapi kabar yang dikirim Yara lewat SMS, bahwa pernikahannya ditunda. Mereka bertanya kenapa pernikahan tersebut ditunda, lalu memberi dukungan agar Yara tabah dan mendoakan Ardi cepat sembuh. Di hari ke-3 Ardi terbaring koma, Yara baru memiliki kekuatan untuk memberi tahu teman-temannya. Di satu hari sebelum hari dimana seharusnya Yara dan Ardi resmi menjadi suami istri, Yara tak memiliki pilihan selain menyebarkan kabar pengunduran hari pernikahan. Diundur entah hingga kapan, atau mungkin justru dibatalkan? Tapi ada satu orang yang tak memberikan respon atas kabar tersebut, bahkan hingga hari menjelang sore. Agung.
“Ra, kamu sudah ashar?“, Bu Dharmawan mengingatkan Yara yang sedari tadi tak juga berhenti olahraga jempol. “Belum, Bu. Ini SMS teman-teman tak berhenti-berhenti. Mereka kaget mendengar kabar tentang kondisi Ardi dan pengunduran pernikahan kami.“, Yara memasukkan HP-nya, ke dalam tas lalu pamit beranjak ke musholla rumah sakit.
Setengah jam kemudian Yara sudah kembali ke ruang tunggu di depan ruang ICU. Di ruangan itulah Yara tidur atau sekedar duduk-duduk selama 3 hari belakangan ini. Bersama Bu Dharmawan, keduanya hanya pulang ke rumah sebentar untuk membawa baju ganti, lalu segera kembali ke rumah sakit. Siapa sangka jika masa cuti yang seharusnya digunakan untuk persiapan pernikahan, justru dihabiskan di rumah sakit?
“Tadi ada temanmu datang, Ra. Sekarang dia di kafetaria. Dia memintamu menyusul ke sana.“, ucap Bu Dharmawan sambil menutup buku yang sedang dibacanya. “Siapa, Bu?“, pertanyaan Yara ini dijawab dengan gelengan Bu Dharwawan. Rupanya sang ibu mertua lupa menanyakan nama sang tamu. “Kalau begitu, Yara pergi ke kafetaria sebentar ya, Bu.“, Yara kembali melangkah ke arah lift, turun ke lantai dasar, melewati taman, lalu masuk ke kafetaria. Yara berusaha mencari sosok yang ia kenal diantara puluhan pengunjung kafetaria. Matanya lalu terpaku pada satu tubuh yang duduk membelakanginya, namun Yara sangat mengenali postur tersebut. Yara melangkah mendekati orang tersebut. Meski merasa sangat yakin jika orang itu adalah temannya, Yara enggan untuk berteriak memanggilnya. Karena mungkin saja kan Yara salah orang? Setelah dirinya berdiri tepat di belakang si teman, barulah Yara memanggil si teman dengan pelan, “Agung?“. Seorang laki-laki dengan t-shirt merah darah menengok ke arahnya. Dia memang Agung!
=======nyambung lagi=======