Aku, Kamu & Dia (Part 6)
Tak banyak yang dibicarakan oleh Yara dan Agung. Mereka lebih sering saling terdiam. Pertemuan selama 30 menit hanya berisi pertanyaan bagaimana kondisi Ardi dan kronologis kecelakaan. Kedua pertanyan tersebut pun hanya bersambut jawaban super singkat dari mulut Yara. Toh memang tak banyak yang bisa diceritakan Yara, selain Ardi koma dan Ardi ditabrak truk dari belakang saat mengendarai motor menuju rumah Yara. Selain itu, Yara merasa sangat tak nyaman dengan kedatangan Agung di rumah sakit. Rasa bersalah seperti tombak yang kian menusuk jantungnya. Disaat Ardi terbaring koma, karena kesalahannya, Yara justru duduk bersama Agung. Laki-laki yang menjadi alasan Yara meminta Ardi datang siang itu. “Uuuuukh”, dalam hati Yara mengutuk dirinya sendiri.
Di lain pihak, Agung kehabisan kata untuk bisa membuka pembicaraan. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Di hari yang sama, dia dihadapkan pada 2 kejadian “besar”. Hanya selang 1 jam setelah mendapat kabar kesediaan Dira untuk menikah dengannya, Agung menerima sms dari Yara. Memberitahunya jika Yara tak jadi menikah besok. Apalagi, kini ia tahu jika Ardi dalam kondisi koma. Jika Ardi meninggal, bukankah ia mendapat peluang besar untuk mendapatkan Yara? Pikiran itu sempat terlintas meski segera ditepis karena membuatnya seolah menjadi seorang penjahat.
“Darimana kamu tahu kalau Ardi dirawat di sini?”, akhirnya Yara memecah keheningan diantara mereka. “Tadi aku telepon ke rumahmu. Bi Sum yang kasih tahu.” Keduanya kembali terdiam. Agung melirik jam tangan, kamulflase rasa gugupnya. Tapi akhirnya ia memilih pamit.
Yara kembali ke ruang tunggu ICU. Tapi ia tak menemukan Bu Dharmawan. Yara menerka jika calon ibu mertuanya sudah beranjak ke musholla karena tinggal beberapa menit lagi adzan Maghrib akan berkumandang. Langkahnya kini mengarah ke ruang ICU, mendekati Ardi yang masih terbaring tak sadarkan diri. Yara memandang wajah bersih berkulit sawo matang di depannya. Matanya berkaca-kaca dan dadanya kembali sesak, terhimpit rasa bersalah. “Di, aku mohon, maafkan aku. Aku mohon, cepatlah kembali.”, Yara berbisik lirih di dekat telinga Ardi.
@@@
Dua bulan berlalu, tapi kondisi Ardi masih tetap sama, koma. Yara masih setia menemani Bu Dharmawan di rumah sakit. Kedua kakak Ardi yang sudah berumah tangga dan memiliki anak yang masih balita, tak memungkinkan untuk menunggu Ardi di rumah sakit. Begitu pula Pak Dharmawan yang tak bisa meninggalkan urusan kantor terlalu lama. Tidur di rumah sakit, pulang ke rumah selepas subuh untuk bersiap ke kantor, bekerja hingga pukul 5 sore, pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian, lalu kembali ke rumah sakit, itulah rutinitas Yara kini. Rutinitas yang mendekatkannya dengan Bu Dharmawan dan mengenal sosok Ardi dari sudut yang lain.
Topik yang paling sering dibicarakan Yara dan Bu Dharmawan, tentu saja seputar Ardi. Ardi si anak bungsu dan satu-satunya laki-laki dari 3 bersaudara. Yara sungguh tak menyangka jika dibalik badannya yang tinggi besar, Ardi ternyata sangat takut pada cecak. Penyebabnya, saat Ardi masih 4 tahun, seekor cecak jatuh tepat di wajahnya, hingga membangunkannya yang tengah terlelap tidur. Ardi sering bertingkah konyol jika melihat cecak, bahkan setelah ia dewasa sekalipun. Ia akan berlari sambil meloncat-loncat kecil. Ini mengingatkan Yara pada presenter Ferdy Hasan yang takut dengan hampir semua jenis hewan. Yara pernah melihat Ferdy Hasan lari terbirit-birit keluar studio saat ia memandu program Good Morning di Trans TV, dan tamunya adalah seorang pecinta ular, lengkap dengan peliharaan kesayangannya.
Bu Dharmawan juga bercerita tentang masa remaja Ardi yang dijuluki play boy. Penyebabnya, Ardi selalu kencan dengan perempuan yang berbeda setiap minggu. Ardi tak pernah menolak jika ada teman perempuannya ngajak nonton ke bioskop, jalan-jalan ke mall dan kencan ala remaja lainnya. Tapi dari semua kencan itu, tak satu pun yang terjadi atas ajakan dirinya. Ardi seperti remaja yang tak punya keinginan. Ia hanya melakukan apa yang orang minta darinya. Bu Dharmawan dan Pak Dharmawan sempat khawatir melihat Ardi yang terlihat menjelma menjadi manusia tanpa prinsip. Hingga belakangan mereka menyadari jika apa yang dilakukan Ardi hanyalah pelarian dari rasa kesepiannya. Orang tuanya terlalu sibuk bekerja sementara ia tak dekat dengan kedua kakak perempuannya. Kakak pertamanya yang sudah menjadi seorang mahasiswi, begitu asyik dengan kegiatannya di kampus. Mulai menjadi pengurus senat hingga latihan karate. Sementara kakak keduanya, lebih suka hang-out dengan geng-nya ketimbang berdiam diri di rumah. Sementara Ardi yang pendiam dan intovert, hanya berteman dengan orang yang itu-itu saja.
Karena Ardi selalu menclok sana menclok sini, akhirnya banyak perempuan yang merasa dipermainkan. Ada yang marah-marah di telepon, ada pula yang sampai datang ke rumah untuk meledakkan amarah pada Ardi. Beberapa diantaranya bahkan terjadi di hadapan Bu Dharmawan. Namun saat sang bunda menegur, Ardi menanggapinya dengan datar. Karena menurut pandangan Ardi, dirinya tak bersalah. Toh bukan ia yang mengajak jalan. Toh ia tak pernah menyatakan cinta, apalagi mengikrarkan jadian. Jadi, apa yang harus dipersoalkan?
Meski terlihat adem ayem, tapi Ardi kian mirip gunung berapi yang telah berstatus siaga. Dalam kepasifan sikapnya, Ardi justru menebar benih kebencian pada orang-orang di sekitarnya. Dan hal ini ternyata hanya awal dari kenakalan-kenakalan Ardi selanjutnya yang semakin membuat keluarganya khawatir.
Suatu ketika, Bu Dharmawan menemukan puntung rokok di kamar Ardi. Awalnya Ardi menyangkal dirinya merokok. Dia beralasan jika rokok tersebut bekas dihisap temannya. Tak lama berselang, Bu Dharmawan yang makin curiga, diam-diam menggeledah isi ransel sekolah Ardi, lalu menemukan sebungkus rokok. Saat ditanya, Ardi justru marah karena merasa privasinya telah direcoki. Ujung-ujungnya, Ardi jadi jarang pulang ke rumah.
Kejutan selanjutnya, Pak Dharmawan mendapat surat pemberitahuan dari sekolah jika Ardi sudah beberapa kali membolos. Saat ditegur orang tuanya, Ardi hanya diam dan bersikap apatis. Ia tidak melakukan pembelaan diri ataupun penyangkalan. Kenakalannya yang satu ini, membuat nilai rapot Ardi kebakaran.
Akhirnya Bu Dharmawan memutuskan berhenti bekerja agar memiliki lebih banyak waktu yang bisa dihabiskan di rumah. Ia tak mau Ardi yang saat itu mencari perhatian dengan tebar pesona pada perempuan, mulai merokok dan sering membangkang, akan melebarkan sayap dengan mencoba narkoba atau pergaulan bebas.
Secara perlahan, kedekatan Bu Dharmawan dengan putra bungsunya, mulai mengubah Ardi. Dia tak lagi gemar mengisi akhir pekannya dengan jalan-jalan tak jelas. Dia lebih memilih diam di rumah, ngobrol dengan orangtuanya, membaca majalah, main gitar akustik, dan terkadang ngumpul dengan beberapa teman dekatnya di teras belakang.
Selanjutnya, Bu Dharmawan menceritakan sesuatu yang sedikit mengagetkan Yara. Entah sudah berapa banyak perempuan yang jalan atau kencan dengan Ardi, tapi ia tak pernah satu kalipun mendengar Ardi bercerita tentang salah satu dari mereka. Misalnya, dia sebetulnya suka pada siapa, atau sekedar tertarik pada siapa. Bu Dharmawan malah menangkap sinyal ketidakpeduliannya pada perempuan. Hingga suatu hari, akhirnya mulut Ardi bercerita tentang satu sosok.
Saat itu Ardi masih kuliah semester 1. Keluarga Dharmawan tengah berkumpul untuk makan malam. Awalnya, Ardi bercerita tentang argumen yang dikemukakannya di acara debat mahasiswa di kampus, yang berlangsung siang tadi. Lalu ia menceritakan seorang perempuan yang berbeda pendapat dengannya. Mereka berdua akhirnya beradu argumen dan alasan-alasannya. Sekilas, memang tak ada yang istimewa dari cerita Ardi. Tapi cara dan gaya Ardi yang begitu bersemangat saat mendeskripsikan sosok perempuan itu, membuat Bu Darmawan merasakan sesuatu yang berbeda. Tak biasanya Ardi bercerita dengan penjiwaan. Biasanya, kata-kata mengalir tanpa emosi, tanpa ekspresi.
Sosok perempuan tanpa nama tersebut ternyata tak hanya sekali menjadi topik pembicaraan di keluarga Dharmawan. Selang beberapa hari kemudian, Ardi pulang kuliah dan langsung menuju ruang keluarga. Saat itu Bu Dharmawan tengah memimun secangkir teh hangat plus pisang goreng buatannya sendiri. Ardi melemparkan tubuhnya ke atas sofa, tepat di samping ibunya. Tanpa diminta, Ardi mulai membagi pengalamannya hari itu pada sang bunda.
“Aku ketemu sama dia lagi, Ma.”
“Dia siapa?“
“Perempuan yang tempo hari berdebat sama aku. Ternyata dia satu fakultas dan satu angkatan sama aku. Tadi aku melihatnya pas kuliah umum.“
“Terus?“
“Ya gak terus sih, Ma. Cuma segitu aja.“
Beberapa hari kemudian….
“Tadi aku satu kereta, Ma, sama dia.“
“Dia, siapa?“
“Perempuan itu. Tapi aku juga baru sadar kalau satu gerbong sama dia, waktu di stasiun Lenteng Agung. Awalnya aku liatin seorang ibu-ibu yang naik sambil gendong anaknya. Terus ada seorang perempuan yang memberikan tempat duduknya sama di ibu-ibu itu. Pas aku perhatiin, eeh ternyata dia perempuan itu.“
“Tumben kamu perhatiin orang lain. Biasanya cuek aja.“
“Yaaa…. kan jarang-jarang ada orang yang ngasih tempat duduknya sama orang lain. Jadi aku penasaran liat orang itu.“
Beberapa minggu kemudian…..
“Dia bernama Yara, Ma.“
“Dia siapa?“
“Perempuan itu. Tadi rapat pertama pengurus senat yang baru. Perkenalan gitu, deh. Nah, ternyata dia ikut jadi pengurus juga.
Untuk keempat kalinya, Bu Dharmawan mendengar laporan harian Ardi, dimana sosok perempuan itu menjadi topik utama. Ia semakin yakin jika perempuan itu, disadari ataupun tidak oleh putranya, telah mencuri perhatian Ardi. Bu Dharmawan merasa lega, karena hal tersebut mengindikasikan hati Ardi tak lagi sedingin gunung es. Tapi perasaan itu tak bertahan lama. Karena selanjutnya, Ardi tak pernah lagi bercerita tentang sosok perempuan itu. Tentang Yara.
Bu Dharmawan pernah berusaha memancing, dengan bertanya, “Apa kabar perempuan itu. Maksud Ibu, Yara.“ Tapi Ardi hanya menjawabnya dengan satu kata, “Baik.“ Bu Dharmawan melihat Ardi kembali dingin dan super cuek pada perempuan. Sang ibu menerka-nerka jika hal ini berkaitan dengan aktifnya Ardi dalam kegiatan rohis di kampusnya beberapa waktu belakangan.
Nama Yara baru kembali disebut sekitar 3 tahun kemudian. Tepatnya beberapa hari menjelang wisuda. Itu pun hanya sekilas, saat Ardi menyebut beberapa nama mahasiswa lain yang sekiranya dikenal Bu Dharmawan, yang juga lulus semester itu. Selanjutnya, nama Yara kembali menguap. Hingga akhirnya, 2 tahun lalu, Ardi tiba-tiba memberi kejutan. Malam itu, Ardi meminta waktu untuk bicara pada kedua orang tuanya. Wajahnya sangat serius plus tegang. Tanpa berpanjang-panjang, Ardi meminta persetujuan orang tuanya untuk melamar Yara.
Dengan semua cerita Bu Dharmawan, Yara jadi mengenal sosok lain dari Ardi. Hidup tunangannya itu, ternyata tak selurus yang ia kira. Ardi bukan laki-laki sempurna tanpa kekurangan. Bukan pula laki-laki kuat tanpa titik lemah. Ardi hanyalah laki-laki biasa yang juga pernah terjatuh dan berusaha kembali bangkit. Kedekatan Yara dengan Bu Dharmawan, secara tak langsung mendekatkan gadis berkulit sawo matang itu pada the real Ardi.
@@@
Sabtu siang, seperti biasa, Yara menemani Bu Dharmawan di ruang tunggu ICU. Meski siang itu, sebetulnya Bu Dharmawan sudah ditemani Pak Dharmawan yang kerap ada urusan kerja keluar kota, walau di akhir pekan sekalipun. Yara sudah tak canggung lagi berada di tengah-tengah keluarga Dharmawan. Orang tua Ardi memang telah menganggap Yara sebagi anak ke-empat mereka, meski Yara belum resmi menjadi menantu.
Pak Dharmawan yang pandai mencairkan suasana dengan berbagai candaan, membuat Yara betah berada di dekat lelaki 60 tahunan tersebut. Tapi, kehangatan pribadi Pak Dharmawan tak menurun 100 persen pada putranya. Ardi relatif diam dan kaku. Dia bisa ngobrol panjang apalagi saling melempar canda, hanya dengan orang tertentu saja.
Yara dan kedua orang tua Ardi larut dalam perbincangan yang sejenak melepaskan mereka dari resah dan kesedihan. Seolah mereka tak sedang berada si ruang tunggu ICU, dan Ardi tak terbaring koma. Hingga sebuah ucapan salam menyetop perbincangan tersebut. Ketiganya menjawab salam tersebut sambil menoleh pada si pemilik suara. Agung tengah berdiri tepat di belakang Yara.
“Maaf saya mengganggu. Saya Agung, Pak, Bu. Temannya Yara. Boleh saya bicara sebentar dengan Yara di luar?“, Agung meminta ijin pada calon mertua Yara.
“Oh silahkan.“ Pak Dharmawan menjawab hangat namun dengan tatapan mata yang mengisyaratkan curiga.
Agung mengajak Yara menuju lobi utama rumah sakit, yang terletak di lantai dasar. Meski lobi cukup ramai, mereka berdua mendapat tempat yang cukup nyaman untuk berbincang. Lobi tersebut memang sangat luas dan difasilitasi dengan sofa yang relatif banyak. Keduanya duduk di sofa yang letaknya dekat dengan pintu masuk utama.
Agung duduk, lalu membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah kartu undangan. “Aku sangat mengharapkan kedatangan kamu, Ra. Terutama doa kamu.“, ucap Agung seraya menyerahkan kartu undangan tersebut pada Yara. Tangan Yara sedikit bergetar saat menerima undangan itu. Ia sudah bisa menerka, jika undangan tersebut pastilah undangan pernikahan Agung dengan Dira. Sejenak Yara terdiam dan menatap undangan berwarna biru tua yang terlihat sangat sederhana itu. Dugaannya tepat, nama Agung dan Dira tercetak di atas undangan tersebut. Yara melihat tanggal pernikahan, seminggu lagi! Yara lalu mengangkat wajahnya. Ia berusaha tersenyum.
“Insya Allah aku akan datang, Gung. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar ya. Gak ada halangan apa pun, hingga pernikahan kalian bisa berlangsung seperti rencana“
“Amin.”
“Semoga kamu bisa jadi imam yang baik untuk istri dan anak-anak kalian kelak.“
“Amin.”
Keduanya terdiam. Agung segera mengajukan pertanyaan untuk memecah kekikukan diantara mereka. “Ngomong-ngomong, gimana kabar Ardi? Ada kemajuan?”
“Masih sama, Gung. Tolong bantu doa, ya.” Yara sudah bisa menguasai diri hingga mampu melepas senyuman tanpa dibuat-buat. Agung mengangguk. Selama beberapa detik keduanya kembali terdiam, sebelum akhirnya Agung memamitkan diri.
Selepas Agung beranjak pergi, Yara tak segera kembali ke ruang tunggu ICU. Ia melangkah menuju taman di tengah-tengah kompleks rumah sakit. Yara tersenyum kala melihat tempat favoritnya, sebuah kursi dari besi di bawah pohon yang cukup rindang, kosong. Bergegas Yara menuju kursi tersebut, sebelum ada orang lain yang mendahuluinya.
Perlahan jemari Yara membuka plastik bening yang membungkus kartu undangan Agung. Ia membuka dan membaca nama lengkap pasangan calon pengantin, waktu dan tempat pernikahan. Pipinya kini terasa hangat karena setetes air mata melintas. Yara berusaha menguatkan diri. Ia mengingat pada harapan dan komitmen yang dibuatnya sebulan lalu….
Hari itu, Agung datang ke rumah sakit untuk kedua kalinya. Agung mengajak Yara makan siang di restoran cepat saji yang tak jauh dari rumah sakit. Agung memohon agar Yara bersedia ikut dengannya karena ada hal serius yang ingin ia bicarakan.
Yara hampir saja tersedak gara-gara mendengar pertanyaan Agung, “Ra, kamu mau terus nungguin Ardi?“
“Maksud kamu?“
“Yaa…Ardi kan sudah sebulan koma. Kita gak pernah tahu apakah…“
“Apakah dia akan sadar atau meninggal? Begitu maksudmu?“
Agung terdiam.
“Iya, aku akan terus menunggu Ardi. Aku tak peduli apa akhirnya. Apakah ia akan sadar dan sehat lagi, atau ia tak mampu bertahan.“
“Kamu benar-benar mencintai dia, ya?“
Pertanyaan itu hampir saja membuat Yara menangis. Tapi ia kuasa menahan air matanya hingga sebatas berkaca-kaca. Ia memilih berbohong dibanding mengungkap kecamuk di hatinya pada Agung. “Iya, aku mencintainya. Sangat mencintainya.”
Hati Agung teriris saat mendengar kalimat itu. Tapi kini ia mantap dengan keputusannya. Sesungguhnya, tujuan Agung menemui Yara siang itu adalah untuk memastikan perasaan Yara. Agung ingin melangkah tanpa penyesalan. Dua hari lagi ia akan resmi melamar Dira. Bagi Agung, pengakuan Yara adalah kepastian bahwa mereka berdua memang tak berjodoh.
Selepas bertemu Agung, Yara langsung menemui Ardi di ruang ICU. Yara tak mampu lagi menahan airmata yang sejak tadi memberontak minta keluar. Ia duduk di bangku yang terletak di samping kanan tempat tidur Ardi. Matanya menatap lekat wajah Ardi yang tak lagi tampak segar seperti dulu. Tak satu pun kata yang yang terucap dari mulutnya. Namun hatinya mulai berdialog dengan Yang Maha Kuasa.
“Ya Allah, tak terhitung kesalahan yang kubuat. Ampuni aku, ya Rabbi. Kumohon, bimbing aku agar tak mengulang semua kesalahan itu. Saat Kau hadirkan Agung, aku begitu terobsesi pada Ardi. Dan saat Kau hadirkan Ardi, aku malah ingin lari dan mencari Agung. Aku sungguh tak bersyukur. Ya Allah, jalan-Mu kerap tak bisa kumengerti, tapi aku yakin jika Kau akan selalu memberi yang terbaik. Ya Allah, maafkan hamba. Tapi ijinkalah aku kembali memohon pada-Mu. Ya Allah, jika memang Ardi adalah laki-laki yang Kau pilihkan untukku, berikanlah aku kekuatan untuk ikhlas menerima ketetapan-Mu. Berilah aku kekuatan untuk mencintainya, karena-Mu. Amin.“ Tangan Yara meraih selimut yang menutup kaki hingga perut Ardi. Kini selimut itu menghangatkan tubuh Ardi hingga di bagian dada. “Di, aku ke musholla dulu ya, sudah ashar. Nanti aku kembali lagi. Kita ngaji lagi ya.“, Yara pamit dengan berbisik.
Sejak hari itu, Yara berusaha lebih ikhlas menemani Ardi di rumah sakit, bukan karena rasa bersalah tapi karena ia memang peduli. Yara juga lebih sering berdoa, memohon yang terbaik bagi Ardi, juga untuknya. Yara pun berusaha membuka hati dan menyayangi Ardi sebagai sosok yang lain. Bukan lagi Ardi dalam kesempurnaan hingga menjadi sosok obsesinya. Usahanya ini sangat terbantu oleh kedekatannya dengan Bu Dharmawan yang mengenalkannya pada pribadi Ardi sebagai manusia biasa.
Tapi saat ini, Yara tak bisa menyangkal jika undangan yang ada di tangannya, mengusik kekuatan yang sudah dihimpunnya selama sebulan belakangan. Adalah bohong jika ia mengaku kasihnya pada Agung sudah berlalu. Rasa itu masih ada, meski ia sudah berusaha keras melepasnya. Undangan pernikahan Agung membawa Yara ke dalam pedih dan galau. Ia merasa terperosok ke titik dimana ia merasa begitu lemah dan malang. Bagaimana tidak?! Kini ia menghadapi kenyataan bahwa Agung akan resmi menjadi suami Dira. Sedangkan ia, terkatung dengan harapan tak menentu. Akankah Ardi selamat dari koma? Atau ia akan ditinggal Ardi setelah kehilangan Agung?
Yara terus menguatkan hati agar tak menangis. Ia malu jika orang yang hilir mudik di taman rumah sakit menangkap basah airmatanya. Meski wajah yang bersedih dan kegelisahan sudah jamak dilihat di lingkungan rumah sakit, Yara tak mau mengundang komentar orang yang mengasihani dirinya.
Yara melihat jam tangan yang melilit di lengan kirinya. Pukul 4 lebih 15 menit. Ia tersadar hampir lupa melaksanakan sholat ashar. Yara bergegas menuju musholla yang letaknya masih di lingkungan taman. Air wudhu terasa begitu lembut menyentuh kulitnya, merasuk lewat pori-pori, menyejukkan jiwa.
Yara larut dalam persuaan mesra dengan Sang Khaliq. Hatinya berangsur terasa damai. Usai mengucapkan salam, Yara bertasbih dan kembali mengadu, mencurahkan hatinya pada Tuhan. Kali ini, ia biarkan airmata menjadi luapan emosinya.
Sepuluh menit kemudian, Yara melangkah ke toilet musholla. Ia membasuh wajahnya dengan air, berusaha menghilangkan jejak tangisan. Selanjutnya ia duduk di teras musholla, kembali merenung, berpikir, dan menata hati. Yara menarik nafas panjang. Ia membuka lagi kartu undangan Agung. Ingatannya melayang pada rentetan kejadian beberapa bulan lalu, saat ia menolak pinangan Agung, juga saat ia memberitahu Agung jika Ardi akan melamarnya. Mungkin, seperti inilah rasa sakit di hati Agung saat itu. Lalu, Yara pun teringat pada kebesaran hati Agung saat itu. Agung tak marah, tidak pula jadi menjauhi Yara. “Ya Allah, dulu Agung melepasku dengan ketulusan rasa sayangnya padaku. Kini, tolong beri aku kekuatan yang sama. Aku ingin bahagia melihatnya mengepakkan sayap dan terbang tinggi, meski bukan aku yang menemaninya.“, bisiknya lirih.
@@@
Setelah pernikahan Agung dan Dira, ternyata hari-hari Yara berlalu seperti biasa. Yara tak selemah yang dirinya kira. Bahkan saat menghadiri resepsi pernikahan Agung, Yara mampu melangkah tanpa getir di hatinya. Semua ini menjadi hikmah luar biasa bagi Yara. Hikmah yang menambah keyakinannya, jika Tuhan tak akan pernah memberi ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya. Dengan cinta-Nya, Tuhan memberi manusia kekuatan untuk tegar.
Malam itu, hanya Yara yang menemani Ardi di rumah sakit. Bu Dharmawan yang terserang flu berat, terpaksa beristirahat di rumah. Itu pun setelah Pak Dharmawan memohon agar istrinya tak bersikeras tetap di rumah sakit. Toh kalau pun di rumah sakit, Bu Dharmawan tak diperbolehkan masuk ke dalam ruang ICU.
Seperti biasa, seusai sholat Isya, Yara membaca al-Quran di samping Ardi. Yara yakin, meski Ardi terbaring koma dan seolah hidup di dimensi yang berbeda, Ardi tetap bisa mendengar alunan ayat-ayat suci yang ia bacakan dengan setengah berbisik.
Ritual selanjutnya, Yara meletakkan Quran berukuran mini yang tadi dibacanya, di samping kepala Ardi. Yara merapikan posisi selimut, memastikan semua bagian tubuh Ardi tertutup. Tanpa sengaja, Yara sedikit terpeleset dan hampir terjatuh di atas dada Ardi. Untung kedua tangan Yara sigap menahan tubuh rampingnya. Yara segera menegakkan tubuhnya. Ia sangat lega karena tak sempat menimbulkan suara ribut.
Yara kembali meraih bagian selimut yang belum menutup tangan kanan Ardi. Kini, seluruh tubuh Ardi, kecuali bagian kepala tentunya, sudah hangat terbalut selimut. Entah kenapa, tiba-tiba Yara ingin membelai rambut Ardi dan mengecup keningnya. Yara langsung membaca istighfar. Tapi kemudian ia membungkukkan badannya, hingga kepalanya berada tepat di samping telinga Ardi. “Di, cepatlah sadar ya. Setidaknya, kamu mampu mengucap ijab kabul. Aku ingin halal merawatmu.”, Yara berbisik lembut lalu tersenyum.