Selamat Ulang Tahun, Bunda

August 15th, 2007 by arastiya

Selamat ulang
tahun bunda.

Waah, hari ini
usiamu resmi lebih dari setengah abad. Tapi di mataku, engkau masih tetap sama.
Wanita energik, hangat, dengan hati bak oasis cinta.

Bunda, rasanya
baru kemarin kita nonton lomba tarik tambang di alun-alun. Waktu itu, tubuhku masih
sangat mungil sehingga pandanganku terhalang tubuh-tubuh dewasa. Aku melihat
teman-temanku bisa asyik menonton karena duduk di atas pundak ayah mereka.
Dengan lugu, aku memintamu untuk menggendongku, agar aku bisa menonton seperti
teman-temanku. Dan apa yang kau lakukan kemudian? Kau jongkok, menyuruhku naik
dan duduk di atas pundakmu.

Aku duduk sambil
tertawa riang dan melonjak-lonjak kegirangan. Aku bahkan tak menyadari jika
tubuh mungilku ternyata terlalu berat untuk badanmu yang kurus. Tapi engkau
berusaha bertahan, karena ingin melihatku tetap tertawa riang.

Bunda, kejadian
sore itu hanyalah satu dari bukti cintamu yang tak terhitung jumlahnya. Hingga
aku tak pernah bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan keindahan
kasihmu.

Bunda, di hari
ulang tahunmu, aku hanya bisa memberimu kado rasa terima kasihku. Dengan segala
keterbatasanmu, terima kasih engkau selalu menjadi bunda sekaligus ayah yang
terbaik untukku.

Rintih

July 21st, 2007 by arastiya

Kutemukan kau masih seperti dulu.

Masih dengan tatapan sayu dan ketulusan hati.

Terkadang kulihat engkau begitu kuat dengan ketegaranmu yang luar biasa.

Namun seringnya kutemukan kerapuhan dalam asa yang kau perjuangakan tetap ada.

Dalam pelukmu, kurasakan kekuatanmu namun pula jerit hatimu yang sesungguhnya merasa lelah.

Dan aku tak akan pernah berhenti melangkah untuk meraih senyum di hatimu.

kApan KAwin?!

June 24th, 2007 by arastiya

KAPAN KAWIN? pertanyaan paling klasik yang diajukan pada para lajang yang masih juga gak jelas kapan berubah "statusnya". Sampe-sampe….pertanyaan ini jadi story utama sebuah iklan rokok. Dan dalam realitanya, bukan hanya Agus Ringgo yang selalu ditodong pertanyaan tersebut oleh keluarga maupun teman.
Seingat gw, sejak my early 20s, apalagi setelah lulus kuliah, pertanyaan ini akrab banget di telinga gw. Di acara keluarga besar, acara resepsi kawinan teman, reuni, de es be….apa pun acaranya, pertanyaannya tetap sama (jadi bukan minum teh Botol Sosro doang yang konsisten :D).
Pertanyaan ini biasanya berlanjut dengan petuah-petuah dan nasihat, juga pertanyaan:

"Jangan terlalu pilih-pilih, nanti malah gak dapat-dapat loh!"
        "Kamu jangan keasikan kerja, jadi gak mikirin kawin!"
                "Kamu cari yang seperti apa sih?"
                        "Ty, gak ada yang sempurna loh di dunia ini!"
                                "Kamu pasang kriteria terlalu tinggi ya? Makanya susah nyarinya!"

Yup…mayoritas lingkungan akhirnya menyimpulkan jika gw yang terlalu pilih-pilih alias terlalu tinggi pasang kriteria. Gak salah sih jika mereka menyimpulkan demikian, toh mereka gak tahu persis apa yang gw cari. Dan gw juga merasa tak perlu untuk menjelaskan pada khalayak, sosok seperti apa yang gw cari. Yang penting, orang tua dan sahabat terdekat tahu, kemana tujuan gw.

Gempuran pertanyaan juga teguran dari berbagai penjuru sempat membuat gw panik. Kalau gak salah ingat, sejak umur gw melewati 24 tahun. Karena dalam plan gw, gw merit pada umur segitu. 
24…25…26..27….waaaaaaaaaaaa gw semakin panik!!!!
Gw tak jua ketemu yang "klik". Duuuh sempet bikin desperado dan hampir saja membuat keputusan yang mungkin akan menjadi penyesalan seumur hidup. Pertanyaan "siapa ya? hampir berubah jadi pernyataan "siapa aja deh!"
Karena panik dan resah, gw hampir memutuskan "YA", hanya karena gw ingin segera ganti status. Gw hampir tidak memperdulikan hal-hal prinsipil dari yang bersangkutan, yang tidak sesuai dengan hati. Gw hampir melangkah tanpa niat yang lurus….menikah karena-Nya.
Tapi untunglah ada istikharah yang membantu menyadarkan diri jika itu bukanlah pilihan terbaik. Bukan karena dia terlalu buruk or terlalu baik buat gw atau gw terlalu buruk or terlalu baik buat dia…tapi ini soal "ketepatan", ya gak?

"Anehnya" sejak pertengahan umur 27 tahun, gw malah bisa "cooling down". Apalagi setelah resmi 28 tahun. Gw malah lebih santai dan gak stress mikirin status yang masih aja single.  Orang bilang, gw jadi lebih pasrah. Ada benernya juga sih. Tapi yang lebih tepatnya, justru karena mind set yang berubah.
Gw lebih "santai" karena gw makin yakin jika segala sesuatu ada waktunya alias segala sesuatu itu indah pada waktunya. Sekuat apapun lo berusaha mendekat, tapi kalau gak jodoh…ya gak bakalan "nyambung". Dan sebaliknya, sekuat apapun lo menjauh, kalau jodoh, ya pasti ketemu.
Yang penting mah kita udah ikhtiar ya ga? Kalau belum dikasih juga, ya karena Allah masih memberi tugas lain, yang mungkin tak bisa atau sulit dilakukan jika kita sudah menikah. Jika jodoh, sesulit apapun halangan yang dihadapi, pasti Allah akan memudahkan jalan. Dan begitu sebaliknya jika tak berjodoh….ini belajar dari pengalaman sih, baik pengalaman pribadi maupun orang-orang di sekitar gw.

But ….buat keluarga dan teman-teman….MAKASIH karena kalian selalu mengingatkan gw untuk segera menyempurnakan separuh ibadah….karena kalian mengingatkan gw untuk tak pasang kriteria ketinggian…..but believe me…kriteria gw sesungguhnya sederhana…sesederhana harapan dan doa yang gw panjatkan padaNYA :)
it’s only the matter of the right time….and the right one ;)

cinta itu…

June 14th, 2007 by arastiya

Tulisan seorang teman dalam blogsnya, membuat ingatan gw
kembali kemasa-masa “muda” (red. masa kuliah). Soalnya, isi tulisan tersebut
seputar cinta. Satu tema yang paling
laris manis untuk dibahas sepanjang masa, apalagi dijadikan lirik lagu,
skenario film dan sinetron.

Mungkin, gw termasuk orang yang telat puber, karena baru
merasakan jatuh cinta setelah umur hampir merayap ke kepala 2. Dan jika gw
mengingat apa saja yang gw lakukan saat itu, gw selalu menggeleng-gelengkan
kepala dan merasa malu pada diri sendiri. Abis norak banget sih! Hehehhehe

Meski merasakan first love di umur yang tak lagi bau kencur,
tapi ternyata gw sempat tergagap juga. Yaaa…mungkin karena bagaimana pun, itu
adalah pengalaman pertama, sehingga gw masih bingung sekaligus “exiting”.

Orang bilang, seseorang yang sedang jatuh cinta, akan caper
alias cari perhatian jika orang yang dia suka ada di sekitarnya. Tapi gw malah
sebaliknya, gw langsung terdiam
seribu bahasa. Seingat gw, saat menyadari kehadiran CT gw (red. Cinta Terpendam
= duuuh bahasa ABG banget ya!!), lutut langsung terasa lemas dan gw jadi mati
gaya …hahahhaah…..jadi geli mengingatnya.

Keterbatasan ilmu dan lemahnya pondasi, membuat gw sempat
salah kaprah mendefinisikan sebuah rasa yang pada dasarnya memang sebuah  “gift”.  Salah
satu yang gw ingat, gw sering membuat teman-teman gw gemes karena gak pernah
mau melirik kanan kiri.

“Duuh tuh cowok
ganteng banget! Lihat deh, Ty!“

“Biasa aja, ah“, respon gw datar, setelah
melihat selintas dengan enggan.

Yup, saat itu gw
berpikir, melirik cowok lain berarti menghianati perasaan gw. Gw bak
menggunakan kacamata kuda, seolah tak ada cowok lain di bumi ini. Ya ampun,
sampe segitunya!

Persepsi yang
salah, juga membuat gw membiarkan perasaan itu tumbuh tanpa kendali.  Gw bahkan memupuknya agar tumbuh semakin
subur. Gak heran jika akarnya makin merambat hingga ke lapisan tanah paling
dasar dan batangnya terus menjulang. Saat itu gw tak berpikir, apakah gw sudah
memberikan perasaan itu pada seseorang yang memang “berhak“ menerimanya. Bahkan
saat ada yang mengingatkan gw, bahwa cintailah seseorang karena cintamu pada
Allah dan cintanya pada Allah, gw belum mampu memahaminya. Rasanya itu masih
terlalu berat.

Tapi, kesalahan
di masa lalu bisa kita jadikan pelajaran berharga, kan? Karena tentunya, gw gak
mau jatuh di tempat yang sama untuk kedua kalinya, apalagi ketiga kali!

Setidaknya,
pengalaman itu membuat gw bisa lebih jernih mendefinisikan rasa yang menjadi
fitrah manusia tersebut. Gw jadi tahu, jika sebetulnya ada 2 pilihan saat kita
jatuh cinta: kita dikendalikan perasaan atau kita yang mengendalikan perasaan?

MENGENDALIKAN
PERASAAN
, terdengar sulit untuk dilakukan. Dan memang sulit! Tapi itu jauh
lebih “aman“ ketimbang pilihan yang pertama. Lebih “aman“ karena kita terhindar
dari harapan berlebih, angan-angan yang bisa jadi bumerang, dan perihnya patah
hati. Gw jadi mengerti, kenapa Allah menyuruh kita menjaga hati dan kenapa Dia
tak menyukai hal-hal yang berlebihan. Karena hasilnya, kita juga yang
menikmati.

Beranjak dari
pengalaman pertama, selanjutnya gw hanya mengijinkan diri merasakan cinta di
permukaan. Begini maksudnya….
Sebagai manusia,
ketertarikan pada lawan jenis udah datang dari sononya. Jatuh cinta kedua kali,
ketiga, keempat dan kesekian kali…menjadi pengalaman gw selanjutnya. Tapi
belajar dari yang pertama, gw berusaha untuk tidak membiarkan“nya“ lebih dari
suka, kagum, atau simpatik. Hasilnya, gw sendiri yang menikmati.
Karena
berbeda dengan yang pertama, saat begitu sulitnya untuk move on, yang
selanjutnya gw bisa recovery dengan express.

Well, cinta memang buta. Karena kita tak perlu seseorang
berwajah ganteng or cantik untuk bisa jatuh cinta setelah melihatnya. Tapi kita
punya hati yang bisa merasakan dan otak yang bisa berfungsi sebagai “rem“. Ya
gak?! Karena cinta itu indah, tapi bisa jadi "musibah".

Kata Hati

June 12th, 2007 by arastiya

Baru saja kaki gw menapak di Depok, HP berdering. Di layar muncul nomor kantor.

"Halo"
            "Ty, rumahmu dimana?"
"Di mampang, Mas"
            "Ty, gimana kalau kita rapat pulang kampung?"
"Tapi saya lagi di Depok, Mas, mau ngurus transkrip nilai."
            "Oooh, gitu. Ya udah. Tadinya gw pengen kita rapat hari ini. Ya udah kalau gitu besok aja."

Panggilan di hari libur, bukan hal aneh sejak gw menjadi kuli tinta. Tapi, untungnya pagi ini gw mengikuti kata hati. Meski badan capek sehingga males banget keluar kamar, tapi sejak semalam, feeling gw terus-terusan ngajak ke Depok. "Ayo Ty, mumpung libur. Ngurus transkrip nilai kan gak bisa sehari. Ayo pergi hari ini!"
Akhirnya, dengan malas-malasan gw meluncur ke Depok. Daaaan untungnya gw mengikuti kata hati hehehhehehe….pertama karena gw tak terus menunda ngurus transkrip nilai….kedua…hehehhehe….gw "terselamatkan" dari bekerja di hari libur :D
Untungnya bukan rapat urgent…jadi bos gak insist rapat hari ini hehhehehe

Sebelum ke Fisip, gw setor ke BNI dulu, lalu ke Mesjid UI buat zuhur. Merasakan kembali kedamaian di tempat itu. Kayaknya, mesjid UI adalah satu dari sedikit "penghuni" UI yang gak berubah. Rupa dan suasananya…masih seperti dulu. Jadi ingat waktu jaman bikin skripsi. Gw sering numpang baca buku di tempat itu. Suasana yang tenang dan peace banget, bikin gw lebih bisa konsen untuk memahami buku-buku yang harus gw lalap. Apalagi perpus Mesjid UI menyediakan buku-buku referensi yang gw butuhkan.

Jam 1 lebih 10 menit, setelah gw yakin jika SBA FISIP udah kembali buka (lepas dari jam istirahat), gw pun bergeser ke kampus yang sudah banyak berubah rupa, hingga gw agak kebingungan juga.
Tapi gw menemukan seseuatu yang masih sama saat sampe di loket SBA. Pak Markijo masih setia duduk di balik loket. Lelaki paruh baya itu menjelaskan dengan ramah, bagaimana prosedur untuk membuat translate ijazah dan transkrip nilai. Dan ternyata gw menghadapi masalah! Karena gw mengira tak perlu dibawa, maka gw gak membawa transkrip nilai asli ataupun fotokopinya. Gw hanya membawa ijazah.
So…berarti gw harus balik lagi lain waktu, membawa semua dokumen yang disyaratkan. Cuapek deeeh :(

Mungkin Pak Markijo bisa membaca air muka gw, maka dia menawarkan untuk mencoba mencari file transkrip nilai gw. "Ya udah, coba saya carikan. Mbak duduk aja dulu di sana, karena mungkin akan lama."

Tapi ternyata gw tak perlu menunggu terlalu lama, Pak Markijo sudah kembali muncul dengan membawa bundelan kertas nilai.
        "Ketemu nih, Mbak. Cuma dibendel, jadi gak bisa difotokopi. Ya udah, nanti saya bikinnya liat dari sini aja. Sekarang Mbak tinggal bayar administrasinya aja ke Bank Lippo, nanti form pembayarannya diserahkan ke sini ya. Sama ini Mbak, terjemahin judul skripsinya sendiri ya."

Akhirnya, gw tak perlu balik lagi untuk melengkapi dokumen. Minggu depan, tinggal balik lagi untuk ngambil hasilnya. Alhamdulillah. Makasih banyak ya Pak Markijo :)

Istana Kecil di Hutan Kasino

June 8th, 2007 by arastiya

Mata gw masih terasa berat, mungkin karena gw baru tidur 2 jam. Tapi jam 4 pagi itu, gw harus segera meluncur ke daerah Moloyeen. Untungnya tak sulit untuk mendapatkan taksi di depan hotel, meski masih di pagi buta. Maklumlah, di kota ini judi berdenyut 24 jam, dan hampir di setiap hotel terdapat kasino.

Setelah menjemput seorang kenalan di daerah San Malou, yang memberi gw informasi tentang tempat yang akan kami liput pagi itu, kami segera bergegas ke tempat tujuan. Kami ingin tiba di lokasi sebelum adzan subuh.

Daan tibalah kami di depan gerbang halaman Mesjid Macau. Satu-satunya mesjid di kota itu. Sayangnya, gerbang digembok. Kami jadi harus berteriak, berharap ada orang di dalam mesjid, sehingga ada yang bisa membukakan pintu pagar.

Akhirnya, seseorang datang dan membukakan kunci gembok.  Betapa  terperanggahnya gw saat  mesjid sudah di depan mata.  Ada pilu merayap di hati. "Ya Allah, kecil sekali!" . Ukuran mesjid hanya 6,5 m x 12 m. Rasanya, lebih cocok disebut musholla. Bayangan orang-orang yang ramai-ramai datang ke mesjid untuk berjamaah sholat shubuh, yang sebelumnya ada di kepala gw, menghadapi realita yang sangat berbeda. Pagi itu, hanya ada 4 orang yang datang ke mesjid, dan salah satunya datang bersama gw dan kameramen gw.

Dua orang dari ketiganya ternyata orang Indonesia yang sengaja datang ke Macau dalam rangka dakwah. Setiap hari minggu, di mesjid ini diadakan pengajian untuk para TKI di Macau. Lalu bagaimana dengan penduduk lokal?

Gw mendengar realita yanng sangat miris. Jumlah muslim yang semula sekitar 45 % dari penduduk Macau, kini cuma tinggal kurang lebih 45 orang!!!! Islam yang dibawa oleh orang Pakistan, hanya mampu bertahan hingga generasi kedua. Setelah generasi kedua meninggal, mayoritas keturunan mereka tak lagi memeluk Islam. Mereka kini menyembah dewa dan dewi. Jangan harap menemukan anak atau cucu yang sedang membaca Fatihah or Yasin di makam-makam yang ada di samping masjid.  Yang mereka lakukan justru membakar dupa dan menaruh sesajian (termasuk daging babi).

Minimnya dana dan kurangnya SDM , membuat Islam makin terkikis di Macau.  Untungnya, masih ada segelintir orang dari Indonesia dan Malaysia yang menyengajakan datang ke sana untuk berdakwah. Tapi itu sangat tak cukup untuk memberi energi iman muslim di sana. Semoga, akan bertambah orang-orang yang peduli. Amin.

Maafin Ya :(

June 8th, 2007 by arastiya

"Ty kok lo sibuk mulu sih sekarang?"
               "Ty, masih sibuk juga?"
"Ty, kemana aja? Kok jarang nongol lagi di YM?"
                "Ty, ikon lo busy mulu sih!"

Saat beberapa teman menyampaikan pertanyaan di atas, gw masih bisa menjawab or menanggapinya dengan datar alias no hard feeling. Tapi  semalam,  saat kakak sepupu gw (yang udah seperti kakak kandung bagi gw), yang mengirim pesan di YM, hati gw sedih banget dan merasa gak enak.

"Asty, sekarang sibuk terus ya? Julia udah 4 hari ini demam, jadi gak masuk sekolah TKnya deh."

Sebelumnya, hampir tiap hari gw dan kakak gw chatting. Jadi gw selalu tahu kabar di sana, terutama perkembangan Sarkijul-ku. Gw selalu tahu apa yang dilakukan ponakan kesayangan gw. Julia lagi pergi sekolah, lagi ngerjain PR kumon, lagi makan mie, lagi tidur siang, lagi nonton kartun kesayangannya, lagi gangguin emaknya masak, atau lagi berkirim ikon dengan gw.
Dan sekarang, Sarkijulku sakit, gw baru tahu :(

Rasanya sangat gak nyaman, saat profesionalisme bertarung dengan hati.

Julia, maafin bibi Aty, ya. Semoga neng geulis cepet sembuh. Amin.

Tak Kenal Maka Tak Sayang

June 1st, 2007 by arastiya

"Asty, kamu punya paspor?"
            "Punya. Mas."
"Ya sudah, kalau gitu kamu aja yang berangkat!"
            "Kemana, Mas?"
"Macau sama Hongkong."
            "Kapan?"
"Senin depan"
           "…..?"

Itu artinya gw cuma punya 4 hari untuk mempersiapkan diri. Walah! Waktu yang teramat singkat untuk persiapan DLN (Tugas Luar Negeri). Apalagi jika kita ditugaskan ke negeri yang kita gak begitu "kenal". Macau kota judi, hanya itu yang gw tahu. Di sela pekerjaan, gw berusaha menyempatkan diri untuk riset singkat. Setidaknya, kepala gw gak gelap-gelap amet soal wilayah administrasi khusus di Cina itu.

Selasa pagi, 15 Mei 2007, akhirnya gw menjejakan kaki di Last Vegas di bumi timur. Di bawah sinar matahari yang baru terbit, mata gw terbelalak. Pemandangan yang ada di depan gw sungguh beda dengan apa yang ada di benak gw: Macau = kota judi, brongs, monoton.

Macau ternyata kota dengan penataan yang apik. Meski jalanannya kecil, tapi sangat jarang gw terjebak macet. Bangunan-bangunan peninggalan Portugis terawat sangat baik, bahkan terlihat megah dan eksotis. Beda banget dengan bangunan kuno yang ada di kawasan kota. Gw lebih merasa sedang di Eropa ketimbang di Cina.

Dan dibalik puluhan gedung kasino, ternyata Macau punya banyak pesona alam dan budaya. Gw pun langsung merasa exciting!!! Jalan-jalan ke perkampungan tua nelayan di pulau Coloane dan Taipa, Berarung jeram dalam vulcano di pulau Macau, bersantai sejenak di taman Lou Lim Ioek yang bernuansa Cina tradisional, dan cuci mata di San Malou.  Meskipun harus  kerja ekstra karena itinerary yang padat….tapi it was fun!

Cuma nih….susah banget ketemu  orang lokal yang bisa berbahasa Inggris. Bahkan di hotel sekali pun! Oya…heheh…ngomong-ngomong soal hotel…gw sempet tertegun juga saat masuk ke dalam kamar hotel. Dikasih suite room!!! Walah…udah gratisan….dikasih "service" lebih! Siapa yang gak seneng! Ya gak?
Dan balik lagi ke cerita bahasa Inggris. Kesulitan terbesar justru terjadi saat liputan.  Soalnya, orang yang nemenin gw kemana-mana adalah orang Portugis yang juga tak bisa berbahasa Mandarin ataupun Kantonis! Ya…jadilah bahasa tarzan yang gw pake saat wawancara narasumber!

Dan buat yang suka belanja, Macau itu berbatasan dengan kota Zhuhai, yang sudah termasuk wilayah Cina daratan. Jalan kaki juga nyampe! Nah di Zhuhai ini, harga barang-barangnya murah banget!!! Jauh lebih murah ketimbang Hongkong, apalagi Jakarta. Tapi harus jago nawar sih! Dan perjuangan juga tuh saat menawar…karena hanya bisa pake "bahasa kalkulator" hahhaha.

Selain itu, Macau juga deket banget sama Hongkong. Cuma 1 jam dengan kapal feri. Bahkan, dalam 1 hari gw bisa jalan-jalan di 3 kota sekaligus dengan rute: Macau-Hongkong-Macau-Zhuhai.

And at the end…gw balik ke Jakarta dengan perasaan  bersyukur banget karena mendapat banyak pengalaman. Padahal, sebelum berangkat, agak setengah hati juga untuk berangkat ke Macau. Soalnya, gw pengennya tugas DLN ke negara-negara yang panorama alamnya yahud, seperti NZ atau negara2 di Eropa (tapi gak mau deh kalau Ausie or Amrik!). Well…benar kata pepatah…tak kenal maka tak sayang :)

Jadi “Narasumber” dadakan

May 26th, 2007 by arastiya

Pesawat mendarat sekitar pukul 5 am. Dua orang penjemput sudah menunggu tepat di depan pintu kedatangan. Yang satu, seorang guide dari travel agent yang bisa berbahasa Indonesia dengan logat Jawa, sehingga gw mengira dia orang Indonesia. Tapi ternyata dia orang Cina Daratan tulen! Kebetulan aja ibunya orang Kediri sehingga di rumah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Yang satunya lagi pegawai Viva Macau Airlands (yang ngundang gw dan wartawan lain ke Macau), seorang Portugis. Mewakili teman-teman yang lain, gw bertanya pada kedua orang penjemput itu: dimanakah praying room? Dan ternyata…..di bandara internasional Macau gak ada musholla! Untungnya waktu shubuh di sana adalah 5:30 am, jadi masih sempat shubuh di hotel.

Dari sinilah, si wanita Portugis bertanya, berapa kali dalam sehari gw sholat, agar dia bisa alokasikan waktunya dalam itinerary. Setelah dua hari bersama, kami jadi cukup akrab. Mungkin karena gw satu-satunya perempuan dalam rombongan wartawan, sehingga dia selalu bareng sama gw. Dia pun mulai berani mengajukan beberapa pertanyaan, yang selalu diawali dengan kalimat: "may I ask you something?". Jika prolognya seperti itu, gw udah bisa menebak topik pertanyaannya: seputar Islam.

Yup, semakin hari, semakin banyak pertanyaan yang dia ajukan tentang Islam (padahal kan yang wartawan itu gw….jadi gw ya yang harusnya banyak tanya?! heheheheh). Pertanyaan-pertanyaan dasar dan sederhana, namun ternyata tak mudah juga buat gw untuk menjelasannya. Pertama, karena ilmu agama gw minim banget. Kedua….karena gw harus menjelaskannya dalam bahasa Inggris!!!! Pusing juga…. Inggris gw kan ancur banget hehheheheh. Dan ketiga, gw harus menjelaskannya dalam "bahasa" yang bisa dia "mengerti"…..soalnya, dia bilang: "I don’t believe in God but I believe in man." Makanya, dia gak menganut agama apapun.

Contoh pertanyaan dia: Berapa kali muslim sholat dalam sehari? Apa bedanya dari kelima sholat wajib itu? Apa tujuan sholat? Kenapa gw memakai jilbab? Apa itu jihad? Bagaimana perempuan dalam Islam? Dan kenapa gw percaya Tuhan?

Dan saat dia melihat gw selalu meminta makanan non pork dan tak pernah meminum wine (karena selalu ada wine di setiap jamuan), dia bertanya: tidakkah gw merasa penasaran untuk merasakan pork dan wine? Apa yang membuat gw bergeming untuk tidak mencoba makan pork dan meminum wine?

Dan tahukah apa yang terjadi kemudian….dia semakin menunjukkan rasa ingin tahunya akan Islam. Dia juga menceritakan bagaimana pandangan dia selama ini terhadap muslim dan Islam. Duuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh ternyata banyak banget persepsi yang salah ya?! Gak heran jika dia sering menunjukkan ekspresi "oooooh" saat gw menjelaskan. Dia bilang, kalau selama ini dia ingin sekali bertanya, tapi gak pernah ketemu tempat untuk bertanya. Dia juga bilang kalau dia sangat takut mengajukan pertanyan yang salah, pertanyaan yang akan menyinggung. Makanya di awal-awal dia selalu terlihat ragu dan sungkan untuk bertanya. Dan setelah tahu kalau gw sangat tidak keberatan dengan pertanyaan-pertanyaannya, dia kelihatan antusias banget.

Oya…ada satu kejadian yang sangat gw ingat. Waktu itu kami sedang duduk di sebuah taman (sementara kameramen gw sedang sibuk ngambil gambar…gw malah ngobrol ya…hehhehe…). Dengan sedikit ragu, mungkin takut akan reaksi gw, dia cerita kalau dia dan tunangannya udah tinggal bersama. Obrolan pun jadi berlanjut ke topik relationship. Dia menceritakan alasan kenapa dia tinggal bareng sebelum menikah: untuk memastikan he is the right person. Lalu dia bertanya sama gw: jika suatu hari nanti gw ketemu dengan seorang laki-laki, dan saling suka (maksudnya sih "klik"), apakah  gw akan langsung menikah dengan  laki-laki itu?

Well ….8 hari bersama….menjadi "narasumber" dadakan….semoga gw tak memberikan penjelasan yang keliru….karena sampe sekarang, ternyata kepikiran juga….takut ada yang salah gw jelaskan sehingga salah juga persepsinya…..

Sedih deh :(

May 5th, 2007 by arastiya

Minggu pagi, gw baru saja selesai bertugas on air Reportase Pagi. Dari control room, gw beranjak ke ruang redaksi. Saat melewati deretan pesawat televisi, sayup-sayup terdengar narasi dari sebuah program infotainment, bercerita tentang Tamara Bleszynski yang mendatangi rumah mantan suaminya untuk bertemu Rasya, sang buah hati. Namun dia harus berlapang dada, berdiri di depan pagar dan tak bisa menemui Rasya.

Selama ini gw termasuk orang yang gak up to date tentang "kabar" selebritis. Tapi, ada 2 kasus selebritis yang belakangan ini "mengundang" perhatian gw. Tamara Bleszynski dan Ahmad Dani-Maia Ahmad. Gw merasa getir, sedih, dan prihatin.

Gw pernah bertanya pada mamah, kenapa dua orang yang semula saling menyayangi bisa jadi saling membenci?  Nyokap bilang, karena cinta dan benci sangat tipis batasnya. Well...soal ini akhirnya bisa gw pahami karena gw pun pernah ngalamin sendiri. First love gw adalah orang yang sebelumnya gw benci….ini namanya kualat ya? hehehheh….

Tapi, gw masih tak bisa memahami, bagaimana dua manusia yang kemudian saling membenci itu, lebih mempedulikan dirinya ketimbang hati-hati lugu yang terluka. Jika suami istri harus berpisah, tak bisakah menghindari konflik terbuka? Agar hati-hati lugu itu tak bingung….tak terluka.

Setiap pasangan suami istri yang berpisah akan punya peluang untuk membangun hidupnya kembali dan meraih kebahagian dengan orang lain. Dengan pasangan yang baru. Tapi bagaimana dengan anak-anak mereka?  Melihat orang tua saling membenci dan menyakiti…pasti akan menjadi luka terdalam bagi anak, dan mungkin menoreh trauma.