Jumat pagi, saat gw baru saja selesai on air Reportase Pagi, gw mendapat kabar duka. Chrisye meninggal. Sejak 2005 lalu, ia diveto terkena kanker paru-paru. Penyakit yang sangat besar peluangnya diderita perokok.
ROKOK. Gw benci rokok tak hanya karena asapnya yang bikin sesak dan jadi sumber penyakit. Tapi juga karena gw “harus” melihat laki-laki yang paling gw sayangi meninggal secara perlahan, karena komplikasi berbagai penyakit, yang sumbernya adalah rokok!!!!
Sakit rasanya melihat orang yang kita sayangi harus terbaring lemah lebih dari sebulan. Setiap hari ia harus menjalani pembersihan saluran nafas dengan alat khusus (yang tentunya sangat tidak murah). Tabung oksigen pun harus terus disiagakan di samping tempat tidurnya.
Dan saat kondisinya seperti itu, gw justru harus pindah ke Depok, memulai hidup sebagai mahasiswa. Gw ingat betul, malam sebelum gw berangkat, aki bilang kalau umurnya tak akan sampai sebulan lagi. Tapi gw memintanya untuk tak berpikir seperti itu. Gw bilang, kalau dia akan kembali sehat dan tak boleh pergi.Gw gak mau kehilangan aki. Gw terlalu sayang sama aki, orang yang telah membesarkan gw.
Seminggu sebelum meninggal, aki meminta gw untuk pulang ke Majalengka. Tapi karena gw sedang P4, yang jika bolos satu hari katanya harus mengulang tahun depannya (dan ternyata P4 justru dihapus tahun ‘98), gw tak bisa memenuhi permintaan aki.
Minggu, 31 Agustus 1997, pukul 6 pagi, sepupu gw datang ke asrama. Dia hendak menjemput gw pulang ke Majalengka. Katanya, sakit aki makin parah. Saat itu, yang terbayang di kepala gw adalah kondisi aki seperti saat gw lihat terakhir kali, sebelum pergi ke Depok.
Menjelang sore, gw sampe di kampung. Tampak beberapa sepupu gw sedang duduk dan berbincang di teras rumah aki. Gw menyapa mereka dan ikut berbincang. Tapi tak lama kemudian, salah satu ua gw menarik gw masuk ke dalam rumah, ke dalam kamar aki. Dan betapa terkejutnya gw saat melihat kondisi aki yang tengah sakaratul maut. Matanya terpejam dan sudah tak bisa bicara. Gw melihatnya dadanya yang naik turun, seperti kesulitan bernafas.
Gw menjerit. Ua Iwa menarik gw ke belakang rumah untuk menenangkan gw. Ia menasehati gw, jika memang gw sangat sayang sama aki, gw harus bisa mengikhlaskan kepergiannya. Ia pun menceritakan jika aki sudah tak sadarkan diri sejak subuh. Ia sudah sakaratul maut. Meski aki terlihat tenang dan tak kesakitan, tapi keluarga gw heran karena hingga tengah hari, aki masih “bertahan”. Hingga seorang tamu berkata, jika aki sedang menunggu seseorang. Dan mungkin, gw lah orang yang ditunggu itu. Gw kaget mendengar cerita Ua Iwa. Mungkinkah? Mungkinkah aki “bertahan” karena menunggu gw?
Akhirnya gw sadar, jika gw harus bisa ikhlas melepas aki. Gw kembali masuk ke dalam kamar aki. Gw duduk di samping kanan tempat tidurnya. Gw cium keningnya dan menggenggam tangannya. Gw bisikkan asma Allah di telinganya. Gw bisikkan pula, jika gw sangat sayang padanya dan ikhlas jika dia pergi. Dan subhanallah, tak lama kemudian ia pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang.
Saat itu gw merasa sangat sedih bercampur lega. Sedih karena berpisah dengan salah satu orang terdekat gw. Orang yang sangat keras tapi juga sangat lembut dalam mendidik gw. Lega karena akhirnya aki "terbebas" dapi penderitaan panjangnya. Dari rasa sakit yang menyiksa akibat penyakit jantung, paru-paru, dan darah tinggi.
Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahan aki, serta menerima segala amal dan kebaikan aki. Amin.
Love U