Mengumpulkan Keberanian

May 5th, 2007 by arastiya

Siapakah orang paling sulit kita bujuk atau kita yakinkan untuk melakukan / tidak melakukan sesuatu?
Menurut gw, dia adalah diri kita sendiri…
Kadang kita "kehilangan akal" untuk meyakinkan diri kita sendiri agar berani melangkah or membuat keputusan. Rasa khawatir bahkan takut akan segala resiko dan konsekuensi, sering kali membuat diri jadi maju mundur. Kita jadi tak percaya diri pada kemampuan sendiri.
Padahal, mungkin yang terjadi nanti tidak akan seberat yang kita bayangkan. Tapi mengumpulkan keberanian dan kemantapan hati, kadang tak semudah yang kita harapkan. Terutama jika itu menyangkut sesuatu yang "besar" or "penting" buat "masa depan".
Duuuuh…kadang kesel juga ya?….Kesel pada diri sendiri yang jadi pengecut!
Meski hati dan pikiran sangat yakin jika usaha, doa, dan tawakal, adalah kunci untuk meraih apa pun dalam hidup ini….tapi tetep aja….alam bawah sadar berbicara lain.

Jika Mata Bicara

May 3rd, 2007 by arastiya

Kucoba terus tak menoleh.
Namun akhirnya aku melihatnya juga,
tatapan keruh tanpa cahaya.

Bukankah dulu aku pergi agar kamu tersenyum?
Bukankah dulu aku pergi agar kamu tak lagi gamang?
Tapi, kenapa bukan itu yang diceritakan matamu?
Tidakkah ia bisa membuatmu tertawa?
Tidakkah ia membuatmu "feel at home"?

Tak ada lagi kata terucap untuk memohon, seperti dulu.
Saat aku tetap bergeming.
Namun kini, sinar pilu itu justru menusuk hati.

Jahatkah diri jika berusaha tetap tak peduli?
Tapi benarkah jika kubiarkan diri luruh?

Oleh-oleh

April 17th, 2007 by arastiya

Akhirnya, pagi tadi penghuni rak "cenderamata" gw bertambah lagi. Setelah hampir setahun konstan, sebuah gantungan kunci dan magnet lemari es berbentuk unta, buah tangan dari Ardy yang baru pulang tugas liputan dari Tunisia, menambah koleksi barang-barang khas berbagai daerah. 

Dulu, gw dan teman-teman selalu saling memberi oleh-oleh jika Dinas Luar Kota (DLK) or Dinas Luar Negeri (DLN). Gw sampai menyiapkan rak khusus di kamar untuk menyimpan dan memajang berbagai suvenir, baik oleh-oleh temen maupun yang gw beli sendiri saat tugas DLK. Seneng aja mengoleksi berbagai barang yang menjadi ciri khas daerah tertentu.

Yang paling unik adalah oleh-oleh dari Desi, Didit, dan Gatut, saat mereka ke Amerika. Mereka mengoleh-olehi gw sendok kecil dari pelastik dan tisu bertuliskan nama kafe dimana mereka mendapat barang-barang tersebut. Unik, mengingat "perjuangan" mereka untuk mendapatkannya hahhaha. Nah, kalau temen yang paling "unik" permintaannya jika orang lain keluar kota, terutama ke daerah pantai, adalah Buyung, cowok Padang yang mendok banget ngomong Sundanya hahahha.  Dia tuh koleksi pasir laut. Jadi, kalau lagi ke pantai dan ternyata pasirnya bagus, gw akan cari botol air mineral untuk menampung pasir. Di botol tersebut lalu diberi keterangan tempat dimana pasir tersebut diambil dan tanggal pengambilan. Aduh ‘Yung…masih ada gak tuh koleksi pasir lo? 

Tapi…seiring waktu, gw dan temen-temen gw mulai jarang ke lapangan,
apalagi liputan keluar Jakarta. Udah banyak temen-temen yang lebih
fresh, yang membuat kami jadi uzur :D

Oya, waktu beres-beres kamar beberapa waktu lalu, gw "menemukan" pelastik oleh-oleh yang gw beli di Brastagi, Sumatera Utara. Dulu gw beli banyak stok, sehingga masih bersisa. Ada kalender khas batak yang terbuat dari Bambu dan gantungan kunci kerajinan masyarakat lokal. Ada yang berminat? heheheheh

“Olah Raga” Jantung Lagi

April 16th, 2007 by arastiya

Kita memang gak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok. Meski kita sedikit bisa "memprediksinya", tapi tetap saja…kita mah cuma manusia ya :D
Berdasarkan tradisi, biasanya jika seseorang ditempatkan di suatu program di tengah rollingan, maka pada saat rollingan reguler, seseorang itu akan stay di program yang bersangkutan untuk masa tugas 6 bulan kedepan. Tradisi itulah yang membuat gw dan teman-teman memprediksi gw akan tetap bertugas di Reportase Pagi. Jujur, gw sih seneng kalau prediksi itu benar. Soalnya, sepanjang 5 tahun gw bekerja di Trans, di program inilah gw bisa bekerja dengan adem ayem. Jantung gw gak perlu "olah raga". Pokoke damai banget deh di program ini…kerja dalam suasana kantor yang sepi, gak hektik, daaaan libur yang panjang. Gw jadi punya waktu untuk melakukan hal lain selain bekerja. Mulai ketemu temen-temen sampe ikut kursus. Gw jadi punya kehidupan lain, di luar kawasan Para Group.

Tapi, Senin malam, gw melihat pengumuman rollingan yang mulai efektif 7 Mei mendatang. Dan jeng jeeeeeeeeeeeeeeeeng….faktanya: gw diroling ke REPORTASE SORE ! Walaaaaaah!
Sepertinya Allah sedang meminta gw untuk "berani" menghadapi hal-hal yang selama ini gw hindari. Salah satunya, saat gw ditugaskan di desk AE pada rolingan kemarin. Dan sekarang….Reportase Sore…program paling hektik di lantai 3. Yaaah…siap-siap "olah raga" jantung lagi deh heheheh…..

Tapi…just look at the bright sight aja…Meski santai, tapi selama di Reportase Pagi, batuk gw gak sembuh-sembuh…hampir 2 bulan, bo!!! Udah ke dokter 3 kali…tetep aja batuk ini betah di badan gw. Gw sampe khawatir terkena BBB…itu tuh yang lagi gencar diiklankan di TV….tapi kata dokter, paru-paru gw baik-baik aja. Alhamdulillah. Mungkin karena badan gw lagi gak fit…jadi daya tahan tubuh gw gak bisa menangkis alergi gw…Secara gw alergi dingin…dan suhu ruang redaksi di malam hari hampir mengalahkan lemari es. Jadi…mudah-mudahan…dengan kembali ke siklus normal (bekerja di waktu terang dan tidur di waktu gelap), akan membuat badan gw kembali fit. Amin….

Tapi…apa kabar kursus gw ya? Waduh!!! Masih bisa dilanjutin gak ya?

Duka di Hari Ulang Tahun

April 11th, 2007 by arastiya

11 April 2007. Inilah hari ulang tahun yang gw "rayakan" dengan suasana duka. Nova, teman kantor gw, meninggal pukul 8 malam tadi, setelah 10 hari koma. Innalillahi. Semoga Allah mengampuni dosamu, Nov. Semoga Allah menerima semua amal dan kebaikanmu. Semoga kamu mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.

Dua peristiwa "besar" yang terjadi bersamaan, membuat gw makin sadar, jika jatah hidup gw makin sedikit. Dan gw gak tahu, kapan gw akan kembali pada-Nya.

28 tahun hidup di dunia ini, apa saja yang sudah gw lakukan?Sudahkah gw manfaatkan waktu yang diberikan Allah dengan baik? Rasanya hanya dosa, salah, dan khilaf yang mengisi hari gw.

Bekal apa yang sudah kusiapkan untuk menghadap-Nya? Nothing :(

Gak ada lagi rencana atau target "ideal" yang gw buat untuk hari-hari ke depan. Gw ingin lebih mengalir menjalani hidup. Gw akan berusaha tetap bahagia dalam lapang dan sempit, dalam sehat dan sakit.

Jangan banyak mengeluh lagi ya, Ty. Karena Allah udah sayang banget sama lo, Ty. Allah udah banyak kasih anugerah dan hal indah. Allah selalu jaga lo, Ty. Jadi manusia yang lebih bersyukur, ya Ty.

Kembalikanlah semangat ilalang yang 5 tahun ini hilang. Tetap tersenyum menyambut hari ya, Ty. Teruslah memperbaiki diri, karena waktumu tak banyak lagi, Ty.

Esmosi deh!!!!

April 9th, 2007 by arastiya

Selama hampir sepekan mengedit beberapa naskah kasus kematian praja IPDN, Cliff Muntu, bikin gw esmosi deh!!!
Gw gak habis pikir, bagaimana manusia bisa merasa senang menyakiti orang lain dan merasa puas melihat orang lain kesakitan. Gw bertanya-tanya, apa yang ada di hati mereka saat melakukan penganiayaan itu?
Sakit jiwa!! Iya, hanya orang sakit jiwa dan gak punya hati yang sanggup melakukannya. Mereka bilang, pukulan itu sebagai hukuman atas kesalahan yang dilakukan si korban. Si-korban bermasalah, itu dalih para pelaku. Menurut gw, yang bermasalah itu adalah para pelaku!!!!! Bermasalah dengan kestabilan mental dan emosi mereka, ya gak?
Seperti inikah para calon pemimpin di Indonesia?!!!!  (smoga hanya oknum)

Saat SMA dulu, gw ikut paskibra. Setiap diklat dan berbagai kegiatan lain, dilatih oleh  militer. Setiap kesalahan, selalu ada hukuman. Dan gw akuin, tak sedikit dari hukuman itu yang berupa fisik, baik pukulan maupun tendangan. Tapi bukan pukulan dan tendangan dengan sekuat tenaga. Setidaknya, gak bikin kami kesakitan apalagi memar-memar.

Duuuh Gusti…..ada apa dengan mereka? Jika manusia saja sanggup mereka sakiti, bagaimana terhadap mahluk-Mu yang lain?

(yanglagiemosilihatmanusiagakpunyahati)

Ini Nyata

April 7th, 2007 by arastiya

Jumat malam, akhirnya aku bisa melangkahkan kaki ke RSCM, menjenguk temanku Nova.
Meski hanya dari balik kaca, aku melihat Nova terbaring  tak sadarkan diri di ruang ICU. Matanya tertutup dengan selang pernapasan dan entah apa lagi yang dipasangkan pada badannya. Aku serasa ini seperti mimpi. Ya Tuhan , aku pernah melihat orang terbaring seperti ini hanya di TV, tapi sekarang….ini nyata…ada di depan mata…dan ia adalah temanku.
Aku mencoba bicara padanya, meski aku tak tahu pasti apakah dia bisa mendengarnya.
"Nova, maafin gw ya. Karena diantara obrolan bahkan tawa kita, mungkin ada perkataan dan sikap gw yang menyinggung hati lo. Nova, berjuanglah untuk bertahan, demi orang tua, istri dan ketiga anakmu yang sangat menyayangimu.
Tapi kami tahu, sekuat apapun lo berjuang untuk bertahan, Tuhan lah yang menentukan. Gw hanya bisa berdoa….berharap yang terbaik untuk lo dan keluarga lo. Allah sangat sayang sama lo, Dia akan menjaga lo, dan memberi yang terbaik. Amin. "

Ya Allah, semoga Engkau masih memberinya  kesempatan…..amin.

Berduka

April 3rd, 2007 by arastiya

Tiga hari libur dan sama sekali gak kontak-kontakan dengan teman kantor, membuat gw "ketinggalan" berita.

Malam tadi, saat gw hendak masuk ke ruang redaksi, sebuah "pengumunan" terpasang di pintu kaca. Seorang teman kantor meninggal dunia, tanggal 2 April lalu. Innalillahi.

Belum reda rasa kaget bercampur sedih, gw kembali mendapat kabar duka. Lies, teman kantor gw, memberitahu jika Nova, seorang kameramen, sejak Sabtu lalu terbaring di RS. Dia KOMA. Kabarnya, dia mengalami kecelakaan motor. Namun ada keganjilan yang membuat timbulnya dugaan ada seseorang yang sengaja membuatnya celaka.

Lies bilang, hanya keajaiban yang akan membuat Nova bisa sembuh. Ya Allah, aku sangat percaya pada keajaiban. Aku sangat percaya pada Kebesaran dan Kuasa-Mu. Namun hanya Engkau yang Maha Tahu apa yang terbaik.

Gw jadi speechless… 

ROKOK !

March 30th, 2007 by arastiya

Jumat pagi, saat gw baru saja selesai on air Reportase Pagi, gw mendapat kabar duka. Chrisye meninggal. Sejak 2005 lalu, ia diveto terkena kanker paru-paru. Penyakit yang sangat besar peluangnya diderita perokok.

ROKOK. Gw benci rokok tak hanya karena asapnya yang bikin sesak dan jadi sumber penyakit. Tapi juga karena gw “harus” melihat laki-laki yang paling gw sayangi meninggal secara perlahan, karena komplikasi berbagai penyakit, yang sumbernya adalah rokok!!!!

Sakit rasanya melihat orang yang kita sayangi harus terbaring lemah lebih dari sebulan. Setiap hari ia harus menjalani pembersihan saluran nafas dengan alat khusus (yang tentunya sangat tidak murah). Tabung oksigen pun harus terus disiagakan di samping tempat tidurnya.

Dan saat kondisinya seperti itu, gw justru harus pindah ke Depok, memulai hidup sebagai mahasiswa. Gw ingat betul, malam sebelum gw berangkat, aki bilang kalau umurnya tak akan sampai sebulan lagi. Tapi gw memintanya untuk tak berpikir seperti itu. Gw bilang, kalau dia akan kembali sehat dan tak boleh pergi.Gw gak mau kehilangan aki. Gw terlalu sayang sama aki, orang yang telah membesarkan gw.   

Seminggu sebelum meninggal, aki meminta gw untuk pulang ke Majalengka. Tapi karena gw sedang P4, yang jika bolos satu hari katanya harus mengulang tahun depannya (dan ternyata P4 justru dihapus tahun ‘98), gw tak bisa memenuhi permintaan aki.

Minggu, 31 Agustus 1997, pukul 6 pagi, sepupu gw datang ke asrama. Dia hendak menjemput gw pulang ke Majalengka. Katanya, sakit aki makin parah. Saat itu, yang terbayang di kepala gw adalah kondisi aki seperti saat gw lihat terakhir kali, sebelum pergi ke Depok.

Menjelang sore, gw sampe di kampung. Tampak beberapa sepupu gw sedang duduk dan berbincang di teras rumah aki. Gw menyapa mereka dan ikut berbincang. Tapi tak lama kemudian, salah satu ua gw menarik gw masuk ke dalam rumah, ke dalam kamar aki. Dan betapa terkejutnya gw saat melihat kondisi aki yang tengah sakaratul maut. Matanya terpejam dan sudah tak bisa bicara. Gw melihatnya dadanya yang naik turun, seperti kesulitan bernafas.

Gw menjerit. Ua Iwa menarik gw ke belakang rumah untuk menenangkan gw. Ia menasehati gw, jika memang gw sangat sayang sama aki, gw harus bisa mengikhlaskan kepergiannya. Ia pun menceritakan jika aki sudah tak sadarkan diri sejak subuh. Ia sudah sakaratul maut. Meski aki terlihat tenang dan tak kesakitan, tapi keluarga gw heran karena hingga tengah hari, aki masih “bertahan”. Hingga seorang tamu berkata, jika aki sedang menunggu seseorang. Dan mungkin, gw lah orang yang ditunggu itu. Gw kaget mendengar cerita Ua Iwa. Mungkinkah? Mungkinkah aki “bertahan” karena menunggu gw?

Akhirnya gw sadar, jika gw harus bisa ikhlas melepas aki. Gw kembali masuk ke dalam kamar aki. Gw duduk di samping kanan tempat tidurnya. Gw cium keningnya dan menggenggam tangannya. Gw bisikkan asma Allah di telinganya. Gw bisikkan pula, jika gw sangat sayang padanya dan ikhlas jika dia pergi. Dan subhanallah, tak lama kemudian ia pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang.

Saat itu gw merasa sangat sedih bercampur lega. Sedih karena berpisah dengan salah satu orang terdekat gw. Orang yang sangat keras tapi juga sangat lembut dalam mendidik gw. Lega karena akhirnya aki "terbebas" dapi penderitaan panjangnya. Dari rasa sakit yang menyiksa akibat penyakit jantung, paru-paru, dan darah tinggi.

Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahan aki, serta menerima segala amal dan kebaikan aki. Amin.

Love U  

Why ???

March 30th, 2007 by arastiya

Again!!! Lagi-lagi gw mendengar kisah seperti ini. Saat adat, tradisi, suku, dan hal-hal lain yang sejenis, lebih diutamakan ketimbang aturan-aturan yang sudah digariskan agama. Teman kuliah gw pernah ngalamin. Sepupu gw. Mama gw. Dan gw sendiri.

Saat manusia mempersulit jalan yang sudah dimudahkan-Nya. Bukankah Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal? Tak ada satu pun suku atau bangsa yang diciptakan lebih baik atau lebih buruk dari bangsa or suku lainnya, right?

Gw jadi teringat pada 2 peristiwa “besar” di keluarga besar gw. Peristiwa yang dialami 2 orang sepupu gw. Kalau gak salah, kejadiannya saat gw masih SMP or SMA dan setelah gw kuliah. Kedua sepupu gw adalah perempuan. Dan keduanya pernah menghadapi masalah serupa tapi tak sama.

Kisah sepupu gw yang pertama. Saat itu dia hendak menikah dengan seorang laki-laki yang udah jadi pacarnya sejak mereka masih kuliah. Calonnya ini memang berbeda suku dengan sepupu gw yang campuran Jawa-Sunda. Tak disangka, adat dan tradisi melahirkan masalah yang alot pada sepupu gw dan calon suaminya. Keluarga calon suami sepupu gw meminta keluarga sepupu gw yang “melamar” dan “membeli” pihak laki-laki. Sementara, keluarga sepupu gw tetap berteguh jika pihak laki-laki lah yang harusnya melamar.

Singkat cerita, tak ditemukan titik temu diantara kedua belah pihak. Yang ada, justru muncul masalah lain. Hingga akhirnya keluarga besar gw merasa sangat tersinggung oleh pernyataan dan sikap keluarga calon sepupu gw. Walhasil, suku calon suami sepupu gw itu sempat di-black list keluarga besar gw. Tapi untung gak berlangsung lama….selanjutnya….pemilihan dikembalikan pada penilaian personal ketimbang latar belakang suku….Thanks God!

Segala cara dan pendekatan sudah dilakukan sepupu gw dan calonnya. Perjuangan yang cukup panjang meski hasilnya tetap tak menemukan titik temu. Akhirnya, keduanya memutuskan untuk tak melanjutkan niat mereka untuk menikah.

@@@

Kisah sepupu gw yang kedua. Sepupu gw bertaaruf dengan seorang laki-laki. Meski hanya dengan proses perkenalan yang singkat, keduanya yakin untuk menyempurnakan separuh ibadah. Sayangnya, niat ini tak bisa segera mereka realisasikan. Orang tua calon suami sepupu gw kurang setuju dengan pilihan anaknya. Penyebabnya, karena sepupu gw tak berdarah biru. Meski secara ekonomi keluarga sepupu gw tergolong lebih dari mampu, tapi kami bukan keturunan ningrat.

Hambatan ini tak menyurutkan langkah keduanya untuk terus berusaha mencairkan gunung es. Terutama calon suami sepupu gw yang bersungguh-sungguh membuka pandangan kedua orang tuanya. Meski alot dan berliku, tapi alhamdulillah, akhirnya ijab kabul pun bisa terlaksana. Kini, mereka hidup sederhana bersama keempat anak mereka di sebuah kota di Jawa Tengah.

@@@

Meski kedua sepupu gw mendapatkan "titik akhir" yang berbeda, tapi ada persamaan mendasar pada keduanya. Mereka telah memaksimalkan ikhtiar. Memperjuangkan apa yang mereka yakini benar dan bersabar dalam "menaklukan" prinsip dan pandangan keluarga. Sementara hasilnya, mereka serahkan pada-Nya. Gw salut!